Ketika Ros sedang berpikir keras sekaligus mempertimbangkan bagaimana cara agar dapat menolong Ayla menemukan jin atau energi yang mencelakai ayahnya, suara telepon genggam membuyarkan konsentrasinya. Ros mengecek siapa yang menghubunginya. Ternyata Bapak. Gadis itu tahu alasan utama Bapak meneleponnya.
“Guys, bentar, ya. Bokap telepon,” ujar Ros pada dua temannya itu lalu agak menjauh. Ros sebenarnya enggan menjawab panggilan tersebut. Namun ia kenal Bapaknya. Semakin ia tolak atau tak tanggapi, maka Bapak akan semakin sering mengirimi pesan atau meneleponnya hingga Ros mau menggubris panggilan tersebut.
Setelah mengambil sepuluh langkah dari lokasi dua sahabatnya yang menunggu, Ros menjawab panggilan Bapak. “Halo, Pak?” sapanya pelan. “Aku belum bisa pulang sekarang. Ayahnya Ayla baru kecelakaan. Ini aku lagi di rumah sakit Medika.” Sebelum Ros ditanya macam-macam, lebih baik ia menjelaskan lebih dulu tentang keberadaannya dan alasan mengapa hingga kini dirinya masih belum pulang.
“Oh, iya, tak apa, Ros. Bapak udah tahu. Tadi Pak Udin ngabarin Bapak katanya habis mengantar kamu dan teman-teman kamu ke rumah sakit,” sahut Bapak nya. “Tapi jangan lupa, Ros. Jika kamu ingin melepaskan kekuatan kamu, kita harus menemui Ki Damari malam ini juga. Karena ini adalah waktu yang sangat tepat,” ujar Bapaknya.
Ros terdiam sejenak setelah mendengar pernyataan Bapak. Ia harus membantu Ayla menemukan arwah atau jin yang tengah mencelakakan Ayahnya. Dan apa yang diucapkan oleh Taji siang tadi, cukup mengganggunya. Terlebih ia dapat melihat sosok yang menyerupai dirinya namun mengenakan penutup mata. Ros mendadak ingin mencari tahu semua itu. Ros harus menuntaskan satu persatu masalah yang sedang ia hadapi saat ini. Supaya ketika kekuatan itu diwariskan, ia tidak akan merasa menyesal.
Gadis itu kemudian membalas ucapan Bapaknya. “Setelah Ros pikir-pikir, sepertinya Ros mau menunda untuk melepaskan kekuatan Ros ini, Pak,” timpalnya.
“Kenapa mendadak berubah pikiran?” tanya Bapak dengan nada bingung.
“Hmm, untuk alasan tepatnya aku belum bisa cerita sekarang ke Bapak. Tapi yang bisa aku bilang sekarang adalah, aku mengurungkan niatku untuk melepaskan kekuatan ini sementara waktu, Pak. Aku akan tetap membuka praktik dan menangani pasien yang datang sesuai jadwal.” Kalimat Ros terjeda. “Tapi aku minta, Bapak nggak menyuruh aku untuk buru-buru pulang malam ini. Karena di sini sahabatku sedang butuh kehadiran dan dukungan moral dariku. Aku janji sebelum pukul sebelas aku sudah ada di rumah. Bapak nggak perlu khawatir.” Kalimat itu menegaskan bahwa Bapak tak perlu berpanjang lebar lagi untuk ‘mengancam’ agar Ros cepat pulang.
“Hmm, baiklah. Sampaikan salam Bapak buat orang tuanya Ayla. Semoga segera pulih seperti sedia kala lagi.” Usai mengucapkan pesan tersebut, Bapak memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu Ros menggubris kata-katanya.
Ros sudah bisa menebak bahwa Ayahnya pasti sudah kesal. Namun Ros merasa berhak untuk menentukan sendiri pilihannya. Apalagi ketika melihat Ayla yang masih amat terpukul dan tak dapat memalingkan wajahnya dari kondisi motor ayahnya yang ringsek, Ros tak mampu untuk mengabaikannya begitu saja. Ia harus membantu Ayla untuk menemukan arwah atau jin yang menjadi penyebab kecelakaan ayahnya.
Meskipun Ros tahu ini akan jadi sebuah perjalanan yang melelahkan dan panjang karena pastinya agak sulit menemukan aura dan energi yang mirip dengan yang ia rasakan dari tubuh motor ayah Ayla yang ringsek, tapi Ros bertekad untuk berusaha semaksimal mungkin. Dengan usaha dan ketekunannya, Ros yakin ia bisa menemukan jin atau minimal petunjuk siapa yang mengirimkan jin tersebut.
Ros menghampiri Ayla dan Gagah lagi. “Sorry guys, agak lama,” ucapnya.
Ayla tersenyum. “Lo udah disuruh balik ya sama bokap?!” tebaknya dengan jitu.
Meskipun ia ingin menyangkal, tapi Ayla akan tahu saat Ros bohong. Ayla juga cukup hafal dengan kebiasaan Bapak yang selalu menerornya ketika ia belum ada di rumah saat waktu buka praktik pengobatannya tiba. Jadi percuma untuk bilang tidak.
“Hmm, ya begitu deh. Lo udah tahu juga, jadi gue nggak bisa pura-pura bilang nggak,” balas Ros sambil menyeringai. “Tapi gue udah bilang kok nggak bisa buru-buru pulang malam ini. Karena gue mesti nemenin lo dulu di sini. Bokap udah setuju kok.”
Sayangnya, kalimat yang diucapkan Ros tersebut masih tak dapat membuat Ayla percaya. “Bokap lo nggak menggubris bukan pertanda dia setuju, Ros. Tapi bokap lo nggak setuju cuma males buat ngomong ke lo.” Ayla geleng-geleng kepala. “Udah, nggak apa-apa kalau lo mau balik sekarang. Ketimbang nanti pasien-pasien lo berkurang karena lo terlambat datang. Mending sekarang lo pulang aja gih.” Ayla lalu mengusir Ros. “Ntar gue bilangin nyokap kalau lo pulang duluan. Nggak usah cemas.”
“Iya nggak apa-apa, Ros, kalau lo mau balik duluan. Biar gue yang nemenin Ayla di sini,” sambung Gagah. “Gue kan cowok, bokap nyokap gue nggak akan nyariin gue juga. Jadi gue jauh lebih tenang daripada lo.” Gagah melipat tangannya dengan santai.
Melihat itu Ayla menggelengkan kepalanya lagi. “Lo juga mending balik aja gih. Biar gue bisa fokus sama ortu gue. Kalau ada lo nggak ada Ros, gue nanti malah jadi emosian,” tukas Ayla yang langsung mengusir Gagah. “Udah, pada pulang aja sana!”
Ros masih mencoba peruntungannya dengan tersenyum manis lalu merayu Ayla dengan memanggilnya dengan manja. “Ay, satu jam lagi ya gue temeninnya, ya?!”
Ayla menggeleng tegas. “Balik buruan! Males banget nanti disusulin Pak Slamet ke sini,” ucapnya ketus. Ketika menyebut nama itu Ros dan Gagah terlihat bingung.
“Pak Slamet siapa, Ay?” tanya Ros tak mengerti. “Kenapa nyusul ke sini dia?”
“Nama bokap lo bukannya Joko ya, Ros?” Gagah mencoba memastikan.
Ros menoleh pada Gagah dan mengangguk lambat. “Makanya gue tanya Pak Slamet itu siapa?” Gadis itu menoleh lagi pada Ayla agar menjawab pertanyaannya.
Kemudian Ayla pun menjawab. “Gue pikir Pak Slamet.” Ayla mengangkat kedua bahunya. “Soalnya kan katanya orang Jawa identik sama nama itu,” jawab Ayla dengan kalem dan wajahnya tetap tenang dan wajar.
Karena kondisi Ayla saat ini sedang bersedih dan pasti butuh hiburan, makanya Ros pasrah saja dan membiarkan Ayla untuk berkreasi sesuka hati. Ros pun menganggukan kepala menyepakati. Namun sayang, Gagah seperti belum ngeh juga.
“Ya, kan, nggak semua orang Jawa namanya Slamet, Ay. Ada nama orang Jawa lain yang nggak kalah terkenal, bukan cuma Slamet doang,” tukas Gagah antusias.
Ros sudah hendak memelototi Gagah tapi sayangnya Ayla sudah menyahut lebih dulu. Biar tidak usah diperpanjang dan iyakan saja apa yang Ayla bilang.
“Gue tahunya cuma Slamet, Gah. Nama Slamet tuh kayak nama Asep kalau di Bandung. Coba aja lo teriak nama Asep di tengah-tengah kota, pasti banyak yang nyahut. Sama dengan nama Slamet yang lo teriakin kalau lagi main ke Jawa Tengah kayak Semarang atau Solo. Pasti bakal banyak yang bakal nyahut panggilan lo.”
Benar, kan?! Jadi panjang. Padahal Ros ingin Ayla fokus saja pada kesembuhan sang ayah. Memang anak ini acaknya tidak ketulungan. Ros akhirnya menyadarkan.
“Ay, mending lo balik ke dalem. Siapa tahu bokap sadar dan nyariin lo,” kata Ros.
Mendengar fakta itu, Ayla pun tersadar dan menepuk bahu Gagah. “Elu sih malah ngajak bahas nama. Sampe lupa kan gue ngapain di sini,” semprotnya seolah melimpahkan semua kesalahan pada Gagah yang hanya ternganga. “Ya, udah gue balik ke dalam, ya. Kalian hati-hati baliknya. Nanti gue bakal update keadaan bokap.”
Ros dan Gagah pun mengangguk dan membiarkan Ayla berlari kecil kembali masuk ke rumah sakit. Begitu tinggal berdua saja, Ros pun menepuk kembali bahu lainnya yang tidak dipukul oleh Ayla. Gagah kontan mengaduh dan mendelik pada Ros.
“Aturan nggak usah lo perpanjang juga urusan nama orang Jawa tadi. Ngapain ditanggepin? Bikin panjang aja urusan.” Ros tak tahan untuk tidak menyemprot Gagah.
“Gue kan mau meluruskan aja. Kalau nggak semua nama orang Jawa itu Slamet. Ada Paijo, Tejo, Ismanto, Jatmiko—” Ros kontan membungkam mulut Gagah.
“Nggak usah lo jabarin juga, gue nggak pengin tahu,” balas Ros dengan sebal.
“Hmm,” kata Gagah karena saat ini mulutnya masih dibekap oleh Ros.
Gadis itu melepaskan tangannya dari mulut Gagah. “Ya, udah balik, yuk. Kita kan searah, lo mending ikut mobil gue aja,” katanya sudah hendak balik badan.
Gagah lalu menahan Ros. “Eh, Ros, nggak usah. Gue naik taksi saja,” sahutnya menolak. “Lo nggak apa-apa pulang duluan aja.”
Dahi Ros mengerut. “Ongkos taksinya lo kasih ke gue aja kalau mau. Nyantai aja lah, ayo bareng baliknya.” Ros masih memaksa Gagah. Namun cowok bergeming. Ros pun akhirnya bertanya. “Memang kenapa lo nggak mau bareng baliknya sama gue?”
“Gue mau beli pesanan nyokap dulu soalnya. Lo kan juga udah ditungguin Pak Joko. Daripada lo kena amuk lagi, mending pulang buru-buru.” Gagah menjelaskan alasannya. “Udah, nggak apa-apa, Ros. Lain kali aja gue nebeng mobil lo.”
Sepasang mata Ros menyipit. “Dari kita kelas X sampai sekarang, lo selalu nolak ajakan gue buat bareng. Gue juga belum pernah main ke rumah lo, satu kali pun. padahal gue pengin banget main.” Nada bicara Ros menyelidik. “Ada yang lo sembunyiin?” terkanya sambil menatap lurus pada Gagah yang sontak menggeleng.
“Mana mungkin. Apa yang gue sembunyiin coba? Rahasia gue paling memalukan aja lo udah tahu, Ros,” seloroh Gagah sambil menyeringai lebar.
“Ya, soalnya gue kayaknya gampang banget diboongin orang. Orang yang gue sangkain orang aja ternyata bukan orang. Jadi bingung ngebedainnya,” gumam Ros.
Gagah kemudian memperhatikan wajah Ros yang tampak sedih sekaligus putus asa. “Lo ngomong apa barusan, Ros?” tanya Gagah sambil tetap memandang gadis itu.
Ros lalu tersadar. “Eh, nggak. Nggak apa-apa. Lupain aja.” Ros menggoyangkan tangannya. “Ya, udah kalau lo nggak bisa bareng gue, gue duluan kalau gitu, Gah.”
Gagah mengangguk. “Hati-hati, Ros.”
Ros hanya menanggapi dengan mengacungkan jempolnya pada Gagah. Saat Ros berjalan ia tiba-tiba ingin mengatakan sesuatu pada Gagah. Ketika ia balik badan dan hendak memanggil Gagah, orangnya sudah tak ada di belakangnya. Dahi Ros kembali mengerut. Belum ada sepuluh langkah Ros berjalan menjauh dari Gagah, tapi mengapa Ros merasa bahwa langkah Gagah lebih cepat dari perkiraannya. Jika Gagah berlari, harusnya ia mendengar derap kaki atau paling tidak suara cowok itu.
Perasaan Ros mendadak menaruh curiga pada Gagah. Namun untuk saat ini, sepertinya kecurigaannya pada Gagah bisa ia tunda lebih dulu. Karena saat ini ada satu pekerjaan yang jauh lebih penting dan harus ia selesaikan secepatnya. Mencari jin atau arwah yang telah mencelakai Ayah Ayla atau menemukan dalang utama dibalik peristiwa tersebut. Ya, Ros akan fokus pada pencarian jin tersebut terlebih dahulu.