Di tengah malam tidur Litani tampak gelisah. Kedua matanya terpejam tapi tubuhnya seperti tidak menemukan posisi yang pas supaya bisa tidur dengan nyaman. Beberapa kali dia mengganti posisi tidurnya. Berbaring ke kiri dan ke kanan. Terakhir dia berbaring miring ke kiri, memasukkan tangan kirinya di bawah bantal sementara tangan kanannya memeluk guling dengan begitu erat. Keringat sebesar biji jagung menetes dari dahinya, tulang alisnya berkerut gelisah, tubuhnya menggigil kedinginan dan dia mulai bergumam tidak jelas di antara tidurnya. Litani mulai mengigau dengan meracau tidak jelas. Posisi tidurnya tidak ada yang nyaman baginya. Ruangan kamar dibiarkan terang dan Litani tidak terbiasa tidur dengan suasana terang benderang seperti ini. Dia tadi terlelap karena pengaruh obat yang diberi

