Pemulihan Tenaga

1862 Words
Menurut cerita Bapak, Ros tak sadarkan diri hingga empat hari sebelum akhirnya ia siuman dan sanggup untuk membuka matanya. Meski begitu Ros masih lemas luar biasa. Akhirnya Ros pun dibuatkan sarapan spesial oleh Bik Imah sebuah bubur ayam kampung spesial. Bubur tersebut memang seperti bubur biasa pada umumnya. Hanya saja, Ki Damari sempat mengirimkan garam dapur spesial untuk membantu mempercepat pemulihan tenaga dalam Ros yang sempat terkuras habis. “Lagian kenapa harus dikumpulkan semua s3tan nya sih, Nduk? Apa nggak bisa  satu per satu aja? Biar tenaga kamu nggak terkuras sampai segini banyaknya?” Bapak bicara di tepi tempat tidur Ros ketika Bik Imah masih membuatkan bubur. “Biar cepet selesai, sih, Pak. Soalnya bakal makan waktu juga kalau satu per satu. Bapak pikir s3tan sama dem!t nya itu cuma satu dua apa? Satu kampung, Pak, yang dateng,” jawab Ros menerangkan. “Tapi kayaknya sih mereka udah sepakat untuk nggak mengganggu kita lagi. Jadi, setimpal lah sama apa yang udah Ros lakukan.” “Tapi lain kali kamu nggak usah memaksakan diri lagi kayak gitu ya, Nduk. Bapak nggak tega ngeliat kamu harus sampai pingsan berhari-hari kayak kemarin,” pinta Bapak dengan sungguh-sungguh. “Kalau memang sudah kewalahan menghadapi makhluk-makhluk itu, kamu bisa minta tolong Ki Damari juga lho sebenernya, Nduk.” “Nah, kalau sama Aki Damari itu beda lagi urusannya, Pak. Aku nggak mau ngerepotin Aki Damari dengan urusan pekerjaanku, Pak,” ucap Ros. “Jadi, kalau masih bisa aku urus dan atasi sendiri ya aku nggak akan minta tolong ke Aki Damari, Pak.” Bapak mencoba mengerti pilihan Ros tersebut. Ia pun hanya bisa mendukung saja. “Yah, kalau memang begitu pertimbangan kamu, Bapak cuma bisa dukung, Nduk. Tapi ingat, jangan sampai memaksakan diri lagi.” Pesan Bapak langsung Ros setujui. “Iya, Pak, aku paham. Apa yang terjadi kemarin anggap aja aku lagi melatih ilmu dan kekuatanku sendiri. Karena aku merasa aku masih bisa mengeluarkan lebih banyak lagi kekuatan kemarin. Tapi kayak susah sekali. Aku aja sampai bingung, Pak.” “Ya, mungkin memang kamu masih butuh latihan lebih banyak lagi.” Bapak menganggukan kepalanya. “Seperti yang pernah Ki Damari bilang, kekuatan kamu memang masih bisa diasah dan dikembangkan. Bapak hanya berpesan nikmati saja waktu yang berjalan, sambil mencoba semua ajian yang memang ada dalam diri kamu sekarang. Kamu kan juga baru masuk SMA. Nggak perlu buru-buru,” kata Bapak lagi. Ros hanya terdiam. Karena sebenarnya ia masih terusik dengan ungkapan Ki Damari yang menyebut bahwa penglihatan Ki Damari tidak dapat melihat Ros hingga di atas usia ke tujuh belas. Apakah itu berarti bahwa ada sesuatu yang akan terjadi padanya sebelum ia berusia delapan belas? Saat Ros sibuk memikirkan mengenai berbagai kemungkinan, seseorang mengirimkan pesan melalui layanan pesan Line nya. Segera diambilnya ponsel di atas meja yang ada di samping tempat tidurnya. Ketika Ros membuka pesan tersebut, ia langsung tersenyum. Entah mengapa orang-orang ini seperti selalu tahu saja apa yang sedang ia khawatirkan. Mengapa juga juga bisa kompak mengirimkannya pesan di waktu yang hampir berdekatan seperti ini? Pesan pertama datang dari Ayla, yang kedua datang dari Gagah, dan yang ketiga dari Ki Damari yang sudah seperti kakek kandungnya sendiri. Ros membaca pesan mereka satu per satu dan langsung senyum-senyum sendiri karena isi pesannya. Aylala Depp Mpok, gue denger lo abis ngadepin s3tan satu batalion? Itu s3tan semua kagak nyampur umbi-umbian lo yakin? Ros langsung membalas pesan yang dikirimkan Ayla tersebut sambil menahan senyum gelinya sendiri dengan bahasa dan kalimat yang dikirimkan sahabatnya itu. RosssO Iya, Mpok, beneran se-batalion. Gue ampe bingung sendiri Kenapa gue populer banget ya di kalangan lelembut? xD Kagak ada campuran umbi-umbian, Mpok, semuanya satu jenis. Rata. Lo kenapa belum tidur, Mpok? Usai membalas pesan dari Ayla, Ros pun segera membaca pesan dari Gagah. Burung Gagahk Apa kabarnya yang udah ngeluarin banyak tenaga dalam? Masih idup kan lo?! Gue denger dari bokap lo, katanya lo didemo sama s3tan sekampung. Lo baik-baik aja sekarang? Nggak  usah cemas soal absensi lo, gue udah nulisin surat atas nama Bokap lo. Wali kelas lo nggak bakal berani bikin nama lo alpa. Entah berapa kali Gagah sudah berinisiatif menuliskan surat yang dikirimkan langsung pada wali kelas mereka atas nama Bapak nya. Hal tersebut Gagah lakukan setelah tahu bahwa Bapak Ros kurang begitu kooperatif untuk urusan sekolah Ros. Bapak memang menyekolahkan Ros di tempat paling bagus dan mahal, tapi seakan tidak begitu memedulikan mengenai pritilan-pritilan kecil tentang Ros dan urusan sekolahnya. Tapi untuk urusan pembayaran dan honor dari p3langgan yang memakai jasa Ros, Bapak selalu bergerak cepat dan bisa menghitung dengan cekatan. Ros semula berpikir bahwa mungkin Bapak agak minder karena ia hanya orang kampung. Ia kurang percaya diri juga jika harus tampil di publik kecuali yang berhubungan dengan pekerjaan. Makanya Ros cukup senang karena Gagah sudah berinisiatif dan menuliskan semua surat izin yang diberikan langsung ke wali kelasnya saat ia tak ada. RosssO Gue masih idup, Gah, resek lo. Yang demo bukan cuma  sekampung masalahnya, Gah. banyak banget gue sampai pusing ngeliatnya. Tapi sekarang udah nggak apa-apa. harusnya mereka kapok sih setelah gue kasih lihat kemampuan gue yang sebenernya. Eh, lo tanyain ada tugas nggak ke kelas gue? Usai membalas pesan dari Gagah tersebut, Ros membuka pesan ketiga dari Ki Damari. Paranormal yang menurut buku harian ibunya adalah sahabat karib Ibu sejak masih SD tersebut juga mengetahui kejadian saat kediaman Ros di demo oleh para lelembut yang tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan nya. Mengenal Ki Damari sebenarnya membuat Ros merasa tidak sendiri. Setidaknya ilmu dan kemampuan yang saat ini ia miliki cukup ‘masuk akal’ saat mengobrol atau berinteraksi dengan Ki Damari. Ros pun membaca pesan teks singkat yang dikirimkan oleh Ki Damari padanya. Aki Damari Aki dengar kamu baru mengeluarkan banyak tenaga dalam hingga pingsan. Ketika kamu siuman, jangan  lupa pesan Aki. lakukan pembersihan diri serta meditasi untuk menetralkan aura. Sebab yang kamu hadapi itu Bukan satu atau dua makhluk saja, Ros. Segera sehat. Perhatian dari Ki Damari ini seperti memiliki kerabat dekat dari sisi Ibu nya. Meskipun ia memiliki Bapak, tapi kadang rasanya tetap jauh saja. Komunikasi mereka kadang selalu ada kaitannya dengan kekuatan yang ia miliki. Padahal, Ros juga ingin bisa berkomunikasi di luar hal-hal klenik atau gaib dengan ayahnya tersebut. Namun seingat Ros, sejak kecil memang tidak ada topik komunikasi di luar topik tentang kekuatannya. Mungkin Bapak memiliki trauma sendiri dan takut jika Ros lalai dan membahayakan semuanya seperti yang dulu pernah dilakukan oleh almarhumah Ibu. Itulah mengapa Ros justru merasa berbicara dengan Ki Damari jauh lebih terasa dekat dan akrab, seperti bicara dengan Bapak nya sendiri. Ros pun tak menunggu lama untuk membalas pesan yang dikirimkan oleh Ki Damari tersebut. RosssO Maaf baru bisa sempat membalas pesan Aki. Ros sekarang sudah siuman dan baik-baik aja, Ki. Tenaga memang belum pulih sepenuhnya, tapi besok Ros akan melakukan pemulihan tenaga dan bermeditasi. Makasih ya, Ki, buat sarannya. Akan Ros lakukan besok. Ros udah baikan sekali sekarang. Setelah membalas semua pesan yang menaruh perhatian dan kekhawatiran padanya, Ros pun meletakkan lagi ponselnya. Bik Imah sudah datang sambil membawa nampan yang di atasnya tersedia mangkuk dan sebuah mug bening berisi s**u coklat hangat. Ros segera turun dari tempat tidur dan bangun. “Taruh di atas meja belajar aja, Bik. Ros mau makan di situ sambil nonton film soalnya,” ucapnya pada asisten rumah tangga nya yang langsung menuruti ucapannya. “Ini ya, Non, bubur ayam kampung nya. Karena tahu si Non suka pedes, ini Bibik bawain juga minyak cabe yang Non suka,” kata Bik Imah yang membuat Ros hampir berlonjak kegirangan. Namun Bik Imah segera menyambung kalimatnya. “Tapi janji jangan kebanyakan lho, ya. Soalnya Non masih harus mulihin tenaga lho.” Bik Imah meletakkan mangkuk, sendok bebek, mug s**u coklat dan jar kecil di meja Ros. Ros segera mengacungkan jempolnya pada Bik Imah. “Beres, Bik. Ah, Bibik nih terbaik banget. Padahal Ros baru mau ngomong bawain minyak cabe sekalian biar makin sip. Eh, malah dibawain,” balas Ros lalu menarik kursi belajarnya. “Ros curiga lama-lama Bibik juga bisa belajar baca pikiran deh karena kerja di sini,” ungkapnya lagi. Namun kalimat Ros itu justru membuat Bik Imah menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Nggak usah bisa, Non. Astagfirullah, Bibik mah mending jadi orang biasa aja. Nggak perlu tahu atau bisa ngeliat yang begitu-begitu. Bibik kan orangnya penakut, Non,” sanggah Bik Imah. “Bibik bawain minyak cabe bukan karena bisa baca pikiran, Non. Tapi memang biasanya Non kalau habis ritual gitu pasti minta makanan yang agak pedes. Makanya Bibik inisiatif aja bawain minyak cabe yang Non buat sendiri.” Mendengar penjelasan Bik Imah yang panjang lebar serta gestur ketakutannya justru membuat Ros tertawa. “Ya, ampun, Bik. Ros juga cuma bercanda. Ih, lagian gampang banget, sih, digodain kayak tadi. Bibik tahu sendiri Ros bukan kali pertama godain Bibik kayak tadi. Masih aja kena,” ledek Ros lalu mulai mengambil sendok bebek di sebelah mangkuk buburnya tersebut dan memperhatikan wajah Bik Imah. “Ya, si Non mah seneng banget lagian godain Bibik kayak gitu. Tahu sendiri selain penakut, Bibik juga orangnya pelupa. Mana inget Non suka godain apa aja ke Bibik,” tukas Bik Imah kemudian memeluk nampan yang ia bawa. “Jangan gitu lagi ya, Non. Nanti Bibik nggak bisa tidur bahaya lho. Besok nggak bisa bangun pagi buat masakin nasi goreng kornet kesukaan Non.” Bik Imah malah memberi Ros ancaman. “Eh, ya ampun malah diancem. Jangan dong, Mbok,” rengek Ros pada Bik Imah. “Iya, deh, Ros nggak bakal godain Bik Imah lagi soal yang begitu-begitu, hihi.” Wajah Bik Imah kemudian mulai tampak biasa saja dan tidak setegang saat membahas hal gaib seperti tadi. “Ya, udah silakan dimakan bubur ayam nya, Non. Jangan lupa baca bismillah juga. Non harus cepet sehat, biar bisa beraktivitas lagi kayak biasa.” Bik Imah memberikan motivasi semampu dan sebisanya pada Ros. Ros mengangguk lalu mulai meletakkan sendok bebek di atas bubur ayam nya yang mengeluarkan aroma yang sangat sedap dan sudah mengg0da penciumannya. “Siap, Mbok. Ros makan, ya, bismillahirohmanirohim.” Ros segera menyendok bubur yang dibuatkan Mbok Imah tersebut dan mengipasinya sebentar sebelum menyuapkannya ke dalam mulut. Pada suapan pertama saja, Ros langsung memejamkan mata dan mengacungkan kedua jempol pada Bik Imah. “Ini enak banget, sih, Mbok. Ini pasti bukan karena Ros lagi laper tapi emang karena buburnya enak.”  Mbok Imah tampak tersipu dipuji oleh Ros seperti itu. Ia pun menganggukkan kepalanya lalu menyilakan Ros untuk memakan buburnya lagi. “Habisin ya, Non. Bibik balik ke bawah dulu,” kata Bik Imah lalu berjalan keluar dari kamar Ros. “Makasih buburnya, Bik,” ucap Ros yang hanya dibalas dengan senyum manis Bik Imah sebelum menutup pintu kamar Ros. Gadis itu lalu menyendok lagi bubur ayam kampung di hadapannya tersebut dan masih takjub dengan rasanya. “Sumpah, Bik Imah ini memang jago banget bikin-bikin masakan enak kek gini,” gumamnya lalu mulai membuka jar chili oilnya yang tertutup rapat. Diambilnya seujung sendok dan mulai dicampurkannya dengan bubur ayam tersebut. Setelah diaduk hingga rata, Ros kembali menyuapkan bubur tersebut dan senyumnya kembali merekah lebar. “Perfect!” katanya masih tersenyum dikulum. Ia lalu menyalakan komputer nya dan mulai mencari film yang cocok untuk menemaninya menyantap bubur ayam kampung malam itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD