Bab 33 : Druids (2)

1021 Words
Druids (2) = = = = = = = Gadis kecil itu tersenyum manis diikuti dengan rasa penasaran dari anak laki-laki dibelakang mereka. Ini adalah hal yang baru bagi mereka dapat bertemu dengan seseorang selain pada druids tua disuku mereka. Gadis kecil itu berjalan perlahan mendekati Arden kemudian mencubit pipinya. Dia menggembungkan pipinya yang membuatnya lucu. “Kenapa kau diam saja apakah kau sejenis boneka para necromancer ?” Niryn kesal atas kebingungan hebat yang dialami oleh Arden. Arden mengabaikannya setelah percakapan panjang yang dilakukannya. Niryn merasa seperti berbicara dengan para undead. “Baiklah Niryn dan Narc bukan ? apa yang kalian lakukan dihutan ini ? dimana orang tua kalian ? apakah aku perlu mengantar kalian pulang ?” Arden berbicara dengan pipi yang masih melekat ditangan Niryn. Dia makin bingung dengan sikap kedua anak kecil dihadapannya. “Sebenarnya kami adalah druids. Rumah kami adalah hutan ini.” Kali ini giliran anak laki-laki beranama Narc angkat bicara kepada Arden. Dia terlihat sedikit pemalu namun tetap menggemaskan. Disisi lain Niryn lebih agresif terhadap seseorang dan cendrung mengungkapkan ekspresi mereka. “Kakak sendiri apa yang kau lakukan diwilayah para Druids ?” Narc kembali melanjutkan obrolan yang terhenti sejenak. Dia memang tipe anak yang tidak mudah mengekspresikan dirinya dan ini kebalikan dari Niryn. Setelah kesadaran Arden kembali dia mulai menceritakan kenapa dia bisa berakhir dalam perjalanan bersama Zatras dan berakhir sendirian diwilayah para druids. Dia tidak melebih-lebihkan atau menyembunyikan hal apapun dari kedua anak ini. Mungkin bagi para druids yang tidak terlibat konflik manusia ini adalah hal yang sopan, namun bagi para manusia ini sendiri tindakan Arden dapat membahayakan dirinya. Beberapa orang cendrung memanfaatkan kesengsaran orang lain demi kepentingan mereka. Bahkan beberapa bangsawan kekaisaran tega membunuh saudara mereka untuk mendapatkan hak waris atas takhta kekaisaran. “Satu hal yang perlu aku ketahui. Bagaimana kalian mengetahui bahwa aku adalah inkarnasi suci dari dewi ? aku belum pernah berbicara hal ini kepada siapapun.” Arden kebingungan atas identitas dirinya sendiri, namun hal yang lebih mengejutkan adalah ada seseorang yang mengetahui identitas asli dirinya. Niryn tidak menjawab sepatah kata apapun dan memilih tersenyum. Dia menarik tangan Arden dan menuntunnya kesuatu tempat. Mereka berjalan sekitar 20 menit dan ketika sampai ketempat yang ditunjukkan oleh Niryn, Arden terkejut melihat sebuah desa berukuran kecil. Desa itu tidak memiliki rumah seperti desa Hult atau bangunan mewah seperti kota Hurtg. Mereka tinggal didalam sebuah pohon besar. Beberapa orang dewasa terlihat dalam kesibukan mereka. Beberapa orang mencuci dedaunan dan jamur disebuah sungai yang mengalir ditengah pemukiman itu dan beberapa tetua druids berbicara sesuatu. Niryn kembali menarik Arden untuk melangkah lebih jauh kedesa tersebut. Ketika Arden melangkahkan kakinya kedalam desa, semua orang meliriknya sebentar dengan rasa penasaran kemudian mereka tersenyum hangat. Hal ini membuat Arden semakin bingung. Mengapa semua druids tersenyum ketika melihat dirinya. Ketika sedang tenggelam dalam pemikirannya seorang tetua menghampirinya dengan senyum hangat diwajahnya. Dia tidak berbicara namun mengisyaratkan Arden kesuatu rumah pohon dipusat desa. Ini adalah pohon yang sangat besar yang berdiri ditengah pohon besar lainnya. Ukuranya fantastis dan diperkirakan usianya telah melebihi ribuan tahun, namun tetap kokoh berdiri. Seakan menunjukkan eksistensinya, pohon ini memberikan Arden kesan tenang dan nyaman hanya ketika memasukinya. Dia melihat sekeliling tumpukan perkamen dari kulit pohon tersusun rapi disepanjang rak kayu. Isi rumah pohon itu tidak jauh berbeda dari rumah manusia pada umumnya, hanya saja seakan ada energi yang mengelilingi seisi rumah itu. Tetua itu mempersilahkan Arden duduk sebentar. Dia mengambil sebuah perkamen tua yang usianya diperkirakan sudah mencapai ribuan tahun. Entah hobi apa yang dimiliki para druids untuk mengoleksi barang dari pohon yang usianya melebihi ribuan tahun. Sebelum tetua kembali kekursi yang diduduki oleh Arden, Niryn masuk dengan membawa segelas air dan meletakannya didepan Arden yang duduk. Tepat setelah Niryn meletakannya tetua menghampiri mereka dan memberi sebuah anggukan kecil kepada Niryn yang langsung pergi begitu saja. “Ini adalah embun paling murni dari pohon ini. Ini juga digunakan para druids untuk upacara kedewasaan mereka. Setiap gelap embun ini hanya bisa dihasilkan setiap 5 tahun sekali. Dan ini adalah hadiah atas pertemuan kita.” Tetua itu tersenyum sambil mengisyaratkan Arden untuk meminum air dalam gelas itu. Arden tidak dapat menolak niat baik dari tetua druids. Dia segera meminumnya dengan satu tegukan besar. Ini adalah air paling menyegarkan yang pernah diminum oleh Arden. Air ini membuat tubuhnya menjadi hangat kemudian kehangatan itu larut kedalam tubuhnya dan memberinya energi. Sekarang Arden merasa lebih dapat berkonsentrasi dalam tujuannya mewujudkan auranya sendiri. “Salam hormat tetua. Nama saya Arden. Saya adalah seorang pengembara yang tidak sengaja memasuki wilayah druids. Mohon maaf atas kelancangan saya sebelumnya, dan saya benar-benar berterima kasih atas hadiah yang diberikan oleh tetua.” Arden menggunakan kalimat formal yang diajarkan oleh Zatras ketika dalam perjalanannya. Dia melihat tetua itu tersenyum puas atas tindakannya. “Apa yang harus saya lakukan untuk membalas kebaikan tetua yang memberikan saya harta para druids ?” Arden tidak suka berhutang kepada orang yang baru saja dia temui. Tanpa sadar bertanya kepada tetua dihadapannya yang masih menunjukkan senyum hangat. “Jiwa yang malang. Kau telah hidup menderita selama kehidupanmu sebelumnya. Kau berjuang untuk para manusia hanya untuk dibunuh oleh para manusia. Kau menyelamatkan masa depan dan keturunan mereka. Kemudian mereka membunuhmu dengan alasan mempertahankan masa depan mereka.” Suara serak keluar dari mulut tetua itu. Rasa iba dan kasihan tidak lagi bisa dia sembunyikan bahkan Arden melihat dia menangis. Hal ini membuat Arden semakin bingung. Seperti ketika dia pertama kali bertemu dengan Niryn dan Narc. Dia tidak lagi bisa menyembunyikan identitasnya.  “Manusia pada umumnya memiliki aura biru, sedangkan para elf dan druids memiliki aura hijau disekitar tubuh mereka. Aura ini hanya bisa dilihat oleh para druids. Sedangkan kau memancarkan sedikit kekuatan suci ditubuhmu. Karena hal itulah kami bisa mengetahui bahwa kau adalah inkarnasi suci atau orang yang sedang dalam perjalanan menuju kedewaan mereka. Sekitar 20 tahun yang lalu kami mendapatkan nubuat dari dewi kami bahwa kami akan bertemu dengan inkarnasi suci Dewi Atershanel. Kami bertugas untuk menjaganya dari takdirnya.” Tanpa menunggu pertanyaan dari Arden tetua itu angkat bicara. * * * * * * T B C  * * * * * gimana, gimana? haha see you next chapter ya~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD