Bukan Human Error

2282 Words
Sesampainya di rumah sakit, Ros dan Gagah mendampingi Ayla dan Ibu nya yang terlihat sangat terpukul. Apalagi ketika tiba di rumah sakit pun, mereka belum dapat bertemu atau melihat kondisi sang Ayah. Ros dan Ibu Ayla kemudian duduk di bangku panjang yang tersedia di depan ruang ICU. Sementara Ayla sedang bicara dengan dokter yang menangani Ayah Ayla ditemani oleh Gagah, Ros mencoba memberikan dukungan moral bagi Ibu Ayla semampu yang bisa ia lakukan.  “Semua akan baik-baik aja, Bu. Ibu yang sabar ya, Bu,” ucap Ros sambil menggenggam tangan Ibu Ayla yang lemas. Ibu Ayla yang masih menangis hanya menganggukkan kepalanya pelan sekali. “Kita tunggu perkembangannya sebentar lagi ya, Bu. Ayah pasti akan segera sadar, Bu. Sekarang kita berdoa aja, ya,” lanjut Ros.  “Iya, Ros. Ibu berdoa seperti itu. Bantu doa juga ya, Ros,” balas Ibu akhirnya. “Pasti, Bu, pasti Ros doain kok.” Ros tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ayla bicara langsung dengan dokter. “Bagaimana kondisi Ayah saya ketika sampai di sini, Dok?!” tanya Ayla tanpa basa basi. “Apa bener ini kecelakaan tunggal?!” Dokter pria yang ditaksir berusia lima puluh tahunan itu lalu menjawab pertanyaan Ayla dengan sabar. “Saat sampai di sini, ayah adik sudah tidak sadarkan diri. Adik tak perlu khawatir, luka dari ayah adik tidak begitu dalam. Mungkin ada sedikit guncangan dan trauma secara psikis saja yang dialami ayah adik. Namun saya akan membantu kesembuhan ayah adik sekuat dan semampu saya,” terang dokter tersebut. Ayla mendengarkan dengan saksama penjelasan dari dokter yang menangani. “Oh, ya, tadi ada pihak kepolisian yang bertanya tentang keluarga pasien. Mungkin nanti akan datang lagi untuk mencari adik dan meminta beberapa keterangan,” lanjut dokter pada Ayla. “Setelah ini adik bisa berjumpa dengan ayah adik. Nanti akan saya sampaikan pada suster. Ruangan hanya dibatasi maksimal untuk dua orang saja, makanya mungkin nanti adik dan ibu saja yang dapat masuk,” kata dokter menjelaskan. “Baik, Dok, terima kasih banyak,” balas Ayla lalu balik badan dan segera menghampiri ibunya. Gagah juga mengucapkan terima kasih setelah itu lalu menyusul Ayla. Gadis itu lalu berlutut tepat di hadapan ibunya. “Bu, kata dokter tadi habis ini kita bisa tengok ayah. Ibu udahan ya nangisnya. Nanti ayah bisa tambah sedih lho kalau lihat ibu nangis.” Ayla mengusap air mata di pipi ibunya. “Dokter juga bilang kalau luka ayah nggak dalam kok. Cuma terguncang sama agak trauma aja,” sambung Ayla. Ibu memandang Ayla dan mencoba tersenyum. “Bener? Luka ayah nggak parah, Ay?!” Ibu seolah ingin memastikan keterangan dari anaknya. “Kita bisa ketemu ayah?” Ayla mengangguk. “Bisa kok, Bu. Habis ini kita bisa ketemu sama ayah. Dokter lagi menyampaikan dulu sama susternya. Sekarang Ibu hapus wajah sedih ibu biar kalau ayah bangun, ayah nggak ikutan sedih lihat ibu kayak gini. Yah, Bu?!” “Iya, Ay. Ibu udah nggak sedih-sedih lagi kok setelah dengar penjelasan kamu.” Tak lama setelah itu, ada seorang suster yang memanggil Ayla dan Ibunya karena ayah nya sudah siuman. Ayla menoleh pada kedua sahabatnya untuk menengok ayahnya lebih dulu. “Guys, gue sama Ibu temuin Ayah dulu, ya,” pamitnya. “Iya gih. Gue sama Gagah tunggu di sini,” timpal Ros. Gagah mengamini dengan anggukan kepala. “Kabarin kita lagi, ya.” Ayla hanya mengangguk lalu bergegas menuju ruang perawatan ayahnya sambil menuntun ibunya yang terlihat masih lemah lunglai. Ros dan Gagah belum duduk. “Kasihan ya Ayla. Sedih dan bingung banget pasti dia sekarang,” ucap Ros sambil menatap ke arah lorong menuju ruang perawatan. Gagah yang sejak tadi tak banyak bicara hanya menjawab singkat. “Hmm, pasti.” Ros lalu menoleh pada Gagah dan menatapnya bingung. “Lo kenapa, sih? Kayak lagi mikirin sesuatu dari tadi,” tanyanya penasaran. “Muka lo tuh kelihatan serius banget tahu nggak. Gue jadi berpikir kalau lo sedang mencurigai sesuatu, Gah.” Gagah terdiam sebentar lalu menoleh pada Ros. “Menurut lo, mungkin nggak kalau ini kecelakaan karena human error?!” tanyanya masih dengan mimik serius. “Ha? Kenapa lo bisa berpikir begitu? Bukannya tadi di jalan Ayla udah cerita juga katanya memang kecelakaan tunggal?!” Ros masih belum tahu ke mana arah pembicaraan Gagah. “Memang lo mencurigai apa, Gah?!” Ros pun jadi penasaran. “Nggak apa, sih,” kata cowok itu berusaha tersenyum. “Mungkin ini perasaan gue aja. Udah, nggak perlu lo pikirin.” Gagah langsung memenggal kalimatnya sendiri. Melihat Gagah sudah menunjukkan gelagat berbeda tapi tidak melanjutkan ucapannya malah membuat Ros jadi kesal sendiri. “Lanjutin nggak kalimatnya! Gue sumpahin lo bisulan sekaki kalau nggak jelasin ke gue sekarang,” ancam Ros serius. Gagah melihat Ros dengan pandangan ngeri. “Wah, sumpah ini mulut Rosmanah suka kagak ada ayakannya. Nyumpahin orang serem banget kayak gitu.” “Ya, makanya lo kalau cerita tuh dilanjutin yang jelas jangan dipotong sembarangan.” Ros menunjukkan wajah sebal juga karena sudah dibuat penasaran. Gagah pun mengangguk dan melanjutkan kalimatnya sendiri. “Setahu gue sih nih, bokapnya Ayla tuh orangnya teliti dan hati-hati. Kayaknya kalau disebut human error tuh gue masih sulit percaya gitu, Ros.” Gagah menjelaskan kecurigaannya itu. “Ya, namanya aja human error, Gah. Orang seteliti bokapnya Ayla juga pasti pernah khilaf. Misalnya aja lagi kurang fokus, ngantuk dan lain sebagainya,” timpal Ros. Karena ucapan Ros ada benarnya juga dan sepertinya belum ada bukti nyata dari kecurigaannya, Gagah pun segera mengangguk. “Tapi lo bener juga, sih. Mungkin juga malam ini bokapnya Ayla memang lagi nggak fokus nyetir makanya bisa sampai terjadi seperti ini.” Cowok itu berusaha kembali pada pernyataan yang diberikan. Ros menepuk satu kali lengan Gagah. “Nggak perlu berpikir kejauhan dan terlalu dalam, Gah. Masalahnya kita juga kan belum tahu gimana kondisi Ayah nya Ayla saat ini dan seperti apa kondisi motor yang dikendari tadi. Jadi, tenang aja dulu lah, yah.” “Iya deh. Mungkin nggak perlu gue pikirin terlalu dalam dan jauh juga. Ya, udah lah. Yuk duduk lagi aja sambil nunggu Ayla keluar dan kasih kabar,” ajak Gagah.  Ros pun menuruti Gagah dan duduk kembali dengan tenang. Ketika mereka sedang sibuk dengan pikiran masing-masing, Ayla sudah keluar dari ruang pemeriksaan dan menghampiri kedua sahabatnya. Ros dan Gagah langsung bangun. “Kondisi bokap gimana, Ay?” tanya Ros dan Gagah nyaris kompak. “Nggak begitu baik, tapi juga nggak seburuk itu, sih.” Ayla mencoba tersenyum. “Gue sengaja biarin mereka berduaan biar bisa healing satu sama lain.” “We’re sorry, Ay,” ucap Gagah sambil memegang kedua bahu gadis itu. “Lo dan ibu lo harus kuat, ya. Gue sama Ros ada di sini kok,” katanya lagi menenangkan. “Thank you, Gah, Ros. Untungnya kalian lagi ada di rumah gue, ya. Jadi gue bisa setenang ini. Kalau cuma ada gue sama nyokap, mungkin gue udah nggak bisa mikir bener kali. Untuk itu gue berterima kasih banget sama kalian berdua.” “Tenang aja, Ay. Kayak sama siapa aja,” balas Ros. “Meskipun kami lagi nggak di rumah lo tadi, tapi kalau lo kabarin, kami pasti bakal dateng kok. Iya nggak, Gah?!” “Iya dong. Lo cukup kasih gue tahu di mana, gue akan langsung dateng kok.” Ayla mencoba tersenyum dengan pernyataan kedua sahabatnya yang tulus dan cukup menenangkannya. “Thank you banget pokoknya. Gue cukup tenang sekarang.” “Harus dong. Jangan panik dan cemas pokoknya. Bokap lo pasti akan segera sembuh.” Ros lanjut memberikan semangat dan dukungannya pada Ayla. Sekali lagi Ayla tersenyum dengan ekspresi yang jauh lebih ringan daripada sebelumnya. Saat Ros dan Gagah hendak mengajak Ayla duduk, terlihat dua orang bapak-bapak yang mengenakan pakaian yang sangat rapi menghampiri mereka.  “Selamat malam. Kami dari Polda Jakarta Timur yang menangani insiden kecelakaan yang menimpa Bapak Galih. Di antara kalian bertiga, siapa yang merupakan keluarga dari Bapak Galih?” tanya polisi yang mengenakan jaket kulit. Ayla langsung maju satu langkah. “Saya anak Pak Galih, Pak Polisi.” Polisi pun kemudian menjelaskan kronologi yang ditangkap oleh kamera CCTV di lokasi kecelakaan. “Dari tanda-tanda hingga bukti yang bisa kami pelajari, apa yang menimpa Pak Galih adalah murni karena kelalaian pengendara yakni Pak Galih sendiri. Sepertinya Pak Galih sempat menyadari beberapa saat sebelum akhirnya motor yang dikendari menabrak pembatas jalan. Sayangnya, motor sudah sulit dikendalikan hingga akhirnya Pak Galih terjungkal dari motor,” terang pak polisi itu dengan rinci dan jelas. Ayla sepertinya sudah jauh lebih siap saat mendengar pernyataan dari polisi tersebut. Makanya ia hanya menganggukkan kepalanya dan mendengarkan dengan saksama tanpa perubahan ekspresi menjadi lebih panik atau histeris.  “Untuk motor yang dikendarai Pak Galih ada bersama kami saat ini,” lanjut polisi tersebut menginfokan. “Saya ingin memberitahu sekaligus meminta izin untuk membawa motor tersebut ke kantor agar dapat kami pelajari lebih lanjut.” Mendengar itu Gagah tiba-tiba mengeluarkan kalimat yang membuat Ros dan Ayla kontan menoleh padanya. “Boleh kami lihat motor nya Pak?!” tanya cowok itu. Ayla dan Ros agak kaget dengan permintaan dari Gagah. Namun Ayla kemudian menganggukkan kepalanya dan mengulang pertanyaan tersebut pada polisi. “Boleh Pak, kami lihat kondisi motor ayah saya?!” Ayla bertanya agak tak sabar. Kedua polisi itu sempat berpandangan sesaat sebelum akhirnya mengabulkan permintaan Ayla yang dicetuskan Gagah. Pak polisi tersebut lalu membawa Ayla yang tentu dikintil oleh Ros dan Gagah ke parkiran di mana motor Ayah Galih akan dibawa. Saat mereka semua tiba di parkiran dan melihat motor yang dikendarai Ayah Ayla, ketiga anak muda itu sempat ternganga dan nyaris tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Ayla menutup mulutnya saking terkejutnya dengan kondisi motor Ayah.  “Benar ini motornya, Dik?!” tanya polisi satu lagi pada Ayla. Ayla seperti sudah kehabisan energi tapi masih ingin memberikan keterangan. Ia menganggukkan kepalanya dengan lemah. “Betul, Pak. Ini motor ayah saya.” “Baik, kami akan tunggu beberapa saat lagi sebelum pamit.” Kedua polisi tersebut lalu meninggalkan Ayla, Ros, dan Gagah yang masih membeku di hadapan mobil pick up polisi yang membawa motor Ayah Ayla yang sudah terlihat tidak utuh. Rasanya sulit percaya Ayah Ayla bisa selamat jika melihat kondisi motor yang ditungganginya saat ini. Sebab… sungguh remuk dan tak berbentuk lagi. Bagian bumper depan dan belakang penyok dan bagian tubuh motor juga sudah bengkok. Mereka semua seperti tenggelam dalam pikiran dan dugaan masing-masing. Gagah yang semula sudah mencurigai ada yang tak beres seolah memikirkan sesuatu yang tak masuk akal. Begitu juga dengan Ros yang merasa bahwa telah terjadi hal yang sulit diterima akal dan logika. Sedangkan Ayla seperti sedang memindai sesuatu dari bangkai motor Ayah nya yang seolah dapat memberikan penjelasan padanya.  Ini tak dapat dibiarkan. Gagah ingin memberitahukan Ayla mengenai kecurigaannya. Begitu juga dengan Ros yang merasa harus menceritakan apa yang sudah ia lihat dari motor Ayah nya ini. Namun sebelum salah satu di antara mereka bicara, Ayla sudah mendahului bicara dengan nada yang sangat berat. “Ada campur tangan makhluk halus di balik kecelakaan bokap gue,” kata Ayla lalu menoleh pada Ros. “Iya kan, Ros?! Saat ini lo pasti masih merasakan hawa dan energi yang tertinggal di tubuh motor bokap. Iya, kan?!” tanya Ayla meminta kejelasan. Ros semula tak ingin bicara to the point. Hanya saja ia tak dapat berbohong pada Ayla. Makanya ia pun membalas tatapan dan pertanyaan Ayla dengan jujur. Ros lalu menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang diungkapkan oleh Ayla tadi. “Lo bisa deteksi keberadaannya nggak, Ros? Bisa lo ajak komunikasi kenapa dia melakukan itu? Siapa yang nyuruh atau kenapa harus bokap gue?!”  Jika bisa, sudah sejak tadi radar Ros sudah menangkap minimal bau arwah tersebut. Sayangnya, ia tak menemukan apa-apa. “Gue rasa, makhluk astral yang jadi penyebab bokap lo kecelakaan bukan jenis arwah atau jin yang selama ini gue hadapi, Ay. Arwah atau jin ini sepertinya punya ilmu yang sangat tinggi. Gue sama sekali nggak bisa menemukan bau atau siluet wujudnya sama sekali. Gue minta maaf banget, Ay.” Ayla menggigit bibirnya. “Berarti bener ya, jin atau arwah gentayangan yang membuat bokap gue kecelakaan sampai separah ini.” Mata Ayla sudah berkaca-kaca. “Ini peringatan sih,” ucap Gagah kemudian yang membuat Ros dan Ayla kembali menoleh padanya. Sadar kedua gadis itu menoleh padanya dengan pandangan bingung sekaligus curiga, Gagah langsung menyambung. “Itu cuma tebakan asal gue aja. Coba tanya Ros bener apa nggak tuh kayak gitu,” imbuhnya sambil menyeringai. Ros kemudian mencoba memusatkan lagi radarnya dan mengambil sedikit kilas balik yang terjadi dari bagian tubuh motor yang mengenai tubuh jin atau yang memang disentuh oleh jin tersebut. Anehnya, Ros seperti memiliki kedekatan dengan energi yang tertinggal di tubuh motor tersebut. Ros sendiri tak mengerti mengapa bisa seperti ini. Hanya saja ia tak mungkin menjelaskan secara gamblang pada Ayla dan Gagah. “Hmm, tebakan Gagah bener, sih,” ucap Ros kemudian. “Ini semacam peringatan yang entah kenapa ditujukan ke bokap lo. Tapi gue bisa merasakan adanya hawa amarah di salah satu bagian tubuh motor yang mungkin nggak sengaja ditinggalkan jin tersebut,” lanjutnya menerangkan dengan apa yang bisa ia lihat. Ayla pun mengangguk. “Gue punya temen dukun, jadi gue akan minta tolong dia untuk mencari tahu siapa jin yang udah berani-beraninya nyebabin bokap gue sampai seperti ini,” katanya lalu menoleh pada Ros. “Lo mau bantuin gue kan, Ros?!” tanya Ayla penuh harap. Ros tak mungkin menolak permintaan Ayla. Namun ia seperti memiliki firasat kuat bahwa ia pernah bersentuhan dengan jin yang mencelakai Ayah nya Ayla secara intens. Sayangnya ia tak dapat menjelaskan mengapa timbul firasat tersebut padahal ia tak pernah berkontak langsung dengan jin atau syaiton jenis apapun selama ia bisa mengalahkan dari jarak jauh. Mengapa pada kasus Ayah Ayla sekarang Ros justru merasa berbeda dan seperti tak mampu menghadapi jin satu ini? 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD