"Belum pernah lihat wanita cantik, hmm?" Pertanyaan Inara membuat Abi yang diam-diam tengah menikmati kecantikan Inara melalui kaca spion mobil segera membuang pandangannya kemudian beristighfar lirih. Sebagai seorang lelaki normal, sangat wajar jika pemuda itu terkagum dengan kecantikan Inara. Gadis itu memiliki paras wajah cantik alami yang mampu membuat setiap lelaki terpesona bahkan sejak pandangan pertama. Namun, sayangnya kecantikan paras Inara tidak diimbangi dengan kecantikan akhlaknya.
"Maaf, Non. Saya tidak bermaksud kurang sopan kepada Non," balas Abi gugup sembari kembali fokus menyetir. Tak dapat dipungkiri kalau pemuda itu kesulitan menetralkan detak jantungnya saat berdekatan dengan wanita secantik Inara. Namun, Abi cukup tahu diri kalau dirinya tentu bukan tipe lelaki yang diharapkan oleh Inara.
"Nama kamu siapa?" tanya Inara.
"Saya Abidzar, Non. Panggil Abi saja."
"Hmm, sudah berapa lama kerja sama Abah?"
"Baru hari ini, Non."
"Baru hari ini dan Abah sudah mempercayai kamu menjemput saya? Abah apa-apaan, sih?" gerutu Inara kesal.
"Maaf, Non. Saya juga tidak tahu. Saya hanya melaksanakan tugas dari Kiai, yaitu menjemput Non dari Bandara," jelas Abi.
Diam-diam Inara memperhatikan wajah Abi lewat pantulan spion depan mobil. Pemuda itu sudah tidak berani lagi melirik ke arah Inara dan hanya fokus menyetir.
"Kita mampir Mall sebentar! Ada sesuatu yang mau aku beli," titah Inara.
"Baik, Non," balas Abi singkat sembari melirik sekilas ke arah Inara lewat spion depan. Sontak kedua pandangan mereka bertemu lewat spion mobil. Entah mengapa hati Abidzar berdesir.
"Ya Allah ... tolong jaga hati hamba agar jangan sampai tertambat di tempat yang tidak seharusnya. Saya jelas tidak selevel dengan Non Inara," batin Abi. Pemuda itu berusaha mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba hinggap di hatinya saat pandangannya bertemu dengan kedua mata indah Inara.
Abi kembali fokus menyetir dan mengabaikan hatinya yang dilanda kegelisahan berkepanjangan akibat perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Beberapa menit kemudian mobil Toyota Alphard hitam yang dikendarai Abi sampai di depan sebuah Mall yang ada di pusat kota. Pemuda itu kemudian membelokkan mobil dan mencari tempat parkir yang nyaman, lalu bergegas turun dan membukakan pintu untuk majikannya.
"Non mau saya antar sampai ke dalam atau saya tunggu di sini?" tanya Abi sembari menundukkan pandangan. Pemuda itu tidak berani menetap Inara karena pandangan kedua dan seterusnya pasti akan dihiasi syetan.
"Kamu tunggu di sini saja," titah Inara sembari melangkah keluar mobil. Abi hanya mengangguk kemudian menunggu di dekat mobil untuk menghilangkan jenuh saat menunggu majikannya shopping di Mall. Pemuda itu berselancar di dunia maya lewat ponselnya. Namun, tiba-tiba Abi dikejutkan dengan suara gaduh tak jauh dari tempatnya berdiri.
Pemuda itu menoleh ke arah suara gaduh. Tampak seorang lelaki paruh baya sedang bersitegang dengan tiga orang lelaki lainnya. Kedua mata Abi membulat saat tahu siapa orang-orang yang sedang membuat gaduh itu. Ternyata Jarwo dan kedua anak buahnya sedang adu mulut dengan seorang lelaki paruh baya. Entah kenapa langkah kaki Abidzar pun bergerak mendekat ke arah mereka.
"Kasih saya waktu, Juragan. Saya pasti akan bayar," mohon lelaki paruh baya itu.
"Oke gue kasih elo waktu seminggu lagi. Kalau elo belum bisa bayar juga, maka Ningsih harus ikut gue jadi istri keenam gue," ancam Jarwo sambil tertawa lebar.
"Ampun, Juragan. Jangan ambil Ningsih! Dia satu-satunya yang saya punya. Saya sangat mencintainya," balas lelaki paruh baya itu mengiba.
"Elo cuma lelaki miskin, nggak pantas buat Ningsih. Wanita secantik Ningsih pantasnya itu jadi istri simpanan lelaki berduit kayak gue, bukan lelaki miskin kayak lo," ejek Jarwo sombong membuat lelaki paruh baya itu geram dan mengeratkan tangannya hendak menyerang Jarwo. Namun, dengan sigap dua lelaki bertato anak buah Jarwo menghadangnya, menghajar lelaki paruh baya itu tanpa ampun.
Abi yang menyaksikan itu tidak mau tinggal diam. Bisa-bisa lelaki paruh baya itu mati di tangan dua anak buah Jarwo.
"Tolong hentikan!" teriak Abi membuat dua lelaki bertato itu berhenti.
"Heh, elo anaknya Maya. Jangan ikut campur lo," seru Jarwo sembari mendekat ke arah Abi.
"Tolong, Juragan. Jangan melakukan kekerasan. Juragan bisa ditangkap polisi dengan tuduhan melakukan penganiayaan dan saya jamin Juragan akan masuk penjara," ancam Abi.
"Heh anak ingusan. Elo berani nantangin gue? Lo mau Ibu lo itu gue joblosin ke penjara karena nggak bisa bayar hutang, hmm? Atau lo mau adik perempuan lo itu jadi istri kelima gue?" Jarwo mencengkram krah baju Abi bagian depan sembari melotot.
"Saya pasti akan bayar. Bukankah Juragan kasih waktu tiga hari?"
"Gue nggak yakin lo bakal punya uang lima puluh juta dalam waktu tiga hari. Ingat, Bi. Kalau sampai dalam waktu tiga hari elo gak bisa bayar hutang ibu lo, maka sebagai gantinya adalah Husna. Gue gak bakal terima alasan apapun. Ingat itu." Setelah berkata demikian Jarwo melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Abi, lalu memberikan isyarat kepada kedua anak buahnya untuk meninggalkan Abi dan juga lelaki paruh baya itu.
Jarwo berpikir ada benarnya apa yang dikatakan Abi. Kalau sampai polisi melihat mereka melakukan kekerasan terhadap lelaki paruh baya tadi, maka bisa-bisa dia masuk penjara karena pasal penganiayaan, sehingga Jarwo tidak memperpanjang masalah itu lagi.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Abi sembari menolong lelaki paruh baya itu berdiri.
"Saya tidak apa-apa. Terima kasih sudah membantu saya," balas lelaki itu.
"Bapak bisa pulang sendiri, kan? Maaf, saya tidak bisa mengantar Bapak pulang karena saya sedang menunggu majikan saya."
"Tidak apa-apa, Nak. Sekali lagi terima kasih kamu sudah menolong saya. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu." Setelah berkata demikian lelaki itu meninggalkan Abi.
"Ada urusan apa kamu dengan para preman itu?" tanya Inara yang tiba-tiba sudah berada di belakang Abi. Pemuda itu terkejut melihat majikannya sudah berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan d**a menantikan jawaban.
"Tidak, Non. Saya tidak ada urusan dengan mereka," bohong Abi.
"Non sudah selesai belanja? Mari kita pulang." Abi mencoba mengalihkan fokus pembicaraan. Pemuda itu mempersilahkan majikannya berjalan terlebih dahulu, lalu membukakan pintu mobil. Inara memutar bola matanya dengan malas. Gadis itu tahu kalau Abi sedang mengalihkan pembicaraan. Dia pun memasuki mobil sementara Abi duduk di balik kemudi.
"Kita langsung pulang, Non?" tanyanya sembari melirik ke arah gadis itu melalui spion depan. Wanita itu hanya menganggukkan kepala tanpa melihat ke arah sopirnya itu.
Beberapa menit kemudian mobil Toyota Alphard hitam yang dikendarai Abi mulai meninggalkan area parkir Mall. Sembari menyetir, pemuda itu berpikir bagaimana cara mendapatkan uang lima puluh juta dalam waktu tiga hari.
Abi tentu tidak mau kalau Husna, adik perempuan satu-satunya menjadi istri simpanan si tua bangka Jarwo. Dia pun tidak tega jika ibunya harus masuk penjara karena tidak bisa membayar hutang. Meskipun sebenarnya Abi sudah sangat lelah dengan kelakuan ibunya yang suka berhutang sana-sini, tetapi tetap saja wanita itu adalah ibunya. Semenjak sang ayah meninggal karena kecelakaan, ibunya memang sering terjerat hutang kepada rentenir. Namun, kali ini adalah yang terparah.
"Ibu kamu punya utang lima puluh juta pada preman-preman itu?" Pertanyaan Inara membuyarkan lmunan Abi. Pemuda itu terkejut karena majikannya tahu tentang hutang ibunya kepada Jarwo.
"Kenapa diam? Benar atau tidak?" tanya Inara memaksa.
"Maaf, Non. Itu urusan pribadi keluarga saya. Saya mohon maaf jika masalah saya dengan para preman itu mengganggu kenyamanan Non saat saya bekerja," balas Abi tak enak hati.
"Sorry ... bukannya aku nguping, tapi tadi aku tidak sengaja mendengar kalau ibu kamu punya utang pada lelaki berkumis tebal tadi sebanyak lima puluh juta dan harus lunas dalam waktu tiga hari, benar begitu?"
Mendengar pertanyaan Inara Abi kembali terdiam. Dalam hati pemuda itu berpikir apa maksud majikannya ikut campur dalam urusannya dengan juragan Jarwo.
"Apa kamu sudah punya uangnya? Apa kamu ingin aku membantumu?" Pertanyaan Inara sontak membuat kedua mata Abi membulat sempurna. Pemuda itu bahkan sempat menoleh ke belakang untuk memastikan kebenaran ucapan majikanya.
"Mencari uang lima puluh juta dalam waktu tiga hari itu bukan hal yang mudah, apalagi untuk orang sepertimu. Aku bisa membantumu, Abi. Tetapi tentunya semua itu tidak gratis."
"Maksud Non apa?" tanya Abi mulai antusias.
"Aku akan memberi uang lima puluh juta agar kamu bisa melunasi utang ibumu pada lelaki berkumis tadi, tetapi kamu harus melakukan sesuatu untukku."
"Apa yang harus saya lakukan, Non?" tanya Abi tertarik.
"Menikahlah denganku." Abidzar sontak menginjak rem mobil karena sangat terkejut mendengar ucapan Inara.
"Apa maksud Non Inara? Benarkah dia ingin aku menjadi suami? Ah, sepertinya aku sedang bermimpi," batin Abi sembari mengusap wajahnya dengan kasar.