Berencana Menjadi Biasa Saja

1188 Words
Sejak usianya masih remaja, Ros sudah sering melakukan semedi. Tentu saja pada mulanya sulit bagi Ros untuk bisa berkonsentrasi pada pikirannya sendiri dan apa yang saat ini menjadi tujuannya. Karena ya ada saja yang akan datang dan seakan sengaja mengganggu atau meminta bantuan padanya. Padahal Ros sudah memagari dirinya sendiri dengan beberapa mantra yang tak akan membuatnya diganggu. Tapi entah mantranya kurang kuat atau memang energi di tempat tersebut tidak menguntungkan dirinya, yang jelas Ros hampir selalu saja diganggu oleh arwah maupun jin yang ada di sekitar lokasi tersebut. Pada mulanya Ros sering menghabiskan waktu semedinya di tempat-tempat yang memang memiliki energi magis yang kuat. Belakangan, ketika sadar para arwah atau jin-jin tersebut sering sekali datang dan sengaja mengganggu, akhirnya Ros pun memilih tempat lain untuk semedi. Semenjak Taji menawarkan tempat baru untuk semedi tentu Ros sudah menduga bahwa tempat tersebut bisa saja sebuah makam yang memiliki energi magis tersendiri atau sebuah petilasan. Ros tidak berharap ada tempat lain yang akan direkomendasikan Taji mengingat dirinya juga adalah seorang arwah atau jin atau bisa jadi Taji juga bukan keduanya. Dengan kemampuannya saat ini, Ros hanya bisa menyadari energi di antara dua jenis itu saja. Meskipun mungkin bisa saja Taji ternyata adalah jenis lain yang tidak Ros ketahui, tetap Ros tak dapat menyadari apa-apa. Sebelumnya Ros tidak berpikir dan tidak menduga juga bahwa dirinya punya kemampuan besar atau lebih tinggi dari yang ia miliki saat ini. Karena ya… urusannya hanya sebatas mengatasi orang kesurupan, ketempelan, ketindihan, atau yang anak-anak yang diculik oleh syaiton dan jin-jin usil saja. Selama ini kasus terberat yang pernah Ros hadapi… nyaris tidak ada. Biasanya Ros bisa menyelesaikan keluhan atau masalah klien yang datang padanya tidak sampai melewati satu hari. Sebelum lewat dua puluh empat jam, Ros sudah bisa menyelesaikan kasus yang sedang dihadapinya. Rekor tercepat Ros dalam menangani kasus pasien yang datang padanya karena keluhan mereka adalah dua menit yakni ketika seorang anak laki-laki yang ketempelan arwah neneknya sendiri yang masih tak menyadari bahwa ia sudah meninggal sejak empat puluh hari yang lalu. Sang nenek yang masih tak percaya lalu berencana untuk membawa serta cucunya karena ia khawatir bahwa cucunya tersebut tidak akan dipedulikan dan diperhatikan oleh ibu dan ayahnya yang terlalu sibuk. Sebagai rekor tercepat, kasus saat itu juga membuat Ros agak sentimental karena ia harus menjadi jembatan atau tukang pos di mana sang nenek ingin menyampaikan pesan perpisahan terakhir untuk cucu tersayangnya tersebut. Cucu laki-lakinya itu semula tak mempercayai dengan kehadiran sang nenek pun kemudian meminta tolong Ros untuk menunjukkan kebenaran jika memang neneknya masih ada. Alhasil Ros pun harus meminjamkan raganya sesaat agar sang nenek bisa masuk dan bicara langsung pada cucunya tersebut. Meski perpisahan antara sang nenek dan cucu nya tersebut tidak sampai lima menit, tapi Ros merasa energi kesedihan dan luka yang dimiliki si nenek masih tertinggal hingga beberapa hari dalam tubuhnya. Makanya semenjak itu, Ros pun enggan lagi meminjamkan raganya pada pasien atau kliennya karena khawatir akan ada sisa-sisa energi yang tertinggal. Apalagi jika energi tersebut cukup kuat dan dalam. Ros yang masih agak sulit mengatur dan mengendalikan sisa rasa tersebut tentu saja kewalahan sendiri menghilangkannya. Namun mungkin saja itu akan jadi cerita lalu yang tidak perlu ia kenang lagi. Meskipun masih belum yakin juga dengan kebenaran informasi yang disampaikan oleh Taji, semuanya tak akan tahu jika ia tak mencari tahu sendiri. Dan cara untuk mengetahui apakah informasi tersebut benar adalah dengan datang ke tempat yang sudah disebutkan oleh Taji padanya kemarin malam melalui telepati. Ros tak mengerti mengapa ia harus gugup. Padahal dirinya bisa bersikap biasa saja dan tetap menantikan dengan santai. Hanya saja pikirannya sudah secara otomatis memusatkan pikiran pada apa yang nanti akan terjadi jika sampai Taji justru memperdayai dirinya. Untuk mengantisipasi hal tersebut Ros pun tidak akan mengatakan pada Gagah atau Ayla yang saat ini masih berduka akan musibah yang menimpa ayahnya. Meski kali terakhir Ayla mengabarkan kabar yang cukup baik, namun tetap saja, Ros tak ingin menambah beban pikiran dalam diri Ayla. Jadi mungkin Rosakan tetap diam sampai nanti menemukan sendiri kebenaran dari apa yang telah diucapkan oleh Taji padanya. Keesokan harinya, Ros mencoba bersikap wajar dan normal saja. Tidak ada yang coba ia tonjolkan hingga dapat membuat Gagah bertanya curiga. Pokoknya jangan sampai Gagah mencium sesuatu yang mencurigakan karena jujur saja Ros tidak mempersiapkan sama sekali bagaimana ia harus menjawab jika nanti Gagah bertanya. Jika Bapak bertanya atau mencari tahu, Ros sudah bersiap untuk menjawab. Namun saat Gagah yang bertanya, Ros pasti tidak akan bisa bohong. Sementara informasi ini tidak ingin ia beritahukan dulu pada siapapun sampai akhirnya ia menemukan fakta atau kebenaran. Ia tak siap malu karena sudah mempercayai sejenis arwah gentayangan yang sepertinya dapat membaca lebih banyak dari yang bisa ia lakukan. Makanya mending Ros bersiap diam dan normal saja agar tidak mengundang curiga siapa-siapa. Pagi itu Ros duduk di bangkunya sendiri dengan takzim dan kalem. Sambil memegang buku The Da Vinci Code, Ros tampak fokus pada buku di depannya. Sayangnya, kepura-puraannya itu bisa tertangkap sepasang mata Taji. Ketika cowok itu datang, Ros masih pretend seolah dirinya sedang tenggelam dalam buku yang ia pegang. Tapi melihat gelagatnya yang terlalu dipaksakan saja, Taji sudah tahu. “Memangnya kalau lo biasa aja begitu nggak perlu pake adegan lo pura-pura baca, nggak bisa, ya?!” tanyanya sambil menaruh tas di hadapannya. “Kelihatan banget kalau lo cuma pencitraan tahu,” sambung Taji. “Kenapa nggak bersikap normal, sih?!” Ros lalu mendelik ke arah Taji agak sebal. Meski begitu, ia tak mau terlalu terbuka dan terang-terangan menyemprot Taji. Sebab Ros masih ingin terlihat fokus pada hal yang tidak berhubungan sama sekali dengan dunia mistis atau makhluk halus. “Kelihatan pura-pura atau nggak lo bisa nggak sih nggak perlu komen?!” semprotnya mencoba menahan dalam suaranya yang sebenarnya ingin meledak. “Ini gue berupaya biar nanti kalau Gagah kebetulan lewat, gue nggak ditanya macem-macem, tahu. Lo nggak usah rese dengan komentarin gue. Lo cukup diem dan kalau bisa nggak perlu komenin apa-apa juga,” lanjut gadis itu sambil melirik kanan kiri. Tetap saja Taji tak dapat menahan senyum gelinya karena kepura-puraan Ros ini terlalu mencolok. “Lo tuh  kalau mau pura-pura, bok ya belajar dulu gitu lho. Jangan asal langsung pake adegan sok baca buku atau sibuk sama apa yang lagi lo lakuin.” Karena dikomentari begitu, Ros pun jadi penasaran memang semencurigakan itu kah penyamarannya? Meski agak ragu, tapi Ros menahan diri untuk tidak bertanya pada Taji. Sampai proses nanti mereka datang ke tempat tersebut, Ros sebenarnya sudah berencana tidak ingin berinteraksi dengan cowok ini. Taji nya malah nyapa dan komentar. Kan jadi buyar rencananya. Oleh karena itu, Ros mencoba menyampaikan lagi untuk tidak bertanya atau berkomentar apa-apa demi mendukung rencananya.  “Gue mohon ke lo buat kali ini aja lo nggak perlu komenin gue apa-apa, ya. Gue sesungguhnya udah berencana untuk nggak berinteraksi dulu sama lo. Cuma lo nya malah ngajak gue ngomong. Udah, setelah ini pokoknya lo jangan ngajak gue ngomong lagi.” Ros tetap pada keputusannya semula untuk tak terlibat percakapan dengan Taji. “Biar gue melanjutkan peran yang gue pilih dan lo jangan lakukan apapun pokoknya.” Meski demikian Taji tetap saja geli melihat tingkah dan perilaku Ros pagi ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD