Jadi Ingin Cari Tahu

1907 Words
Ros ingat betul jalanan menuju rumah lamanya ini. Ia tak menyangka juga jika jarak rumahnya dan Ayla sangat dekat. Sayangnya, ia terlambat menyadari kehadiran gadis itu yang sering mengintai dan mengikutinya diam-diam saat bermain bersama arwah-arwah anak kecil waktu itu. Namun ada satu hal yang Ros syukuri. Ros merasa berterima kasih sekali karena Ayla konsisten mengikutinya waktu itu. Sampai akhirnya, Ayla menyelamatkannya ketika ia mematuhi arwah-arwah anak kecil itu yang nyaris membuat Ros mati konyol. Jika tak ada Ayla waktu itu, sudah bisa dipastikan Ros juga sudah jadi arwah penasaran sekarang. Mungkin seperti kata Ayla, waktu itu Ros belum ditakdirkan untuk mati. Makanya Ayla muncul untuk membantu menyelamatkan dirinya. Langkah Ros terhenti ketika ia sudah sampai di halaman depan rumah lamanya. Rumah itu sudah tidak terurus lagi semenjak kepergiannya ke tengah kota. Bapak pernah bilang ia sudah memasang iklan agar rumah ini agar ada yang menyewa atau membelinya. Hanya saja hingga beberapa tahun lalu daerah ini terkena banjir, rumahnya menjadi salah satu yang terendam hingga sekarang rusak parah di beberapa bagian. Padahal Ros berharap rumah ini tetap berdiri utuh. Supaya tetap ada yang bisa ia lihat saat tengah rindu tempat ia menghabiskan masa kecilnya. Apalagi rumah ini adalah rumah di mana Ibu menghabiskan juga masa kecil hingga dewasanya. Nilai sejarah rumah ini sangat besar, tapi sayang tak dapat dipertahankan karena bencana. Meski begitu, Ros masih bisa melihat beberapa kenangan dari memori yang tersimpan di kepalanya saat melihat rumah tersebut. Mulai dari bagian depan, lalu ruang tamu, kamar tidurnya, dapur, hingga halaman belakangnya yang luas. Ros sudah akrab dengan bangunan rumah ini di luar kepala. Saat ia memejamkan matanya ia bahkan bisa melihat bagaimana bentuk bangunan rumahnya saat masih berdiri kokoh. Tempat ini bukan hanya jadi rumah tapi juga tempat persembunyiannya ketika ia ingin melarikan diri dari dunia. Dunia yang kejam dan terkadang menempatkannya di tempat yang tak aman. Namun ketika ada di rumah ini, Ros merasa baik-baik saja. Hanya saja kini semuanya hanya menjadi sesuatu yang membekas dalam ingatannya. “Lagi nostalgia ceritanya?” tanya satu suara yang sudah Ros hafal. Ia menoleh pada Ayla dan Gagah yang sedang berjalan ke arahnya. “Kenapa nggak masuk ke rumah gue dulu sih? Kan kita nanti bisa sama-sama ke sini nya,” ujar sohib kentalnya itu. “Atau lo memang sengaja mau nostalgia sendirian aja?” Ayla menyipit curiga. “Ya ini kan nostalgia nya Ros, Ay. Kenapa lo pengin ikutan?!” tanya Gagah tak paham sambil menoleh pada Ayla.  “Kayak yang tadi gue bilang. Kalau ngabarin kita dulu gitu, kan biar kita temenin juga ke sininya. Biar lo nggak kesepian.” Ayla lalu merangkul tangan Ros dan menyandarkan kepalanya. “Lo lagi kangen rumah masa kecil lo, ya, Ros?” Ayla menoleh pada sahabatnya. “Kayaknya lo lagi ada pikiran yang serius banget ya?!” Ros melirik pada sahabatnya. “Tahu aja lo,” timpal Ros tak terkejut pada tebakan Ayla. Pandangannya kembali ia lemparkan lurus ke depan. “Gue agak-agak lupa memori terakhir gue tinggal di sini. Makanya gue mau mencoba menyegarkan ingatan gue aja,” jelas Ros lagi. “Gue mau menilik sebentar tempat gue berasal dan tempat gue dilahirkan.” Ayla dan Gagah berpandangan sesaat ketika Ros mengucapkan kalimat itu. “Lo lagi ada masalah apa, Ros? Lo bisa cerita ke gue sama Gagah kalau mau,” kata Ayla masih sambil memandang sahabatnya. “Sampai lo kelupaan banget dan nyaris nggak dateng ke ultah gue kan pasti ada alasan kuat.” Ucapan Ayla itu membuat Ros tersadar. “Eh, iya. Sampai lupa lagi.” Ros berbalik dan menghadap sahabatnya itu. “Happy birthday ya, Ay. Gue harap tahun depan gue masih bisa ikut ngerayain ultah lo, masih bisa bareng-bareng main di warnet sama kalian, dan ngelakuin hal-hal menyenangkan lainnya." Dahi Ayla dan Gagah seketika mengerut ketika Ros bicara demikian. "Nggak usah pada heran gitu napa sama omongan gue tadi. Kita kan juga nggak tahu juga bakal terjadi apa di masa depan." Memang benar, tidak ada satupun yang dapat menebak dan menduga akan ada kejadian dan peristiwa apa di masa mendatang. Bersiap dan bersiaga menjadi salah satu hal yang paling mungkin dilakukan di masa kini. Namun masalahnya jika membicarakannya sekarang-sekarang, rasanya jadi terlalu dini dan agak menakutkan. Makanya Ayla dan Gagah masih memandang Ros dengan pandangan campur aduk antara bingung dan was-was. Mereka pun seolah sama-sama tak berani bicara duluan. “Ah, kok jadi serem begini sih auranya. Hepi dong hepi, kan ini ultah lo. Udah yuk, hepi lagi,” ujar Ros pada kedua sahabatnya masih mencoba untuk cair lagi.  “Eh, iya dink. Ini kan ultah gue. Yuk kalau gitu hepi hepi deh di rumah,” kata Ayla tersadar. Ia lalu menatap Ros. “Thank you ya, Ros, udah jadi anak freak di kampung ini jadi gue nggak freak sendirian. Makasih lho, udah punya sifat yang lebih aneh dari gue.” Ros memandang Ayla tak percaya. Gadis ini sepertinya tidak pernah bercermin. Padahal yang freak dan aneh itu dirinya. Yang sejak awal gemar mengintil dan mengikutinya ke mana-mana adalah Ayla. Sudah sejak awal Ros mengatakan untuk tidak berteman dengannya, karena ia tak mau berteman manusia yang terus berpikiran dan melabeli sebutan dan julukan jahat, tapi Ayla bebal. Sama sekali tak mau dengar. Jadi kalau misalnya disebut siapa yang paling freak, mungkin seharusnya Ayla bercermin lebih dulu karena dirinya lah yang anehnya sudah di ambang batas kewajaran. Mending sekarang dia sudah bisa bicara agak normal dan nyambung dengan orang sekitarnya. Di awal-awal, Ros kadang suka jengkel sendiri dengan gaya berkomunikasi Ayla yang bicara dengan bahasa hati. Jarang sekali mengeluarkan suara selama mereka bersama. Sampai kemudian Ros melakukan unjuk rasa. “Ini kenapa sih setiap kali kita ngobrol selalu gue yang banyak ngomong. Kenapa lo nggak nanggapin atau nyahut gitu dengan apa yang gue ucapkan?!” Ros memprotes aksi Ayla yang selalu lebih banyak jadi pendengar dan dirinya jadi speaker. “Kayaknya kalau lo di rumah, lo bisa bawel dan cerewet juga, sih. Kenapa kalau giliran gue yang ngajak ngobrol lo jadi kayak lagi denger pidato, mendengarkan dengan khidmat?!” Ayla mengerjapkan matanya setelah mendengar keluhan dan protes dari Ros tersebut. “Bukannya lo indigo, ya?!” tanyanya polos. “Gue pikir nggak perlu repot-repot ngomong lagi ke lo karena lo udah bisa baca pikiran gue duluan.” Ayla hanya nyengir.  Jujur saja, saat itu Ros bahkan tak bisa marah apalagi kesal pada jawaban sahabatnya ini. Lebih ke ‘hopeless’ dan ‘speechless’, ya. Karena jawaban Ayla sungguh lah kelewatan ajaibnya. Jadi mau marah atau kesal pun, Ros masih pikir-pikir lagi. Karena mau bagaimanapun ucapan Ayla barusan tersebut ada benarnya.  “Iya, bener juga sih, Ay. Gue memang punya kekuatan supernatural. Bisa komunikasi dan ngusir syaiton juga. Cuma kan gue tetep orang, Ay.” Ros mencoba menjelaskan dengan sabar pada Ayla. “Yang perlu berkomunikasi layaknya orang-orang kebanyakan. Terus komunikasi kan memang harus dua arah, ya. Antara yang bicara dan mendengar. Nah, menurut lo nih selama ini cara komunikasi lo sama gue itu udah bener apa belum tuh, Ay?!” Bicara dengan Ayla memang cukup melatih kesabarannya sendiri. Karena sering kali jawabannya tak terduga dan mengejutkan. “Ya, kayaknya sih nggak umum, ya?!” Ayla mencoba mengingat-ingat caranya dan Ros berkomunikasi. “Tapi gue pikir lo enjoy-enjoy aja gitu dengan itu. Orang tiap lo ngomong gue ngerespon kok,” akunya percaya diri. “Dalam pikiran dan hati gue. Gue pikir lo denger dan ngeh dengan semua jawaban atau tanggapan yang gue kasih. Ternyata nggak, ya?!” Ayla kembali menyeringai lebar saat menjelaskan hal tersebut. Ros sudah tak berselera juga jika ingin marah. Karena yang Ayla ucapkan terasa yah… memang ini salahnya. Harusnya sejak semula ia menjelaskan bahwa Ros ingin Ayla menanggapi ucapannya dengan verbal juga bukan menyampaikan melalui pikiran. Semenjak saat itu, Ayla pun kemudian membiasakan diri menanggapi semua ucapan Ros dengan verbal. Malah sekarang Ayla jadi jauh lebih cerewet dari biasanya. Makanya ketika Ayla mengatakan bahwa dirinya lebih freak, ingin rasanya Ros menghadiahi Ayla cermin nanti. Namun ia lupa membungkus kado. Mungkin setelah ini ia akan mencari cermin dengan model dan bingkai yang cantik sebagai kado ultah. Mereka pun kemudian berjalan menuju ke rumah Ayla sambil mengobrol santai mengenai jalanan ke sini apakah macet atau apakah ada adegan keributan di pasar. Obrolan random seperti itu membuat ketegangan di pikiran Ros agak ringan. Beban yang bertumpu pada pikiran dan sedang terfokus pada keputusan yang harus ia ambil malam ini mengenai kekuatannya lumayan tak memberatkan. Benar juga kata orang. Menyediakan waktu mengobrol dengan seseorang ketika sedang ada masalah memang lumayan membantu meringankan. Pikirannya pun tak lagi ruwet dan terasa buntu. Setidaknya untuk sementara ini, Ros bisa melepaskan dulu kegelisahan dan kerisauannya. Dia ingin menikmati momen ulang tahun bersama sahabat terbaiknya terlebih dulu. Nanti, jika suasana hatinya sudah membaik, dan Ros sudah cukup memikirkan segala efek dan risikonya sebelum memutuskan maka ia sudah siap untuk mengungkapkan keputusannya pada Bapak. Apakah kekuatan ini akan tetap ia pertahankan hingga akhir nanti atau sebaliknya. Kekuatan ini akan ia wariskan pada Bapak karena keinginan nya untuk hidup normal seperti orang-orang jauh lebih besar daripada apapun termasuk kekuatan yang sudah Ibu tinggalkan padanya.  Ros mencoba memfokuskan pikirannya pada acara ulang tahun Ayla. Bapak Ibu Ayla menyambut kedatangan Ros dengan haru karena memang sudah agak lama mereka tidak bertemu. Sepertinya mereka cukup pangling dengan Ros yang sekarang. “Apa karena Ibu udah lama nggak ketemu Ros, ya. Kayak kelihatan beda gitu sekarang. Nggak kayak waktu masih kecil,” ucap Ibu Ayla sambil memperhatikan Ros. “Ya, kan, jelas ada perbedaan Bu,” tukas Ayla. “Dulu masih kecil sekarang udah gede. Pasti ada bedanya lah,” lanjut gadis itu. “Memang apa yang beda, Bu?” Ros menoleh pada Ayla protes. “Harusnya gue nggak sih yang nanya ke Ibu lo apa yang membuat Ibu berkata ada yang beda dari gue,” protes Ros pada Ayla. “Gue mewakilkan apa yang pengin lo ucapkan aja, Ros. Pasti begitu kan yang penguin lo omongin?!” seloroh Ayla lalu menyeringai, dengan wajah polos tak berdosa. Ros mengalah. “Iya, Bu, apa yang ingin saya sampaikan sudah diwakilkan oleh sahabat saya tersayang. Silakan dijawab sekarang, Bu,” ucap Ros yang sudah pasrah. Semua yang ada di situ pun tertawa dengan jawaban yang diberikan Ros barusan. “Padahal itu jawaban hopeless gue tahu, kenapa kalian pada ketawa, sih?!” “Karena lo kalau udah pasrah tuh mukanya jadi lucu banget, Ros,” timpal Gagah.  Ros hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti mengapa mereka semua seperti bahagia sekali dengan penderitaannya saat ini. Padahal mah yang bikin putus asa dan jadi bingung harus berkata apa pun mereka, khususnya Ayla. “Udah, udah. Biar ibu jelasin,” sahut Ibu Ayla menengahi. “Jadi, menurut Ibu, Ros yang sekarang tuh kayak agak kuyu dan nggak bersemangat. Gimana pun kan Ibu tahu kecilnya Ros seperti apa. Makanya pas ngeliat Ros sekarang kok agak-agak beda.” Sebenarnya bukan Ibu Ayla saja yang pernah mengatakan itu pada Ros. Ki Damari dan beberapa orang lainnya pernah mengatakan kalimat yang nyaris serupa. Hanya saja Ros tidak begitu ambil pusing dan menganggap mungkin hal tersebut karena dirinya sedang capek saja. Namun Ros tiba-tiba jadi terusik jika yang mengatakannya adalah orang yang dulu tahu masa kecilnya di sini dan kenal dengan keluarganya. Ros jadi tidak bisa menahan diri untuk bertanya pada Ibu nya Ayla.  “Bu, Ibu berarti kenal sama Ibu nya Ros?!” tanya Ros sekonyong-konyong. Ibu nya Ayla nampak terkejut mendengar pertanyaan dari gadis itu. Mungkin Ibu nya Ayla tak menduga jika Ros akan mengajukan pertanyaan tersebut padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD