Kehadiranmu bagaikan fragmen,
Menaikkan lagi memori masa lalu yang usang ditelan waktu.
***
"Jaga Permata sama seperti kamu menjaga saudaramu."
Ucapan terakhir Aryo terus terngiang di kepalanya, ia tak menyangka jika Permata benar-benar bagian dari masa kecilnya yang kemudian menghilang selama beberapa waktu akibat kejadian kelam yang merenggut keluarga gadis itu. Hingga mereka kembali bertemu dalam keadaan yang sama-sama tak saling mengenal, sebenarnya aneh karena tiba-tiba Tegar merasa ingin peduli pada gadis itu padahal ia terkenal cuek, ternyata alam bawah sadarnya yang lebih dulu merasakan semuanya.
Gadis itu terlihat mengerjap hingga ia dapat membuka matanya dengan lebar, samar-samar Permata dapat melihat Tegar yang berdiri di sebelahnya sembari mengulas senyum nan hangat.
"Kak Tegar? Kok ada di sini? Di kamar aku?" tanya Permata yang belum sadar ia sedang berada di mana.
"Lo di rumah gue," sahut Tegar, lalu duduk di sebelah Permata.
Gadis itu beranjak, tapi masih merasa lemas hingga ia memilih duduk bersandar saja sambil meluruskan kakinya. Permata menatap Tegar lekat, bagaimana bisa ia bangun tidur dan mendapati pemandangan seindah itu. Tuhan terlalu baik padanya.
Permata mengedarkan pandang ke sekitar, ternyata semuanya terlihat asing. Ia baru sadar tidak tidur di ranjangnya, kamarnya tak sebesar ruangan itu, tempat tidurnya juga tak seempuk apa yang ada di bawah pantatnya.
"Kok aku di sini? Ini di mana?" Permata langsung menutup mulutnya, ia hendak muntah.
Tegar mengambilkan segelas s**u putih yang sudah tersedia di atas nakas, ia mengulurkannya di depan Permata.
"Ini minum ini, katanya penawar racun biar nggak muntah," ucap Tegar.
Permata menatap Tegar sekilas, lalu meraih gelas itu dan meneguk isinya setengah. Ia kembalikan gelas itu kepada Tegar.
"Emangnya semalam lo minum berapa gelas sih? Sampai nggak sadar gitu?" tanya Tegar membuat Permata terlihat bingung.
"Minum? Minum apa?" Gadis itu menyentuh keningnya yang masih terasa berdenyut. "Kok pusing yah."
"Semalam lo mabuk, nggak sadarkan diri."
Permata menatap Tegar dengan kening mengernyit, "Bangkit! Bangkit mana Bangkit!" Permata hendak turun dari ranjang itu, tapi pening kembali menyerang kepalanya hingga ia meremasnya dengan kedua tangan.
"Udah lo istirahat aja dulu, Bangkit udah dapat hukumannya kok dari Kakek."
Permata kembali menyandarkan tubuhnya, ia hanya diam sembari melihat ke arah jendela dengan tirai yang terbuka. Cahaya matahari pagi berpendar masuk ke dalam ruangan itu.
"Ternyata aku udah jadi gadis yang buruk," gumam Permata penuh sesal.
"Apa aja yang bisa lo ingat dari kejadian semalam?"
Permata menatap Tegar, ia diam sembari memutar memorinya tentang ingatan semalam.
"Aku cuma inget kalau disuruh Bangkit minum lima gelas beer, tapi aku cuma minum empat gelas, habis itu yang aku tahu udah tidur di kamar." Permata menatap sekelilingnya lagi. "Kayaknya bukan di sini deh, Kak. Terus di mana dong?"
"Di sana, salah satu kamar yang ada di diskotek itu. Biasa disewa sama orang-orang yang mau ...."
"m***m?" Permata menerkanya sendiri. "Jadi aku dibawa ke kamar kayak gituan sama Bangkit, jangan-jangan aku udah!" Permata menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang merasa sudah sangat terhina.
"Udah apa? Jangan mikir yang jelek-jelek, lo nggak apa-apa kok," ucap Tegar menenangkan gadis itu.
Permata menurunkan selimut itu dari wajahnya, ia menatap Tegar sambil menggigit bibir.
"Bangkit ngapain aku Kak semalem? Kakak tahu nggak?"
"Dia nggak ngapa-ngapain lo, kok," sahut Tegar berbohong, bukannya tak ingin jujur, tapi melihat keadaan Permata yang tidak baik-baik saja sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mengakui perbuatan Bangkit.
"Kakak nggak bohong, kan? Aku masih perawan, kan?" tanya Permata terlihat begitu polos.
Tegar menggeleng, "Lo masih virgin, kok. Kalau kurang yakin sekarang aja kita ke dokter, tes keperawanan," ujar Tegar.
"Enggak perlu, aku percaya sama ucapan Kak Tegar."
"Kalau boleh tahu kenapa elo nggak nolak ajakan Bangkit? Kenapa lo minum alkohol itu?"
Gadis itu menghela napasnya, "Bangkit ngambil gelang di kaki aku, Kak. Padahal itu gelang kenangan dari ayah, kalau aku nggak turutin maunya dia nanti bisa dibuang."
Mendengar hal itu kedua tangan Tegar mengepal, Bangkit benar-benar keterlaluan. Untung saja sekarang remaja itu sudah dikurung di dalam kamarnya tanpa fasilitas ponsel dan laptop, jadi ia akan benar-benar bosan berada di sana.
"Ya udah kalau gitu, sekarang lo istirahat lagi yah." Tegar beranjak, hendak pergi, tapi tangan Permata meraih pergelangan tangannya, menahan Tegar agar tidak pergi.
"Jangan ke mana-mana, aku takut Bangkit ke sini terus jahatin aku lagi," pinta Permata.
Tegar menghela napasnya, ia kembali duduk dan menggenggam satu tangan Permata.
"Nggak ada yang akan jahatin lo lagi kok, gue di sini. Jangan takut, sekarang lo tidur lagi biar gue tunggu sampai lo tidur," ucap Tegar.
Genggaman tangan itu terlepas, Permata merasa begitu damai usai mendengar ucapan Tegar. Tubuhnya meluruh dengan kepala yang sudah menyentuh bantal, gadis itu menarik selimut hingga menutupi dadanya lalu mulai memejamkan mata.
Tegar tetap berada di sisi gadis itu, terus menatapnya hingga Permata benar-benar terlelap barulah ia keluar dari kamar tamu.
***
Pandangan mereka bertemu, rasanya ingin sekali mundur dan memutar arah ketika kembali menemukan manik mata itu. Bangkit merasa merinding ketika bertatapan lagi dengan Permata, ia jadi teringat lagi kejadian semalam, bagaimana ia yang senang mencium gadis dalam keadaan tak sadar itu.
Bangkit mencengkram railing tangga kuat-kuat, selain Permata yang ada di ruang tamu ada juga Tegar, Aryo serta Adi yang juga menatapnya. Bangkit mendengkus, ia ingin kembali saja ke kamar, tapi tak mungkin menolak permintaan kakeknya untuk bergabung dengan mereka—apalagi ia tengah menjalani masa hukuman.
Bangkit melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga, memberanikan diri menghampiri mereka tanpa menatap Permata apalagi gadis itu masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam.
Perasaan Bangkit ketar-ketir setelah ikut bergabung dan duduk memisahkan diri pada sofa di pojokan, Permata tahu atau tidak perbuatannya semalam? Apa yang akan dikatakan gadis itu nantinya? Bangkit sangat gemas dengan kebodohannya sendiri, kenapa dia harus mencium Permata dan terlalu senang menikmatinya. Jika semalam Tegar tak datang apa yang terjadi, apa Bangkit bisa melakukan hal yang lebih mengerikan dari itu.
"Bangkit," panggil Aryo yang duduk di sebelah Adi, mereka baru saja membahas semua foto yang ada pada album bersampul biru, semua foto saat mereka ada di Kanada.
Bangkit memberanikan diri menatap Aryo, ia masih ingat amarah Aryo saat dirinya baru pulang dari diskotek karena Tegar sudah mengadukan semuanya apalagi si korban malah tidur di rumah mereka.
"Iya," sahut Bangkit singkat.
"Kamu sudah makan?"
"Belum."
"Kalau Tata kecil kamu ingat?"
"Ingat kok, kenapa?"
"Dia." Aryo menunjuk ke arah Permata yang duduk di sebelah Tegar. "Dia Tata kecil yang suka kamu usili waktu di Kanada."
Pandangan keduanya kembali bertemu, Bangkit harus menunjukan ekspresi apa sekarang? Jika ditanya apa dia terkejut—iya—hanya saja Bangkit masih bisa mengontrol keterkejutannya. Jadi, Permata adalah teman masa kecilnya dengan Tegar saat mereka masih tinggal di Kanada.
"Kamu sudah minta maaf sama Permata?" tanya Adi.
Bangkit menggeleng, sejujurnya ia terlalu takut untuk mengakui semua perbuatannya pada Permata. Bagaimana jika gadis itu menceritakan semua hal yang dialaminya semalam, makin hancur reputasi Bangkit di sekolah, untungnya hari ini adalah Minggu, jadi masih bisa ditunda.
"Minta maaf sama dia, kamu laki-laki 'kan?" perintah Adi.
Bangkit beranjak, ia menghampiri Permata yang kini juga ikut beranjak. Rasa merinding itu kembali hinggap ke sekujur tubuh Bangkit, biasanya ia selalu berani tapi sekarang menatap mata Permata saja ia tak sanggup seintens itu, bayangan akan kejadian semalam langsung terngiang di benaknya. Andai saja satu per satu kenangan yang tak perlu diingat mudah dibuang.
Bangkit sudah berhadapan dengan gadis itu, iris cokelat yang membuatnya ingat bagaimana ia menatap gadis di bawah kuasanya malam tadi. Bangkit mengulurkan tangan kanannya, hendak meminta maaf.
"Ma-af," ucap Bangkit.
Permata hanya diam, tanpa niat menerima uluran tangan Bangkit. Ia justru mengamati wajah laki-laki di depannya dengan kening berkerut, mudah sekali Bangkit berkata maaf di depan keluarganya sedangkan saat pertama kali mereka bertemu dan Bangkit membuat semua donatnya itu berantakan—sangat sulit membuat ia minta maaf padanya. Apa semua itu sandiwara Bangkit di depan keluarganya? Sekarang Permata sudah yakin kalau Bangkit itu jahat.
Permata mengangkat dagunya, menunjukan lagi sisi angkuhnya. "Alasan apa yang buat aku harus maafin kamu?" tanya gadis itu.
Bangkit menghela napas, ia menurunkan tangan yang sejak tadi hanya mengambang tanpa balasan.
"Lo nggak mau maafin gue?"
"Aku tanya, alasan apa yang bikin aku harus maafin kamu? Ayo jawab."
"Gue nggak punya, kalau lo nggak mau maafin gue ya udah." Bangkit melenggang pergi meninggalkan semua orang di sana tanpa izin, ia juga tak mendapat maaf dari Permata.
"Bangkit! Bangkit!" seru Adi, sayangnya anak lelakinya itu enggan menoleh dan makin cepat menapaki tangga hingga masuk ke dalam kamarnya.
Begitu Bangkit masuk ke dalam kamarnya, ia melempar semua benda yang ada di atas nakas tanpa peduli seberapa berharganya barang-barang itu. Bangkit juga menarik selimutnya hingga berantakan di lantai, ia melempar semua bantal lalu menendang nakas dan berakhir terduduk di lantai sembari menjambak rambutnya dengan gemas.
"Ini nggak mungkin, ini nggak mungkin. Kejadian malam itu nggak sengaja, ini nggak mungkin," rancau Bangkit menatap lantai di bawahnya.
Terdengar suara ketukan pintu, Bangkit menengadah menatap pintu kamarnya. Ia tak beranjak, tapi ketukan itu kembali terdengar.
Ia mengalah dan menghampiri pintu, membukanya dan menemukan seseorang yang jadi alasannya sampai sefrustrasi itu hari ini, Permata Aurora.
Gadis itu cukup berani menghampiri Bangkit hingga ke kamarnya, Bangkit menatap sekitar dan tak ada siapa pun di luar sana. Ia menarik tangan Permata begitu saja masuk ke kamar lalu mengunci pintu.
Kini Bangkit memutar tubuhnya, menemukan sosok Permata yang berdiri di belakangnya.
"Lo terlalu nekat apa emang nggak takut sama gue sampai samperin ke kamar, hm? Atau yang semalam kurang?"
Permata tak mengidahkan ucapan Bangkit, ia justru tercengang dengan isi kamar Bangkit yang berantakan.
"Kamu habis ngamuk?" tanya Permata.
"Lihat gue!" hardik Bangkit.
Gadis itu menatap lekat manik Bangkit, tanpa takut sedikit pun.
"Lo inget semua kejadian semalam?"
Permata menggeleng, "Kenapa? Ada yang mau kamu bilang sama aku? Kamu ngapain aku semalem? Kata Kak Tegar kamu nggak ngapa-ngapain."
Ekspresi serius Bangkit berubah datar, jadi Tegar tak katakan apa pun pada Permata. Ia menghela napas lega, Bangkit tak perlu mengakui telah mencium Permata malam itu.
"Lo ngapain masuk kamar gue, hm?"
"Aku nggak masuk, kan kamu tadi yang tarik tangan aku. Udah lupa?"
"Enggak, tujuan lo apa samperin gue?"
"Mana gelang aku." Permata mengangkat tangan kanannya, meminta.
"Nggak ada, jangan buang-buang waktu buat minta benda itu karena gue nggak akan kasih ke lo sebelum lima hari ke depan berakhir." Bangkit melangkah melewati Permata, menghampiri jendelanya yang terbuka.
"Hey! Nggak bisa gitu dong, bukannya aku udah turutin mau kamu semalem, kan?" Permata menyusul Bangkit, berdiri di belakangnya.
"Masih banyak yang perlu lo turutin, misalnya kayak ...." Bangkit memutar tubuh, menarik tangan Permata menghampiri tempat tidurnya lalu menghempas gadis itu ke atas kasur seperti baju yang tak terpakai. Ketika Permata hendak beranjak, Bangkit sudah mengunci posisinya seperti semalam, bedanya Permata benar-benar sadar.
"Kamu mau ngapain? Aku teriak nih," ancam Permata.
"Teriak aja, bibir gue masih sanggup bungkam bibir lo kok biar diem. Teriak aja sekarang."
Permata mengatupkan bibirnya, tak sudi bersentuhan dengan bibir Bangkit yang penuh dosa, meski sudah tanpa ia ingat.
"Lo nggak ingat sama sekali soal semalam?" tanya Bangkit.
"Enggak, kita nggak macem-macem 'kan?"
Melihat raut tenang gadis itu kembali memicu adrenalin Bangkit, rayuan setan kembali menghampirinya.
"Hey! Kamu lihat apa!"
Hardikan Permata membuatnya tersadar, Bangkit mengangkat tubuhnya dan kembali menghampiri jendela. Hampir saja ia melakukan hal itu lagi.
Permata ikut beranjak, "Mana gelang aku? Mana gelang aku?"
"Enggak ada, mending sekarang lo keluar," perintah Bangkit tanpa menoleh.
"Kapan mau balikin?"
"Kapan-kapan."
"Bangkit!"
Bangkit menghampiri Permata dan menarik tangannya menghampiri pintu, ia memutar kunci dan mengeluarkan gadis itu.
"Mending lo pulang sekarang, jangan masuk-masuk kamar gue lagi kalau lo masih mau baik-baik aja. Pangeran lo nungguin di bawah," ucap Bangkit lalu menutup pintu kamarnya rapat.
Permata mengerjap, Pangeran?
***