"... Dan orang suruhan ku berhasil menemukan cara untuk membujuk para pemimpin kerajaan membantai Erios.
Aku membuat mereka sebuah ilusi apa-apa yang akan terjadi jika mereka kabur. Meski mereka pergi ke lubang semut sekalipun. Mereka tidak akan bisa menghirup udara dengan tenang. Sebab itulah akhirnya mereka mau membantu kita.
Apalagi saat aku mengatakan bahwa Khazayn ikut andil. Hal itu membuat histeria massa. Mereka semua terkejut- dalam sekejap. Semuanya langsung setuju. Aku yakin, hal itu dikarenakan mereka sudah tahu siapa Khazayn sebenarnya," Rebecca bercerita dengan wajah puas. Dia duduk dengan kaki disilangkan santai. Sebuah jubah kekuasaan telah kembali tersampir dipundaknya. Mereka menceritakan semua kejadian sebelum datang kearena pertempuran. Dengan memperlihatkan wajah angkuh mereka.
"Ya. Tapi tetap saja tidak ada gunanya, bibi. Kau dan pasukanmu yang datang untuk menolong kami ... Kalian terlambat. Seharusnya kalian datang saat kami bertempur dengan Erios dalam keadaan setengah sekarat," Khazayn langsung memprotesnya.
Sementara Alexis dan Alden. Mereka merasakan kantuk yang sejak tadi melanda mereka. Mereka nampak lelah secara fisik maupun mental. Meskipun tidak mengalami luka yang berarti. Namun Rebecca memaksa mereka untuk menceritakan kronologis pertarungan dengan Erios secara detail. Rasa penasaran yang melandanya, membuat Rebecca tak tahan untuk mendengar cerita mereka.
Alexis dan Alden tidak bisa menolak tentunya. Meskipun mereka dilanda lelah dan kantuk. Namun herannya. Mereka berdua malah dengan semangat nya mendramatisir cerita, sehingga memberi kesan masing-masing adalah pihak yang paling heroik.
Sementara Khazayn ... Seperti biasa, dia tetap bersikap netral dan jujur. Sebab itulah, Rebecca lebih suka mendengarkan cerita dari mulut Khazayn. Meskipun sikap Khazayn selalu saja membuatnya kesal. Sebab terlalu arogan seperti ayahnya.
Ketika Rebecca sudah puas mendengar cerita mereka. Rebecca mulai membuat jemu mereka semua dengan kisah panjang lebarnya. Yang menceritakan tentang perjuangan nya selama menanti kehadiran Khazayn. Mungkin di lain waktu, mereka akan sangat tertarik mendengar nya. Namun tidak kali ini. Ketika satu-satunya hal yang menarik perhatian mereka hanyalah kasur dan tidur.
Namun karena sebuah kesopanan. Alexis dan Alden masih saja mendengar kan ceritanya.
Berbeda dengan khazayn yang menampilkan wajah bosannya secara terang-terangan. Dengan tidak sopan nya, Khazayn malah tertidur dikursinya ... Tanpa peduli wajah kesal dari Rebecca.
"Sudah cukup bercerita nya. Kau menyiksa putra Alger dengan cerita panjang lebarmu itu, Becca." ucap Zach tiba-tiba muncul untuk menengahi mereka.
Melihat kedatangan Zach. Seolah menjadi pahlawan bagi Alexis dan juga Alden. Mereka mengambil kesempatan itu untuk kabur dari Rebecca. Rebecca mendengus kesal.
"Dan lihatlah putramu yang tidak sopan itu. Malah tertidur seenaknya.
Kenapa keturunan mu itu lebih banyak menuruni sifatmu. Jika dia seperti Zara. Aku yakin tidak akan seperti ini," Rebecca mendelik saat mengucapkannya.
"Sudah pasti gen ku lebih kuat. Apa kau lupa dengan ucapan Century waktu itu. Khazayn hanya mewarisi darah abadi dari Zara. Sementara yang lainnya adalah keturunan dari kita.
Lihatlah ... Bahkan wajah kami seperti anak kembar. Tidak ada bedanya, jika saja mata Khazayn tidak menyerupai ibunya. Sudah pasti kami akan dikatakan duplikat pria tampan yang sempurna," ucap Zach dengan bangganya.
Dan hal itu membuat Rebecca berdecak bercampur muak. Ingin sekali Rebecca muntah diwajah adiknya yang sombong itu. Pantas saja Khazayn sangat menyebalkan. Ternyata ayahnya jauh lebih menyebalkan dari dirinya, pikir Rebecca.
"Ngomong-ngomong. Bagaimana keadaan Zara? Apa dia sudah sadar?" Tanya Rebecca.
Raut wajah Zach Langsung berubah. Pria itu menggeleng lemah. Meski kondisi Zara tidak parah. Namun Zach tidak bisa bernafas lega, jika istrinya belum juga membuka matanya. Zach ingat kondisi Zara yang terbaring lemah.
"Aku rasa mungkin sebentar lagi. Tapi meski begitu, aku tetap saja khawatir,"
"Tidak perlu khawatir, Zach. Sebentar lagi, Zara mu akan pulih. Dia akan baik-baik saja.
Sebaiknya kita biarkan dulu dia beristirahat.
Biarkan api penyembuhnya bekerja dengan baik." ucap Rebecca menenangkan adiknya. Namun Zach tak juga merasa tenang.
"Aku akan menemaninya beristirahat."
Setelah kepergian Zach. Khazayn tiba-tiba membuka matanya. Dengan pandangan khasnya yang terkesan menyelidik. Dia menatap Rebecca, yang membuatnya kikuk.
"Kau lihat apa?" ucap Rebecca ketus.
"Kenapa bibi tidak mengatakan padaku jika ibu belum juga pulih?" Tanya Khazayn tajam.
"Aku juga baru mendengarnya dari ayahmu, Khazayn. Aku yakin kau juga mendengar nya tadi."
Khazayn langsung berdiri dan meninggalkan Rebecca. Dengan langkah tegas dan raut tak terbaca.
"Kau mau kemana?"
"Mengobati ibuku," sautnya tanpa menoleh kearah bibinya itu.
Khazayn berjalan dengan langkah lebarnya. Membuka secara paksa pintu kamar orang tuanya. Zach yang tadi mengatakan ingin menemani ibunya rupanya tidak ada disana. Namun Khazayn tidak memperdulikan hal itu. Yang ada dipikirannya saat ini, hanyalah ibunya. Dan cara untuk membuatnya membuka matanya segera.
"Ibu ... Aku akan mengonatimu. Kumohon bertahanlah,"
"Tidak Khazayn. Tenagamu sudah terkuras banyak. Lebih baik kau istirahat dulu."
"Aku akan melakukan apa yang menjadi tugasku sebagai seorang anak terhadap ibunya. Ibu akan segera sadar, Ayah tenanglah. Aku yakin Ayah juga pasti ingin ibu segera membuka matanya."
Zach tak membantah. Ucapan Khazayn benar adanya.
Khazayn menggenggam erat tangan ibunya sebelum mengeluarkan api penyembuh dalam dirinya. Lalu berkonsentrasi dan bersiap-siap untuk mengeluarkan kekuatan nya. Perlahan, api penyembuh pun keluar dari tangannya. Berkobar menyapu keseluruhan tubuh Zara. Dengan telitinya, Khazayn tidak meninggalkan sedikitpun.
Keringat dingin mulai bercucuran ditubuhnya. Namun Khazayn tidak juga menyerah. Dia tetap bertahan, sampai ibunya membuka matanya.
Kobaran api ditubuh Zara perlahan menghilang. Seiring dengan terbukanya mata sang ibu. Khazayn berhasil membantu ibunya untuk mengobati semua lukanya. Baik luka luar maupun dalam. Khazayn langsung tersenyum puas dan memeluknya erat.
"Ibu... "
"Putraku, Khazayn..." Zara mencoba mengangkat tangannya secara perlahan. Menyentuh wajah putranya. Khazayn segera menangkap tangan itu dan meletakkan di pipinya. Sesekali mengecupnya, hingga tanpa sadar membuat sang ayah cemburu.
"Aku senang Ibu kembali pulih. Tolong, jangan buat aku khawatir lagi."
Zara tersenyum bangga. "Dan ibu senang kau selamat dan berhasil mengalahkan Erios. Terimakasih."
"Aku memang ditakdirkan untuk melakukan itu, ibu... "
Zara merentangkan tangannya. Membuat Khazayn seketika memeluknya. Mereka begitu larut dalam dunia mereka sendiri tanpa peduli dengan kehadiran Zach disana. Hingga suara deheman keras itu merenggangkan pelukan mereka.
Khazayn menatapnya kesal.
"Sudah cukup, sekarang giliranku. Kau... pergilah!" Khazayn berdecak kesal, ketika sang ayah dengan tega mengusirnya.
"Apa maksud Ayah? aku putranya, aku berhak selalu berada di dekat ibuku."
"Dasar tidak tahu malu! dia milikku. Sebaiknya kau cari saja wanita lain agar tidak mengganggu kami."