Rahasia yang Terbongkar

2327 Words
Ros seperti melihat sesuatu yang membuatnya sangat terkejut. Ayla kemudian hendak menyentuh tangan Ros, namun Taji segera memperingatkan agar Ayla tidak melakukannya. Hanya saja Taji terlambat memberitahukannya sehingga Ros malah hampir mencakar tangan Ayla yang terulur. Taji segera memakai kekuatannya untuk memindahkan Ayla agar tidak terjangkau tangan Ros lagi yang saat ini seperti tak sadarkan diri. Sahabat Ros itu nampaknya masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Tak ada yang bisa Ayla lakukan selain membiarkan Taji menyadarkan Ros.  Taji segera berdiri tepat di depan Ros dan kontan mengacungkan telapak tangannya yang terbuka. Sontak saja kedua mata Ros terpejam dan tubuhnya lunglai. Sebelum tubuh Ros jatuh dan ambruk ke lantai, Taji segera menangkapnya dengan sigap. Ros tak sadarkan diri. Taji segera menoleh pada Ayla untuk meminta tolong agar memanggil bantuan. Rupanya Ayla sudah melakukannya. Gadis itu sedang berjalan ke arahnya bersama dua orang juru rawat yang mendorong brankar untuk mengangkut tubuh Ros yang tak sadar. Taji segera menggotong tubuh Ros dan membaringkannya. Tadinya Taji hendak menghapus ingatan Ayla karena gadis itu sudah melihatnya menyalurkan kekuatan. Namun Ayla adalah salah satu orang yang Ros lindungi. Ia khawatir jika melakukan niatnya tersebut tanpa sepengetahuan Ros, gadis itu akan murka. Makanya lebih baik Taji membiarkan saja sementara waktu. Ayla pun sepertinya tahu dengan kekuatan yang saat ini Ros punya. Jadi, untuk hal-hal di luar nalar yang terjadi tadi, sepertinya jadi hal yang sudah biasa bagi Ayla. Taji segera menyusul ketika para juru rawat mendorong brankar dan membawa Ros menuju ke ruang pemeriksaan.  Ayla dan Taji menunggu sebentar di luar saat dokter sedang memeriksa kondisi Ros. Taji merasa hal ini agak percuma karena sakit yang Ros alami ini bukan sakit yang dapat dideteksi oleh ilmu medis. Taji sangat yakin bahwa ada sesuatu yang memengaruhi Ros sampai ia lepas kendali dan hampir menyerang orang yang ada di dekatnya. Ros dibuat sengaja tak sadar dan kehilangan kontrol atas tubuh dan kekuatannya sendiri. Jelas bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh orang atau jin yang kekuatannya biasa saja. Pasti ada yang punya kekuatan sangat tinggi hingga bisa mengontrol Ros dari jauh seperti tadi. Pertanyaannya siapa yang melakukannya? Ayla yang gelisah sesekali mengecek ponselnya. Tak lama, kemudian ia berseru. “Gagah! Ros, Gah,” seruan gadis itu membuat Taji ikut menoleh ke arah pandangnya. Ketika Taji melihat ke arah pandang Ayla, Gagah datang dengan tergopoh dan ekspresi wajah terkejut yang tak dapat disembunyikan. Ia segera menghampiri Ayla. “Ros kenapa, Ay?!” tanya pemuda itu pada Ayla yang seperti mengumpulkan energi untuk menjawab pertanyaannya. “Tadi suara lo nggak jelas di telepon. Ros kenapa, Ay?!” pemuda itu mengulang pertanyaannya lagi saat memandang Ayla. Ayla menggelengkan kepala bingung. “Gue juga nggak tahu. Tiba-tiba dia diem dan matanya putih. Kayak orang nggak sadar dan waktu gue mau pegang dia, dia malah mau nyerang dan nyakar tangan gue,” tutur Ayla dengan susah payah diselingi dengan nafas yang sengal-sengal. Ayla kemudian menunjukkan tangan kanannya pada Gagah yang tampak memerah dan ada bekas yang samar seperti cakaran di sana.  Gagah segera memperhatikan tangan Ayla tersebut. “Ini perbuatan Ros?!” tanyanya lagi. Gagah mendongak dan mendapati Ayla mengangguk lemah. Kedua matanya sudah memerah dan air mata tak henti mengalir dari sana. Gagah segera memeluk Ayla dan mengusap punggungnya. “It’s okay, Ay. Kita cari tahu segera Ros kenapa. Okay? Lo nggak usah khawatir.” Gagah mencoba menenangkan sahabatnya. Dalam pelukan Gagah, Ayla mencoba menganggukkan kepalanya. Gagah terus menenangkan Ayla sampai kemudian dokter yang menangani Ros keluar dari ruang pemeriksaan. “Ada keluarga dari Rosmanah di sini?!” tanya dokter sambil membawa rekam medis milik Ros. Gagah, Ayla, dan Taji segera menghampiri. “Kalian siapanya?!” “Kami semua sahabatnya, Dok. Gimana keadaan sahabat saya, Dok?!” tanya Ayla dengan suara mendesak. “Apa dia sudah siuman atau ada gejala apa gitu, Dok?!” “Hmm, apa orang tuanya tidak bisa dihubungi?!” Dokter itu kembali bertanya. Ayla dan Gagah berpandangan sesaat lalu menggelengkan kepala mereka kompak.  “Saya sudah mencoba menelepon sejak tadi tapi nggak dijawab, Dok. Mungkin sedang sibuk juga.” Ayla lalu menerangkan mengapa keluarga Ros tidak hadir di sana. Dokter pun mengangguk maklum. “Hmm, baiklah kalau begitu. Saya pesan, tolong hubungi keluarga pasien secara berkala. Karena di antara kalian masih di bawah umur, jadi belum bisa menjadi wali atau penanggung jawab bagi pasien. Namun saya bisa bilang sahabat kalian baik-baik saja. Hanya tekanan darahnya yang agak rendah. Sepertinya karena teman kalian itu sering begadang dan kurang mengonsumsi protein yang cukup. Jadi, saya nanti resepkan obat untuk membantunya pulih lebih cepat.” “Terus kami boleh menengok ke dalam nggak, Dok?!” tanya Ayla lagi tergesa. Dokter mengangguk. “Silakan. Pasien sudah siuman juga kok. Saya permisi.” Usai mengatakan pesan dan gejala yang kemungkinan besar dialami Ros, dokter yang menangani Ros kemudian meninggalkan Ayla, Gagah, dan Taji yang Sepeninggal dokter, Ayla langsung menggelengkan kepalanya seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh dokter tadi. Karena diagnosis dokter memang terlalu ‘manusiawi’. “Dokter tadi nggak ngeh apa kalau Ros tuh dukun? Masak iya Ros darah rendah sama kekurangan protein? Dokternya nggak Indonesia banget nih,” komen Ayla sebal sendiri. “Harga menu Ros satu kali makan itu adalah biaya SPP di sekolah gue. Nggak mungkin lah ya kalau dia kekurangan protein. Kalau sering begadang mungkin iya. Kan dia praktiknya memang dini hari sampai pagi.” Ayla terus memikirkan diagnosis dokter. “Ya, udah, mikirin bener apa nggaknya Ros kekurangan protein nanti aja. Sekarang mending tengokin Ros dulu deh ke dalem,” sahut Gagah menyadarkan Ayla. Ayla segera tersadar. “Eh, iya. Ya, udah masuk deh, yuk!” Ayla buru-buru masuk. Saat Taji hendak melangkahkan kakinya menyusul Ayla, Gagah menahannya dengan merentangkan tangan. Taji melirik ke arah Gagah yang menyetel tampang super serius. Taji yakin bahwa Gagah memiliki sesuatu yang ingin ia ucapkan padanya. “Kenapa, ya?! Ada yang mau lo sampaikan ke gue?!” tanya Taji dengan santai. “Apa yang lo lakuin sampai Ros seperti ini?!” Gagah kemudian balik tanya. Pertanyaan yang menurut Taji lebih seperti tuduhan tersebut tetap ditanggapi dengan kalem. “Gue nggak ngapa-ngapain kok. Kenapa lo menuduh gue begitu?” Gagah terkekeh sesaat lalu wajahnya kembali serius. “Lo bisa membodohi Ayla, tapi nggak dengan gue.” Pemuda itu bicara dengan nada tegas. “Gue memang nggak tahu apa yang sebelumnya terjadi sampai Ros seperti ini. Tapi dengan lo memberikan kamuflase agar Ayla nggak khawatirin Ros menurut gue agak berlebihan. Kekurangan protein? Darah rendah?” Gagah tersenyum licik. “Lo pikir gue bisa langsung percaya?!” Taji ikut tersenyum. Namun senyumnya lebih kalem. “Memang apa yang gue lakukan sampai lo berpikiran kayak gitu? Gue nggak paham,” balas pemuda itu tenang. “Lo boleh pura-pura nggak ngerti sekarang. Tapi lihat aja nanti. Apa lo masih bisa menghindar lagi kalau gue udah punya bukti,” desis Gagah dengan sorot mata tajam dan kedua rahang yang mengeras. Ia lalu berbalik dan masuk ke ruangan Ros dirawat.  Taji masih menyetel ekspresinya dengan sesantai mungkin sampai Gagah masuk ke ruang perawatan Ros. Senyum Taji mendadak hilang dan rahangnya turut mengeras. Namun yang saat ini paling ia rasakan adalah mendadak dadanya sakit setelah menahan Ros tadi. Ia menyadari bahwa kekuatan Ros saja sudah sangat kuat. Kemudian seperti ada seseorang yang mengendalikan Ros hingga gadis itu lepas kontrol dan tak mengenali lagi di mana ia sedang berada. Bagi Taji tak sulit untuknya mengubah elemen atau menyihir ingatan seseorang agar sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi, saat ia harus berhadapan dengan energi yang luar biasa kuat dan harus menahannya agar energi tersebut tidak menjalar dan menulari orang di sekitarnya, maka ada banyak kekuatan yang harus Taji kerahkan. Hal tersebut bisa berimbas pada tenaga dalamnya yang sudah tidak seperti dulu. Entah apa karena ia sudah terlalu lama di dunia atau ilmu sihirnya yang memang sudah mulai melemah. Taji lalu segera masuk ke ruang perawatan Ros. Ketika pemuda itu masuk, Ros tampak terbaring di kasur dengan lesu. Wajah dan bibirnya pucat. Taji mengetuk pintu agar orang dalam ruangan tersebut menyadari kehadirannya. Gagah dan Ayla lalu menoleh. Ayla segera mempersilakan Taji. Sementara itu Gagah hanya diam saja. “Sini masuk. Ros tadi nyariin lo kok,” ucap Ayla yang membuat Taji tersenyum. “Kenapa lo nyariin gue?!” tanya Taji sambil berjalan menuju ranjang pasien sebelah kiri. Sebab Gagah dan Ayla sudah duduk di sebelah kanan nya. “Kangen lo?!” Taji sengaja membuat suasana lebih cair supaya dua gadis di ruangan ini bisa lebih rileks setelah kejadian tadi. Hanya saja ia lupa bahwa Gagah sudah terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Meski Taji tak mau ambil pusing, tapi tatapan dan aura menyerang yang sengaja Gagah tunjukkan membuatnya tak nyaman. “Ngomong ngawur sekali lagi, gue sihir lo jadi bantalan kereta api,” ancam Ros. Ayla dan Taji lalu tersenyum geli karena Ros sudah bisa menanggapi jokesnya. “Gue seneng Ros udah bisa diajak bercanda. Tadi gue ampe bingung Ros mesti ngomong apa soalnya. Makanya gue malah kepikiran buat ceritain perjuangan nyokap sama bokap gue pas ngebangun toko kelontongnya itu,” terang Ayla agak terisak. Ros mencoba menganggukan kepala. “Gue paham kok, Ay. Gue malah harusnya berterima kasih ke lo karena mencoba untuk mencairkan gue biar jadi lentur kek karet.” “Tapi gue malah cerita perjuangan ortu gue, Ros,” sahut Ayla merasa tak enak.  “Nggak apa-apa, Ay. Gue tetep berterima kasih kok,” tukas Ros menenangkan Ayla. “Karena itu juga bentuk usaha dan perhatian lo. Mau lo ceritain tentang bokap nyokap lo kek, ceritain sejarah Majapahit bisa runtuh kek, cerita alasan kenapa Sinta dan Rama menikah kek, apapun Ay. Gue bersyukur sekali.” Ros kembali tersenyum. Ayla memegang kedua pipinya merasa terharu. “Aw, emang lo sahabat gue yang paling absurd, Ros. Tahu kalau cerita itu nggak berhubungan sama lo pun, lo tetep mau menyimak dengan serius.” Ayla lalu meraih ponselnya di saku celana. “Aduh!” Ayla menepuk kepalanya sendiri. Dia lalu menatap Ros dan menjelaskan. “Gue tadi rada panik dan menghubungi nyokap gue ngabarin lo pingsan. Sekarang gue disuruh balik ke kamar bokap dulu buat cerita. Sorry, Ros, gue tinggal bentar. Lo ditemenin sama dua makhluk ini dulu, ya, sampai gue kembali.” Ayla langsung melesat keluar kamar Ros. Ketika hanya bertiga sama di dalam kamar, Ros agak bingung mengapa Gagah dan Taji seperti tidak akrab. Walaupun memang sebelumnya mereka tak begitu akrab juga. Hanya saja tensi dan aura tak bersahabat sangat terasa dari mereka berdua. “Kenapa kalian kelihatan saling mengintimidasi gini?” tanya Ros sambil melirik ke arah Taji dan Gagah secara bergantian. “Kalian punya masalah satu sama lain?!”  Baik Taji maupun Gagah, tidak ada satupun yang mau menjawab lebih dulu. Ros lalu mengayunkan tangan dan membukanya. Seketika api keluar dari tangan Ros tersebut dan mengagetkan Taji dan Gagah bersamaan. Ros masih di posisi semula.  “Kalian nggak mau pada ngomong ke gue ya nggak apa-apa. Tapi gue mendadak jadi pengin manggang orang deh,” kata Ros kembali menoleh pada Taji dan Gagah yang masih diam. “Siapa aja harus ada yang ngasih tahu gue ini ada apa?!” “Dari awal gue udah tahu dia penyihir, Ros,” cetus Gagah. Mata Ros agak terbelalak dengan apa yang Gagah ucapkan. Karena terus terang hal tersebut di luar perkiraannya. “Gue udah bisa merasakan kalau dia sebenarnya bukan manusia, Ros.” Taji tersenyum tipis. “Lo pikir gue juga nggak tahu kalau lo adalah makhluk terkutuk yang kerjanya cuma ngegoda dan menjerumuskan manusia? Sejak pertama kali ngeliat pun gue udah langsung tahu,” balas Taji tak kalah tajamnya dengan Gagah. “Dari awal gue ketemu dia, Ros, gue tahu kalau dia makhluk tersesat yang pasti mau memanfaatkan lo untuk kepentingannya. Gue udah tahu, Ros” sahut Gagah lagi. “Gue udah mencium aroma makhluk terkutuk ini saat gue memindai lo dan sekitar lo, Ros. Cuma gue sengaja nggak ngomong aja. Larena lo pasti kaget kalau tahu selama ini lo sahabatan sama makhluk terkutuk,” sambung Taji tak mau kalah.  Gagah dan Taji sama-sama membeberkan keburukan satu sama lain agar Ros mau membela mereka den mengabaikan yang lainnya. Namun, saat Taji dan Gagah terus membuka kartu As masing-masing, mereka berdua justru mendengar suara isak. Kedua makhluk tersebut menoleh ke arah Ros yang pipi dan matanya sudah basah karena air mata. “Kalian udah saling tahu sejak awal kalau kalian memang bukan orang. Tapi cuma gue yang nggak tahu hal itu dan… dan… kalian masih nggak mikir betapa sedihnya gue sekarang karena gue udah sangat tertinggal saat kalian udah mulai mempersiapkan diri untuk tujuan dan keinginan kalian masing-masing. Sementara gue sangat terlambat untuk mewujudkan apa yang memang gue inginkan.” Ros menuturkan kesedihannya di depan Taji dan Gagah. Air matanya sudah deras mengalir. “Dan kalian… sekarang cuma mikirin diri kalian sendiri. Kalian nggak mikirin gimana gue yang udah merasa bodoh sejak dulu. Gue dukun dan punya kekuatan buat berkomunikasi sama makhluk astral kayak kalian. Tapi gue sama sekali nggak sadar kalau kalian bukan orang sampai… sampai gue dikasih tahu dan bukan tahu sendiri karena kemampuan gue.” Ros terus menangis dan menunjukkan rasa kesal pada Taji dan Gagah yang malah berkompetisi sendiri tanpa memikirkan dirinya. “Kalau kalian mau terus berdebat dan saling mengunggulkan diri sendiri tanpa memikirkan betapa sedihnya jadi gue, mending kalian pergi dari sini dan nggak usah ada yang minta tolong lagi ke gue, sama sekali. Nggak ada skenario melepaskan keluarga yang tersegel atau harus ngebantu biar nggak jadi roh jahat yang mencelakai manusia. Udah, gue nggak mau bantuin apa-apa,” ujar gadis itu dengan jengkel. Gagah dan Taji berpandangan sesaat lalu menggeleng kuat-kuat karena ancaman Ros yang sepertinya serius enggan membantu mereka tersebut. Saat hendak kembali membujuk, mereka lalu tersadar bahwa tangis Ros sudah berhenti, namun gadis itu tampak termangu menatap ke arah pintu. Dua makhluk itu lalu mengikuti arah mata Ros dan ikut terkejut dengan apa yang mereka lihat. Ayla yang membawa plastik bertuliskan nama minimarket populer lalu menjatuhkan plastik yang ia tenteng.  “Kalian… bukan orang?!” tanya gadis itu dengan nada gamang. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD