Zara sangat syok melihat Khazayn yang selalu ambruk oleh serangan Erios. Tubuh Khazayn sendiri dipenuhi luka. Meski tidak cukup serius, namun Zara yakin hal itu pasti sangat menyiksanya.
"Sepertinya Khazayn tidak mampu melawan Erios seorang diri. Aku harus membantunya."
"Tapi bagaimana dengan Zach?"
"Anakku lebih membutuhkanku ibu. Aku harus membantunya," ucap Zara langsung melangkah menuju arena pertarungan.
"Aku akan ikutt !" Ucap Lily berlari kecil mengimbangi Zara.
Zara menghentikan langkahnya dan menatap Lily. "Tidak Lily. Kau harus tetap disini bersama ibuku. Jika kami tidak sanggup melawan Erios. Maka pergilah ke dimensi manusia. Pergi ke antartika dan hiduplah dengan meminum darah para pinguin disana. Mahkluk kegelapan tidak akan mengira dengan adanya kalian disana. Disana sangat jarang sekali dikunjungi oleh mahkluk penghisap darah. Karena populasi Manusia nya yang minim atau bahkan nihil. Jadi aku rasa kalian akan aman." Ucap Zara memegang bahu Lily. Namun Lily menggeleng lemah dengan wajah datarnya.
"Tidak.
Aku tidak mau. Biarkan aku membantumu melawan Erios. Aku memang tidak bisa bertarung. Tapi aku memiliki kemampuan khsusus. Aku yakin kemampuanku bisa membantu kalian." ucap Lily dengan penuh permohonan.
"Bagaimana jika kau sampai terbunuh? Maka habislah. Tidak ada lagi yang tersisa."
"Aku punya solusi bagus untuk itu: jangan sampai terbunuh bagaimana?"
"Lily ..."
Lily mulai kehabisan kesabaran atas sikap ragu-ragu Zara. Dia juga tidak bisa hanya berdiam diri sembari menunggu kabar seolah dia memang mahkluk yang paling lemah disana. Lily juga sangat ingin membantu meski hanya sedikit, setidaknya.
"Zara, aku mohon.
Aku tidak sanggup hidup tanpa suami dan putraku. Tak ada artinya bagiku jika aku hidup dengan aman tapi tidak dengan mereka.
Aku masih bisa hidup dengan suami dan anak-anakku tanpa dimensi ini. Tapi ... Jika aku pergi sementara mereka tiada. Maka hidupku tidak akan berarti apa-apa. Hal itu sama saja menciptakan kiamat tersendiri bagiku.
Ayolah Zara, apa salahnya mencoba. Kau juga tentunya tidak ingin kehilangan putramu, kan?"
Zara tersenyum. Ada solidaritas yang tampak jelas diwajahnya. Untuk kali ini, mereka memperjuangkan hal yang sama-sama berarti bagi mereka.
"Kalau begitu, ayo kita lakukan."
"Ayo kita lakukan," balas Lily sembari menepuk pundak Zara.
Mereka akhirnya keluar dari kamar Zach. Memasang wajah gagah dan siap untuk bertempur melawan musuh.
Kilauan psikopat terukir jelas dimata Zara. Dia sangat siap melawan Erios saat itu juga.
***
Aaarrgghhh
Meski rasa sakit yang dia rasakan begitu menyiksa. Namun Khazayn masih bisa bangkit untuk kembali melawan Erios. Mahkluk aneh dengan kulit pucat setengah transparan yang menampakkan urat-urat kemerahan di bawahnya. Biji matanya berwarna merah darah dan bagian putih matanya malah menjadi hitam kelam.
Erios kembali menatap Khazayn. Dengan nafsu membunuh yang jelas tak terbantahkan. Raut wajahnya terlihat buas dan terkesan lapar. Mirip seekor singa yang siap memangsa anak domba. Dengan mulut menyeringai, perlahan dia mendekat kearah Khazayn.
Gerakannya terlihat mantap. Hal itu membuat Khazayn melebarkan matanya.
"Brengsekk. Dia akan membunuhku ..." Khazayn mengumpat saat melihat Erios mendekati nya dan bersiap mencabik tubuhnya menggunakan kuku tajam andalannya. Kali ini Erios tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Tak ingin tubuhnya menjadi sasaran empuk Erios. Khazayn langsung merengsek maju dan meraih d**a Erios untuk merobeknya. Namun kecepatan Erios yang di luar batas membuat tangan Khazayn menggertak, akibat cekalan Erios. Lagi-lagi Khazayn mengerang kesakitan.
Khazayn kembali bangkit, setelah Erios menerjangnya dengan kekuatan penuh. Dengan terbatuk-batuk Khazayn menghujam nya dengan pecahan kristal yang tajam. Beberapa dari kristal itu tidak berpengaruh sama sekali pada Erios. Meski salah satunya menancap di bahu dan di perutnya. Namun Erios mencabutnya begitu saja, seolah tidak merasakan apapun.
Kini Erios mengeluarkan tombak es yang akan dia hunuskan ditubuh Khazayn. Tombak itu dia keluarkan dengan bertubi-tubi, sehingga dapat dipastikan tubuh Khazayn tidak akan berbentuk lagi jika terkena serangan itu.
Khazayn merasa kalap. Dan tidak akan bisa mengelak dari serangan Erios yang melesat cepat kearahnya. Saat puluhan tombak itu telah berada didepan matanya. Terdengar suara pekikkan nyaring yang memekakkan telinga semua mahkluk yang ada disana.
Teriakkan yang luar biasa itu membuat tubuh siapapun limbung. Menciptakan angin yang mengguncang sehingga tombak yang tadinya melesat kearah Khazayn hancur berkeping-keping.
Teriakkan yang mengerahkan tenaga dalam itu juga membuat para mahkluk yang ada disana terbebas dari sihir Erios. Mereka akhirnya bisa menggerakkan tubuh mereka kembali dan siap bertarung.
Saat suara itu telah redam. Terlihat dua orang wanita yang sedang berdiri dengan gagahnya dihadapan Erios. Satu wanita si pemilik darah abadi. Dan satunya lagi sebangsa Elf, ibu dari Alexis dan Alden.
"Ibu?"
Lily langsung mudur saat melihat Zara yang siap melawan Erios.
Tanpa diduga. Erios langsung mengeluarkan monster berupa ulat gemuk berwarna hijau. Ulat itu bergerak untuk menyemburkan cairan mematikan yang akan membuat tubuh siapa saja melepuh akibat semburan racun yang dia keluarkan. Ulat yang dia keluarkan juga tidak main-main jumlahnya. Menghadapi satu saja sudah sangat merepotkan. Apalagi puluhan bahkan ratusan.
Zara memberi isyarat pada Khazayn berupa anggukan untuk melawan ulat-ulat gemuk itu menggunakan pedangnya. Tidak sulit bagi siapa saja melawan ulat itu. Yang sulit adalah menghindar dari semburan mematikannya. Ditambah lagi sungut tajam yang memiliki racun. Meski tidak berbisa, namun racun itu sangat menyakitkan apabila terkena tusukannya sedikit saja.
Kini pertarungan semakin memanas. Zara dengan sigapnya menebas ulat-ulat itu hingga tergeletak ditanah. Sementara Khazayn juga melakukan hal yang sama.
Mereka cukup gesit dalam membunuh para ulat gemuk itu. Tapi nampaknya hal itu tidak akan berdampak apapun. Mereka akan terus melawan ulat itu tidak akan ada habisnya, jika Erios tidak berhenti memanggil ulat-ulat yang lainnya.
Sebab itulah, Khazayn mengincar Erios. Agar menghentikan nya memanggil ulat gemuk itu. Dengan kekuatan nya, Khazayn menghujani Erios dengan semburan bola api yang mengembang, apabila terkena udara. Hujan bola api itu melesat hanya tertuju pada Erios saja. Merasa sibuk dengan memanggil para ulat, membuat Erios tidak siap dengan serangan itu sehingga bola api itu dengan sukses membuat tubuhnya terbakar.
"Matilah kau ... Iblis laknat! Maki Khazayn seiring dengan erangan kesakitan Erios. Yang semakin besar.
Jubah kebanggaan Erios kini ikut terbakar oleh api yang dilemparkan Khazayn padanya. Namun Erios masih bisa bangkit dengan wajah murkanya. Kini urat-urat halus kehitaman terlihat jelas diwajahnya. Wujud Erios semakin berubah mengerikan.
Entah apalagi yang akan dilakukan Erios kali ini. Sepertinya Khazayn sudah bersiap-siap dengan hal itu.
To be continued ....