Bab 17. 1: Hidup Gabut Tiada Akhlak

1006 Words
Kita hidup bukan di surga, jadi nggak usah ngarep kalo semua orang akan baik sama lo. Setiap orang itu egois, catat! Nggak akan ada orang yang meu berkorban buat lo, kecuali ibu dan atau bapak lo. Jangan berharap lebih sama manusia. Karena sesungguhnnya, manusia itu nggak lebih dari sekadar tubuh yang dikasih nyawa. Kita ini bukan apa-apa, kecuali beban untuk sang pencipta. - kevriawan, 2021 = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =      Bab 17. 1: Hidup Gabut Tiada Akhlak   Gue melirik sekilas ke meja sebelah, memperhatikan ponsel aipon keluaran terbaru yang sedang dipamerkan salah satu bocah pemes di kelas gue. Dia Rico, anak holang kaya yang hidupnya santuy tapi tetap banyak duit tujuh turunan. Gue cuma menatap, dibilang iri ya enggak juga, tapi dibilang nggak kepengen juga gue mau kalo ada yang ngasih gratisan.  "Jon, coba sini liat kamera." Rico memanggil gue mendadak. Cekrek! " Wah gile, udah pake aipon dua gelas, tetep loh mukanya Jono ambyarr! Hahaha!" Rico dan anak-anak yang lain menertawakan gue. Sekilas gue mnyesal karena sudah berada di situ. Harusnya gue pergi aja dari tadi. Di Indonesia, masalah perundungan kayak gini nggak bakal selesai. Padahal gue nggak merasa ada yang salah dengan wajah gue. Mata lengkap, telinga, lubang hitung, masih dua. Bibir sekseh dan cium-able, gigi juga putih rapi. Rambut lebat dan lurus, kalo panjang dikit persis iklan sampo laifboy. "Justru aipon bikin muka Jono makin jelas, Co. Makin jelas ambyarnya!" sahut teman yang lain. Gue bangkit dan memutuskan untuk pergi. Bercanda yang kelewatan banget kayak gitu sudah nggak bisa gue terima lagi. Maksud mereka apa coba? Mau buat bahan lucu-lucuan? Mau buat candaan karena algi boring? Please lah, menurut gue candaan lo semua persis kayak bocah. Percaya atau nggak, sekarang ini orang - orang semakin ngadi - ngadi saja. Zaman sekarang, kalau lo peduli, lo pengin tahu tentang apa yang terjadi terlalu jauh ... mereka bakal bilang lo kepo. Terus, nih, seandainya kalian mengalami satu atau dua kejadian seperti yang gue alami barusan ... pasti bilangnya tuh, "Ya elah ... lo baper banget, Jon, jadi manusia! Nggak bisa santai dikit atau gimana?" "Jon, mau ke mana?"  langkah gue terhenti saat salah satu dari mereka menoleh, menyadari kalau gue sudah beranjak dari sana. Gue cuma nyengir sekilas, lalu menanggapi dengan ringan, "Ke kantin." "Elah, bilang aja lo baper, kan? Ngaku! Hahaha!"  sahut yang lain. Gue cuma mengengus pelan dan memutuskan untuk tidak menanggapi ucapak laknat mereka lebih jauh lagi. See? Apa gue bilang. Cuma karena gue nggak nyaman diperlakukan seperti itu, pada akhirnya mereka menganggap gue salah karena kabur dari situasi yang nggak mengenakkan itu. Mungkin menurut mereka gue merusak suasana, merusak keasyikan, ya bodo amat lah. Nggak ada orang yang perasaannya normal - normal saja setelah di perlakukan demikian. "Kalau pun gue baper, itu hak gue, Bro!" celetuk gue pada akhirnya. "Lo nggak seharusnya menyamakan manusia sebagai bahan candaan." "Hahaha, anjiriyaah ... si Jono kenapa sih? Nggak asik banget!" Gue langsung ditertawakan. Dan ya, gue mencoba nggak peduli. Gue memilih untuk langsung saja pergi dari sana. Menurut gue nggak ada yang bisa gue lakukan lagi di depan manusia-manusia laknat ini.  "Ya elah ... baper amat Jon!" Gue masih bisa mendengar beberapa ejekan lain yang bersahut-sahutan di belakang. Akan tetapi gue tetap nggak berhenti. Satu hal yang gue yakini adalah ... Bullying selalu berulang. Entah ketika lo kecil, besar, atau bahkan dewasa. Gue masih nggak ngerti ... kenapa sulit bagi sesama manusia untuk sekadar saling menghargai manusia lainnya? Apa yang harus gue lakukan dengan hidup yang menjenuhkan dan penuh dengan kelaknatan ini? Orang-orang itu suka banget melakukan hal-hal nggak berfaedah. Sebuah kegabutan yang menurut gue no use tapi mereka bilang itu gaya dan wajib dilakukan. Tapi ... kenapa gue malah merasa gelisah jika dalam seharian gue  hanya gabut dan tidak melakukan kegiatan apapun yang bermakna atau bermanfaat? Ah, mungkin itu berarti gue sudah sadar diri tentang kualitas hidup yang gue jalani. Atau mungkin justru karena gue merasa gelisah,  bisa jadi malah gue yang memiliki kesempatan lebih baik daripada kelompok orang-orang yang tidak pernah merasa apa-apa saat hidupnya hanya diisi dengan kegabutan unfaedah. Sekarang yang harus gue lakukan adalah, bagaimana membuat kegelisahan itu menjadi aksi nyata untuk berubah. Yang harus gue lakukan pertama-tama adalah bangkit dan mengerjakan sesuatu. Seperti kata Kaisar Romawi, Marcus Aurelius, yang melatarbelakangi filosofi stocism, You have to wake up with purpose—mulailah bangun tidur dengan sebuah tujuan. Tujuan ini mungkin akan terasa sulit bagi sebagian orang, karena ada banyak faktor yang membuat kita masih abu-abu dengan tujuan hidup. Sebab sejatinya tujuan hidup itu dinamis dan bisa berubah-ubah sesuatu kondisi. Oleh sebab itu, mulailah bangun dengan tujuan yang lebih kecil. Tidak perlu fokus dengan tujuan hidup apabila gue memang belum memilikinya—that's ok, mungkin banyak orang juga masih belum begitu memahami apa yang saya cari di dunia ini. Namun, setidaknya, gue harus tahu apa yang akan atau ingin atau mau gue lakukan. Mungkin dengan membuat list activity dalam sehari,  kayaknya tidak perlu mencatat goal yang besar. Ralat, mungkin maksudnya belum. Untuk permulaan, mungkin bisa dengan olahraga atau rutin minum air putih. Kemudian, esok hari, rutin membaca buku dan menonton konten-konten bermanfaat yang bertujuan untuk mengaktivasi mindset supaya lebih positif. Menurut buku yang gue baca, percayalah, ini penting sekali, karena mindset itu segalanya. Kalau mindset positif, hidup akan sehat dan baik-baik saja dengan sendirinya.Jadi, kalaupun gue terlalu lama gabut, berarti itu adalah persoalan mindset yang belum tersetting rapi. Kuncinya yaa itu tadi, mulailah hidup dengan tujuan - tujuan kecil. Bacalah buku yang menarik dan lakukan tindakan nyata untuk berubah. * * * * *   to be continued * * * * *   By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!   Bye ....   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD