Semakin Ros menyangkal dan berpikir bahwa dirinya dan kemampuannya masih seperti dulu, semakin kuat juga sisi lain yang menyatakan bahwa dirinya memang lemah dan tidak sekuat itu. Hal tersebut justru membuat Ros semakin merasa gugup dan bingung harus melakukan apa saat ini. Ia sendiri tak tahu juga makhluk apa gerangan yang sedang berdiri di sampingnya sekarang. Hanya saja nalurinya berkata, bahwa sosok di sebelahnya ini bukanlah manusia. Ros sendiri bingung bagaimana menjelaskan perasaan tersebut, tapi nalurinya jarang meleset dalam menerka sesuatu.
Ros menegarkan diri dan mencoba kembali menggunakan radarnya untuk memindai sosok yang masih diam berdiri di sebelahnya. Dengan konsentrasi penuh, Ros memusatkan kekuatan dan tenaga dalamnya pada tangannya. Mau tak mau ia harus menyentuh sosok ini. Setidaknya dengan begini, Ros bisa jadi lebih yakin dengan dugaan nalurinya karena kemampuan memindainya belum seakurat yang biasanya.
Tangan Ros dengan cepat lalu memegang sosok itu dan ia terkesiap karena sepertinya ini adalah tangan manusia. Hawa dan tekstur kulitnya mendadak berubah menjadi sesuatu yang sangat familiar untuk Ros. Gadis itu bergegas menoleh ke sebelahnya dan kontan tertegun. Apa yang saat ini sedang ia lihat semoga saja salah.
Gagah tersenyum ke arahnya dan memberikan pandangan bingung. “Lo kenapa gugup dan ngeri begitu? Kayak abis lihat hantu,” kata Gagah santai lalu tersenyum.
Jika saja bisa, maka Ros akan lebih memilih untuk berjumpa atau melihat sekumpulan hantu dengan rupa paling mengerikan sekalipun, tak apa. Sebab dengan begitu, paling mentok Ros hanya akan bermimpi buruk selama beberapa waktu. Akan tetapi apa yang saat ini ia lihat justru jauh lebih menyeramkan daripada itu. Hanya saja Ros masih bingung mengapa sensornya tidak dapat memindai Gagah untuk beberapa saat dan justru membuatnya membuat dugaan bahwa pemuda ini bukanlah manusia?
Ketidakmengertian Ros berusaha ia tutupi lalu mencoba tersenyum lagi. “Iya, gue tadi sempat merasakan ada sosok lain yang mendekati gue. Nggak tahunya lo.”
Saat mendengar Ros berucap begitu, wajah Gagah sempat terlihat bingung. Sedetik kemudian ekspresinya sudah kembali normal dan cowok itu merangkul Ros.
“Lo kayaknya lagi banyak pikiran akhir-akhir ini, ya?! Jadi suka menyimpulkan yang nggak-nggak,” komennya. “Mending kita makan aja, yuk. Laper gue dari tadi.”
Ros berusaha tersenyum dan mengikuti saja ke mana Gagah membawanya untuk mencari makan. Meski hatinya masih ragu dengan apa yang Gagah ungkapkan, Ros membiarkan saja semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Ia tak boleh gegabah. Ros merasa ia harus fokus pada satu per satu hal yang ingin ia lakukan. Tak boleh mencampurkan semua kepentingan karena otak dan tubuhnya cuma ada satu. Jika Ros ingin semuanya tetap berjalan sesuai rencana, maka ia tak boleh gegabah.
Karena mengingat fakta tersebut, makanya Ros pun memainkan peran untuk bersikap biasa seperti sehari-hari saat ia berinteraksi dengan Gagah, tanpa mencurigai apapun. Dengan begitu ia pun bisa bersikap lebih lepas meskipun tentu saja rasanya tak nyaman. Seolah-olah Ros mengenakan topeng saat ia mengobrol, menanggapi, atau bicara pada Gagah. Harusnya tidak begini. Sebab sejak awal berkawan, Ros sama sekali tak merasakan ada hal yang mencurigakan dari Gagah. Ia tak mencium atau merasakan hawa berbeda dari cowok ini. Hingga tadi. Entah sensor pemindainya yang memang rusak atau tak berfungsi, namun berkat itu Ros jadi bisa mendapati energi lain dari sosok pemuda yang sedang duduk di hadapannya saat ini. Berkat itu, Ros jadi bisa mengasah naluri yang dimiliki untuk bisa mencium beberapa bentuk hawa dan energi.
Sepulang sekolah, Ros bergegas menyeret tangan Taji untuk pergi dari situ sebelum ada yang melihat mereka. Taji malah bingung mengapa Ros bersikap begini.
“Lo kenapa narik-narik gue kayak kambing gini? Orang-orang dari kelas lain juga belum pada keluar. Lo lagi ngehindarin siapa, sih?” tanya Taji dengan nada protes.
“Udah ayo pergi aja, nggak usah banyak nanya deh,” balas Ros tak acuh.
Sebelum Taji protes lagi, Ros buru-buru menarik tangannya ke ruang laboratorium dan membawanya berteleportasi dengan cepat. Taji kaget ketika ia membuka mata, mereka sudah tidak berada di lingkungan sekolah. Melainkan di taman yang semula menjadi tempat duel mereka berdua. Ros terlihat memikirkan sesuatu.
Taji mendekati gadis itu. “Lo kenapa kayak lagi mikirin sesuatu yang berat, sih?”
Ros sebenarnya tidak mau menjawab atau menjelaskan karena menurutnya ini agak rumit dan membingungkan. Namun ia tak mungkin diam saja. Karena Taji mungkin akan berpikir hal yang berbeda jika ia tak menjelaskan sedikit mengapa ia seperti ini.
Gadis itu menoleh pada Taji dan memandangnya dengan lekat. “Kasih tahu dan jelasin ke gue, kenapa lo sampai menantikan kelahiran gue selama bertahun-tahun ini?”
Taji tidak langsung menjawab dan sengaja menantikan kelanjutan kalimat Ros, karena ia sepertinya gadis itu masih ingin bicara. Ros maju satu langkah dan mendekat ke arah Taji. Dari jarak yang begitu dekat seperti ini, Ros melanjutkan lagi kata-katanya.
“Lo perlu kasih tahu alasan gue yang sebenarnya, kenapa lo sampai harus menunggu gue lahir? Apa yang jadi tujuan lo sesungguhnya sampai harus melakukan itu? Apakah lo memang arwah yang memang nggak bisa ke mana-mana karena tersegel atau justru memang lo udah berbuat dosa sampai akhirnya dihukum di sini?!”
Bentuk pertanyaan Ros barusan memang wajar. Apalagi Taji yang memang sudah memindai terlebih dahulu keberadaan Ros sebelum akhirnya menampakkan diri dan ketahuan, pasti membuat gadis itu curiga. Meskipun sebelumnya ia sudah menjelaskan, tapi Ros pasti ingin menuntut sebuah informasi yang sebenar-benarnya.
“Apa yang pernah gue ucapkan saat itu, mungkin belum cukup membuat lo paham dan mengerti sepenuhnya. Makanya, gue harus membawa lo melihat langsung. Sampai kemudian waktu itu lo bisa langsung, bahkan dengan sangat mudahnya, masuk ke dimensi paling tipis yang manusia biasa atau makhluk seperti gue nggak bakal bisa sampai ke sana. Lo bisa ada di sana dan mungkin melihat refleksi diri lo sendiri yang membuat lo kebingungan.” Taji mulai menjelaskan suatu informasi yang cukup mampu membuat sepasang mata Ros agak melebar. Gadis itu seperti tidak menyangka jika Taji bisa tahu dengan apa yang saat itu ia alami. Seharusnya hanya Ros yang mengetahui.
“Maaf kalau waktu itu gue udah bikin lo bingung. Gue juga sampai kelupaan ngasih lo informasi ini.” Taji menatap lurus sepasang mata Ros. Ketika keduanya bertatapan, Ros sama sekali tidak melihat keraguan di sorot mata cowok itu. Berarti bisa dipastikan bahwa Taji akan menyatakan sebuah informasi valid dan terus terang.
“Semua rahasia atau hal-hal yang mungkin nggak lo mengerti dulu atau saat ini, atau bisa juga membingungkan buat lo, sebenarnya bisa lo ketahui dengan pasti kalau lo datang ke dimensi itu.” Saat menyatakan kalimat itu, Ros merasa ada perubahan ekspresi di wajah Taji. Air muka yang semula tampak tegar dan tanpa rasa takut, mendadak gentar sesaat. Karena informasi yang sedang disampaikan atau memang Taji memang mempertaruhkan semua yang ia miliki untuk bisa mengatakan semua ini.
“Yang gue skip dan nggak sempat gue katakan ke lo adalah, ketika lo masuk ke sana, ada harga yang perlu lo bayar. Dan tentu harganya sama sekali nggak murah.”
Mendengar tentang harga yang perlu Ros bayar dengan sepasang mata Taji yang menyorot agak bergetar sepertinya tidak menandakan hal yang baik atau aman.
“Harga yang perlu gue bayar… berapa banyak kah?!” suara Ros patah-patah.
“Setiap satu menit Ros menembus dan ada di lapisan dimensi tersebut, usia lo akan berkurang selama sepuluh hari. Begitu seterusnya,” kata Taji menjelaskan dengan perlahan. Belum ada perubahan ekspresi dari Ros. Taji heran sendiri. “Lo…kok diem aja? Ngomong sesuatu dong biar gue tahu lo keberatan atau shock atau gimana gitu?”
Gadis itu masih terlihat berpikir lalu menggelengkan kepalanya. “Gue rasa nggak begitu masalah sih. Apalagi jika itu satu-satunya pilihan yang bisa gue lakukan biar gue tahu apa yang terjadi saat gue lahir dan seperti apa wajah ibu gue,” ucap gadis itu lagi.
Taji kemudian menundukkan sedikit wajahnya. “Tapi lo harus tahu, bahwa saat lo menembus dimensi tersebut, lo bakal terlena dan hampir nggak pengin kembali. Kalau misalnya aja gue nggak ada dan nggak segera menyadarkan, maka lo bisa mati konyol di sana. Apa lo nggak inget?!” tanya Taji lagi sambil memperhatikan wajah Ros. “Ini kalau gue hitung-hitung, saat kemarin lo ke sana, ke dimensi itu, usia lo udah berkurang selama dua bulan lho, Ros.” Taji melanjutkan keterangannya dengan nada hati-hati.
Sayangnya, ekspresi dan reaksi Ros kemudian membuat Taji bingung sendiri.
Gadis itu mengangkat kedua bahunya. “Gue nggak masalah, sih. Mau usia gue berkurang berapa banyak asal gue bisa tahu dan melihat seperti apa wajah nyokap gue,” balasnya santai. “Udah lama gue nggak begitu peduli kapan maut bakal datang.”
Dahi Taji mengerut. “Kenapa begitu? Apa karena lo udah terlalu sering bersinggungan dengan makhluk halus makanya berpikir bahwa mungkin lo akan jadi salah satu dari mereka?!” pertanyaan Taji barusan membuat Ros tersenyum geli.
Taji masih memandang Ros dengan bingung. Gadis itu kemudian bicara. “Nggak, bukan begitu. Cuma, gue bener-bener nggak merasa ketakutan akan maut. Gue juga hampir nggak inget kenapa bisa begitu. Tapi faktanya gue memang nggak takut mati.”
“Kalau lo udah fearless begini berarti gue nggak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi dong, ya?!” Taji lalu tersenyum. Wajahnya sudah mengendur tidak setegang tadi.
“Nggak perlu, karena sebagai makhluk bernyawa, ending kita semua sama aja, kan?! Kita juga sama-sama tahu. Itu semua cuma masalah waktu. Cepat atau lambat.”
Ucapan Ros yang masuk akal barusan membuat Taji agak tenang. Setidaknya gadis ini akan lebih pasrah dan tidak berekspektasi pada banyak hal. Hal itu cukup bagus mengingat sifat utama manusia selalu lebih sering berharap banyak pada sesuatu yang tidak mereka pahami. Apalagi jika sampai menaruh ekspektasi yang amat tinggi dan kemudian kecewa sendiri saat ekspektasinya tidak sesuai dengan realita.
Ratusan tahun ada di bumi, tentu membuat Taji mulai mengerti dan memahami sifat-sifat dasar manusia macam ini. Makanya pemuda itu agak takjub juga melihat bahwa Ros tidak sama dengan manusia-manusia lain yang agak serakah dan selalu menuntut banyak hal dari dunia namun tidak ingin berusaha lebih keras dari biasanya.
“Dengan segala informasi yang udah lo sampaikan ke gue, ada lagi nggak yang keskip atau terlewat? Coba lo inget-inget dulu. Biar sebelum kita merambah ke bagian selanjutnya, kita nggak harus mundur lagi,” kata Ros mencoba mengingatkan Taji.
Taji terdiam sebentar lalu menggeleng. “Nggak ada. Sekarang udah balik lagi ke kesiapan lo untuk bersemedi… di tempat yang udah gue sampaikan semalam ke lo.”
Ros mengangguk lambat. “Kalau memang nggak ada, gue rasa lo udah bisa bawa gue ke tempat itu,” katanya lagi. “Gue siap untuk datang ke tempat itu sekarang.”
Pemuda itu memperhatikan wajah Ros dengan saksama sebelum akhirnya ia tersenyum kecil. “Lo nggak sabar untuk mengetahui rahasia kekuatan lo atau pengin tahu seperti apa wajah nyokap lo?!” tanya cowok itu sambil memperhatikan wajah Ros.
“Kalau mau jujur, tentu aja dua-duanya, gue nggak menyangkal kok,” jawab Ros cepat. “Tapi gue memang udah penasaran juga, tempat di mana lo disegel itu.”
Karena Ros sepertinya sudah siap untuk dibawa ke tempat itu, Taji pun mengangguk. “Saat gue bawa lo ke sana, mungkin lo sudah sempat menyangka atau bahkan nggak bakal menyangka sama sekali, kalau selama ini gue dan keluarga gue sudah tersegel di sana selama ratusan tahun. Tapi gue rasa lo nggak akan terkejut.”
Usai mengucapkan kalimat itu, giliran Taji yang mengajak Ros berteleportasi.