Kehilangan Sensor Pemindai

1605 Words
Ros sebenarnya tidak merasa gentar sama sekali jika dipelototi oleh manusia seperti Shinta yang mudah sekali terpancing emosinya. Hanya saja di saat yang bersamaan, Ros baru menyadari bahwa ada sesosok jin yang secara samar menempel pada Shinta. Ros sampai terkejut sendiri mengapa ia baru bisa menangkap aura nya setelah mengenal dan sering berinteraksi dengan Shinta sejak kelas X. Ini jelas aneh. “Urusannya apa sih sama lo kalau gue kasar ke nyokap gue? Ini nyokap gue bukan nyokap lo. Kenapa lo jadi yang ngatur-ngatur gue, sih?!” semprot Shinta sambil mendorong bahu Ros dengan keras. “Ini gue perhatiin lo makin jadi aja, ya. Padahal gue udah bilang untuk tahu diri dan nggak bikin-bikin masalah lagi sama gue. Tapi kayaknya lo memang nggak ada kapok-kapoknya, ya?!” Shinta terlihat semakin murka. Namun saat ini yang menjadi fokus Ros bukan hanya ucapan dan amarah Shinta saja. Melainkan jin yang menempel pada tubuh Shinta. Ros sedang memindai kapan tepatnya jin ini bisa melekat dengan raga Shinta? Apakah sudah lama? Atau baru saja? Jika sudah lama, bagaimana bisa Ros tidak menyadari sama sekali dan membiarkan jin tersebut memengaruhi serta menyedot energi inti hidup Shinta? Jika baru saja, Ros tidak heran karena sifat jahat manusia yang ada dalam diri Shinta bisa saja menarik perhatian dan aroma jin-jin jahat tersebut agar mendekat. Ros ingin memusatkan konsentrasinya dan mencari tahu lebih dalam. Sayangnya Shinta tak memberinya kesempatan. Ketika Ros sedang memindai keberadaan dan asal muasal jin tersebut, Shinta justru mendorong Ros lebih keras hingga punggungnya mengenai tembok yang berada persis di belakangnya. Ros kaget, namun ia mencoba untuk menahan diri. Ros lalu mencoba merasakan energi yang mendorongnya tadi, apakah murni energi Shinta atau justru ada campur tangan dari jin yang sedang ada di dekat gadis itu. Melihat Ros yang terjatuh dan seperti kesakitan namun masih terus menahan membuat Shinta terkekeh. Ucapan Ibu nya tidak Shinta dengar sama sekali. Gadis itu pun lalu berjongkok dan memandangi Ros yang tampak menahan rasa sakit dengan kuat. “Lo memang sengaja bikin gue marah terus, ya?! Gue heran kenapa manusia macam lo nggak ikut mati sekalian aja sama nyokap lo dulu? Mungkin dunia ini bakal jadi lebih aman, damai, tenteram juga kalau lo nggak ada,” ucap Shinta sambil memandangi Ros dengan lurus. “Gue saranin nyusul nyokap lo aja sana… ke neraka!” Semua boleh melukai atau menyebutnya macam-macam. Boleh memberikan label atau sebutan padanya meski tidak enak di dengar. Namun jangan sekali-kali, dan berani-beraninya menyinggung atau menghina ibunya dengan cara seperti ini. Jangan. Karena Ros tak dapat mentolerir sama sekali dengan apa yang bisa ia lakukan jika sampai ada yang menghina ibu nya dengan cara mengerikan. Wajah Ros pun terangkat dan dibalasnya pandangan Shinta. Sepasang mata Ros berkilat tajam, mengisyaratkan bendera perang yang sangat tinggi. Hal tersebut kontan membuat Shinta tertawa keras. “Lo marah karena gue nyuruh buat nyusulin nyokap lo ke neraka? Kenapa? Bahkan lo nggak bisa ya nyusul nyokap lo? Ya, udah, mati aja dulu. Kalau lo udah jadi arwah pasti lo tahu gimana caranya biar bisa nyusul dan merengek sama dia—”’ Kalimat Shinta tak dapat selesai karena Ros terlebih dahulu mencekik leher gadis itu dengan sangat kuat. Shinta terkesiap, begitu juga Mama nya yang langsung menjerit histeris karena apa yang Ros lakukan dengan spontan. Ros menatap lurus pada Shinta, nyaris tanpa berkedip. Yang sedang orang lain lihat adalah Ros sedang mencekik leher Shinta dengan kuat. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Ros sedang mencekik jin tersebut melalui raga Shinta dan langsung menginterogasinya. Sayangnya, jin tersebut sengaja menutup mulut dan buru-buru menggunakan kekuatan yang ia miliki untuk kabur sementara dari tubuh Shinta. Ros baru saja mengirimkan pertanyaan dari mana asalnya dan mengapa ia menempel pada Shinta. Jin tersebut rupanya sudah tahu dan bisa menebak pergerakan Ros makanya bisa buru-buru melarikan diri sebelum Ros mencecarnya dengan beberapa pertanyaan. Tubuh Shinta yang semula memang dipengaruhi oleh kekuatan jin tersebut seketika langsung lemas dan pingsan saat jin yang menempel pada tubuhnya pergi menghilang. Mama Shinta yang masih kaget langsung buru-buru memeluk Shinta yang pingsan. Ros juga segera melepaskan tangannya dari leher Shinta. Ketika Mama nya hendak bertanya, Ros langsung menjentikkan jarinya dan membuat Mama nya Shinta pingsan juga. Gadis itu segera memberikan mantra penghilang ingatan pada Shinta dan Mama nya agar tidak mengingat sama sekali dengan apa yang terjadi di antara mereka. Untuk sekarang, Ros merasa bahwa apa yang dilakukannya bisa sah saja karena bagaimanapun tindakan Shinta beberapa hari kebelakang pasti terpengaruh oleh jin yang sudah sempat tertangkap basah matanya tadi. Jadi, Ros tidak ingin memperpanjang persoalan. Sebaliknya, ia justru ingin tahu lebih dalam apa gerangan yang melatarbelakangi atau alasan sampai jin tersebut menempel pada Shinta. Ros buru-buru membawa Shinta dan Mama nya berteleportasi ke ruang perawatan sekolah di mana sedang tak ada siapa-siapa juga di sana. Ros segera menggerakkan tubuh Mama Shinta yang masih pingsan untuk berjalan ke ranjang yang tersedia. Begitu juga dengan Shinta yang Ros berikan mantra agar bergerak menuju ranjang lainnya dan terbaring di sana. Usai memastikan bahwa ibu dan anak itu sudah terbaring nyaman, Ros kembali berteleportasi ke toilet perempuan di dekat kelasnya. Setelah ada di salah satu bilik toilet perempuan yang tidak terkunci, Ros bangun dari kloset dan keluar dengan santai seperti tak terjadi apa-apa. Ia harus tetap bersikap wajar dan normal meskipun tadi ia mengalami kejadian yang cukup menguras tenaga dan emosi. Meski Ros sudah bisa memperkirakan kalau setelah ini ia pasti akan berjumpa lagi dengan Shinta dan ibunya, persis seperti kejadian tadi, namun paling tidak Shinta tidak akan mencari gara-gara dengannya. Ros sudah bisa memperkirakan. Gadis itu pun keluar dari toilet dan berjalan biasa saja menuju ke arah kantin. Saat ia melewati lorong, Ros kembali berpapasan dengan Shinta dan Mama nya yang terlihat tidak sesegar tadi. Mungkin mereka berdua masih merasakan efek sehabis pingsan dan diberi mantra pelupa oleh Ros. Tidak ada efek serius sebab dalam kurun waktu satu jam pun, kondisi tubuh dan pikiran keduanya pasti sudah kembali normal. Benar saja. Ketika Ros berpapasan dengan Shinta dan Mama nya, Shinta sama sekali tidak menoleh sama sekali dan tetap menganggap Ros tak ada. Hal ini jauh lebih bagus daripada dicegat lagi dan harus meladeni Shinta seperti sebelumnya. Ketika Ros sudah menuruni tangga, ia lalu mengandalkan ingatannya tadi untuk mencari lokasi atau asal dari jin yang menempel pada tubuh Shinta. Entah bagaimana menjelaskannya namun Ros merasa bahwa jin yang memengaruhi Shinta bukan dari kalangan jin biasa. Aura dan hawanya yang kuat dan mengintimidasi membuat jantung Ros nyaris berhenti. Baru kali ini Ros merasakan gentar di hatinya ketika berhadapan dengan sosok jin. Padahal Ros sudah berkali-kali berhadapan dengan arwah, syaiton maupun jin. Dari yang levelnya seujung kuku sampai yang mengharuskan Ros memakai tenaga dalamnya. Dari yang tampang mengerikannya level 0, sampai yang nyaris tak ada rupa. Semuanya sudah pernah Ros hadapi namun belum ada yang membuatnya sampai segentar tadi. Di usianya yang paling muda ketika pertama kali dirinya menjumpai makhluk halus untuk pertama kali, Ros tak merasakan takut atau ciut. Dalam hatinya, ia menanamkan bahwa kedudukan dan posisinya sebagai manusia jauh lebih mulia daripada makhluk manapun. Tuhan sudah mengaturnya demikian dan memberikan dirinya anugerah untuk dapat melihat, berkomunikasi, hingga bertarung dengan mereka para makhluk astral yang juga menempati isi bumi. Langkah Ros perlahan melambat karena isi kepalanya mendadak seperti mengingat sesuatu. Hawa yang ia tangkap dari jin yang menempel pada Shinta tadi kenapa mirip seperti hawa yang tertinggal di badan motor milik ayahnya Ayla? Apakah mereka jin yang sama? Atau hanya jin yang punya energi tubuh yang sama sehingga mengacaukan sensor yang saat ini coba dirasakan oleh Ros. Sebab menurut Ros, hal tersebut malah jadi seperti kebetulan yang terlalu dipaksakan. Makanya Ros masih beranggapan bisa saja mereka adalah kedua jin yang berbeda hanya saja mempunyai energi atau hawa tubuh yang agak mirip satu sama lainnya. Memangnya ada yang seperti itu? Mungkin saja. Karena pada kenyataannya jika jin-jin tersebut sudah ada pada tingkatan tinggi, hawa atau energi satu sama lain biasanya saling menyerupai. Ros sudah berdiri di gerbang menuju kantinnya. Ia merasakan bahwa sensor tubuhnya untuk merasakan energi makhluk halus agak kacau saat ini. Entah apa yang membuatnya demikian. Ros merasa bahwa orang-orang yang ada di sekitarnya saat ini bisa saja bukan manusia. Di saat yang bersamaan, Ros juga merasakan bahwa ada kemungkinan besar makhluk yang saat ini berkeliaran seperti jin atau arwah gentayangan tidak memiliki hawa menyakiti atau membunuh. Ros bingung sendiri dengan apa yang terjadi pada sensor di tubuhnya ini. Mengapa bisa jadi kacau begini? Seseorang lalu berdiri di sampingnya dan Ros tak dapat merasakan sama sekali hawa atau energi dari orang tersebut. Keanehan ini membuat Ros jadi ngeri sendiri. Bagaimana mungkin ia tak mampu merasakan energi dari sosok makhluk yang berdiri sedekat ini dengannya? Biasanya sensornya bisa mendeteksi hingga ratusan kilometer apalagi jika arwah atau energi tersebut memang sudah memiliki niat yang tak terpuji. Bagaimana sekarang dirinya tidak bisa merasakan energi itu? Ros juga enggan menoleh karena ingin mencoba menebak makhluk apa gerangan yang saat ini sedang berdiri tepat di sampingnya, sebelum ia mengeluarkan sepatah suara. Ros mencoba menajamkan konsentrasinya dengan memejamkan matanya kemudian. Ia pusatkan pikirannya pada satu titik seperti biasa dan mulai mendeteksi lagi aroma atau hawa-hawa manusia yang pernah berinteraksi dengan dirinya. Bagaimanapun dirinya harus bisa kembali memindai dan merasakan sendiri melalui sensor tubuhnya bagaimana hawa atau energi makhluk-makhluk yang ada di sekelilingnya. Ros memiliki keyakinan kuat bahwa ia masih mampu untuk merasakan dengan benar energi dari makhluk-makhluk yang saat ini berkeliaran di dekatnya. Energi manusia, hewan, tanaman atau tumbuhan, hingga makhluk-makhluk astral semuanya coba gadis itu pindai. Tujuannya hanya satu, untuk kembali merasakan apakah betul sensornya masih normal dan berfungsi seperti sebelum-sebelumnya? Ros tidak ingin melanjutkan pikiran mengenai keraguan yang mendadak muncul. Tidak, Ros tidak mau meragukan dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD