Ros dan Ayla bisa bersahabat karena sebuah peristiwa tak terduga yang hampir membuat Ros kehilangan nyawanya. Tak disangka jika hal tersebut justru membuat Ros dan Ayla bisa saling mengerti dan akhirnya memahami kesulitan masing-masing. Ketika tahu bahwa Ros bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk astral, Ayla terlihat tak begitu kaget. Usai mendengar pengakuan Ros, Ayla malah segera bertanya.
“Apa lo bisa berkomunikasi dengan leluhur yang udah meninggal puluhan tahun yang lalu?!” tanya gadis itu dengan sorot dan ekspresi ingin tahu yang sangat besar.
Ros agak lupa bagaimana menjawab Ayla saat itu. Hanya saja Ros masih ingat, sejak saat itu Ayla tampak biasa saja dan tak pernah menganggapnya aneh sama sekali. Meski sesekali Ros masih sering terlihat berkomunikasi atau berinteraksi dengan makhluk-makhluk tersebut, tapi Ayla tak pernah ambil pusing. Sebaliknya, Ayla selalu terlihat penasaran seperti apa para makhluk yang baru saja Ros ajak berkomunikasi.
“Tampangnya kayak apa, Ros? Menyeramkan banget apa menyeramkan aja?”
Setiap kali Ayla bertanya model pertanyaan seperti itu, jawaban Ros selalu sama. “Rata-rata tampang mereka udah nggak seperti kita, Ay. Ada mungkin yang masih punya muka yang nggak begitu nyeremin. Tapi tetap aja berbeda dengan tampang manusia,” jelas Ros mencoba menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.
Sudah berkali-kali Ayla bertanya, dan berkali juga Ros menjawab sebisanya dan dengan penuh kesabaran, tapi Ayla selalu saja antusias dan penasaran. Ia bahkan pernah satu kali mengatakan pada Ros. Jika ia diberi pilihan untuk bisa punya kekuatan melebihi kemampuan manusia normal, Ayla ingin bisa punya kekuatan seperti Ros.
“Memangnya kenapa sih, Ay, lo pengin banget punya kekuatan kayak gue? Gue aja capek tahu punya kemampuan kayak gini. Harus struggling banget sama hidup dan sekitar gue soalnya.” Ros mengatakan keheranannya pada Ayla yang masih bersikeras.
Gadis itu mengangkat bahunya lalu tersenyum. “Gue pengin ketemu kakek nenek gue, Ros,” jawab Ayla kemudian. Wajah gadis itu mendadak sendu. Ada selapis bening yang muncul di kedua bola matanya. “Mereka bisa meninggal karena gue, Ros.”
Mulanya Ros tak mengerti dan tak berani juga bertanya. Karena setelah itu Ayla tak pernah lagi bercerita. Lambat laun, akhirnya Ros tahu juga alasan Ayla begitu ingin menemui kakek dan neneknya tersebut. Sesaat sebelum dirinya lahir, terjadi hujan badai yang sangat lebat hingga menyebabkan banyak pohon-pohon besar tumbang.
Ketika itu, Ibu Ayla sedang hamil besar dan sudah mengeluh mulas-mulas. Saat itu Ayah Ayla bingung untuk mengantar istrinya ke rumah sakit karena letaknya yang terlampau jauh. Akhirnya nenek Ayla memberi ide untuk mendatangi bidan kampung saja. Kakek yang saat itu sudah sakit-sakitan dan sedang tertidur memang sengaja tidak dibangunkan. Singkatnya, berangkatlah, ibu, ayah, dan nenek Ayla menuju rumah bidan tersebut dengan menggunakan mobil. Sesampainya di rumah bidan tersebut, Ayla berhasil dilahirkan selamat ke dunia. Namun di saat yang bersamaan, Ayah Ayla mendapat kabar bahwa rumahnya menjadi salah satu yang ikut terbakar karena adanya konslet aliran listrik akibat hujan badai yang membuat banyak pepohonan tumbang. Kakek Ayla yang sedang lelap tertidur terlambat diselamatkan. Satu nyawa dilahirkan, namun nyawa yang lain dipanggil pulang. Hal tersebut membuat nenek Ayla shock dan sedih berkepanjangan. Sampai nenek Ayla mogok makan dan akhirnya menyusul kakeknya ke alam baka. Ibu dan ayah Ayla terpukul, namun hidup tetap harus berjalan.
Mereka pun berjanji untuk menjalani kehidupan seterusnya dengan penuh suka cita dan kasih sayang. Makanya sejak kecil, Ayla sangat dijaga oleh kedua ayah ibunya. Segala sesuatu yang menyangkut Ayla dapat membuat ibu atau ayah berhenti dari kegiatannya dan mengalihkan perhatian pada putri mereka. Apapun yang Ayla perlu, selama masuk akal dan mereka mampu, pasti diberikan. Apa yang Ayla butuh akan diusahakan. Semua tentang Ayla bisa mengalahkan segala kepentingan tak terkecuali.
Ros jadi bisa memahami betul mengapa Ayla begitu ingin untuk bisa memiliki kekuatan seperti dirinya. Bukan untuk apa-apa. Hanya ingin bisa menembus dimensi waktu agar bisa menemui arwah nenek dan kakek yang Ayla yakin masih belum tenang di sana. Ros lalu mencoba memberikan pengertian pada Ayla bahwa apa yang ia miliki ini juga merupakan warisan yang diturunkan dari ibunya. Ros tidak memilikinya secara alamiah seperti kemampuan melihat, berjalan dan lain sebagainya. Ibu nya lah yang menurunkannya pada Ros. Meski masih tak paham apa maksud atau tujuan dari Ibu Ros menitipkan hampir seluruh kekuatan tersebut padanya, Ros tak punya pilihan lagi selain menerima dan menjalani takdir. Ayla juga sempat menyatakan rasa iri hati.
“Andai ada juga yang mewariskan kekuatan macam yang lo punya ke diri gue, pasti gue nggak bakal merasa sepenasaran ini sih, Ros. Gue pengin tahu dong, emang gimana rasanya punya kekuatan yang nggak banyak dipunyai manusia lain di dunia?!”
Ros bingung jua kalau ditanya begini oleh Ayla. Karena sejak awal memiliki kekuatan, Ros tak merasakan sesuatu yang spesial. Tapi jika ia menjawab kelewat jujur, Ros khawatir Ayla akan kecewa dan nanti malah berpikir hal yang tidak seharusnya. Sebab saat ini, ada beban rasa bersalah yang sedang ditanggungnya. Makanya Ros tak serta merta mengatakan perasaan ‘biasa saja’ yang ia rasa meski punya kekuatan.
“Ya, lumayan merasa lebih pede aja sih, Ay. Gue sempet punya pikiran kalau kita gede nanti dan sekolah kita terpisah, terus ada yang ngisengin gue, gue bakal nyuruh hantu-hantu kelas teri yang berhasil gue tundukkan buat gangguin orang yang mengganggu gue.” Ros menuturkan hal yang memang ingin didengar oleh sahabatnya.
Saat mendengarkan penjelasan Ros, Ayla terlihat sangat antusias dengan wajah yang agak sumringah. Meskipun Ros tahu hal ini tak baik karena memberikan Ayla mimpi meski secara tidak langsung, tapi saat itu mereka masih kelas lima di sekolah dasar. Ros pikir dirinya dan Ayla akan melupakan obrolan kosong mereka saat itu nanti.
Hanya saja, situasi yang saat ini sedang dihadapi tentu saja berbeda dengan obrolan kosong yang terjadi antara dirinya dan Ayla saat masih berseragam merah putih. Ketika mengetahui fakta yang di luar nalarnya, bukan tak mungkin Ayla akan terkejut dan ketakutan setengah mati. Apalagi selama ini Ayla juga cukup dekat dengan Gagah yang selalu bersama dirinya dan Ros di banyak momen dan kesempatan seru.
Ros bingung bagaimana harus bereaksi dan menjawab ketika Ayla bertanya dengan sangat jelas mengenai identitas dari Gagah dan Taji yang memang bukan manusia ini. Apakah ia harus mengiyakan? Atau justru menggunakan kekuatannya untuk menghapus ingatan Ayla, khusus pada bagian ketika ia mendengar fakta Gagah dan Taji bukan manusia saja. Tapi apakah itu tidak terlalu kejam untuk Ayla yang selalu mendukung dan bersama Ros bahkan di saat terpuruk dan terburuk? Ros tak tega.
“Ros,” panggil Ayla pelan, namun pandangannya tetap ke arah Gagah dan Taji secara bergantian. “kalau lo tadi sempat berpikir mau pake kekuatan lo untuk memantrai gue dan menghilangkan memori yang udah telanjur terekam mengenai fakta kalau dua sosok di depan gue ini bukanlah orang, gue saranin lo jangan. Gue beneran bakal menuntut balas atas perbuatan lo di alam baka nanti.” Ayla mengancam dengan serius. “Tapi kalau lo justru mikir gimana cara ngomong ke gue kalau apa yang tadi gue tanyain benar, lo nggak perlu bingung. Karena gue udah tahu,” kata Ayla lebih tenang.
Ros tak tahu bagaimana Ayla bisa tahu. Entah ia hanya asal menebak atau tahu persis karena pernah memergoki hal mencurigakan dari Gagah dan Taji. Tapi dari cara bicara dan air muka Ayla tadi, sepertinya ia tidak mengada-ngada. Ayla berkata apa adanya dengan apa yang ia yakini. Meski tetap saja, bagaimana cara Ayla bisa tahu?
Ayla lalu tersenyum. “Bener, kan?! Apa yang gue bilang tadi?” gadis itu mengulang pertanyaannya, minta penegasan. Sedangkan Ros, Gagah, dan Taji masih terdiam dan bingung bagaimana harus merespon. “Justru kalau kalian diem terus tanpa adanya konfirmasi gue malah semakin yakin apa yang gue pikirkan selama ini memang benar. Tapi kalau kalian mau membantah juga udah nggak bakal bikin gue percaya.”
“Lo…” Gagah seperti tak kuasa melanjutkan kalimatnya sendiri. “Lo udah tahu kalau gue bukan manusia dari kapan, Ay?!” ia bertanya ragu. Wajahnya agak pucat.
Ayla lalu terlihat berpikir. “Hmm, dari awal kita ketemu sore itu,” jawabnya kalem.
“Kalau gue…?!” Taji ikut tak sabar ingin tahu juga kapan Ayla tahu jika dirinya bukan manusia. “Lo pasti nggak tahu persis, kan?! Lo cuma asal nebak doang, kan?!”
Ayla mengerutkan keningnya. “Gue pernah lihat bayangan lo melintas di kaca halte beberapa hari sebelum lo dateng ke sekolah Ros dan jadi murid baru di sana. Saat itu gue dan Ros lagi tunggu angkot dan udah menjelang sore.” Ayla menjelaskan awal ia mengetahui kalau Taji bukanlah manusia. “Gue juga nggak paham kenapa gue bisa lihat pantulan wajah lo di cermin waktu itu, tapi gue yakin itu lo. Apalagi setelah kita ketemu. Gue cuma meyakinkan diri, kalau waktu itu gue yang salah lihat.” Senyum Ayla tertahan. “Tapi ternyata nggak. Firasat dan apa yang gue lihat waktu itu memang lo.”
Ros sungguh tak menyangka bahwa Ayla bisa sesantai ini ketika mengetahui baik Gagah maupun Taji memang bukan bagian makhluk yang sejenis dengan mereka.
“Lo nggak takut sama gue, Ay?!” Ros kaget karena rupanya Gagah langsung melontarkan pertanyaan yang sangat ingin ia ketahui saat ini. Ros lalu menoleh pada Ayla lagi yang menggelengkan kepala dengan tegas. “Beneran?!” tanya Gagah lagi.
“Kalau gue takut, gue nggak bakalan biasa aja ke lo, kan?!” Ayla kembali tersenyum. Ia lalu berjalan menghampiri ujung ranjang Ros. “Sejak kita temenan dan bersama, lo selalu jagain gue. Lo nggak pernah mencoba menyakiti gue dan Ros, sekalipun. Makanya gue pikir mungkin lo salah satu jin yang baik. Jadi gue nggak merasa takut sama sekali. Dan, lo juga beneran kelihatan kayak manusia kok, Gah.”
Gagah tersenyum terharu karena pengakuan Ayla yang tak terduga barusan. Namun senyumnya mendadak lenyap ketika Ayla melanjutkan kalimatnya. “Tapi kalau ternyata lo jahat dan mau bikin gue celaka, gue punya temen dukun yang sakti banget lho. Lo beneran bisa tersiksa di dunia dan di akhirat. Jadi, mending lo jangan coba-coba buat mencelakakan gue,” kata Ayla kembali memberikan ancaman serius pada Gagah.
Pemuda itu hampir tersedak ludahnya sendiri karena ancaman Ayla yang terasa mengintimidasi tersebut. Tak urung, Gagah menganggukkan kepalanya juga pada Ayla.
“Gue memang nggak punya niat menjahati atau mencelakakan lo atau Ros, Ay.”
Ayla pun tersenyum senang saat menatap Gagah. “Baguslah. Karena kalau sampai terjadi, gue bakal sedih karena kehilangan teman baik selain Ros di hidup gue.”
Gadis itu lalu mengalihkan pandangan pada Taji. “Sejak lo nyusul gue dan Ros ke warnet tempo hari itu gue udah merasa yakin seratus persen kalau lo memang bukan manusia lho. Cuma karena gue belum nemuin lagi bukti yang menguatkan dugaan gue, makanya gue cuma diam dan menunggu sampai momen itu datang aja.”
Taji terlihat tak memiliki apa-apa untuk dikatakan pada Ayla. Makanya ia hanya mengangguk dan mencoba tersenyum. Sebab sepanjang ia hidup di dunia, baru kali ini ada manusia biasa yang bisa dengan mudah mengenali dan menangkap bayangannya yang ‘bocor’ ke kaca halte yang perlu dipersalahkan atas ini semua. Tapi Taji tak memiliki cukup energi untuk menelusuri hal itu makanya ia pasrah meskipun ketahuan.
Ayla lalu menatap Ros dan kontan tersenyum. “Lo dari dulu selalu penasaran buat tahu silsilah keluarga lo, kan?! Gue belum tahu apa tujuan dua makhluk ini dateng ke hidup lo. Tapi jika itu sesuatu yang baik dan bisa bantu lo menelusuri jejak keluarga lo di masa lalu, gue bakal dukung lo seratus persen, Ros,” kata Ayla menyemangati.
Tadinya Ros hendak membantah hal tersebut. Namun ia kemudian teringat dengan tujuannya datang ke rumah sakit dan menemui Ayla. Dia memang ingin mengatakan semuanya pada Ayla. Meski mungkin saja hal tersebut akan berisiko dan menempatkan Ayla dalam bahaya. Ros sudah membulatkan tekadnya. Ia akan bicara.
“Ay, gue memang punya rencana itu sejak lama. Dan beberapa waktu terakhir ini, gue menemukan banyak sekali hal yang bikin gue penasaran. Gue pengin cerita banyak ke lo, Ay, cuma waktunya lagi kurang tepat karena bokap lo baru aja kena musibah.” Ros memulai ceritanya pada Ayla. “Tapi kalau gue nggak cerita ke lo sekarang, gue khawatir malah nggak punya waktu lagi buat nyampein ke lo. Makanya gue rasa, ini adalah saat yang perlu gue manfaatkan buat nyampein apa yang lagi gue rencanain saat ini,” lanjut Ros lagi. Ia lalu meminta Ayla untuk mendekat dan duduk di dekatnya. Ayla menurut. Ia segera menghampiri sahabatnya tersebut. “Tapi ini berisiko.”
“Gue rasa saat gue memutuskan untuk menyadarkan lo dari sekumpulan hantu anak kecil yang bikin lo mencoba bunuh diri waktu kecil udah menejerumuskan gue dalam risiko deh,” kata Ayla pelan. “Setiap hari hidup lo udah penuh risiko, Ros. Gue sama sekali nggak bisa bantuin lo apa-apa selain ya… nemenin lo doang.”
“Sebentar.” Gagah menyela di tengah obrolan Ros dan Ayla. Kedua gadis itu menoleh galak pada Gagah. “Lo mau nyampein juga ke Ayla soal gue nggak?!”
“Memangnya kenapa Ros harus cerita ke gue soal lo, sih?!” sergah Ayla galak.
Gagah pun segera mundur karena ia merasa sudah membuat kesalahan fatal dengan menginterupsi obrolan yang terjadi di antara dua sahabat yang sangat dekat.
Ros dan Ayla melanjutkan obrolan mereka. “Karena dari dulu memang gue udah nggak pernah punya temen selain lo, Ay,” balas Ros. “Sekarang aja… tetep lo doang yang beneran temen gue,” kata Ros lagi. “Karena dua makhluk ini nggak sejenis sama kita. Mereka berdua kalau lupa sarapan pagi, nggak bakal kena maag. Kita nggak, Ay. Kita tetep bisa kena maag.” Apa yang diucapkan Ros barusan membuat Ayla tersenyum geli. “Jadi yang beneran murni temen gue karena sama manusianya dengan gue ya memang cuma lo. Dan cuma dengan lo gue akan berbagi semuanya tanpa terkecuali. Gue nggak bakalan tutupi lagi apa yang sedang gue rencanakan saat ini.”
Ayla mengangguk. “Gue siap mendengarkan kok, Ros,” sahutnya dengan siaga.