Sebenarnya ada banyak sekali peristiwa di mana Ros harus berhadapan dengan para makhluk n4kal yang mengusiknya secara pribadi setelah ia menyelesaikan pekerjaannya membantu orang lain. Jika hanya sekadar menggodanya saja, Ros pasti akan mengabaikan dan tidak terlalu mengindahkan. Hanya saja jika sampai mengganggu pekerjaan sampai pada aktivitasnya, maka Ros akan kelabakan dan pusing sendiri. Apalagi jika sampai ada s3tan dan dem!t yang memiliki kekuatan cukup tinggi hingga mampu menembus perlindungan yang sengaja ia pasang di seluruh area sekolahnya dan sekolah Ayla. Hal itu akan semakin merepotkan karena itu tandanya Ros harus cuti beberapa hari untuk bisa mendeteksi keberadaan sebenarnya dari makhluk tersebut. Sama seperti yang sedang terjadi beberapa hari ini hingga tadi saat ia hendak kembali ke kelasnya. Ros sungguh merasakan aura berbeda di sini. Jadi sudah bisa dipastikan bahwa ada makhluk yang memiliki kekuatan tinggi hingga bisa melacak keberadaannya dan menembus mantra pelindung yang sudah ia pasang dan perbarui setiap hari. Ros jadi penasaran sendiri dengan jenis dari makhluk tersebut.
Karena ia sudah janjian dengan Ayla dan Gagah untuk pergi ke warnet sepulang sekolah nanti, maka Ros pikir ia bisa menarik perhatian makhluk tersebut untuk terus mengikutinya hingga ke sana. Seingatnya di belakang warnet tersebut ada sebuah tanah kosong yang bisa Ros pinjam sebentar. Setidaknya sekarang Ros hanya perlu menjalani kesehariannya dengan biasa saja. Meski setelah ia masuk ke dalam kelas, segala hal tidak menyenangkan selalu bisa terjadi. Teman-teman satu kelasnya masih menganggap dirinya tidak ‘ada’. Selain itu mereka juga masih sering mengungkit tentang kemampuan supernatural Ros. Meski jengkel, tapi Ros juga tak punya pilihan.
Begitu ia masuk kelas, seperti biasa, banyak anak-anak yang langsung mendadak diam sambil berbisik-bisik dan mengarahkan pandangannya ke arah Ros. Ada yang terang-terangan dengan memberikannya pandangan sinis, ada juga yang masih sembunyi-sembunyi namun berbisik mengenai kemampuannya, dan ada juga yang memang sengaja tak ingin memandangnya sama sekali. Di tahun awal masuk sekolah ini, Ros sering menangis atas perlakuan mereka. Namun sekarang, Ros berusaha tak acuh saja. Segala perlakuan atau pikiran mereka kan tidak dapat diatur. Makanya Ros memilih untuk terlihat tidak mencolok di kelas ini, sebisa mungkin.
Pelajaran selanjutnya adalah Kimia yang seharusnya diisi oleh Pak Ifan. Namun bukan Pak Ifan yang masuk ke kelas setelah itu, melainkan Bu Endang, wali kelas sekaligus guru Sejarah nya. Bu Endang tidak datang ke kelas Ros seorang diri. Di sebelahnya, berdiri seorang murid laki-laki yang sontak membuat riuh gadis-gadis di kelasnya, kecuali Rosmanah tentu saja. Ia tetap bergeming dan melihat ke depan dengan pandangan tidak berminat sama sekali. Bu Endang lalu berdiri di depan kelas.
“Perhatian anak-anak. Ibu sekarang bersama seorang murid baru yang kebetulan baru pindah dari…” kalimat Bu Endang terpotong lalu memandang pada anak lelaki itu. “Kamu pindahan dari mana tadi? Ibu lupa,” ucap Bu Endang lalu menyeringai malu pada anak lelaki itu. Si anak lelaki itu menoleh pada Bu Endang sebentar dan membuat Bu Endang sempat terdiam lalu menghadap lagi pada murid-muridnya. “Nanti kalian bisa kenalan sendiri lah, ya, asal muasalnya. Langsung saja, perkenalkan diri pada teman-teman baru kamu di sini.” Bu Endang mempersilakan pada anak lelaki itu.
Si anak lelaki lalu mengambil posisi dan berdiri dengan tegak di depan kelas. Hal tersebut membuat anak-anak perempuan kelabakan persis cacing kepanasan, tentu hanya Ros yang tidak bergerak-gerak sendiri seperti yang lain dan tetap takzim duduk di kursi. Ia hanya menunggu sampai anak lelaki itu memperkenalkan dirinya sendiri.
“Halo, nama saya Taji.” Ketika anak laki-laki itu menyebutkan namanya, punggung Ros mendadak menegak dan seperti merasakan sesuatu yang ia kenal tapi bingung juga di mana. Ros mencoba memusatkan ingatannya sambil mendengar lanjutan anak bernama Taji itu bicara. “Saya tidak punya nama belakang, jadi silakan panggil saya dengan Taji. Terima kasih banyak,” katanya mengakhiri sesi perkenalan.
Di mata para anak perempuan di kelas Ros, apa yang Taji lakukan barusan langsung menarik rasa penasaran hebat nan luar biasa. Mereka jadi semakin belingsatan dan seolah-olah gemas sendiri dengan Taji. Padahal Ros tidak melihat Taji gemas juga pada mereka. Malah cowok ini keliahatannya datar-datar saja, terkesan tidak tertarik malah. Tapi konon, semakin cuek atau misterius seorang cowok, maka daya pikatnya pun akan semakin meningkat. Masalahnya Ros tidak melihat ada pesona yang dimiliki anak baru ini seperti yang diributkan anak perempuan di kelasnya. Jadi ia pun merasa biasa saja dan masih memusatkan pikirannya untuk mencari memori tentang perasaan yang timbul saat kali pertama mendengar Taji mengucapkan nama.
“Nah, karena kalian udah tahu namanya, jadi Ibu harap kalian bisa menerima dan berteman dengan baik ya sama Taji ini,” pesan Bu Endang. “Nah, sekarang kamu duduk di…” Bu Endang lalu memperhatikan satu per satu wajah anak-anak muridnya yang langsung cari perhatian terutama yang perempuan. Sementara yang cowok-cowok tampak biasa dan cuek saja. Dan ada satu anak perempuan yang saat ini wajahnya sama cueknya dengan tampang murid-murid lelaki yang lain. Bu Endang pun tersenyum. “Taji duduk di sebelah Ros, ya,” kata Bu Endang sambil menunjuk ke arah Ros yang dari depan kelas terlihat seperti sedang membaui meja nya sendiri. Padahal sebenarnya Ros sedang berkonsentrasi dan mengingat perasaan yang muncul ketika mendengar Taji menyebutkan namanya. Ros langsung tersadar ketika anak-anak perempuan menyuarakan protes besar-besaran pada Bu Endang atas keputusannya.
“Kenapa Taji disuruh duduk sama orang aneh itu, Bu? Kenapa nggak sama aku aja?” tanya Shinta yang langsung protes keras atas keputusan Bu Endang. “Lagian kalau Taji duduk di depan kan jauh bisa lebih berkonsentrasi belajar,” lanjut Shinta.
“Betul, Bu. Taji suruh duduk di sebelah Shinta aja. Kalau ditaruh di belakang takut Taji kesurupan, Bu,” tukas Delta ikut mengompori suasana. “Di sekitar Ros kan pasti banyak makluk halus nya. Kasihan nanti Taji, Bu.” Delta mencoba meyakinkan.
Mendengar itu Taji lalu tersenyum. Senyuman yang membuat cowok itu menarik bibirnya dengan sempurna dan mempertontonkan deretan gigi yang amat rapi dan bersih terawat. Senyum yang kontan membuat hening seluruh kelas, termasuk Bu Endang dan Ros yang ikut terdiam. Senyum Taji yang barusan seolah menghipnotis dan membuat d4da para anak gadis langsung melompat ke sana ke mari tak karuan.
“Kalau gitu, saya jadi semakin ingin duduk di sebelah Ros.” Ucapan Taji barusan langsung merontokkan harapan Shinta dkk dan beberapa anak perempuan lain. Taji kemudian menoleh pada Bu Endang. “Saya boleh langsung duduk di sebelah Ros, Bu?”
Bu Endang yang sempat ternganga lalu segera tersadar. “Ah, iya, boleh Taji. Silakan langsung ambil kursi di sebelah Ros. Usahakan tidak kesurupan ya, Taji,” pesan Bu Endang yang hanya ditanggapi Taji dengan senyum kecilnya. Senyum kecil dan singkat itu bahkan sanggup membuat jantung Bu Endang berdegup saking gugupnya.
Taji lalu berjalan ke arah Ros yang dengan pelan sambil menatap lurus ke arah gadis yang menatapnya dengan kebingungan. Ketika sampai di meja Ros, Taji langsung hendak duduk namun Ros meletakkan tangannya di atas bangku tersebut dan berbisik. “Lo beneran bisa kesurupan kalau maksa duduk di sini lho. Udah, duduk sama Shinta aja sana. Biar nggak berisik nanti mereka,” bisik Ros sambil mengusir Taji pergi.
Cowok itu kembali tersenyum lalu mengambil pergelangan tangan Ros dari bangku tersebut dan membuat Ros terpaku. Tindakan tersebut membuat anak-anak perempuan yang melihatnya menahan nafas, termasuk Ros sendiri. Selain Bapak dan Ki Damari saat membantunya melatih ilmu tenaga dalam, tidak ada laki-laki lain yang pernah menyentuhnya seperti ini. Anehnya, timbul semacam getaran aneh yang tidak Ros pahami dalam hati. Hanya saja sedetik kemudian Ros segera menarik tangannya.
“Ngapain sih lo pegang-pegang gue?” semprot Ros dengan nada yang dibuat serendah mungkin. Ia tidak ingin menarik perhatian, meski tentu saja tindakan Taji tadi sudah dilihat banyak orang. “Gue nyuruh lo pergi dari sini buat kebaikan lo sendiri!”
Taji lalu duduk di sebelah Ros dan melirik pada gadis itu. “Gue bisa menjaga diri gue sendiri, lo nggak usah khawatir. Lagian nggak akan ada juga yang bisa masuk ke tubuh gue,” terang Taji. Ia lalu mencoba duduk dengan tenang dan menghadap ke depan. “Letak kursinya pas, Bu. Saya nyaman di sini,” kata cowok itu pada Bu Endang.
Bu Endang mengangguk. “Ah, syukurlah kalau memang kamu nyaman duduk di situ. Baiklah anak-anak, karena Taji sudah duduk di tempat yang ia suka, Ibu juga teringat pesan Pak Ifan. Beliau berhalangan hadir untuk mengajar hari ini. Jadi, silakan kalian kerjakan LKS saja katanya dari bab 7 sampai 8, lalu segera kumpulkan sebelum pergantian pelajaran berikutnya. Pelajaran apa habis Pak Ifan?” Bu Endang mengecek pada jadwal yang ada di dinding. “Nah, sebelum pelajaran Bahasa Indonesia, Sadam sebagai ketua kelas tolong kumpulkan LKS nya langsung ke meja nya Pak Ifan.”
Sadam yang duduk persis di meja paling depan langsung mengangguk dan mengiyakan pesan Bu Endang. “Siap, Bu. Lima belas menit sebelum bel pergantian pelajaran, saya ingatkan teman-teman untuk mengumpulkan ke depan,” jawab Sadam.
“Oke, anak-anak. Ibu tinggal, ya. Tolong jangan ribut. Di ruang sebelah ada Pak Sakti. Kalau bikin keributan lagi di kelas ini, Ibu nggak akan turun tangan lho kalau kalian dijemur lagi di tengah lapangan,” ancamnya dengan ekspresi sungguh-sungguh.
“Siap, Bu!” jawab anak-anak satu kelas nyaris kompak. Setelah Bu Endang berjalan keluar, keriuhan langsung terjadi tanpa bisa dicegah sama sekali.
Shinta dan kawan-kawan satu genk nya langsung beranjak dari kursi dan berjalan menuju meja Ros. Sambil melipat tangan dan menyetel tampang angkuh, Shinta lalu bicara pada Ros. “Heh, anak aneh, minggir lo! Gue mau duduk di sini,” katanya dengan nada galak. Tatapannya tajam saat melihat ke arah Ros yang kebingungan. Ros masih diam saja dan membuat Shinta makin sebal. “Lo congek, ya? Gue nyuruh lo buat minggir. Gue mau duduk di sini gue bilang. Bud3k amat lo!”
Sebenarnya Ros malas ribut. Tapi dirinya sudah amat sangat mengalah hingga akhirnya menepi dan menyendiri duduk di belakang sendiri. Namun saat dirinya sudah mengalah seperti ini tapi masih diusik juga, Ros merasa tak bisa lagi tinggal diam.
Ros lalu menyeringai dan menaruh kedua sikunya di atas meja lalu memangku dagu nya sendiri. “Oke, pertama gue nggak congek, gue bisa denger suara lo yang sengaja lo tinggiin barusan. Kedua, lo udah punya tempat duduk lo sendiri di depan sana. Kenapa juga gue harus ngasihin bangku yang lagi gue dudukin ke lo juga? Kan pant4t lo juga cuma satu. Ngapain pakai dua bangku?” balas Ros dengan suara tenang.
Tak disangka, kalimat terakhir Ros membuat Taji tergelitik geli. Ia bahkan menoleh pada Ros dan memberikan tatapan bersahabat yang membuat Shinta makin melotot. Shinta lalu menggebrak meja Ros dengan keras dan membuat hening satu kelas. “Heh! Sebagian besar duit buat ngebangun sekolah ini itu duit punya bokap gue. Mungkin lo nggak tahu jadi biar gue kasih tahu aja ke lo biar lo tahu diri. Kalau gue mau, bangku yang lo pake itu juga dibeli dari duitnya bokap gue. Tahu lo!”
Ros lalu mengerjapkan matanya sebentar lalu mengangguk. “Tapi gue dan semua murid yang masuk ke sekolah ini itu semuanya bayar uang gedung, uang sumbangan, uang tahunan, SPP dan biaya-biaya lainnya. PD amat lo ngakuin semuanya dibeli pake duit bokap lo?!” balas Ros masih dengan nada tenang.
“Memang faktanya begitu kok. Meskipun kalian bayar uang gedung dan lain-lain, tetap aja nggak cukup buat ngebeli ini semua. Mikir, emang duit sumbangan kalian sebanyak apa, sih?!” sergah Shinta lagi dengan nada mengejek. “Nggak usah ngelawan gue deh lo nggak bakal menang. Mending lo cepetan minggir dan bangun karena gue kepengin duduk di sini,” bentak Shinta kembali menggebrak meja Ros.
Ros menghela napas berat dan segera mengemasi barang-barangnya sendiri. Dengan sabar ia memasukkannya ke dalam tas. Ketika Ros bangun dari bangkunya, Taji juga mengikuti Ros dan pindah ke bangku yang semula diduduki oleh Shinta. Hal tersebut tentu membuat mulut Shinta ternganga. Sebenarnya Ros tidak mengharapkan bahwa Taji akan mengintil dirinya dan duduk di bangku yang sebelumnya dikuasai oleh Shinta. Tapi tindakannya justru malah menguntungkan dirinya saat ini.
“Silakan ambil bangku itu. Gue nggak apa-apa kok duduk di sini,” kata Ros menoleh pada Shinta yang masih tercenung di depan meja nya dulu.
Shinta lalu tersadar dan kembali ke bangku miliknya yang kini sudah diduduki Ros dan Taji. “Maksud gue lo doang yang minggir, Taji nggak usah lo ajak juga beg0!”
Ros lalu menoleh pada Taji. “Memang tadi gue ngajak lo berdiri buat pindah?” tanyanya pada cowok itu. Taji langsung menggeleng tegas. Ros kembali menoleh pada Shinta. “Faktanya gue nggak ngajak dia. Dia sendiri yang mau pindah,” balasnya lagi.
Shinta jadi semakin geram lalu segera menarik tangan Ros yang hendak mengeluarkan buku LKS Kimia dari dalam tasnya. Karena tidak siap dengan gerakan Shinta yang tiba-tiba, Ros nyaris terjatuh andai Taji tidak segera merengkuh pinggang Ros. Makanya yang berhasil ditarik oleh Shinta hanya lah tas Ros saja yang kini mengeluarkan seluruh isi yang ada di dalamnya. Ros sempat kaget namun segera tersadar dan melepaskan dirinya dari tangan Taji. Ia bergegas membereskan buku dan alat-alat tulis yang berserakan di lantai. Saat Ros sedang mengambil tempat pensilnya, Shinta sengaja menginjak tangan Ros. Ros langsung mengaduh dan membuat Shinta serta kawan-kawannya tertawa puas. Taji segera menarik lengan Shinta dan menguncinya ke belakang hingga kini giliran Shinta yang mengaduh.
“Lo udah menyebalkan dari tadi, tapi masih gue tahan. Sekarang karena lo udah pake k3kerasan dan menyakiti orang lain, makanya gue nggak bisa lagi cuma nonton dan diam,” kata Taji. “Singkirin kaki kotor lo dari tangan nya Ros sekarang!” pintanya tetap tenang. “Ini bukan negosiasi, tapi perintah!” lanjut Taji karena ia sadar bahwa Shinta pasti akan menolak melakukannya.