Kemampuan Ros merasakan keberadaan makhluk halus sepertinya sudah dimulai sejak ia lahir. Menurut cerita bapak, saat itu Ros sering terlihat tertawa dan melihat ke satu arah seolah-olah di sana ada ‘seseorang’ yang sedang mengajaknya bicara. Bapak tidak memiliki kemampuan supernatural sama sekali, hanya ibu nya yang mempunyai kekuatan tersebut yang kemudian mewariskan seluruhnya pada Ros. Karena ketidak pahaman dari Bapak itulah Ros pun akhirnya dibawa ke salah satu orang pintar yang merupakan teman dari almarhumah ibunya yang bernama Ki Damari.
Menurut Ki Damari, penglihatan Ros sudah dianugerahi sejak ia lahir. Makanya, ketika Ros semakin dewasa, penglihatannya pun akan semakin tajam dan mampu melihat semua yang tak kasatmata. Hanya saja Bapak merasa khawatir Ros akan ketakutan jika harus menyaksikan berbagai macam makhluk tersebut. Namun Ki Damari menyatakan bahwa Ros juga dianugerahi dengan keberanian serta kekuatan yang luar biasa. Bahkan menurutnya, tidak akan ada satu pun makhluk tak kasatmata yang bisa lolos dan luput dari pandangan atau radarnya. Bahkan jika mau, Ros juga mampu untuk menyerap energi para roh dan jiwa-jiwa itu sehingga lebih mudah membuat mereka kalah. Setelah mendengar pernyataan dari Ki Damari tersebut, Bapak sedikit merasa tenang. Bagaimana pun itu seakan sudah jadi takdir sekaligus nasib Ros untuk mempunyai kemampuan supernatural secara alamiah dalam dirinya. Setahun setelah Ros pindah dari kampung halamannya, Bapak membawa Ros menemui Ki Damari lagi untuk bertanya lagi mengenai kekuatan dan kemampuan yang dimiliki Ros.
“Anak ini akan mampu menghadapi makhluk apa saja. Apalagi jika roh atau jiwa yang usianya masih di bawah ratusan tahun,” begitu yang dikatakan Ki Damari saat itu. “Namun tenang saja. Keberanian dan kekuatan yang dimilikinya saat ini akan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Apalagi jika dia sering melakukan beberapa ritual pembersihan diri seperti berpuasa atau ibadah lainnya, dan dengan serius mempelajari ilmu kanuragan untuk menyeimbangkan kekuatan fisiknya, maka anak ini akan jadi sangat hebat sekali,” ungkap Ki Damari lagi. Ki Damari lalu memandang ke arah Ros dan tersenyum. “Sayangnya, saya nggak bisa melihat apa-apa setelah usianya menginjak angka 17. Saya pun tidak ingin berspekulasi sembarangan. Makanya, selama Ros butuh bantuan Aki, datanglah ke sini,” katanya pada Ros waktu itu. “Aki akan berusaha menolong dan membantu Ros. Seperti janji Aki pada Ibu dulu.”
Ros hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. “Apakah Ros bisa mengendalikan benda juga, Ki?” tanya Ros yang membuka telapak tangan kanannya.
Ki Damari sempat tidak langsung menjawab dan memandang Ros beberapa detik. Setelah itu Ki Damari seperti baru merasa yakin dan akhirnya menganggukkan kepalanya. “Lakukan, Ros. Benda apa yang ingin coba kamu kendalikan?” tanyanya.
Masih tersenyum, Ros lalu memperhatikan vas bunga yang ada di atas meja dengan pandangan serius. Dengan sangat cepat, tiba-tiba vas bunga tersebut sudah ada dalam genggaman Ros. Gerakan vas yang berpindah itu bahkan lebih cepat dari kedipan mata. Bapak dan Ki Damari sempat ternganga sebelum akhirnya sama-sama mengangguk kagum. Ros menyodorkan vas tersebut pada Ki Damari.
“Ros kembalikan vas nya,” ucapnya masih sambil tersenyum dan menyodorkan vas bunga yang semula ada di atas meja ruang tamu kediaman Ki Damari.
Ki Damari menerima vas tersebut dan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pada usia kamu yang kelima belas, Aki harap sudah bisa melihat kamu berteleportasi sendiri. Bukan dengan menggerakan benda-benda mati lagi seperti barusan.”
Ros terdiam sebentar ketika mendengar kalimat yang diucapkan Ki Damari barusan. Setelah itu tiba-tiba Ros yang sedang duduk manis itu melesat entah ke mana. Bapak dan Ki Damari yang masih duduk di ruang tamu sempat tercenung dan bingung. Sepasang mata Ki Damari lalu menyipit seolah memindai seluruh ruangan di rumahnya sendiri. Tangan kanan Ki Damari kemudian terangkat dan seolah mendorong sebuah pintu kamar yang berada tak jauh dari ruang tamu. Begitu pintu terbuka, Bapak dan Ki Damari melihat Ros sudah duduk santai dan membaca sebuah buku mengenai psikokinesis di ruang baca Ki Damari tersebut. Gadis kecil itu mengangkat wajahnya.
“Bukunya bagus, Ki. Ros pinjam, ya?!” ucapnya santai. Belum sempat Ki Damari menjawab, hanya dengan satu kedipan saja Ros sudah kembali berpindah lagi ke ruang tamu di mana mereka semula berkumpul. Ros sudah duduk di tempatnya semula dengan takzim sambil memeluk buku yang ia ambil tadi. “Ruang baca Aki rapi,” pujinya.
Ki Damari lalu tertawa keras setelah mengetahui kemampuan milik Ros sudah berkembang sangat cepat dari dugaannya. Kemampuan teleportasi dengan sempurna tidak bisa dilakukan oleh orang biasa. Untuk mempelajarinya pun biasanya akan memakan waktu hingga puluhan tahun lamanya. Apalagi untuk bisa melakukan teleportasi semulus yang Ros lakukan tadi. Entah berapa puluh tahun harus berlatih.
Namun Ros memang sudah dianugerahi bakat alami. Makanya di usia nya yang belum sampai sepuluh pun, Ros sudah bisa melakukan itu dengan sangat mudah.
“Sekarang Aki tidak perlu khawatir lagi sepertinya. Ros sudah bisa mengembangkan kemampuan yang Ros punya dengan amat baik,” kata Ki Damari kemudian. “Aki harap, Ros bisa membantu lebih banyak orang yang kesulitan setelah ini. Karena meskipun zaman akan semakin maju dan sangat canggih, namun hal-hal gaib yang ada di sekitar kita tetap perlu kita yakini dan percayai keberadaannya. Hanya saja jangan mempercayai jika makhluk-makhluk tersebut memiliki kekuatan yang tidak bisa kamu hadapi, Ros. Karena sebagai manusia, kedudukan kita paling mulia di mata Sang Pencipta daripada jin, s3tan, dan sebagainya. Meski begitu, Ros jangan memelihara sifat jemawa. Karena bagaimanapun kita sama-sama makhluk Allah SWT.”
Ros menganggukkan kepalanya mengerti. “Baik, Ki. Ros akan ingat terus.”
Hanya saja ternyata, mempraktikkan hal tersebut langsung di kehidupan nyata sangat sulit. Semenjak menyadari bahwa kemampuannya di atas rata-rata manusia normal, ujian dan cobaan Ros justru seolah ada saja. Ketika Ros membantu banyak orang seperti membersihkan rumah mereka, melepaskan seorang anak yang ‘disembunyikan’ dari pandangan kedua orang tuanya, memindahkan sekumpulan makhluk yang mengganggu sebuah gedung dan lain sebagainya, roh-roh tersebut ada yang tidak tinggal diam. Bahkan ada yang sengaja mencari Ros dan balik mengganggunya. Awalnya Ros menganggap itu merupakan bagian dari risiko pekerjaan yang dijalaninya. Namun lama kelamaan, ya terganggu juga. Apalagi jika yang datang benar-benar rombongan setan yang berdemo atas tindakannya tersebut.
Akhirnya Ros pun sampai harus mengadakan konferensi pers di depan para s3tan-s3tan yang protes atas ulah Ros mengusir dan mengganggu ‘pekerjaan’ mereka. Hanya saja Ros memberikan wejangan pada setan-setan ini agar lebih produktif mengisi waktu dan keseharian mereka. Meskipun terasa tidak masuk akal, tapi Ros melakukannya agar s3tan-s3tan ini berhenti mengganggu nya setiap saat.
Ros pun menghampiri para setan yang berhasil Ros kendalikan di satu tempat agar mereka tenang dan tidak lompat ke sana kemari atau sengaja bergentayangan.
Sebuah halaman luas di belakang rumah terpaksa Ros jadikan tempat konferensi pers di depan para s3tan dan dedm!t yang berdemo tersebut.
“Harap tenang ya, semua. Saya di sini mau klarifikasi saja sekali lagi bahwa saya hanya melakukan hal yang sudah seharusnya saya lakukan. Saya tahu kalian hanya menjalankan aktivitas keseharian kalian saja, yaitu menggoda dan menyesatkan manusia. Tapi saya juga harus melakukan pekerjaan saja,” ungkap Ros lantang. Ros baru merayakan ulang tahunnya kelima belas saat kejadian Ros didemo setan satu batalion itu. “Karena saya juga tidak ingin diprotes seperti ini lagi di kemudian hari, jadi saya mau kasih kalian sebuah ide aktivitas, ya. Meskipun saya yakin secara naluriah kalian udah tahu harus tugas kalian di muka bumi ini. Cuma saya pengin ngasih tahu kalian untuk jadi s3tan dan dedem!t yang bermartabat. Kalau memang kalian bosen menggoda dan menyesatkan manusia, kalian bisa melakukan banyak kegiatan lain kayak nonton konser, denger musik, dengerin orang gosip atau nonton pertandingan dunia sekalian.” Ros membeberkan beberapa ide yang bisa dilakukan para s3tan dan dem!t yang berkumpul. Betul deh, jika bukan karena sudah bosan diganggu, Ros tidak ingin juga berorasi di depan banyak sekali makhluk yang tampangnya rupa-rupa ini.
Ada yang tidak punya mata, ada yang kepalanya bolong, ada yang ukuran bola matanya lebih besar dari hidungnya seperti alien, dan banyak lagi wujud-wujud yang sulit untuk Ros perhatikan dengan saksama karena terlalu mengagetkan.
Tampaknya para s3tan dan dem!t ini kurang begitu memahami maksud dan kalimat Ros tersebut. Ros pun berusaha menyederhanakan kalimat nya supaya bisa lebih dipahami makhluk lain dunia tersebut. “Jadi, saya bukan nggak memahami bahwa kalian juga hanya memenuhi tugas yang sudah seharusnya. Tapi saya mau mulai sekarang kalian pilih-pilih jenis manusia yang mau digoda atau disesatkan, ya?! Nah, saya nggak begitu tahu nih pertimbangan atau keputusan kalian ketika mau godain atau menyesatkan manusia itu apa. Cuma saran saya mulai sekarang lebih milih jenis manusianya. Jadi, biar nggak ada lagi nih bocah yang lagi pulang sekolah kalian umpetin di bawah pohon asem, atau ngegangguin penghuni rumah yang jelas-jelas udah permisi dan lebih berhak di situ.” Ros menghela napas sejenak karena bicara secara resmi di depan sekumpulan s3tan dan dem!t juga ternyata tidak mudah dan perlu kesabaran serta tatanan kalimat yang tepat agar bisa lebih mudah dimengerti.
“Tapi sebelumnya saya mohon maaf dulu nih. Soalnya kan saya nggak begitu paham ya hitungan atau pertimbangan kalian kalau mau mengganggu manusia. Jadi, kalau memang saran saya kurang sesuai ya jangan terlalu dipikirin dan jangan menjadikan kalian emosi jiwa. Cumaaaaa…” Ros menggantung kalimatnya dan membuat para makhluk berbeda-beda penampakannya tersebut tetap hening dan memberi perhatian penuh padanya. “Saya nya jangan diganggu lagi. Karena saya kan cuma melaksanakan pekerjaan saya. Kalau kalian udah kelewatan ya saya juga harus bertindak dengan benar bukan?!” Ros mencoba berkata dengan bijak namun sepertinya bahasa manusia nya ini. Sebab s3tan dan para dem!t yang mendengarkan konferensi nya pada malam itu sama sekali tidak memberikan reaksi yang ia harapkan. Atau memang mereka sebenarnya belum memahami ke mana arah pembicaraan Ros?
Beberapa detik berlalu dan para s3tan maupun dem!t itu masih belum memberikan reaksi atas apa yang diucapkan oleh Ros. Saat Ros sudah mulai putus asa, seorang dem!t kemudian bicara. “Kalau kami tidak mau melakukan apa yang makhluk rendahan sepertimu katakan tadi, kau mau apa?” tanya dem!t tersebut membuat Ros tersentak dan langsung merubah posisi berdirinya. “Untuk apa juga kami harus mendengarkan dan menuruti perkataan makhluk rendahan sepertimu?”
Ros tersenyum kecil setelah seorang demit yang sebenarnya wujudnya membuat mual karena wajahnya dipenuhi dengan belatung hidup memenuhi mata, hidung, dan mulutnya, akhirnya berani bicara padanya. Hal ini memang Ros harapkan.
“Hmm, jika masih menyatakan keberatan dan tidak ingin mengikuti perkataan saya masih tidak apa-apa sebenarnya,” balas Ros kemudian. “Tapi jangan sekali-kali berani menyebut saya makhluk rendahan sedangkan yang saya tahu sebutan itu lebih cocok untuk kalian.” Kalimat Ros langsung membuat para s3tan dan dem!t bereaksi.
Ada seorang dem!t yang kemudian terbang dan hendak melukai Ros, namun dengan cepat Ros berteleportasi ke tempat berbeda. Dem!t lain kemudian ikut terbang dan mencoba mengejar Ros tapi Ros berhasil berpindah lagi. Begitu seterusnya sampai hampir semua s3tan dan demit beraksi dan hendak menyerang Ros. Ini akan sangat melelahkan dan menguras tenaganya. Tapi Ros sudah mempersiapkan dirinya untuk ini. Para dem!t dan s3tan-s3tan itu harus tahu dengan siapa mereka sedang berhadapan. Meskipun usianya masih muda, tapi kekuatan yang ia punya saat ini sangat mampu untuk membuat para makhluk tersebut tak berkutik hingga mundur.
Ros hanya perlu mencari celah untuk mencari dem!t yang paling tinggi kekuatannya untuk bisa ia tundukkan agar para s3tan dan dem1t lainnya tak lagi membantah ucapannya setelah ini. Setelah memusatkan radarnya, Ros pun berhasil menemukan satu dem!t yang memiliki tingkat kekuatan serta usia yang lebih tua daripada demit lain yang berkumpul di sana. Ros segera memindahkan demit tersebut dan menariknya ke atas genting bersama dengannya. Tindakan Ros tersebut jelas membuat kaget semua s3tan dan dedem!t yang hadir karena berhasil menyentuh makhluk yang tidak setara dengan mereka.
“Lihat, kan?! Saya mampu memegang makhluk ini dengan tangan saya yang polos dan mampu juga untuk membuatnya tak berkutik. Tapi saya tidak akan terlalu banyak bicara lagi. Karena kalian pasti membutuhkan bukti untuk bisa mempercayai ucapan saya.” Usai bicara, Ros kemudian membanting makhluk tersebut hingga genting rumahnya hancur. Sebelum makhluk tersebut sempat tersadar dan melakukan serangan balik, Ros segera menggerakkan kedua tangannya seolah mencengkeram dengan kuat ke arah makhluk tersebut. Tak lama makhluk tersebut menjerit kesakitan.
Lengking kesakitan makhluk tersebut memekakan telinga demit dan setan lain sehingga mereka ikut menjerit dan ada juga yang sampai menangis.
“Kalian boleh tidak mendengarkan saya, tapi jika sampai kalian berbuat seenaknya dan berhadapan lagi dengan saya, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan, kan?!” Ros sengaja bicara dengan amat lantang hingga suaranya memecah keheningan malam. Makhluk-makhluk tersebut kemudian mengangguk dan menyatakan kesediaannya untuk menuruti permintaan Ros. Ros kemudian melepaskan makhluk terkuat di antara para demit tersebut dan membiarkannya pergi.
Satu per satu s3tan-s3tan dan para demit pun meninggalkan kediaman Ros tanpa protes lagi. Setelah keadaan normal kembali, tubuh Ros luruh begitu saja. Ia sungguh kelelahan karena harus mengeluarkan banyak energi dan tenaga dalam agar bisa mencengkeram dengan kuat demit terkuat tadi. Ros pun tak sadarkan diri hingga beberapa hari.