"Lalu apa yang harus kita lakukan? Waktu kita tidak banyak. Jika lengah sedikit saja, Erios akan kabur," ucap Khazayn mulai kesal.
Zach nampak berpikir sejenak. Memperhatikan semua anak buah Erios dengan teliti. Dan memilih salah satu diantara mereka yang merupakan Erios.
"Ini cukup sulit.
Pergerakan mereka semua terlihat sama. Tidak ada yang mencurigakan." Zach meneliti dengan prediksinya. Namun Khazayn sendiri seperti paham dengan caranya sendiri. Khazayn mengulangi lagi untuk memastikan, namun hasilnya tetap sama.
Para mahkluk bergerombol. Berbaris dengan pedang ditangan mereka masing-masing. Namun ada satu hal yang membuat Khazayn sangat yakin.
"Aku tahu, ayah."
Zach langsung memusatkan perhatian pada Khazayn yang antusias.
"Monster memiliki bayangan. Tapi tidak dengan iblis seperti kita," ucap Khazayn yang membuat Zach langsung menuju kesatu mahkluk yang tidak memiliki bayangan disana. Zach tersenyum devil. Dia setuju dengan anaknya. Ternyata kemampuan prediksinya menurun ke anak nya. Hingga Khazayn bisa dengan mudah membedakan bahkan yang tidak terpikirkan oleh Zach sendiri.
Dengan seringai mematikan. Mereka berdua langsung merengsek maju dan menyerang kesatu titik dimana itu adalah Erios yang sedang menyamar. Penyerangan secara acak untuk mengelabui Erios. Berpura-pura tidak tahu namun Khazayn mengambil keseme itu untuk membunuhnya.
BRAKKKKK
Erios jatuh tersungkur setelah mendapatkan serangan telak dari Khazayn dan juga Zach. Ketika mereka berdua bersatu, kekuatan mereka tak terkalahkan. Mereka memiliki segalanya untuk menyerang dan melakukan pertahanan.
Sementara Erios.
Keadaan nya sangat berbanding balik sekarang. Jika tadi posisi Khazayn yang nyaris sekarat. Kini giliran dirinya yang merasakan nyaris sekarat. Luka menganga dimana-mana. Erios begitu memprihatinkan bahkan kekuatan yang ia miliki sudah tak sebanding dengan lawannya.
Tidak ada lagi yang bisa Erios lakukan. Semua anak buahnya mati. Kini tinggal dia seorang. Yang harus melawan Khazayn dan juga Zach. Kedua mahkluk yang begitu kuat dan tak terkalahkan. Mereka adalah perpaduan yang sempurna. Untuk mengalahkan keduanya adalah kemustahilan. Erios menyadari hal itu hingga dia hanya berpikir bagaimana caranya untuk melarikan diri.
Aura yang mereka pancarkan begitu mengerikan. Seringai iblis terukir jelas diwajah Khazayn. Ambisi untuk membunuh sang iblis sesungguhnya sangat ingin segera dia lakukan. Tatapan predator yang haus darah kini siap menerkam mangsanya.
Namun baru saja Khazayn merengsek maju untuk menghukumnya. Dengan secepat kilat, Erios kabur dari arena pertempuran. Erios berlari dengan gerakan zig zag diselipan pohon Venus yang menjulang tinggi.
"b******k ! k*****t itu masih saja pengecut." Maki Khazayn kesal. Baru saja dia ingin mengejar, namun tangannya dicekal oleh Zach.
"Dia tidak akan bisa kabur." Sontak Khazayn menatap ayahnya. Sebelum Zach menjawab. Khazayn mulai mengerti saat mengikuti arah pandangan mata Ayahnya itu.
Dari kejauhan. Mereka bisa melihat bahwa pasukan para pemimpin kerajaan telah menghadang Erios dengan memegang gada berpaku ditangan mereka. Mereka memainkan gada itu dengan memutar-mutar nya diudara. Tatapan mengintimidasi dari mereka membuat Erios merasakan aura kengerian. Lalu dalam hitungan detik, gada berpaku itu menghantam tubuh Erios.
Erios tidak dapat berkata-kata saat menerima serangan tiba-tiba itu. Tubuhnya ambruk ditanah. Disisa kekuatan nya. Erios berbelok untuk kabur menuju kearah Utara. Dan sayangnya, disana juga telah berdiri Rebecca yang menghadangnya dengan senyuman sinting yang tersungging diwajahnya. Tatapan mengintimidasi teihat jelas. Segala amarah dan juga dendam ingin segera dilakukan oleh Rebecca. Begitu membara bagai bara api yang berkobar. Rebecca tak ingin menyia-nyiakan waktunya.
Dengan sekali hentakkan. Rebecca menerjang tubuh Erios hingga menabrak pohon Venus dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Belum sempat Erios membalas serangan Rebecca. Wanita itu telah lebih dulu membuat tubuhnya terangkat tinggi keudara dan menghempaskan nya dengan kasar. Lagi-lagi darah hitam mengalir.
Sejenak, Erios masih saja memikirkan cara untuk kabur dari mereka. Namun baru saja dia berbalik. Khazayn telah menghadangnya dengan seringai iblisnya. Hal itu membuat Erios semakin ketakutan. Tubuhnya bergetar kondisinya tak memungkinkan untuk kabur dari sana.
"Malaikat kematian mu sudah datang. Terimalah kematianmu." Ucapan Khazayn terdengar lembut. Namun siapapun bisa merasakan aura tidak mengenakkan dari nadanya. Erios sendiri merasa ucapan itu adalah vonis mati baginya.
"Ampuni aku... jangan bunuh aku, Khazayn. Aku mohon..." Erios dengan tak tahu malunya memohon dan berlutut. Namun sayangnya Khazayn tak sebaik itu. Bahkan Khazayn semakin bersemangat untuk menghabisinya.
SRAKKKKK
ARGGHHHH
Khazayn mencakar dengan buas tubuh Erios sehingga menciptakan luka menganga ditubuhnya. Erios mengerang kesakitan. Teriakannya menggema hingga membuat mahkluk bergidik ngeri.
Lalu cakaran itu disusul dengan tebasan pedang yang memotong kedua kakinya. Darah hitam memercik kewajahnya dan Khazayn sangat menikmati lolongan kesakitan dari Erios. Seolah itu Adalah melodi indah baginya. Erios merasakan siksaan mengerikan dengan serangan bertubi-tubi. Tak ada rasa kasihan dan belas kasih. Khazayn menatapnya bagai iblis mengerikan.
Mengingat setiap perbuatan keji Erios melalui cerita Rebecca. Membuat Khazayn semakin menggila. Dia kembali menyiksa tanpa ampun. Erios bahkan tak memiliki sisa kekuatan lagi hanya untuk bergerak. Darahnya nyaris habis sementara tubuhnya sudah tak berbentuk lagi.
Teriakan kesakitan terdengar memilukan. Khazayn dengan brutalnya menyiksa Erios habis-habisan. Dan secara sengaja menghukum nya dengan kematian yang tidak mudah. Sebagai balasan atas perbuatan kejinya pada kaum Florence.
Khazayn juga tidak lupa menguliti tubuh Erios seperti seorang psikopat sinting yang sedang menikmati kesenangannya.
Mereka semua hanya menyaksikan bagaimana kebrutalan Khazayn dalam menyiksa Erios tanpa ampun.
Setelah tubuh Erios sekarat. Dan sudah diambang kematiannya. Akhirnya Khazayn mengeluarkan pedang bermata biru. Yang akan menjadi serangan final bagi Erios. Erios membelalakan matanya. Dia sangat belum siap dengan kematiannya hingga berteriak histeris memohon pengampunan.
"Lihatlah betapa menyedihkan mahkluk ini." Mereka menatapnya dengan senyuman miring. Seakan itu memang pantas dia dapatkan.
"Terimalah tusukan spesial dariku !" Khazayn mengangkat pedangnya. Memberikan tusukan pertama untuk Erios.
CRASSSSSS....
Suara teriakan kembali menggema. Kali ini merupakan teriakan diambang Kematian.
Seolah tak puas dengan teriakan itu, Khazayn kembali mencabut pedangnya dan menusukkan kembali hingga menembus dalam tubuh Erios. Kali ini tak ada teriakan yang keluar dari mulutnya. Hal itu membuat Khazayn berdecak tak puas.
Khazayn menarik kembali dan menghunuskan kembali. Teriakan Erios begitu pelan.
Sampai akhirnya teriakan itu meredam, seiring dengan kematian Erios yang sangat menggenaskan. Tubuhnya bersimbah darah. Seolah tenggelam dalam lautan darahnya sendiri.
Tubun Khazayn sendiri terlihat carut marut. Dengan percikan darah dimana-mana. Namun dia merasakan kebanggaan tersendiri karena telah berhasil membunuh pengacau dimensi mereka. Iblis yang mengancam kedamaian dimensi mereka. Telah berhasil dikalahkan. Perlahan ... Tubuh Erios berubah menjadi abu.
Merekapun mendesah lega, ketika sang iblis telah tiada.