10.

1830 Words
Senjaku telah pergi, sang Aurora menghampiri. Tapi, hatiku masih terkunci, kecuali dia memang harus kumiliki. *** Ia baru saja turun dan mengunci sepedanya di dekat pohon mahoni yang pernah jadi saksi bisu sepeda miliknya tergantung, Permata mengambil kotak donat dari keranjang sepeda lalu melangkah melewati halaman sekolah di mana banyak siswa-siswi SMA Gautama yang juga baru datang. Beberapa dari mereka berbelok ke arah parkiran motor atau khusus mobil, maklum saja ada parkir khusus mobil karena kebanyakan penghuni SMA Gautama adalah anak orang berada, tidak untuk Permata yang mendapat beasiswa dan kurang mampu. Kaki jenjang yang masih mengenakan sepatu lusuh merahnya terus menapaki ubin halaman hingga tiba di koridor utama, gadis itu selalu terlihat santai apalagi juntaian kabel headset masih menggantung di bawah telinganya. Dia tak peduli pada tatapan sinis orang-orang yang mungkin menganggapnya tak layak bersekolah di sana karena penampilan yang jauh dari kata keren apalagi membawa kotak berisi donat. Tiga orang siswi kelas sepuluh yang berdiri pada ambang pintu kelasnya mengamati gadis itu dari jauh, salah satunya dan paling mencolok karena rambut yang pirang melangkah menghampiri Permata, siswi itu adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengidolakan sosok si kembar. "Woy, tukang donat!" seru siswi itu sengaja mengagetkan Permata. Sayangnya, Permata tak mendengar karena suara musik menguasai kedua telinganya, ia terus melangkah melewati adik kelasnya—bahkan melempar seulas senyum manis. Siswi itu mengernyit heran, ia saling tatap dengan kedua temannya. Tak mau kehilangan kesempatan, siswi tersebut melepas salah satu sepatunya yang mahal dan melempar benda itu ke arah Permata. "Aduh!" pekik seseorang, sayangnya bukan Permata, karena sepatu warna putih tadi justru menyentuh lengan Tegar yang datang tepat ketika sepatu hendak menyentuh kepala Permata. Permata sama sekali tak menoleh dan terus melangkah dengan tenang, lagipula ia belum melihat wajah Tegar karena laki-laki itu berada di belakangnya dan tiba-tiba muncul dari sisi pilar. Siswi kelas sepuluh tadi menganga akibat salah sasaran dan melempar Tegar, jantungnya berdegup lebih cepat ketika Tegar mengambil sepatunya dan mengampiri gadis itu. Sedangkan dua temannya justru bersembunyi, mengintip dari balik jendela kelas, mereka tak ingin ikut andil dalam uruasan kemarahan, apalagi dengan Tegar Gautama meski laki-laki itu tak pernah bermasalah dengan siapa pun selama bersekolah. "Ini sepatu punya lo?" tanya Tegar seraya melempar sepatu itu di dekat kaki pemiliknya. Siswi itu menggigit bibir, name tag seragamnya bertuliskan Analisa Delima. "Iy-iya, Kak. Ma-maf ya," sahut Analisa kikuk, ia meraih sepatunya. "Jangan lagi lempar sepatu sembarangan, gue cuma kasih peringatan aja. Kalau tadi kepala Permata yang kena justru lo bisa kena skorsing dan gue yang akan ngaduin perbuatan lo, ngerti?" "Iy-iya, Kak. Sekali lagi maaf." "Jangan diulang lagi." Lalu Tegar melangkah meninggalkan Analisa, gadis itu sampai berjingkrak karena gemas sekaligus kesal dengan ulahnya yang salah. Kenapa tiba-tiba Tegar berada di sana dan membuatnya jadi orang bodoh. *** Sejak naik ke dalam mobil Kevin, Bangkit lebih banyak diam. Biasanya dia akan semangat apalagi masih pegang kendali atas gelang Permata sepenuhnya, tapi pagi ini rasanya enggan untuk datang ke sekolah. Pikirannya terusik oleh malam itu, tak mau menjauh. Kevin yang duduk di balik kemudi juga mengamati sahabatnya itu, sedangkan Adam yang duduk di belakang Bangkit terlihat asyik dengan ponsel baru yang dibeli dengan uang milik Bangkit. Tak apa ponselnya saat itu dibanting, karena yang ia dapatkan sekarang jauh lebih mahal. Sering-sering saja Bangkit! "Kenapa gue telepon lo nggak aktif, Bang?" tanya Kevin, memecah keheningan antara ketiganya. "Iya, gue chat juga cuma centang satu," timpal Adam tanpa melepas fokusnya dari ponsel. Bangkit diam, ia tak mendengar. Mengizinkan pikirannya berkelana jauh, seolah tak membiarkan malam itu cepat lenyap dari pikirannya. Iris cokelat terang gadis itu, wajah tenangnya menghipnotis Bangkit hingga berani melakukannya meski sekadar ciuman, toh Permata tak mengingatnya, harusnya ia anggap semua itu sudah clear. Sayangnya Bangkit seperti kehilangan sesuatu, entah apa. "Bang?" panggil Kevin. "Bangke, lo kenapa diem aja. Ada masalah?" Kali ini Adam mematikan ponselnya, ia menepuk bahu Bangkit, menyadarkannya dari lamunan yang tak berujung. "Lo mikirin apa sih? Kalau punya masalah bagi-bagi dong jangan cuma bagiin duit doang, kita ini berteman hampir tiga tahun lho," ujar Kevin. Bangkit mendengkus, ia menatap jalanan yang mereka lewati cukup ramai oleh lalu-lalang kendaraan. "Nggak apa-apa," balas Bangkit. "Lo nggak mau cerita?" desak Kevin. "Hati-hati, Bang. Kalau nggak mau cerita lo bisa kena azab, nanti judulnya Bangkit mati menganga akibat tak mau bicara," timpal Adam. "Gue lagi stres," aku Bangkit. "Kenapa?" sahut Adam dan Kevin bersamaan. "Memori malam itu nggak mau hilang." "Gampang, Bang, gampang," sahut Adam. "Lo jedotin aja itu kepala ke tembok biar amnesia, nanti juga bakal lupa." Kevin menoleh ke belakang, "Heh, koreng onta! Kasih saran yang beneran dikit lah, lo mau matiin Bangkit?" "Dia aneh, mana ada lupa segampang itu kecuali mau cepat embah-embah aja." Bangkit kembali diam, enggan ambil pusing dengan celotehan Adam, toh sifat temannya yang satu itu memang suka asal ceplos. Sedangkan Kevin tipe manusia yang selalu menjaga bicaranya jika hal serius, ia juga hobi membully Adam. Mobil Kevin berbelok melewati gerbang SMA Gautama, parkiran mobil masih terlihat sepi, jadi ia mudah memilih tempat yang dekat dengan pintu keluar. Setelah mobil berhenti, Bangkit melompat keluar tanpa membuka pintunya karena mobil sport Kevin memang tak dilengkapi atap. Bangkit meninggalkan kedua temannya yang menatap punggung remaja itu dengan kening berkerut. "Itu anak lagi kenapa sih?" tanya Kevin yang melangkah di sisi Adam. "Lagi mau nyari koreng onta kali." Kesal, Kevin menjitak kepala Adam. "Gila lo!" Setelahnya ia berlari mengejar Bangkit, begitu juga dengan Adam. *** Bangkit masuk ke dalam lift lebih dulu, meninggalkan Adam dan Kevin yang masih mengejarnya. Ternyata ia tak menekan tombol angka tiga melainkan tombol angka dua, Bangkit ada di antara siswi-siswi kelas sebelas di dalam lift itu. Ia tak peduli bagaimana hati para siswi di sana melambung karena kehadirannya di tengah-tengah mereka, hanya ia pula yang laki-laki dan Bangkit berdiri paling belakang, menunggu hingga pintu lift terbuka. Ketika pintu lift terbuka, semua siswi kelas sebelas yang ada bersama Bangkit keluar lebih dulu. "Hey, kalian!" seru Bangkit. Semua siswi itu menoleh, menunjukan raut bingung dan ada juga yang tersenyum. "Kalian tahu kelas Permata?" tanya Bangkit datar. Mereka saling tatap, bertanya-tanya siapa itu Permata? Maklum saja gadis yang disebutkan namanya adalah siswi baru, jadi belum semua mengenalnya. "Permata itu siapa?" "Oh, yang anak baru itu kali." "Teman sekelas gue itu." "Yang jualan donat?" "Eh, yang videonya viral itu, kan? Kak Bangkit tembak dia?" "Yang ngatain Kak Bangkit Fir'aun?" Semua ocehan itu terdengar cukup jelas di telinga Bangkit, ia berdehem agar semuanya diam. Mereka langsung diam. "Jadi, ada yang tahu kelas Permata nggak?" ulang Bangkit. Salah satu siswi mengangkat tangannya, "Aku tahu, Kak. Dia teman sekelas aku kok, IPA dua." "Oke." Bangkit melenggang melewati mereka semua, aroma parfum yang lembut menyeruak menembus hidung para siswi di sana. Astaga mereka terpaku dengan si rupawan yang nakal itu. "Permata itu beruntung, pagi-pagi udah dicariin sama cowok ganteng. Kak Bangkit lagi," ujar salah seorang siswi berambut hitam sebahu. "Iya deh, itu anak masih baru, tapi udah nyuri perhatian duo kembar itu. Masih ingat nggak pas Kak Tegar rela jualin donat dia di kantin, so sweet banget," sahut sebelahnya. "Iya benar banget tuh, benar banget," timpal lainnya setuju. Bangkit terus melangkah di koridor lantai dua, menjadi pusat perhatian entah laki-laki atau perempuan. Dia tampak tak acuh pada mereka semua, bukan teman dan tak ingin mengenal, itulah Bangkit. Ia hanya akrab dengan teman sekelasnya atau dua alien Planet Mars, Adam serta Kevin yang dekat dengannya sejak kelas sepuluh. Pandangan Bangkit mengarah pada beberapa pintu kelas yang ia lewati, masih berada di barisan IPS hingga senyum miringnya muncul ketika menemukan kelas gadis itu. Ia langsung masuk ke dalam, berdiri di dekat meja guru dan menatap sekeliling, penghuni kelas terlihat bingung ketika Bangkit masuk dan hanya diam. Itu tukang donat ke mana? Batin Bangkit, ia menghampiri seorang siswi yang duduk sendirian pada barisan meja paling depan pojok kanan. "Permata mana?" tanya Bangkit datar. "Permata? Tadi keluar sama Amira, kayaknya taruh donat dia di kantin, Kak," sahut gadis berkacamata. "Oke, thanks." Bangkit berdecak, keluar dari kelas menuju kantin. Setelah Bangkit keluar, semua orang lantas berkerumun mengampiri gadis berkacamata tadi hanya untuk bertanya apa keperluan Bangkit sampai masuk kelas mereka. Sedangkan gadis yang tengah dicarinya sedang duduk dengan Amira di dalam kantin, ia baru saja menitipkan donat dagangannya di atas etalase stand kue milik Bi Imah, Permata terlihat meneguk air mineral dari botol hingga habis. Juntaian kabel headset masih menggantung di bawah kedua telinganya, musik adalah obat penenang meski tak seampuh obat bius. Amira sibuk dengan ponselnya, ia tak menyadari jika di belakang Permata sudah berdiri sosok Bangkit yang hanya diam, hendak menyapa mungkin tak sudi. Yakinlah bahwa Bangkit bukanlah manusia yang suka menyapa orang lain. Ketika mata Amira mengalihkan fokus dari ponselnya, ia melihat Bangkit yang berjongkok di belakang kursi Permata sembari berbuat jahil. Salah satu tali sepatu milik Permata tengah diikat oleh Bangkit dengan salah satu besi penyangga kursi. Sontak Amira melotot, hendak memberi tahu Permata yang belum sadar sama sekali, tapi telunjuk Bangkit yang ia tempel pada bibirnya sembari menatap Amira sudah cukup menegaskan bahwa dia harus diam sekarang, Amira hanya bisa pasrah daripada berurusan dengan Bangkit. Setelah itu Bangkit beranjak, ia tersenyum jahil. Tangannya menarik ikat rambut Permata, membuat gadis itu melepaskan headsetnya dan menoleh, sekarang permainan akan dimulai. Permata beranjak tatkala mendapati Bangkit mengangkat ikat rambutnya itu. "Sini balikin punyaku!" hardik Permata. "Mau ini, hm? Ambil sini ambil," ledek Bangkit. Mereka mulai jadi pusat perhatian orang-orang di kantin. "Bangkit! Balikin ikat rambutnya!" "Ambil nih, kejar gue dulu baru gue kasih." Bangkit berlari di dalam kantin sembari menjulurkan lidah, ketika Permata melangkahkan kakinya ia langsung tersungkur akibat kursi besi yang didudukinya ikut bergerak dan menimpa tubuh Permata, ia tergesa melangkah karena ulah Bangkit. Semua orang langsung terbahak melihat kesialan gadis itu pun dengan Bangkit yang sangat bangga bisa mengerjai Permata. Amira lantas menghampiri gadis itu, melepaskan ikatan tali dari besi penyangga kursi. "Ayo, Ta. Berdiri," ajak Amira sembari membantu Permata berdiri, kondisi gadis itu cukup berantakan apalagi rambutnya yang tergerai menutupi wajah. Orang-orang masih saja terbahak, satu pun dari mereka bahkan tak menolong Permata. Apa SMA Gautama adalah neraka, jadi hati mereka terbuat dari batu semua? Sekaku itu melihat orang yang butuh pertolongan. Bangkit menghampiri Permata yang sudah berdiri, rambut gadis itu terlihat dirapikan oleh Amira. Ia sungguh menyesal tak mengatakan apa pun pada temannya, ternyata dosa lebih mudah daripada mengakui kejujuran. Wajah Permata merah padam, dadanya naik turun, tangannya mengepal menatap Bangkit yang menyeringai padanya tanpa dosa. Bangkit terbahak, "Gimana rasanya? Enak, kan?" Permata lantas merebut ikat rambut dari tangan Bangkit lalu mencepol rambutnya asal, alisnya bertaut menatap laki-laki itu sembari menunjuk dadanya. "Dengar ya Bangkit Gautama, aku nggak takut sama apa pun ulah kamu. Kamu pikir kamu tangguh? Enggak, kamu cuma ambil keuntungan karena jadi cucu Kakek Aryo. Ingat ya, aku lebih tangguh dari kamu!" tandas Permata, setelah berkata demikian gadis itu melenggang pergi meski orang-orang bersorak-sorai akibat kesialannya, Amira ikut meninggalkan Bangkit dan mengejar Permata. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD