Ancaman di Sekolah

1776 Words
Ros merasa jika ia terlalu mencolok di hadapan Gagah, pertanyaan dan kecurigaan yang ditujukan padanya tidak akan mampu ia hindari. Makanya ia pun berusaha untuk bersikap tak acuh saja meskipun Taji kelihatan agak meragukan aktingnya hari ini. Namun yang penting Ros sudah berusaha semaksimal mungkin agar Gagah tidak meragukan atau mencium keganjilan dari sikap dan perilakunya hari ini. “Lo semalam bisa langsung tidur?!” tanya Taji mendadak pada Ros. “Lo nggak mimpi buruk atau mimpi hal-hal yang nggak wajar, kan?” pertanyaan cowok itu jelas mengusik Ros. Dengan kemampuannya yang saat ini ada di tubuhnya, apakah Taji mengharapkan Ros dapat tidur nyenyak sama sekali hingga tak bermimpi aneh? Bisa tidur dengan nyenyak dan tak terbangun karena ada arwah atau jin yang sengaja mengganggunya saja sudah sangat bagus. Jika sampai bermimpi dan itu bukan mimpi bagus, berarti kondisi kesehatan dan pikirannya memang sedang tak baik. Dan Taji malah berani-beraninya menanyakan soal nyenyaknya tidur atau bermimpi padanya? Mata Ros mengerjap lambat. “Ini gue anggap lo cukup punya nyali ya karena nanya ke gue soal apakah gue bisa langsung tidur atau bermimpi hal-hal aneh? Karena itu merupakan bentuk pertanyaan yang memang cari ribut dan tidak bertanggung jawab menurut gue. Kenapa? Lo harusnya tahu dong, ada berapa banyak makhluk astral, jin, arwah gentayangan, syaitan dan sejenisnya yang pernah gue lihat dan temui? Dan lo juga harusnya sadar atau minimal ngeh lah betapa rupa-rupanya tampang mereka itu.” Ros sudah menyetel tampang menuntut penjelasan dari Taji. Wajah gadis itu sudah sangat serius dan di bibirnya tak ada senyum sama sekali. “Apa lo pikir mereka semua punya kemampuan kayak lo yang bisa mempertahankan wujud asli? Atau mungkin juga nggak tergoda untuk menyedot energi manusia lain hingga tampang mereka tetap ajeg seperti semula dan bukannya malah jadi campur aduk nggak jelas kayak yang mungkin pernah salah satunya lo temui?!” Ros berdecak dan masih memandang Taji putus asa. Taji langsung menyadari bahwa ia sudah salah bicara. Makanya cowok itu hanya menganggukkan kepala dan menundukkan sedikit supaya Ros tidak lagi emosi saat memandang dirinya yang sudah lancang menyinggung soal bisa tidur dan bermimpi. “Lo harusnya tuh tahu, ya, untuk ukuran orang dengan kemampuan kayak gue, bisa tidur damai tanpa gangguan atau mendengar suara-suara aja udah bagus. Pertama kali gue bisa tidur tenang tanpa kebangun karena merasa gue diapit dua pocong di kanan kiri ya setelah gue berusia lima belas tahu, yang mana baru satu tahun ini gue mengalami tidur yang baik dan nggak terdistraksi lagi. Kok lo bisa-bisanya nanya ke gue apakah gue semalam bisa langsung tidur atau mengalami mimpi buruk?” “Iya, sorry, Ros. Harusnya gue tahu diri, ya, dan nggak nanyain hal itu ke lo,” ucap Taji mengaku salah. Ekspresi wajahnya menunjukkan penyesalan yang dalam. Ros masih memandang lurus pada cowok di sebelahnya lalu kembali memusatkan perhatiannya pada buku The Da Vinci Code yang masih ia pegang sejak tadi. “Pokoknya lo nggak usah nanya ke gue hal-hal yang berhubungan dengan kedamaian. Karena selain itu pertanyaan kurang ajar, gue jadi gampang emosi kalau denger pertanyaan model begitu. Kalau lo memang nggak punya bentuk pertanyaan lain, mending lo diem aja. Daripada gue kesel dan mengurungkan niat buat semedi bareng lo,” tutur Ros lagi sambil memperhatikan halaman buku yang ada di depannya. “Siapa yang mau semedi?!” Ros tertegun. Mengapa waktunya selalu tepat ketika ia justru sedang tidak bersiaga dan Gagah malah muncul begitu saja. Mau tak mau Ros mendongakkan wajahnya. Gagah sudah ada di depan mejanya sambil menenteng dua cup cokelat panas. “Lo mau semedi lagi, Ros? Buat nyari pelaku yang bikin bokapnya Ayla celaka, ya?!” tanya Gagah lagi lalu menyodorkan salah satu cup di tangannya. Ros menerima cup tersebut. “Makasih, Gah,” ucapnya lalu menganggukkan kepalanya. “Ya, kira-kira begitu lah.” Ros lalu menyuruh Gagah mendekat karena ia hendak berbisik. Gagah pun menundukkan kepalanya dan mendekatkan telinga pada Ros. “Soalnya kalau nggak cepetan dicari takut hawanya membaur duluan dan gue udah nggak bisa memindai lagi,” ucap Ros menjelaskan. “Lo paham kan maksudnya?” Gagah kemudian menoleh pada Ros. “Gue bersedia membantu lho kalau lo butuh bantuan,” kata cowok itu dengan nada rendah. “Lo tinggal bilang aja gue musti ngapain? Gue bakal berusaha nolongin lo nanti,” ucap Gagah lagi meyakinkan Ros. “Ah, ini bisa gue selesaikan sendiri kok. Lo tenang aja. Gue justru mau minta lo untuk jagain dan nemenin Ayla aja sementara waktu. Biar gue yang usahain buat nyari keberadaan atau sosok arwah yang udah mencelakai ayahnya Ayla,” balasnya lagi. “Oke kalau gitu. Gue percayain ke lo semuanya. Biar gue urusin juga Ayla nya dan ngasih motivasi ke dia.” Gagah lalu menoleh pada cowok di sebelah Ros sesaat sebelum pergi. Tanpa bicara lagi, Gagah pun meninggalkan kelas Ros. Taji masih memperhatikan punggung Gagah yang menjauh. Meski ia terlihat biasa saja, tapi kenapa tadi dirinya seperti melihat sesuatu yang berbeda dari Gagah? Seperti ada hal yang selama ini disembunyikan atau sengaja tak ditampilkan. Namun dalam momen atau waktu tertentu, sesuatu yang asli itu akan terlihat tanpa disadari.  Menyadari bahwa Taji masih memperhatikan Gagah dengan pandangan yang terfokus, Ros pun menegur cowok itu. “Ngapain lo lihatin Gagah segitunya? Lo mencurigai sesuatu dari dia?” tanya Ros lalu melipat kedua tangannya dan memperhatikan wajah Taji yang terkesiap karena dipandang dan ditegur Ros secara langsung. “Udah, lo nggak perlu curiga sama dia. Memang bentukannya Gagah udah aneh dari dulu. Lo kan anak baru, jadi wajar kalau belum begitu akrab aja sama dia.” Sesungguhnya Taji ingin melanjutkan kalimat berikutnya namun Ros sudah seperti memenggal agar ia tak dapat memangkas atau menyela lagi. Jadinya, Taji pun berpasrah saja dan tak memperpanjang lagi meski ia masih ingin menyampaikan sesuatu berdasarkan pengamatannya saat ini. Namun lebih baik dirinya diam saja sampai akhirnya ia memang betul-betul yakin dengan apa yang sedang ia pikirkan. Hari itu berlalu dengan sangat cepat dan Ros juga tak menduga bahwa ia akan mendapati dirinya begitu bersemangat. Jika ditanya untuk apa semangat yang ia rasakan saat ini, Ros pun tidak tahu secara pasti. Berdasarkan perhitungannya, jika sampai ia berhasil mengelola kekuatan dan memaksimalkannya, maka bukan tak mungkin perkara mencari pelaku yang menyebabkan ayah Ayla kecelakaan pun bisa ia pecahkan dengan mudahnya. Dengan keyakinannya tersebut, makanya Ros pun merasa bahwa ia ingin mencari tahu lebih dalam mengenai kekuatan yang ia punya. Memasuki jam istirahat kedua, Ros berpapasan dengan Shinta yang baru kelihatan sejak beberapa hari ia tak menyadarinya di dalam kelas. Gadis itu bersama seseorang yang kelihatan seperti Ibu nya, karena kemiripan wajah yang bisa Ros lihat. Ros ogah ribut makanya ia pun berlalu begitu saja tanpa serius memperhatikan ketika berpapasan dengan Shinta. Namun hal tersebut justru membuat gadis itu meradang. “Padahal udah bikin salah tapi masih nggak nyadar dan nggak mau minta maaf,” cetusnya. Ros merasa gadis itu bukan sedang bicara padanya, makanya ia pun memutuskan untuk melenggang saja. Namun sedetik kemudian, Shinta terpekik. “Gue ngomong sama lo Rosmanah!” pekiknya kemudian membuat langkah Ros terhenti. Ros menoleh bingung pada gadis itu, mengapa ia harus menyindir atau memekik seperti tadi. Tapi Ros mulai membiasakan diri dengan keanehan Shinta ini. “Ada apa, ya?!” tanya Ros datar. Sama sekali ia tak ingin membuat panjang masalah apapun dengannya. Makanya, Ros berpikir jika ia bisa menghindar, maka itu akan ia lakukan. Shinta menatap Ros dengan tatapan penuh kebencian. “Lo harusnya nggak sesantai ini sih kalau tahu diri. Tapi gue lupa lo memang nggak tahu diri, kan?!” sergah Shinta lalu melipat kedua tangannya dan memandang Ros dengan sinis. “Habis ini lo nggak akan bisa lagi nafas dengan lega. Karena apa? Karena gue udah melaporkan lo ke komite sekolah atas apa yang udah lo lakukan terhadap gue di kantin beberapa hari yang lalu,” ujarnya dengan ekspresi penuh kemenangan. “Antara lo kudu bayar sejumlah ganti rugi ke gue atau lo hengkang dari sekolah ini. Jadi, lo bisa coba itung tabungan yang lo punya buat bisa tetap bertahan di sekolah ini, atau buru-buru cari sekolah baru kalau lo ternyata nggak mampu bayar biaya kerugian yang gue terima.” Usai mendengar pernyataan Shinta itu, Ros masih diam dan memandang ke arah gadis itu dengan datar. Sesungguhnya, ia tak perlu kaget dengan apa yang disampaikan oleh Shinta barusan. Sebagai anak manja yang selalu haus perhatian, tentu Shinta akan melancarkan aksi apa saja hanya agar tujuannya tercapai. Jika Ros sedang senggang, mungkin akan ditanggapinya semua permainan yang dimilikinya. Hanya saja saat ini, Ros sedang tidak punya waktu bermain sama sekali. Ros pun merasa Shinta sudah kelewatan jika sampai membuatnya berada di posisinya saat ini. Antara harus membayar ganti rugi atau keluar dari sekolah dengan cara tidak hormat. Dua-duanya jelas merugikan dirinya. Sedangkan yang membuat Shinta ‘merugi’ adalah dirinya sendiri. Lucu sekali rasanya jika sekarang gadis itu melimpahkan pertanggungjawaban pada Ros yang justru dirugikan paling banyak. Melihat Ros masih diam saja, Shinta seolah merasa menang mutlak dan mengungguli posisi. Ia lalu tersenyum puas. “Pusing kan lo sekarang? Dari awal gue udah curiga kalau lo cuma OKB yang kagak tajir-tajir amat cuma mau ngesok masuk ke sekolah beken ini. Makanya kalau kere, ngaku aja kere. Nggak usah belagak dengan nantangin gue dan bikin gue terluka,” cerocos Shinta penuh dengan nada jemawa. “Sekarang kalau lo mau damai atau baik-baikin gue, lo nggak akan berhasil. Gue nggak sudi buat berdamai sama lo atau ngasih maaf ke lo. Silakan pilih jalan keluar lo sendiri.” Usai mengatakan itu, Shinta sudah hendak balik badan dan meninggalkan Ros. Hanya saja, seseorang yang bersama Shinta tak bergerak. Ketika Shinta menoleh, Ros terlihat sedang mengajak bicara ibunya. Hal itu membuat Shinta kembali naik pitam. “Mama!” bentak Shinta lalu menghampiri perempuan yang baru saja berkenalan dengan Ros itu dan serta merta menarik tangannya. “Ngapain sih salaman sama kecoak kayak dia. Nanti tangan mamah kena kurap, panu, k***s gimana? Jijik tahu.” Ros melirik ke arah Shinta dan tersenyum kecil. “Lo beruntung, Shin, lo masih punya nyokap yang bisa lo panggil dan lo sentuh tangannya,” ucap Ros pelan. “Gue pengin bisa ngerasain hal itu, tapi nggak bisa. Karena nyokap gue udah meninggal dari gue masih kecil. Hidup gue memang nggak beruntung, Shin. Tapi tujuan gue dateng ke sekolah ini adalah menuntut ilmu. Meskipun lo dan temen-temen lo yang lain selalu menyebut gue macam-macam, gue nggak begitu memedulikan. Cuma gue mau minta tolong, jangan kasar sama nyokap lo. Sebaliknya, lo justru harus paling sayang sama nyokap ketimbang bokap lo. Karena dia yang udah susah payah melahirkan lo.” Mendengar apa yang diucapkan Ros, Shinta malah makin jadi. Gadis itu bahkan sampai melotot dan terlihat geram dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Ros. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD