Bab 3. Surat Perjanjian

1538 Words
"Elo bisa nyetir gak, sih?" protes Inara saat tiba-tiba Abi menginjak rem, membuat kepala gadis cantik itu hampir terbentur jok di depannya. "M-maaf, Non. Saya kurang hati-hati," balas Abi gugup. Sejujurnya pemuda itu sangat terkejut mendengar permintaan Inara untuk menikahinya. Apa gadis itu sedang bercanda? "Untung saja kepalaku tidak luka. Kalau sampai luka, gaji kamu bakal aku potong," balas Inara kesal. "Sekali lagi saya minta maaf, Non. Tetapi, apa Non serius dengan ucapan Non tadi?" tanya Abi sembari kembali menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. "Kamu pikir aku bercanda? Kamu jangan ge-er dulu. Aku hanya mau kamu menjadi suami kontrak," jelas Inara. "S-suami kontrak? Maksudnya bagaimana, Non?" "Kamu menikahi aku karena aku membayarmu. Kita punya surat perjanjian yang ditandatangani kedua belah pihak. Tidak ada kewajiban suami istri seperti pernikahan sesungguhnya, tetapi kita tetap menikah resmi dan sah menurut negara." Penjelasan Inara membuat Abi terdiam dan berpikir sejenak. "Kalau boleh saya tahu, untuk apa Non mencari suami kontrak? Non adalah gadis yang cantik. Saya yakin pasti banyak lelaki yang mau sama Non tanpa harus dibayar sekalipun." "Aku punya alasan tersendiri yang hanya bisa aku ceritakan kalau kita sudah menikah. Itu kalau kamu mau menerima tawaranku. Aku tidak memaksa. Kalau kamu tidak mau, aku bisa cari lelaki lain." "Bukan saya tidak mau, Non. Jujur, Non adalah wanita yang paling cantik yang pernah saya kenal. Tentu saja sebagai lelaki normal, saya tidak mungkin menolak Non, meskipun cuma sebagai suami kontrak. Apalagi saat ini saya sangat membutuhkan uang. Tetapi--" "Tetapi kenapa?" "Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Bagaimana mungkin kita membuatnya untuk main-main?" "Terserah kamu. Aku kasih kamu waktu tiga hari, sama dengan jatuh tempo uutang ibumu. Kalau lewat tiga hari, aku akan cari lelaki lain yang mau jadi suami kontrakku," tegas Inara membuat Abi langsung terdiam. Tanpa terasa, mobil Toyota Alpard hitam yang dikendarai pemuda itu sudah sampai di kawasan perumahan Puri Indah Permai. Abi membelokkan mobil yang dia kendarai masuk gerbang rumah mewah milik Kiai Ammar setelah seorang security membukakan pagar. Pemuda itu lalu memarkirkan kendaranan roda empat milik majikannya di carport. "Ingat, Bi. Obrolan tadi adalah rahasia kita. Jangan sampai Abah tahu. Aku tunggu jawaban kamu paling lama tiga hari," ucap Inara sebelum turun dari mobil. "Baik, Non." "Oh, ya. Sekalian bawakan koperku ke kamar yang di lantai dua!" titah Inara. Abi hanya mengangguk patuh, lalu mengeluarkan kopor Inara dari bagasi mobil dan mengekor di belakang gadis itu. Kiai Ammar dan istrinya menyambut kedatangan Inara dengan penuh keharuan. Selama hampir tiga tahun, gadis itu kuliah di Singapura dan hanya pulang dua kali dalam setahun. Kali ini, Inara memutuskan untuk pulang dengan dalih mengerjakan tesis. "Abi, apa tadi kamu kesulitan nyari Inara?" tanya Kiai Ammar saat Abi hendak membawa koper Inara ke kamar yang ada di lantai dua. "Tidak, Kiai. Saya langsung bisa menemukan Non Inara saat masuk lobi," jawab Abidzar. "Alhamdulillah kalau begitu. Apa putriku merepotkanmu?" "Tidak, Kiai." "Hmm, ya sudah. Kamu bawa dulu kopernya Inara ke kamar atas, nanti kita berbincang. Aku mau membicarakan tugas-tugasmu di rumah ini," titah Kiai Ammar. "Baik, Kiai. Saya permisi dulu." Abizar kemudian menaiki tangga lantai dua sembari membawa koper Inara. Namun, Abi terkejut karena saat memasuki kamar, bersamaan dengan itu Inara menjerit dan langsung memeluknya. Sejenak jantung Abi seolah berhenti berdetak. Pemuda itu merasakan dadanya sesak seakan lupa bagaimana caranya bernapas saat indra penciumannya mengendus harum aroma tubuh Inara yang kini hampir tak berjarak dengannya. "Non, ada apa?" tanya Abi dengan suara bergetar sembari menetralkan detak jantungnya. "Aku takut sekali. Ada kecoa di kamar mandi," jawab Inara sembari menempelkan wajahnya di d**a bidang Abi. Gadis itu tampaknya benar-benar ketakutan. Inara jadi tampak begitu manis saat ketakutan seperti itu. Entah ke mana menguapnya sikap kasar dan angkuhnya. Sekali lagi, kedua kaki Abi seolah melemas mendapatkan perlakuan sedemikian rupa dari Inara. "Maaf, Non. B-biar saya usir kecoanya," ucap Abi membuat Inara sontak melepaskan pelukannya. Lelaki itu segera masuk ke kamar mandi yang ada di kamar Inara lalu membuka penutup got dan menyiram kecoa yang sudah dia injak sampai mati sebelumnya. "Kecoanya sudah mati, Non," ucap Abi saat keluar dari kamar mandi. "Sorry, Bi. Kamu jangan geer, ya. Tadi itu aku beneran takut dan gak punya maksud buat peluk-peluk kamu," ucap Inara sembari membuang pandangan dari Abi. Gadis itu tidak memungkiri kalau sopir pribadi abahnya itu memang memiliki wajah yang tampan dan tubuh atletis. Namun, bagi Inara pemuda itu bukanlah levelnya. "Iya, Non. Saya paham. Permisi," pamit Abi sembari melangkah keluar kamar. Pemuda itu kemudian berbincang dengan Kiai Ammar yang sudah menunggunya di teras rumah. Kiai Ammar menjelaskan kepada Abi, bahwa selain menjadi sopir pribadi untuk Inara, pemuda itu juga bertugas mengantar barang-barang dari toko kain Kiai Ammar di Pasar Raya kepada pelanggan. Jadi, apabila Inara tidak membutuhkan Abi untuk mengantar jemput, maka pemuda itu akan membantu Kiai Ammar berdagang di Pasar Raya. Dua hari bekerja kepada Kiai Amar, Abi merasa sangat nyaman. Meskipun lelaki paruh baya itu adalah majikannya, tetapi memperlakukannya dengan sangat baik seolah seperti anaknya sendiri. Padahal kenyataannya, Abi hanyalah sopir sekaligus tukang antar barang. Sangat jauh berbeda dengan Inara. Gadis itu terkesan jutek, galak dan angkuh. Begitu pun dengan istri Kiai Ammar yang juga bersikap cuek dan acuh, tetapi Abi tidak mempermasalahkan itu. Yang terpenting adalah dia sekarang mendapatkan pekerjaan dan tidak menganggur lagi. "Di sini lo rupanya," ucap Panjul, salah satu dari dua lelaki bertato yang sudah berada di depan rumah Abi saat pemuda itu baru saja pulang dari Pasar Raya. Abi memarkirkan motornya lalu mendekati kedua anak buah Jarwo itu. Abi sengaja pulang dulu ke rumah karena Husna meneleponnya dan memberitahu kalau dua anak buah Jarwo sedang menunggunya. Abi yang sebenarnya masih punya pekerjaan mengantar Inara nanti malam terpaksa minta ijin kepada Kiai Ammar untuk pulang sebentar. "Ada apa ini, Bang?" tanya Abi basa-basi, meskipun pemuda itu tahu kalau dua anak buah Jarwo datang ke rumahnya pasti untuk mengingatkannya kepada utang sang ibu. "Lo jangan pura-pura Amnesia, Bi. Kami ke sini untuk mengingatkan lo kalau besok uang lima puluh juta itu harus ada, atau Husna ikut dengan kami," jawab Ghani, lelaki bertato yang satunya. "Saya janji besok pasti sudah ada uangnya. Sekarang Abang berdua silakan pergi dan jangan ganggu ibu dan adik saya," ancam Abi. "Huh ... songong banget lo, bocah. Awas kalau sampai besok uangnya nggak ada! Gue pastikan lo bakal jadi sasaran pukulan gue!" balas Ghani geram. "Sudahlah, kita pulang. Jangan bikin keributan untuk hari ini," ajak Panjul, lalu keduanya pergi meninggalkan rumah Abi. Sementara itu, Maya dan Husna bersembunyi di dalam rumah dalam keadaan takut. "Memang kamu sudah punya uangnya, Mas?" tanya Husna memastikan. Nasibnya besok ada di tangan Abidzar. "Kamu tenang saja, Husna. Aku tidak akan membiarkan kamu menjadi istri kelima Juragan Jarwo. Tua bangka hidung belang itu tidak akan bisa membawamu pergi," balas Abi berusaha menenangkan adiknya. "Tapi kamu dapat uang dari mana, Bi?" tanya Maya penasaran. "Ibu tidak perlu tahu aku dapat uang dari mana. Yang jelas uang itu bukanlah uang haram," balas Abi membuat wanita paruh baya itu terdiam. Baik Maya maupun Husna tidak lagi bertanya. Suara dering telepon memecah keheningan. Nama Non Inara terpampang di layar ponsel Abi. Segera pemuda itu mengangkat telepon dari sang majikan. Abi tidak ingin membuat gadis itu menunggu lama karena Inara suka marah-marah kalau dirinya telat menjawab telepon. "Assalamualaikum, Non. Ada apa?" tanya Abi sopan. "Kamu sudah pulang? Bukankah aku tadi sudah bilang kalau habis Magrib kamu harus anterin aku ke suatu tempat? Kenapa kamu malah pulang?" tanya Inara marah. "Maaf, Non. Tadi saya ada urusan sebentar di rumah. Saya sudah ijin pada Kiai. Nanti sebelum Magrib, Insya Allah saya sudah di rumah Kiai lagi," balas Abi. "Aku nggak mau terlambat, ya. Awas kalau sampai kamu terlambat, aku akan--" "Memotong gaji saya, kan? Ya, saya tahu. Saya tidak akan terlambat, Non." "Hmm, bagus." Inara memutus panggilan secara pihak sepihak. Sementara Abi hanya bisa menghela napas panjang. Sepertinya pemuda itu tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran Inara untuk menjadi suami kontrak. Entah kehidupan macam apa yang akan dia alami nanti. Yang penting saat ini dalam pikiran Abi hanyalah menyelamatkan ibu dan adiknya dari Jarwo. Pemuda itu kemudian bersiap kembali ke rumah Kiai Ammar. Dia tidak boleh terlambat karena Inara pasti akan marah besar. "Non, saya mau bicara sebentar," ucap Abi setelah sampai di rumah Kiai Ammar. Inara yang hendak ke kamarnya menghentikan langkah sejenak. "Ada apa?" tanyanya ketus. "Saya ingin bicara soal yang kemarin. Eum, maksud saya soal tawaran Non kemarin." "Oh yang itu. Apa keputusanmu?" tanya Inara tanpa melihat ke arah Abi. "Saya ... saya bersedia, Non." "Hmm, sudah kuduga. Sini ikut aku! Jangan sampai Abah dan Umi mendengarkan pembicaraan kita!" titah Inara sembari melangkah menuju ruang kerja yang terletak di samping tangga. Sementara Abi mengangguk, lalu mengekor di belakang gadis itu. "Itu surat perjanjian yang harus kamu tandatangani. Baca dan pelajari baik-baik isinya karena aku tidak mau kamu melanggar sedikitpun dari apa yang aku tulis di situ. Kalau kamu setuju, segera tanda tangan dan aku akan mentransfer uangnya sekarang juga," ucap Inara setelah keduanya sampai di ruang kerja. Gadis itu memberikan selembar kertas berisi perjanjian yang harus ditandatangani oleh Abidzar. Kedua mata pemuda itu membulat sempurna setelah membaca satu demi satu poin perjanjian yang dibuat oleh Inara. "Apa maksud Non Inara membuat surat perjanjian seperti ini?" batin Abi setelah selesai membaca surat perjanjian yang diberikan Inara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD