Entah darimana datangnya ide dan pikiran untuk bertanya hal tersebut. Mungkin karena mendadak Ros teringat bahwa Ibu nya adalah penduduk asli di kampung ini. Jika jarak antara rumah mereka saja berdekatan, mustahil bukan keluarga Ayla tidak mengenal almarhumah Ibunya sama sekali. Kenapa dari dulu ia tak terpikirkan hal ini.
Ibu Ayla terdiam sebentar kemudian menjawab pertanyaan Ros. “Keluarga Ibu pindah ke sini waktu Ayla belum lahir, Ros. Waktu itu Ibu jarang juga bertemu almarhumah Ibu kamu. Karena…” Ibu Ayla seolah ragu meneruskan kalimatnya, mungkin takut menyinggung Ros. Gadis itu pun seperti sudah memahami dan langsung menganggukan kepalanya. Mencoba meyakinkan Ibu Ayla untuk melanjutkan bicara.
“Yah, banyak tetangga di sekitar sini yang menyebut almarhumah Ibu kamu dengan sebutan macam-macam. Tapi karena belum pernah berkomunikasi langsung, Ibu jadi nggak begitu menyadari juga.” Ibu Ayla mulai mengisahkan tentang Ibu Ros. “Sampai ketika Pak Kades terkena sebuah penyakit misterius. Pak Kades tak bisa bangun sama sekali dari tempat tidur. Ketika diperiksa oleh dokter, di tubuhnya tidak ada penyakit yang terdeteksi. Mendengar kabar itu, almarhumah Ibu kamu langsung datang dan mencoba menyembuhkan penyakit Pak Kades. Berhari-hari ibu kamu tidak keluar dari rumahnya. Sampai akhirnya pada suatu malam, Pak Kades keluar dari rumah sudah dalam sehat seperti sedia kala. Pak Kades tahu bahwa yang membantunya sembuh adalah almarhumah Ibu Ros. Kemudian Pak Kades mengatakan pada warga sekitar sini untuk meminta bantuan pada almarhumah ibu kamu jika mereka terserang penyakit misterius seperti yang dialaminya,” ujar Ibu Ayla lebih lanjut.
Ibu Ayla menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan lagi. “Kabar tentang Pak Kades yang penyakitnya berhasil disembuhkan oleh Ibu nya Ros membuat Ibu Ros semakin sibuk dari kampung satu ke kampung lainnya. Ibu Ros pun jadi lebih sering bepergian untuk membantu orang-orang yang terkena penyakit seperti Pak Kades waktu itu. Jadi, kalau Ros pengin tahu apakah Ibu tahu Ibu nya Ros? Tentu aja Ibu tahu. Cuma memang Ibu nggak begitu akrab juga karena Ibu nya Ros sangat sibuk mengobati banyak orang dari kampung ke kampung pada waktu itu,” terang Ibu Ayla.
Mendengar cerita tentang Ibu nya, Ros merasa sore turun tepat di hatinya, hangat. Ada yang mengisahkan bagaimana sosok Ibu nya bukan dari cerita sang Bapak tak disangka bisa demikian haru. Selama ini Ros sudah sering merasa rindu sosok Ibu. Tapi hari ini rasa rindu tersebut terasa lain dan semakin kuat. Seperti ada yang menarik sudut bibirnya untuk tersenyum karena mengingat betapa banyak yang sudah dilakukan Ibu dengan kekuatan yang saat ini ada di tubuhnya. Kekuatan yang diwariskan padanya tentu bukan hal main-main yang diputuskan begitu saja. Ibu pasti sudah lama dan memikirkan dengan matang sampai akhirnya kekuatan tersebut dihibahkan seluruhnya.
“Yah, Ros? Lo sedih, ya?!” tanya Ayla lalu mengusap lengan sahabatnya itu.
Gagah pun kemudian mendekati Ros dan merangkulnya. “Jangan sedih dong, ikutan sedih nih kita,” sambung cowok itu dan membuat Ayla mengangguk-angguk.
“Eh, sorry ya, guys. Nggak seharusnya gue malah jadi sentimental begini,” kata Ros lalu mengubah air mukanya menjadi lebih ceria. “Ini ultah lo, jadi mari kita rayakan dengan suka cita.” Suara Ros sudah tidak sesedih tadi. “Oke, Bu, Ros bisa bantu apa?”
Acara pesta ulang tahun Ayla pun dimulai. Ibu dan Bapak Ayla sudah menyiapkan kue dengan lilin di atasnya, lalu sajian makan malam berupa nasi tumpeng dengan berbagai pilihan lauk yang mengelilinginya. Ada abon, kacang teri, telur dadar, dan ayam goreng paha yang sudah menjadi incaran Ros sejak kali pertama melihatnya.
Untuk acara ultah puncaknya, Ayla mengajak Ros dan Gagah menemaninya menyantap kue ulang tahun yang sengaja di pesan. Namun karena hari ini ada beberapa customer yang memesan beberapa barang di toko, Ayah Ayla pamit terlebih dahulu sebab tak dapat mengecewakan para customer yang sudah menunggu.
“Kok balik lagi ke toko, Om?!” tanya Gagah pada Ayah Ayla yang sudah siap berangkat. “Kue nya nanti Gagah yang habiskan lho, Om,” lanjutnya tanpa segan lagi.
“Memang lo paling doyan kalau bagian ngabisin makanan, Gah,” komen Ros.
Ayah dan Ibu Ayla tersenyum dengan celetukan Ros. “Iya nggak apa-apa. Gagah sama Ros bantu Ayla habiskan kue nya, ya.” Ayah Ayla lalu memeluk putrinya. “Ay, maafin Ayah ya, Ayah harus pergi dulu karena udah telanjur janji. Sebelum jam delapan Ayah pulang,” kata Ayah Ayla sebelum pergi. “Selamat ulang tahun sekali lagi ya, Nak.”
“Makasih, Ayah. Nggak apa-apa kok, Yah. Memang Ayah harus pergi biar nggak ada komplain dari customer toko Ayah, kan?!” Ayla mencoba memaklumi Ayahnya.
“Ayah berangkat, takut kemalaman.” Ayah Ayla langsung pergi usai berpamitan.
Usai sang Ayah pergi, Ayla, Ros dan Gagah pun dipersilakan Ibu Ayla untuk menikmati sajian sederhana acara ulang tahun ke-16 putrinya tersebut.
“Dimakan ya, Ros, Gah. Ini Ibu cuma masak seadanya aja. Karena Ayla bilangnya cuma mau ngundang kalian berdua aja,” terang Ibu Ayla sambil menyodorkan sepiring kue sagon. “Ini enak lho, Ros, Gah. Dicicipi, ya. Ibu yang buat sendiri lho.”
Ros dan Gagah langsung mengambil kue sagon yang disodorkan oleh Ibu Ayla dengan kompak. Mereka juga segera mencicipi kue tersebut. Baik wajah Ros maupun Gagah kontan sumringah ketika sudah mengunyah kue sagon masing-masing.
“Wah, beneran enak ini, Bu,” puji Ros lalu menggigit lagi kue sagon miliknya.
“Setuju sih. Ini beneran enak, Tan. Kalau boleh Gagah nanti minta buat bungkus ya, Tan,” kata Gagah begitu percaya diri dan sontak disikut Ros yang memelototinya.
“Sopan sedikit kenapa sih. Sukanya malu-maluin gue aja nih orang emang,” semprot Ros dengan penuh jengkel sampai membuat Ayla dan Ibu nya hanya terkekeh.
“Memang kenapa, sih?” tanya Gagah masih tak mengerti mengapa Ros protes seperti ini. “Orang gue cuma mengatakan hal yang sebenarnya kok. Sambil makan kue sagon, gue bisa nyambi menulis puisi. Pasti hasil puisi gue bakal bagus banget karena mood gue bagus banget habis makan camilan enak kayak gini,” lanjut cowok itu lagi.
Ros hanya menggeleng-gelengkan kepala dan membiarkan saja. Apalagi tingkah Gagah setelah itu seperti tak memedulikan apa yang diucapkan oleh Ros yang langsung mengambil beberapa kue sagon yang masih disodorkan Ibu Ayla dan menumpuk di tangannya. Ros dan Ayla hanya ternganga saja dengan tindakan Gagah.
“Piringnya tuh nggak bakal diminta juga sama gue dan Ros, Gah. Nggak perlu juga kali lo sampai numpukkin ke tangan lo,” tukas Ayla. “Nggak bakal juga gue nyomot kue sagon punya lo, Gah. Khawatir banget gue embat lagi etdah.” Ayla jadi keki sendiri.
Namun Gagah hanya menyeringai sambil tak memedulikan apa yang diucapkan oleh kedua gadis yang mengutarakan protes padanya. Ibu Ayla lalu meletakkan piring berisi kue sagon tersebut di atas meja persis di hadapan Gagah yang berbinar.
“Nih biar Ibu taruh sini aja. Jadi kalau Gagah memang pengin lagi makan kue sagonnya bisa langsung ambil,” kata Ibu Ayla sambil memperhatikan keceriaan Gagah.
“Makasih, Tan. Tante memang memahami sekali suara hati Gagah. Jadi nggak enak nih,” ucap cowok itu lagi. “Ini punya gue, ya, kalian kalau mau harus izin, okay?!”
Ros dan Ayla memandang putus asa ke arah Gagah yang masih seperti anak kecil dan mencoba memproteksi makanannya agar tidak diganggu oleh anak lain.
Ibu Ayla kemudian meninggalkan mereka agar bisa mengobrol dengan leluasa.
Sepeninggal Ibu Ayla, Ros, Ayla, dan Gagah mengobrol secara acak seperti biasa. Mulai dari mengomentari bentuk kerucut nasi tumpeng yang kurang presisi, kacang teri yang kebanyakan teri ketimbang kacangnya, hingga lilin yang ada di atas kue ulang tahun Ayla yang cukup mengintimidasi. Ayla bahkan memandangi agak lama ke arah lilin tersebut setelah ia meniupnya tadi. Ayla seolah masih tak percaya jika ia berusia enam belas hari ini. Wajahnya mendadak muram ketika melihat lilin itu lagi.
“Kenapa tadi gue hepi ya?!” tanya Ayla seolah pada dirinya sendiri. “Padahal gue baru aja meniup sebuah momen usia baru, yang mana akan makin banyak drama dan ujian hidup. Apa yang harus gue rayakan juga, ya?!” wajahnya dipenuhi kebingungan.
Ros mengusap bahu sahabatnya, menyabarkan. “Kita masih enam belas tahun. Lo nggak perlu berpikiran sampai jauh begitu. Nikmatin aja,” sahut Ros menenangkan.
“Bener juga sih, Ros. Kadang gue ngerasa acak banget pikiran gue ini. Untung aja gue nggak aneh sendiri,” balas Ayla lagi dengan kepercayaan diri yang penuh.
Karena sudah malam dan Ros agak malas juga harus memperkarakan kepercayaan diri Ayla ini makanya ia hanya mengangguk saja biar segera beres. Ketika kedua gadis itu masih membahas soal usia baru, Gagah masih sibuk menyantap kue sagon yang disajikan Ibu Ayla dengan penuh konsentrasi seolah tak peduli dengan pembahasan Ros dan Ayla sejak tadi. Apalagi cowok itu juga tak mengeluarkan sepatah kata pun saat fokus menyantap kudapan yang disuguhkan oleh Ibu nya Ayla.
Mereka bertiga lalu menghabiskan waktu dengan mengobrol tak beraturan. Hal ini lumayan cukup bagus untuk pikiran Ros karena ia jadi tidak terfokus pada urusan mewariskan kekuatan. Karena setelah mendengar sedikit cerita tentang Ibu nya dari Ibu nya Ayla, entah mengapa Ros ingin sekali mencari tahu lebih dalam mengenai identitas dan latar belakang Ibu nya. Selama ini ia nyaris tidak punya waktu untuk berpikir untuk mencari tahu karena ia sudah sangat sibuk dengan kegiatan perdukunan setiap hari.
Namun setelah mengetahui identitas asli Taji, dan secuil informasi mengenai ibunya sendiri, Ros mendadak ingin sekali menggali informasi lebih banyak lagi. Pasti ada sesuatu yang terlewatkan dan tersembunyi. Tugasnya saat ini adalah segera mencari potongan yang tersisa dari semua teka teki ini. Pasti ada petunjuk yang sayangnya tak sempat ia sadari dan merupakan sebuah kunci yang bisa ia pakai.
Ketika mereka bertiga masih mengobrol, tiba-tiba terdengar suara Ibu Ayla menjerit dari dalam. Spontan, mereka pun menghambur berlarian menuju ke tempat Ibu Ayla berada. Ketika Ayla membuka pintu kamar, Ibu Ayla tampak menangis di lantai sambil memegang telepon genggamnya. Ayla segera berlutut di dekat Ibunya. Begitu pun dengan Ros dan Gagah yang semuanya menghambur menghampiri Ibu.
“Kenapa, Bu? Ada apa?!” Gadis itu tampak khawatir melihat Ibu nya seperti ini.
“Ayah, Ay, ayah,” sebut Ibu nya di sela-sela tangisnya yang begitu menyedihkan.
Dari situ jugalah mereka tahu bahwa sesuatu yang buruk pasti sudah terjadi pada Ayah Ayla. Ayla meraih telepon genggam ibunya untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Dengan saksama Ayla mendengarkan orang di seberang sana bicara.
“Baik, Pak. Saya dan Ibu saya segera ke sana,” kata Ayla lalu menutup panggilan. Ayla menoleh pada kedua sahabatnya. “Gue dan nyokap kudu ke rumah sakit. Sorry kalay gue ngusir, tapi mending kalian balik aja sekarang.”
“Ninggalin lo dalam kondisi kayak gini? Gila apa lo?! Nggak lah,” sahut Gagah.
“Gue sama Gagah bakal ikut menemani lo, Ay. kita harus ke mana? Perginya pake mobil gue aja, yah. Gue kabarin dulu Pak Udin nya,” kata Ros langsung menghubungi sang supir yang selalu siap menunggu perintahnya setiap saat.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Ayla pun bercerita dengan pelan bahwa dalam perjalanan kembali ke rumah, Ayah Ayla mengalami sebuah insiden kecelakaan. Motor yang dikendarai oleh Ayahnya Ayla menabrak pembatas jalan. Menurut saksi mata yang memberikan keterangan pada polisi, motor Ayahnya Ayla sempat oleng dan tiba-tiba saja menabrak pembatas jalan. Karena memang tidak ada kendaraan lain, maka kecelakaan tersebut dinyatakan sebagai kecelakaan tunggal.