Bab 4. Akting

1432 Words
"Non, ini--" "Baca dengan teliti, Bi. Kalau kamu setuju dengan semua poin yang ada di situ, segera tanda tangan. Aku akan transfer seratus juta sekarang juga," ucap Inara membuat Abi terkejut sembari melebarkan kedua matanya. "Seratus juta?" tanya Abi memastikan. "Iya, seratus juta. Lima puluh juta untuk membayar hutang ibumu dan lima puluh juta untuk kamu berikan pada Abah sebagai mahar pernikahan kita. Aku tahu kamu tidak punya uang dan aku nggak mau kamu memberikan mahar sembarangan. Meski pernikahan kita hanya pernikahan kontrak, tetapi aku tidak ingin orang lain memandang miskin terhadapmu." Abi menelan ludahnya yang mengental di tenggorokan mendengar ucapan Inara. Apa yang dikatakan wanita itu benar adanya. Inara adalah seorang gadis cantik dari keluarga kaya, terhormat dan terpandang. Tentu saja dia akan malu jika dinikahi oleh seorang lelaki dengan mahar yang kecil. Sedangkan Inara jelas-jelas tahu kalau dirinya tidak punya uang. "Bagaimana? Kamu setuju dengan isi surat perjanjian itu?" Pertanyaan Inara membuyarkan lamunan Abi. Lelaki itu terdiam sejenak mencermati kata demi kata yang tertulis dalam surat perjanjian itu. Abi kemudian menghela napas berat dan terpaksa mengangguk setuju. Meskipun jujur, hati nuraninya tidak menyetujui dengan apa yang tertuang dalam isi surat perjanjian itu, tetapi Abi tidak punya pilihan lain. Besok dia harus membayar hutang ibunya kepada Jarwo. Bila tidak, maka adik perempuannya akan menjadi istri kelima lelaki hidung belang itu atau sang ibu akan masuk penjara. "Ya Allah ... maafkan hamba telah mempermainkan ikatan pernikahan. Hamba hanya ingin menyelamatkan ibu dan adik hamba. Tolong ampuni hamba, ya Allah," batin Abi di tengah kebimbangannya. "Baik, Non. Saya setuju," jawab Abi seraya membubuhkan tandatangannya di atas surat perjanjian yang dibuat Inara. Gadis itu tersenyum puas memandangi kertas berisi surat perjanjian yang telah ditandatangani oleh Abi. "Sebutkan nomor rekening kamu!" titah Inara. Abi kemudian menyebutkan angka-angka yang merupakan nomor rekening dari sebuah bank swasta yang dulu menjadi tempatnya mengambil gaji saat masih bekerja di pabrik garmen. Dengan lincah jemari lentik Inara mengetikkannya di layar ponsel dan dalam hitungan menit terdengar suara notifikasi M-banking dari ponsel Abi. Kedua mata pemuda itu membulat sempurna saat melihat nominal seratus juta telah masuk ke rekeningnya. "Sudah masuk?" tanya Inara memastikan. "Iya, Non. Sudah. Non serius memberikan uang sebanyak ini pada saya?" tanya Abi ragu. "Semua sudah tertulis dalam perjanjian ini, Abi. Aku akan memberikan surat ini kepada pengacaraku. Kalau kamu melanggar isi dari perjanjian ini, maka aku bisa menuntutmu. Nanti malam sebelum mengantarkan aku keluar, kamu bilang sama Abah kalau kamu mencintaiku dan ingin menikahiku." "Harus malam ini ya, Non? Apa tidak bisa besok-besok saja?" tawar Abi. "Kamu sudah tanda tangan surat perjanjiannya, berarti kamu setuju dengan semua isinya. Aku mau malam ini juga kamu bilang sama Abah karena aku tidak mau menunda lebih lama lagi. Apa kamu keberatan?" "Tidak, Non. Baik, nanti habis Magrib saya akan bicara dengan Kiai." "Baguslah. Ingat ... tidak ada seorangpun yang boleh tahu tentang surat perjanjian ini kecuali kita berdua. Baik keluargaku maupun keluargamu, mereka tidak boleh tahu. Setelah kita menikah nanti kita harus benar-benar tampak seperti suami istri yang sesungguhnya di depan semua orang. Kamu paham?" "Iya, Non. Saya paham. Eum, kalau boleh saya tahu, kenapa Non mencari suami kontrak?" tanya Abi penasaran. "Untuk masalah itu, aku akan menceritakannya padamu setelah kita menikah karena masalah ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua. Sekarang kamu boleh keluar!" titah Inara. "Baik, Non." *** Bakda salat magrib Abi menemui Kiai Ammar yang sedang bersantai di teras rumah. d**a pemuda itu berdebar kencang saat hendak mengutarakan niatnya untuk menikahi Inara yang tentu saja hanya sebagai suami kontrak. "Assalamualaikum, Kiai," sapa Abi setelah mengikis jarak dengan lelaki paruh baya itu. "Waalaikumsalam, Bi. Duduk sini!" titah Kiai Ammar sembari menepuk bangku kosong yang ada di sampingnya. Abi mengangguk, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di samping lelaki paruh baya itu. "Sebelumnya saya minta maaf. Ada sesuatu yang mau saya bicarakan dengan Kiai." "Bicara saja, Bi. Aku siap mendengar." "Begini, Kyai. Sebenarnya saya menyukai Non Inara, maksudnya ... saya mencintai Non Inara. Memang ini terkesan terlalu terburu-buru, tetapi kedekatan kami selama beberapa hari ini telah menimbulkan perasaan yang aneh dalam diri saya. Jantung saya berdebar setiap kali berdekatan dengan Non Inara. Jika Kiai berkenan, saya ingin mengkhitbah Non Inara untuk menjadi istri saya," ucap Abi dengan suara bergetar pemuda itu menunduk tanpa berani menatap wajah berwibawa Kiai Ammar. Abi takut lelaki paruh baya itu marah dan menganggap dirinya tidak tahu diri karena baru dua hari bekerja, tetapi sudah menginginkan menjadi menantu Kiai. Apa yang baru saja dikatakan Abi kepada Kiai Ammar adalah pengakuan yang sebenarnya dari lubuk hatinya yang paling dalam. Semua ucapan itu bukanlah bagian dari sandiwara yang dia sepakati dengan Inara karena memang kenyataannya Abi memiliki perasaan untuk Inara. Hanya saja untuk masalah mengkhitbah, itu dia lakukan karena perjanjiannya dengan Inara. Jika bukan karena perjanjian itu malah berani Abi melamar seorang Inara yang taraf hidupnya sangat jauh di atasnya. Mendengar pengakuan Abi, Kiai Ammar tersenyum. Lelaki paruh baya itu tidak marah sama sekali, bahkan beliau menepuk paha Abi yang duduk di sampingnya. "Kamu benar-benar pemuda yang pemberani. Aku suka dengan keberanianmu. Jika seorang lelaki mencintai seorang wanita, memang seharusnya segera dihalalkan karena setan akan mencari celah untuk menggoda kalian agar melakukan dosa besar yang sangat dibenci Allah." "Jadi, Kiai tidak marah pada saya? Saya takut dianggap tidak tahu malu. Baru dua hari bekerja di sini, tetapi beraninya melamar putri Kiai," balas Abi membuat Kiai Ammar tertawa lebar, "Justru Pemuda seperti kamu ini yang membuat aku bangga. Berani melamar meskipun dengan risiko ditolak. Aku suka keberanianmu anak muda, tetapi untuk jawabannya semua aku serahkan kepada Inara. Sebentar aku panggilkan dia, ya." Kiai Ammar beranjak masuk untuk memanggil Inara. Sementara Abi menarik napas panjang. Hatinya lega karena ternyata Kiai Ammar begitu baik. Beliau tidak marah dan tidak menganggapnya kurang ajar. Beberapa saat kemudian, Kiai Ammar memanggil Abi untuk masuk ke ruang tamu. Di sana telah duduk Inara dan juga Umi Hanik, istri Kiai Ammar. "Duduk sini, Bi," titah Kiai Ammar memberi isyarat kepada Abi untuk duduk di sampingnya. Sementara Umi Hanik dan Inara saling memandang. "Nduk, Abi ini baru saja bilang sama Abah kalau dia ingin mengkhitbah kamu. Bagaimana menurutmu?" tanya Kiai Ammar membuat Umi Hanik terkejut sedangkan Inara tampak biasa saja. "Maksud Abah Abi mau ngelamar Inara begitu?" tanya Umi Hanik memastikan. "Benar, Umi. Saya mencintai Non Inara dan saya ingin perasaan saya ini menjadi halal. Itu juga kalau Non Inara bersedia," jawab Abi membuat kedua mata Umi Hanik melotot. "Eh, Abi. Kamu ini sadar nggak sih? Kamu suka sama Inara, mau menikah sama Inara, memang kamu sudah punya uang untuk mahar? Bukannya kamu baru dua hari kerja di sini? Anak Umi ini cantik, banyak yang suka. Umi nggak mau ya kamu nikahin anak Umi dengan mahar utang," balas Umi Hanik sewot. "Umi! Umi nggak boleh bilang seperti itu. Justru Pemuda seperti Abi ini yang bikin Abah bangga. Dia ini sudah jujur, pemberani, Abah suka. Kalau masalah mahar Abah tidak mempermasalahkannya yang penting Inara mau. Bagaimana menurut kamu, Nduk?" tanya Kiai Ammar sembari menoleh ke arah putrinya. "Kalau menurut Abah, Abi baik buat saya. Insya Allah saya mau, Bah," jawab Inara santai sembari melirik ke arah Abi. Seandainya saja hal ini bukanlah settingan sandiwara, tentu saja Abi akan menjadi pemuda paling bahagia. Namun, sayang semua ini hanyalah drama yang diciptakan Inara dan entah apa tujuannya "Tunggu, tunggu. Umi nggak setuju," tolak Umi Hanik. Wanita paruh baya itu tahu kalau Abi adalah anak dari keluarga sederhana, bahkan ibunya seorang janda. Tidak mungkin juga pemuda itu bisa memberikan mahar yang pantas untuk Inara. "Umi, Abi mencintai Inara dan Inara sudah setuju menerimanya. Kenapa Umi nggak setuju?" tanya Kiai Ammar. "Memangnya si Abi bisa kasih mahar yang pantas buat Inara? Umi malu kalau maharnya diutang atau cuma hafalan surat Al Qur'an," jawab Umi Hanik sewot. "Umi tidak perlu khawatir, saya sudah menyiapkan mahar untuk Non Inara," balas Abi cepat. "Umi gak yakin. Inara, kamu pikir baik-baik. Kamu benaran mau sama Abi?" Umi Hanik masih saja menentang. "Sudah, biar Abah yang putuskan. Abah tetap akan menikahkan Inara dengan Abi karena mereka sudah sama-sama mau. Lebih cepat akan lebih baik," putus Kiai Ammar. "Terserah, Umi ikut aja. Tetapi ,Umi minta Abi menyediakan mahar yang pantas. Jangan sampai bikin Umi malu." "Baik, Umi. Saya jamin Umi tidak akan malu." "Akting kamu bagus, Bi. Pantes banget kamu jadi bintang sinetron," bisik Inara sembari tersenyum puas setelah Kiai Ammar dan Umi Hanik masuk ke ruang tengah. "Andai Non tahu kalau apa yang saya katakan tentang perasaan saya tadi bukanlah sandiwara. Saya mencintai Non dan saya berharap pernikahan kita nanti bukan hanya sandiwara. Semoga suatu saat nanti, Allah membukakan pintu hati Non untuk saya," batin Abi penuh harap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD