22.

1125 Words

Eboni itu seperti pendar lintang, Seperti angin sore yang menyapa ilalang. *** Bangkit hendak menghampiri Permata, tapi sosok Tegar lebih dulu melewatinya menyambut kedatangan gadis itu. Terpaksa Bangkit mengurungkan niat, ia tetap berdiri kokoh di tempatnya, menatap mereka penuh rasa kecewa. Raut awal yang tampak bahagia kini berubah miris, sorot mata Bangkit pun redup dalam sekejap apalagi setelah melihat Permata tertawa lepas saat bercengkrama dengan Tegar, hal itu makin membuat Bangkit kesal. Ketimbang ia menahan kesal yang tiada akhir, Bangkit memilih beringsut masuk ke dalam rumahnya. Ia tak peduli pada tamu-tamu yang makin ramai berdatangan. Bangkit membanting pintu begitu saja, melepas jasnya dengan paksa lantas melempar benda itu ke selasar. Bangkit menjatuhkan tubuhnya di te

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD