Keluarga Kedua

2355 Words
Ros memang belum pernah merasakan seperti apa gambaran sebuah keluarga yang sempurna. Karena sejak kecil, Ros sudah tinggal berdua hanya bersama Bapak. Ros jadi memang tidak punya pengalaman apapun mengenai kehangatan yang ada di dalam keluarga. Sampai kemudian Ros mengenal dan berkawan baik dengan Ayla. Ros jadi tahu seperti apa kehangat keluarga yang seharusnya. Melihat Ibu dan Ayah yang terlihat saling sayang dan selalu memberikan perhatian yang Ayla butuhkan membuat Ros kadang membayangkan… apakah rasanya akan sama jika Ibu nya masih hidup? Apakah keluarganya juga akan sehangat keluarga Ayla yang selalu disaksikannya? Ayah dan Ibu yang selalu saling mendukung dan mengkhawatirkan. Ayla yang selalu dihujani dengan perhatian dan kasih sayang. Hal-hal remeh dan kecil bisa jadi sangat manis dan disyukuri sepanjang hari. Ros kadang membayangkan gambaran keluarga ideal versinya sendiri. Mungkin akan sama atau jauh lebih indah? Atau sebaliknya? Semuanya ternyata tidak semanis yang ia bayangkan atau duga. Beberapa kali bayangan itu datang dan pergi di kepala Ros. Membayangkan berbagai alternatif seperti apa indahnya suasana dan kondisi suatu keluarga yang seharusnya. Apalagi selama ini, Ros memang kurang begitu dekat dengan Bapaknya. Mengobrol banyak seputar hal-hal remeh di luar pekerjaannya saat menangani pasien menjadi hal yang sangat langka. Bisa dibilang jika interaksi di luar pekerjaan Ros ini adalah sebuah benda, maka benda tersebut sudah masuk dan dilestarikan ke museum sejak lama. Namun jika berbicara soal pekerjaan atau menangani pasien-pasiennya, Bapak bisa jauh lebih cerewet dari yang Ros duga. Malah Ros jadi sebal sendiri karena orang tua tunggalnya itu jadi lebih banyak bertanya dan menuntut beberapa hal yang harus atau tidak boleh Ros lakukan. Jika sudah seperti itu, Ros biasanya akan diam. Diamnya Ros bisa jadi karena dua hal yakni dia sudah kehabisan bahan untuk membalas apa yang Bapak ucapkan. Dan yang kedua, Ros sudah bingung harus menjawab apa dan bagaimana. Karena semua penjelasan atau alasan biasanya sudah Ros ungkapkan pada Bapak jika itu berkaitan dengan pasien yang ditangani olehnya. Padahal meski tidak berbicara sesuatu yang penting dan berat pun, Ros bersedia untuk mendengarkan Bapak bicara atau menanggapi pertanyaan khas orang tua. Seperti siapa saja temannya? Apakah Ros sulit beradaptasi di sekolah karena memiliki kekuatan dan perbedaan dengan teman-temannya yang lain? Apa Ros pernah mengalami hal tak mengenakan karena dicap aneh oleh mereka? Apakah gurunya ada yang menyebalkan hingga membuat Ros kesulitan? Apakah Ros punya taksiran atau kakak kelas yang membuatnya bersemangat setiap hari untuk berangkat ke sekolah? Pokoknya model pertanyaan-pertanyaan sejenis yang terasa wajar dan lumrah malah tidak pernah Bapak lontarkan padanya. Jika Ros belum kembali ke rumah sepulang sekolah, Bapak memang akan langsung bertanya mengapa ia belum pulang? Namun pertanyaan tersebut bukan karena Bapak merasa khawatir Ros dalam bahaya atau mendapatkan masalah di sekolahnya. Bapak lebih mengkhawatirkan jika Ros tidak sempat membuka praktiknya tepat waktu hingga membuat pasiennya nanti menunggu. Belum pernah satu kali pun Ros mendapatkan pesan dari bapak yang isinya murni karena mengkhawatirkan dirinya. Sangat berbeda dengan Ayla. Sudah sangat sering Ros melihat Ayla yang selalu dibaweli oleh Ayah dan Ibu nya ketika Ayla terlambat pulang ke rumah dan lupa memberi kabar. Mungkin hal tersebut memang menyebalkan bagi sebagian besar orang. Tapi untuk Ros yang tidak mendapatkan hal tersebut sama sekali sejak ia masih kecil justru membuat Ros ingin mengalami sendiri. Melihat Ros hanya diam saja, Ayah Ayla pun kembali bertanya. “Ros kok malah bengong? Sudah makan belum?” Pertanyaan dari Ayah Ayla tersebut menyadarkannya. Ayla kemudian berseloroh. “Dilihat dari pose bengongnya sih kayaknya belum makan tuh, Yah.” Ucapan Ayla tersebut makin membuat Ros tersadar dan akhirnya tersenyum. “Tuh, lihat! Dia malah baru sadar kayaknya dari tadi kita ngomongin dia.” Ros pun melangkah masuk. “Ealah kagak kali, Ay. Gue denger lo ngomong apa, termasuk pertanyaan Ayah tadi Ros juga denger kok,” kata Ros lalu menghampiri ranjang Ayah Ayla. “Ros belum makan, Yah. Ayah gimana keadaannya sekarang?” Ayah Ayla lalu menunjuk wajahnya yang memar dan masih agak lebam dengan tangannya yang sebagian besar diperban. “Yah, Ros bisa lihat sendiri. Kalau keadaan fisik udah nggak perlu Ayah jelasin lagi,” jawab Ayah Ayla. “Tapi kalau secara batin sih Ayah merasa sudah jauh lebih baik dari kemarin.” Ayah Ayla lalu mencoba tersenyum. “Syukurlah kalau Ayah memang sudah jauh lebih baik. Kalau luka-luka di tubuh, lambat laun juga akan membaik juga kok, Yah. Tenang aja,” sahut Ros memberi semangat. “Eh, Ibu mana? Lagi pulang?” tanyanya saat menyadari ibu tak ada di sana. Ayla menggeleng. “Lagi ke apotek nebus resep Ayah. Palingan bentar lagi balik.” “Ini temen satu sekolah Ros atau temennya Ayla?” tanya Ayah Ayla ketika menyadari kehadiran Taji yang hanya diam saja berdiri di belakang Ros bak patung. Ros pun tersadar belum memperkenalkan Taji. “Oh, ini teman sekelas Ros, Yah. Tadi kami kebetulan habis kerja kelompok. Pas pulang searah. Jadi dia sengaja antar.” Taji hanya diam saja meskipun Ros sudah memperkenalkannya. Akhirnya ia menginjak kaki Taji hingga pemuda itu meringis dan menoleh protes pada Ros. Gadis itu segera memberikan isyarat pada Taji untuk bicara dan menanggapi Ayahnya Ayla. “Halo, Oom, kenalin saya Taji. Teman sekelasnya Ros,” ucap Taji yang kemudian merengsak maju dan hendak menyalami Ayah nya Ayla yang terbaring lesu di ranjang. Ayah Ayla hanya mengangguk. “Nggak apa-apa, ini tangan Oom lagi disuruh istirahat. Berkenalannya secara tatap muka saja dulu, ya?!” kata Ayah Ayla tersenyum. Ketika melihat senyum yang merekah di bibir Ayah nya Ayla, Taji merasakan sesuatu yang berbeda. Ketulusan dan kepolosan dari bapak ini bisa saja dimanfaatkan oleh arwah tak bertanggung jawab yang bisa membahayakan di kemudian hari. Taji juga mulai merasakan ada hawa dan energi negatif yang sempat menempel di tubuh Ayah nya Ayla. Namun saat ini, Taji merasa hawa tersebut perlahan tak begitu kentara. “Oom katanya mengalami kecelakaan saat baru pulang dari toko nya, ya?!” tanya Taji serta merta. “Oom masih inget nggak apa yang Oom lihat terakhir kali sebelum Oom tak sadar?” Taji tak menyadari bahwa pertanyaannya terlalu blak-blakan. Ros dan Ayla kontan berpandangan lalu menoleh pada Taji saking kagetnya dan terakhir mengalihkan pandangan mereka pada Ayah Ayla yang terlihat agak kaget juga. “Wah, Oom kaget nih mendadak ditanya begini,” sahut Ayah Ayla lalu tersenyum malu-malu. Ros sudah hendak menginjak lagi kaki Taji karena sudah berbuat tidak sopan namun Ayah Ayla kemudian melanjutkan kalimat. “Oom sih nggak begitu ingat apa yang terjadi sampai motor Oom mendadak seperti mengenai sesuatu yang keras sampai akhirnya terguling.” Pernyataan Ayah Ayla tersebut membuat Ros, Taji, dan Ayla tentu saja menoleh kompak pada Ayah yang terbaring. “Tapi kalau nggak salah ingat, Ayah melihat ada seseorang yang berjalan ke arah Ayah setelah Ayah terbaring di aspal. Ayah rasa itu pasti penduduk sekitar yang mencoba menolong Ayah saat itu.” Keterangan Ayah Ayla barusan membuat Ros dan Taji berpandangan lalu pandangan Ros beralih juga pada Ayla. Apa yang baru saja dituturkan Ayah Ayla bisa jadi benar dan bisa jadi juga keliru. Lokasi Ayah kecelakaan adalah di sebuah jalanan utama yang jauh dari lokasi penduduk. Saat itu sudah agak malam dan jalanan juga sudah cukup sepi. Mungkin bagian keterangan ketika Ayah menjelaskan mengapa motornya bisa sampai terguling masih bisa ditelusuri lagi. Tapi pada bagian ada yang berjalan mendekat, Ros merasa yang dilihat oleh Ayah saat itu bukanlah manusia. “Lo berpikir hal yang sama dengan gue?!” tanya Ros pada Taji melalui pikirannya. Saat ini tak mungkin ia berkomunikasi secara wajar di depan Ayah dan Ayla. “Kayaknya memang ada arwah yang sengaja ingin mencelakakan Ayahnya Ayla,” balas Taji tanpa merubah ekspresi wajahnya. “Lo bisa menelusuri ingatan terakhir bokapnya Ayla dengan masuk ke memorinya. Cuma itu terlalu berisiko, Ros,” kata Taji. “Apapun risikonya akan gue terima. Gue pengin nolongin Ayla dengan nyari tahu siapa pelaku yang bikin bokapnya kayak gini. Gue nggak bisa diem aja,” balas Ros lagi. “Kalau lo masuk ke memori bokapnya Ayla, artinya lo harus menembus juga ke ambang dimensi dan bisa aja lo kelepasan kalau lo nggak mengontrol diri.” Taji mulai menerangkan. “Gue tahu lo bakal nerima semua risiko di depan sana. Tapi saat lo masuk ke memori bokapnya Ayla, bisa aja lo membongkar juga memori lain yang ada di sana.” Taji melanjutkan penjelasannya supaya Ros bisa lebih memahami maksudnya. “Jiwa bokapnya Ayla polos dan murni. Kalau lo masuk ke memorinya dan menjelajahi masa kecil Ayla, di mana lo juga bisa melihat masa kecil lo, lo bisa aja bakal terhanyut tanpa sadar. Lo harus bisa mengontrol diri sebelum menelusuri, Ros.” tutur Taji panjang lebar. Ia tak berharap Ros langsung mengerti, tapi paling tidak ia sudah berusaha. “Lo belum lupa kan dengan apa yang gue bilang tentang harga yang harus lo bayar kalau lo sampai menghambur-hamburkan usia lo untuk berlama-lama di ambang dimensi. Itu bukan cuma gertakan.” Taji berusaha menjelaskan lagi dengan lebih sabar. Ia tahu Ros akan mengerti. “Dengan apa yang akan lo lakukan sekarang, tentu lo harus lebih bijak dalam menggunakan kekuatan lo untuk masuk ke ambang dimensi, Ros.” Melihat Ros dan Taji hanya saling diam saja, Ayah Ayla lalu memanggil putrinya tersebut. “Kenapa mereka berdua sekarang bengong, Ay?” tanya Ayah bingung. Ayla sebenernya sudah menduga mungkin Ros sedang melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan pencarian pelaku yang membuat Ayahnya seperti ini. Tapi kenapa Taji ikut-ikutan terdiam? Apa Taji juga mengetahui sesuatu yang tidak ia tahu? “Hmm, mungkin mereka sama-sama laper kali, Yah. Makanya kompak jadi bengong,” sahut Ayla kemudian yang membuat Ayah menoleh pada putrinya tersebut. Ayla hanya menyeringai lebar tatkala sorot pandang Ayahnya menuntut penjelasan. “Coba kamu hubungin Ibumu, bilang bawa roti atau makanan apa buat mereka berdua. Mungkin nggak sempat makan tadi di jalan. Kasihan temen kamu ini,” ucap Ayahnya yang langsung dituruti oleh Ayla. Diraihnya ponsel di dalam sakunya untuk menghubungi Ibu. Setelah mengetik pesan, Ayla mengangguk pada Ayah. “Sudah?!” “Sudah kok, Yah. Nanti juga Ibu baca kok. Tadi sih belum ada notifikasi nya.” Setelah itu, Ros dan Taji malah tersadar dan langsung terlihat biasa saja. Jelas Ayah Ayla bertanya ketika dilihatnya Ros sudah tersenyum. “Ros laper banget?” Ros agak bingung ketika ditanya. Ia pun segera menoleh pada sahabatnya yang menganggukkan kepalanya dengan gerakan cepat dan samar. Ros pun mengerti. “Oh, sedikit sih, Yah.” Ros menyeringai. “Sore tadi nggak sempet makan siang. Lagi banyak banget tugas yang harus diselesaikan soalnya, Yah,” jawab Ros kemudian. Ayah sudah seperti hendak bicara namun Ibu lalu masuk ke dalam ruangan dan memberi salam. “Assalamualaikum,” ucap Ibu yang langsung dijawab kompak.  “Waalaikumsalam,” jawab Ayla, Ros, dan Taji bersamaan. “Eh, ada Ros.” Ibu kontan tersenyum ketika melihat Ros ada di ruangan dan langsung menghampirinya untuk mencium punggung tangan. “Sudah makan, Ros?” Senyum haru langsung terbit di bibir Ros. Bukan hanya Ayah yang menaruh perhatian padanya. Ibu Ayla juga selalu berperilaku sama sejak awal. Memperhatikannya apakah dirinya sudah makan, mandi, dan sudah gosok gigi atau belum. Satu kali Ros pernah mendengar Ibu Ayla hendak menghadiahinya dengan ‘barang-barang’ untuk anak gadis karena ia tahu Ros tidak tumbuh sosok seorang ibu. Pasti sulit untuknya memahami perubahan ketika masa puber datang menghampiri.  Ros sempat trenyuh dengan kiriman yang Ibu Ayla berikan yang isinya adalah barang-barang yang ia butuhkan. Pembalut, obat penahan nyeri, sikat gigi, sabun mandi, pembersih muka, dan masih banyak lagi yang saat itu Ibu Ayla hadiahkan. Ros sampai kehilangan kata-kata saat menerima hadiah dari Ibu Ayla saking gembiranya ia. Karena rasa gembiranya, Ros sampai hampir setiap hari mampir ke rumah Ayla agar bisa membantu Ibu menyetok barang atau membungkus bahan-bahan sembako. Meskipun ia tak tumbuh di keluarga utuh, namun diselamatkan Ayla saat itu justru memberinya keluarga kedua. Keluarga yang memberinya rasa hangat dalam jiwa yang sulit Ros ungkapkan dengan retorika. Semuanya terlalu indah untuk diungkapkan.  “Ros itu belum makan, Ibu.” Ayla lah yang menjawab pertanyaan ibunya. “Makanya tadi Ayla ngirim chat ke Ibu buat beliin makanan. Kebaca nggak chatnya?” Ibu lalu menunjuk ke arah meja di pojok ruangan. Semua orang yang ada di situ kontan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Ibu nya Ayla. “Hape ibu di situ sejak tadi,” terangnya. “Tadi ibu udah bilang juga kayaknya hape Ibu baterainya lemah,” lanjut Ibu. Ayla sudah mau putus asa sampai kemudian Ayah segera menyentuh tangannya. “Ya, sudah kamu bawa aja temen-temen kamu makan di luar. Di kantin aja biar tidak jauh,” kata Ayah Ayla memberikan ide. “Segera ajak makan, udah malam ini.” Gadis itu lalu menoleh pada Ros dan Taji. “Ya udah yuk keluar cari makan dulu,” ajak Ayla lalu menoleh pada Ayah dan Ibunya bergantian. “Cari makan dulu, Yah, Bu.” “Hati-hati, Ay,” ucap Ibu yang masih belum menyadari kehadiran Taji. Setelah mereka semua keluar dari ruangan, barulah Ibu mengetahui adanya orang asing yang baru ia jumpai. “Eh, tadi itu ada anak laki-laki ya, Yah?! Temennya Ros atau anak kita?” “Dari gelagatnya sih sepertinya temen dari Ros. Karena tadi Ros nya juga bilang temen sekelasnya gitu apa, ya,” terang Ayah. “Bu, mau buah apel dong. Ayah laper.” Ibu tersenyum geli ketika mendengar suaminya itu merengek dan segera menuruti permintaannya dengan mengambil buah apel dan segera mengupasnya. Ketika Ros, Ayla, dan Taji sudah keluar dari kamar perawatan Ayahnya dan berjalan di koridor rumah sakit untuk menuju kantin Rumah Sakit, Ayla segera bertanya pada sahabatnya itu tanpa menoleh. “Kenapa bisa cowok yang bukan orang ini bisa dateng sama lo?!” tanya Ayla tanpa basa basi sama sekali. Ayla malah menyebut Taji sebagai ‘cowok yang bukan orang’ dan membuat Taji merasa bingung sendiri.  “Detailnya gue jelasin nanti. Yang jelas kedatangan gue ke sini memang pengin tahu kondisi bokap lo,” sahut Ros. “Tapi selain itu, gue mau menyampaikan sesuatu ke lo, Ay.” Langkah Ros lalu terhenti. Diikuti dengan langkah Ayla dan Taji. Ekspresi wajah Ros mendadak menegang dan agak pucat. Ayla kontan bertanya dengan khawatir.  “Lo kenapa, Ros?” tanya sahabatnya itu sambil menghampiri Ros. Namun Ros malah melebarkan matanya nyaris maksimal seperti hendak menerkam sesuatu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD