Ros hanya menyeringai lebar ketika Taji bertanya apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu setelah ia tahu harus melakukan apa dalam waktu dekat ini. Terus terang saja Ros agak bingung darimana ia harus memulai pencariannya. Karena selama ini pun informasi yang ia miliki tentang dirinya terlalu sedikit hingga mengundang sejumlah rasa curiga. Meski demikian, Ros tak dapat melakukan apa-apa.
“Apa gue harus tapak tilas lebih dulu tentang hidup gue? Harus mulai dari mana dulu tapi, ya?!” kata gadis itu sambil memperkirakan sendiri beberapa kemungkinan.
“Kalau saran gue sekarang lo bisa olah lagi dulu kekuatan dan kemampuan bela diri lo. Karena selama ini lo belum memaksimalkan semuanya,” balas Taji yang kontan membuat Ros menoleh. “Lo kan udah mulai bisa merasakan letak dan inti dari kekuatan yang ada di tubuh lo. Jadi, lo seharusnya udah bisa tahu gimana memakai kekuatan itu saat lo membutuhkannya.” Taji menerangkan dengan bahasa yang bisa Ros mengerti.
“Aah, bener juga omongan lo. Tadi kan gue baru mencoba radar gue doang. Sementara kekuatan yang lain sepertinya bukan cuma itu gue rasa,” jawab Ros lagi.
“Makanya kalau lo mau coba, ya lo bisa mulai memaksimalkannya dengan melatihnya dari sekarang, Ros.” Taji meraih tangan Ros. “Di sini lo udah bisa merasakan sendiri kan di mana inti kekuatan yang lo punya.” Taji menunjuk telapak tangan Ros yang membuat Ros memperhatikan sesaat telapak tangannya tersebut. “Lo harus bisa berkomunikasi dengan diri dan kekuatan yang lo punya supaya mereka mau berkolaborasi dengan tubuh lo. Kalau dua hal itu sudah menyatu, lo pasti bisa memaksimalkannya dengan lebih baik.” Ucapan Taji itu membuat Ros bersemangat.
“Sepertinya gue bisa memulainya hari ini. Tapi gue sepertinya pengin nengokin bokapnya Ayla dan Ayla di rumah sakit dulu. Terus karena ini udah mau menjelang sore, kayaknya gue mesti pulang dulu deh. Kalau sampai bokap nyariin dan mempertanyakan gue ke mana, malah bisa berabe ntar.” Ros menuturkan rencananya.
Taji mengangguk. “Ya, nggak apa-apa. Lo bisa bergegas buat ketemu Ayla dulu terus langsung pulang. Yang penting tujuan gue hari ini buat ngasih tahu identitas gue dan keadaan keluarga yang sebenarnya udah tercapai. Gue juga udah membayar hutang dengan memberitahukan lo titik kekuatan yang selama ini lo miliki,” sahutnya.
“Iya dan gue berterima kasih buat itu.” Ros menganggukkan kepalanya. “Hmm, lo mau ikut nengokin Ayla dan bokapnya?” Ros sendiri bingung mengapa ia bertanya.
Taji tersenyum dikulum. “Nanti lo bakal ketanyaan Ayla kenapa bisa lo dateng bareng gue. Kalau lo lagi nggak santai dan Ayla nanya begitu, bisa jadi lo makin emosi.”
Apa yang diucapkan oleh Taji barusan memang ada benarnya juga. Oleh karena itu Ros menggelengkan kepala. “Gue lagi nggak kenapa-kenapa, sih. Jadi kayaknya mah kalau gue bawa lo ke sana dan Ayla tanpa sadar bikin gue kaget dan bingung musti ngomong apa, ya gue nggak akan kepancing emosinya. Gue lagi biasa aja kok.”
Pemuda di dekat Ros itu masih memperhatikan Ros. “Sepertinya lo lagi hepi banget karena bisa tahu letak di mana kekuatan lo bersemayam. Makanya lo bisa lebih luwes dan santai,” komen cowok itu yang membuat Ros melirik padanya dengan cepat.
“Ya, udah, jadi mau ikut ke Ayla apa nggak?!” tanya Ros lagi sambil menggosok-gosokan kedua tangannya sendiri seolah hendak menggunakan salah satu kekuatan yang ia miliki. Taji hanya terlihat tersenyum tanpa menggubris lagi dan Ros pun segera bertindak. Dalam waktu yang sangat cepat bahkan belum selesai mengedipkan mata, mereka sudah berpindah ke lokasi berbeda. Taji langsung bisa menyadari. “Gue tahu lo penyihir senior. Tapi hitung-hitung melatih kemampuan yang meningkat ini, gue pikir mending pake kekuatan gue aja buat teleportasi.” Ros menerangkan sebelum Taji bertanya. “Lo nggak keberatan, kan?!” tanya Ros lagi.
Pemuda itu menggeleng. “Gue nggak suka memperkarakan hal kecil, tenang aja,” jawab Taji. “Tempo lo berteleportasi udah jauh lebih cepat dari sebelumnya, ya?!” Ros kontan menggulung lengan kemeja fiktif seolah ingin menyombongkan kekuatannya saat ini. “Kalau cuma berteleportasi kayak gitu, anak usia enam tahun di zaman gue juga udah bisa melakukannya, Ros. Nggak begitu istimewa, sih,” kata cowok itu langsung meruntuhkan segala kebanggaan yang sedang Ros rasakan.
Ros mendelik pada Taji. “Lo kayaknya memang tipikal orang yang sirik ya lihat orang lain bahagia?!” sergah gadis itu lalu segera meninggalkan Taji dan masuk ke lobi rumah sakit. Taji hanya terkekeh dan segera menyusul Ros dengan terburu-buru.
Ayla baru selesai menyuapi Ayahnya ketika Ros mengetuk pintu. Kepala Ros menyembul dari balik pintu. “Halo, Ay,” sapanya pelan. Ayla tersenyum lalu memberi tanda dengan anggukan kepala agar Ros segera masuk ke dalam kamar. “Halo, Ayah!”
Ayah Ayla berusaha tersenyum ketika Ros memanggilnya. “Ros, sudah makan?!”
Sesungguhnya pertanyaan Ayah Ayla ini membuat Ros merasa terharu. Karena sejak mereka masih sama-sama kecil, Ayah Ayla selalu bertanya apakah Ros sudah makan atau belum ketika Ros datang ke rumahnya. Entah apakah Ayla pernah bercerita atau tidak sebelumnya pada Ibu dan Ayahnya, tapi perlakuan kedua orang tua Ayla sejak mereka kecil selalu hangat. Kehangatan tersebut tidak berubah sekalipun Ros sudah pindah dari kampungnya tersebut ke perumahan elit. Sikap dan perlakukan Ayah dan Ibu Ayla tetap baik dan selalu menganggapnya seperti keluarga sendiri.
Ros sendiri pernah merasa bahwa bentuk pertanyaan yang dilontarkan oleh Ayah Ayla ini hanya sekadar formalitas dan basa basi saja. Belum ada berapa menit Ros berpikir demikian, nyatanya Ayah Ayla kemudian membuatkan semangkuk mie instan yang penuh dengan taburan lezat seperti bakso ikan, udang goreng, dan sayur sawi hijau. Ayah Ayla sempat menjelaskan bahwa Ibu Ayla sedang pergi arisan dan tak sempat masak. Makanya Ayah hanya bisa memasak mie instan untuk Ayla dan Ros.
“Maaf ya, Ros, Ibu nya Ayla sedang tidak di rumah. Lagi keluar arisan dan nggak sempat masak tadi karena buru-buru. Jadi, Ayah cuma bisa buatkan mie instan aja. Kebetulan di kulkas juga bahan-bahan sudah pada habis. Mohon maklum saja ya, Ros, makannya mungkin agak kurang bergizi.” Ayah Ayla membeberkan alasan mengapa ia menyuguhkan semangkuk mie instan pada Ros dengan sangat jelas dan runtut.
Ros bahkan tak memikirkan apakah makanan yang dimasak dan dibawakan Ayah Ayla ini memenuhi standar gizi seperti yang dianjurkan oleh pemerintah atau tidak. Perhatian yang Ros terima dari Ayah nya Ayla sudah cukup membuat imun tubuhnya meningkat luar biasa. Makanya Ros tidak merasa makan mie instan satu kali ini akan membahayakan keselamatan hidupnya. Karena yang Ros tahu ketulusan dan perhatian yang diberikan Ayah Ayla dapat mendongkrak daya tahan tubuhnya.
“Terima kasih banyak ya, Ayah. Ini aja udah luar biasa kok,” balas Ros lalu menerima semangkuk mi instan yang disodorkan oleh Ayah Ayla ke arahnya.
“Cuma mie instan doang gini, Ros, apanya yang luar biasa?!” seloroh Ayah lalu berlalu ke dapur dan bergegas kembali ke arah warung kelontong yang saat ini tidak sebesar sekarang. Agak lama Ros memperhatikan mangkuk mie yang ada di depannya
Ros tak pernah cemburu pada orang lain. Tapi hari ini, Ros merasa sangat cemburu pada Ayla, karena betapa beruntungnya ia memiliki Ayah dan Ibu sempurna.