Daru duduk memeluk lutut di atas lantai, tubuhnya bergetar dari kepala hingga kaki, nafasnya sampai putus-putus menahan isak tangis yang tak kunjung berhenti. Hatinya tak pernah terasa sesakit ini, seperti luka yang menganga dan disiram air keras, perih!
Perlahan Daru menyeret tubuhnya, merapat ke samping kursi tempat jaket hitam Raka tergeletak. Ia bersyukur belum mengembalikan benda itu, satu-satunya benda milik pria yang dicintainya yang kini entah berada dimana?
Daru tidak mengenal pria tadi, Raka-nya tidak mungkin tega menyakitinya, membuatnya menangis, apalagi ketakutan.
" Mas...kenapa...kenapa Mas tega melakukan itu padaku? Apa salahku Mas...?" Daru mendekap jaket Raka erat-erat. Ia mencoba menghirup bau pria yang telah mencuri hatinya pada jaket itu, namun sayang, baunya sudah memudar, seolah ikut meninggalkan Daru sendiri dalam kesedihan. Lelah dengan goncangan batin yang menyiksa, akhirnya, Daru jatuh tertidur di atas lantai yang dingin, sembari memeluk satu-satunya benda yang ditinggalkan oleh Raka, lelaki yang sudah menorehkan luka menganga di hatinya.
***
Jauh di tengah salah satu pusat perbelanjaan terbesar Ibukota Jakarta, dua orang pria sedang asik bercengkrama setelah menghabiskan waktu mencari buku favorit mereka.
" Syukurlah bukunya udah ada yah Kak, Aku udah nungguin buku ini publish dari sebulan lalu Loh. I'm almost crazy for waiting !! Menanggapi celotehan cowok imut disampingnya, pria berkacamata yang diajaknya mengobrol hanya bisa menahan cengiran di bibirnya. Ia juga sudah lama memenunggu terbitnya buku itu, tapi Ia hanya bisa mengekspresikan kebahagiaannya dalam hati, bukan di umbar-umbar seperti marmut kecil yang sedang diajaknya jalan ini.
" Kamu gak capek Vin? Mau singgah ke coffeeshop dulu gak sebelum balik?" Tawaran pria berkacamata disampingnya refleks membuat mata Alvin berbinar-binar, tentu saja Ia mau, sudah tak sabar rasanya Ia ingin membuka buku National Geo yang baru saja di belinya.
" Iya Kak gue mau, yuuk...yuuk buruan." Tanpa sadar Alvin menarik-narik tangan Galih, cowok yang di tarik-tariknya itupun hanya bisa pasrah sembari menggeleng-gelengkan kepala. 'Gue berasa lagi jalan ama anak gua' batin Galih dalam hati meskipun Ia belum menjadi seorang Ayah.
Galih memilih coffeeshop yang bernuansa outdoor agar Ia bisa menghisap rokok, dan lagi Galih memang lebih suka nongkrong di ruang terbuka ketimbang terkurung dalam ruangan.
" Gak papakan kalau kita di luar? Atau, kamu mau di dalam aja?" Tidak ingin terkesan memaksakan kehendak, Galih tetap bertanya pada Alvin, siapa tahu Ia tidak bisa berkompromi dengan angin malam dan asap rokok.
" No problemo Kak! Gue sih di pinggir jalan juga oke-oke aja, santaii...," Jawaban Alvin membuat Galih tersenyum dalam hati, Ia lupa jika anak yang diajaknya ini bukan tipe anak yang rempong kayak sih Putra, meskipun terkadang, bukan terkadang sih sebenarnya, seringnya Alvin kelewat hyperaktif hingga menarik perhatian banyak orang. Mungkin untuk beberapa orang tingkah Alvin sedikit memalukan, tapi bagi Galih, Alvin anak yang menarik, lucu, juga tak terduga, cowok tampan itu bisa merasakan berbagai macam emosi saat bersama Alvin, waktu yang mereka habiskan bersama jadi tidak membosankan sama sekali.
" Kak Galih, Mas-nya nanya tuh mau pesan Apa?" Alvin mengguncang-guncang tangan Galih yang tiba-tiba bengong di depannya.
Galih mengerjap-ngerjapkan mata terkejut kemudian berbalik menghadap waiter yang sepertinya sudah lelah berdiri disana.
" Akh sorry...Saya pesan Toraja coffee-nya satu." Waiter tadi segera mecatat pesanan Galih, kemudian segera berlalu setelah mengulang kembali pesanan kedua pelanggan-nya itu.
" Kakak kok ngelamun sih? Kayak Daru aja doyannya bengong." Tetiba Alvin teringat akan sahabatnya yang akhir-akhir ini pikirannya suka mengawang-ngawang, entah apa yang menjadi beban pikiran Daru, sahabatnya seolah berusaha untuk menutup-nutupi sesuatu, Alvin tahu itu.
" Akh...Aku cuma lagi pikirin tentang buku yang baru kita beli tadi, kamu gak mau membukanya?" Galih terpaksa bohong, tidak mungkin kan Ia jujur pada Alvin kalau sedari tadi dirinya memikirkan anak itu. Seolah tersadar dengan niatan awalnya untuk cepat-cepat pergi ke cafe, Alvin buru-buru mengeluarkan bukunya dari bungkusan plastik di pangkuannya. Dengan tak sabaran, tangan-tangan kecilnya merobek plastik pelindung buku tersebut lalu membukanya lebar-lebar di atas meja.
Gambar-gambar berbagai jenis serangga seketika membuat Alvin heboh sendiri, Ia melompat-lompat kegirangan di kursinya layaknya anak SD yang sedang di cekoki film kartun.
" Kak Gal lihat! Mereka menemukan spesies serangga baru dengan racun yang sangat mematikan! Waaah...tekstur tubuh serangga ini juga keren sekali, kompleks bener!" Sambil menghisap batang rokoknya, Galih mengintip ke arah buku besar yang di perlihatkan Alvin. Serangga baru itu memang menarik, tetapi bagi Galih, Alvin tampak jauh lebih menarik saat membahasnya, membuat Galih terheran-heran, sejak kapan ketertarikannya pada National Geo dikalahkan oleh cowok imut yang tengah memperagakan gerakan-gerakan serangga di depannya itu. Aneh!
" Kak lihat! serangga ini imut sekali!!" Galih kembali menengok ke halaman buku yang di tunjuk Alvin, lalu matanya segera beralih memandang anak itu, seolah membandingkan mana yang lebih imut, Alvin atau serangga tersebut.
" Menurutku serangganya biasa aja, malahan yang lebih imut itu...," baru saja Galih mau menyebut nama Alvin, tiba-tiba waiter yang melayani mereka tadi muncul membawa nampan berisi Toraja Coffee miliki Galih, dan Green Tea latte favorit Alvin. Melihat minumannya sudah ready di depan mata, cowok berwajah marmut di depan Galih langsung menutup bukunya. Ia tidak ingin buku berharganya sampai ternodai setetes pun dari minumannya, apabila tanpa sengaja Alvin nyembur atau tersedak.
" Kakak juga doyan minum kopi yah? Kata Daru, Mas Raka-nya juga suka banget minum kopi." Alis Galih seketika bertaut mendengar omongan Alvin, Raka-nya?? Sejak kapan Raka jadi milik Daru??
Menyadari jika baru saja Ia keceplosan, Alvin refleks menutup mulutnya.
'Dasar mulut besaarr!!' Makinya pada diri sendiri.
" Sebenarnya sudah lama aku pengen nanya tentang hal ini, tapi gak pernah kesampaian..." Ujar Galih sembari menyesap coffee-nya. Di hadapannnya, Alvin mulai tampak tidak nyaman. Ia curiga jika Galih akan menanyakan perihal hubungan Daru dan Raka.
Tak butuh waktu lama bagi Alvin untuk menduga-duga, sebab Galih langsung berbicara to the point padanya.
" Mereka berdua...saling suka yah? Aku bisa lihat dari ekspresi mereka kalau membicarakan satu sama lain. Hanya saja aku gak tahu, apa mereka sudah jadian atau belum?" Menanggapi pertanyaan Galih, Alvin hanya mampu menghela nafas perlahan, syukurlah Ia tidak perlu memberi tahu Galih jika Daru menyukai Raka, cowok itu jelas sudah menyadarinya, jadi tak ada salahnya kan jika dia jujur pada Galih, lagipula Galih tidak terlihat seperti cowok bermulut ember seperti dirinya. Batin Alvin.
" Mereka belum jadian kok Kak, gue juga gak ngerti sama mereka berdua, udah terang-terangan gitu nunjukin perasaannya, masih juga diem-dieman, tau sampe kapan.." Galih mencoba berpikir dari sudut pandang Raka, memang tidak biasanya sahabatnya itu memendam cinta terlalu lama pada seseorang, tetapi kalau dilihat dari siapa orang yang telah merebut hatinya yah wajar saja kalau Raka sedikit mengulur-ngulur waktu. Setahu Galih, Raka itu straight, mungkin saja sekarang Ia sedang mencoba meyakinkan dirinya apa Daru memang adalah pilihan yang tepat, namun tidak menutup kemungkinan juga jika Raka hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Daru. Yah...mungkin saja. Pikir Galih.
" Tapi gue udah janji ama diri gue sendiri Kak, kalau sampai sahabat kakak itu nyakitin Daru, gue gak akan tinggal diam. Awas aja kalau dia berani PHP-in sahabat gue, gue potong juga tuh 'barang'nya!" Perkataan Alvin nyaris membuat kopi yang di minum Galih tersembur keluar. Ia benar-benar tidak menyangka cowok yang sedari tadi dianggapnya menggemaskan itu bisa berubah jadi 'laki' banget saat menyinggung sahabatnya. Daru benar-benar beruntung memiliki sahabat yang begitu peduli padanya.
" Jangankan Kamu, Aku juga gak bakal tinggal diam kalau Raka sampai menyakiti Daru, dia udah aku anggap seperti adek Aku sendiri, jadi kamu tenang saja key! Lagian aku percaya, Raka itu cowok baik apalagi jika dia sudah mencintai seseorang, Ia pasti akan melindungi orang itu dengan sepenuh hati, kecualii...-Galih tiba-tiba terdiam sehingga menimbulkan pertanyaan di benak Alvin, " kecuali apa Kak?" Tanyanya.
" Kecuali ada orang yang sudah membuatnya cemburu, Raka bisa lupa diri saat sedang cemburu, tak jarang Ia putus dengan mantan-mantannya hanya gara-gara kesalahpahaman yang membuat Raka jealous. So...kamu ingatin Daru, siapa tahu kedepannya mereka bakal mengalami hal yang sama." Alvin manggut-manggut mengerti, kalau begitu, Daru gak boleh terlalu dekat dengan Kak Satya, bisa berabe jika Raka sampai tahu. Pikir Alvin, tanpa mengetahui jika saat ini, sahabatnya sudah terluka akibat menghadapi sang pujaan hati yang tengah di bakar api cemburu.
Setelah menghabiskan minumannya, Galih mengantar Alvin pulang. Saat sudah mendekati area kompleks perumahan marmut kecil itu, tiba-tibaa saja Ia menyuruh Galih untuk menurunkannya di pinggir jalan.
" Kak berhenti di sini aja, rumah gue udah dekat kok." Tentu saja permintaan Alvin tak di ijabah oleh Galih, mana mungkin Ia dengan tidak bertanggung jawab meninggalkan Alvin sendirian di pinggir jalan, mana Dia yang sudah mengajaknya keluar.
" Kenapa dek? Emang Aku gak boleh antar sampai ke rumahmu? Bukannya nanti kamu malah di tanya-tanya kenapa pulang sendiri." Alvin menggigit bibir frustasi, membayangkan Galih mungkin akan dikeroyok oleh kakak-kakaknya membuatnya merinding. Ia tidak ingin Galih menjadi enggan mengajaknya jalan lagi setelah bertemu kakak-kakaknya, Mereka kan paling tidak bisa melihat Alvin keluyuran tidak jelas, apalagi ini dengan seorang pria. Oke...Alvin tampak seperti gadis perawan sekarang, tapi memang seperti itulah Ia dijaga oleh kakak-kakaknya, layaknya gadis perawan!
" Lain kali aja yah Kak, Aku gak bisa bilang alasannya ke kakak sekarang, tapi Aku janji nanti bakal cerita." Tidak ingin memaksa Alvin yang mulai terlihat tidak nyaman, akhirnya Galih mengalah, namun hanya untuk kali ini saja, karena Ia tidak mau jadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
" Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati yah ," Alvin mengangguk semangat, untunglah Galih bisa diajak berkompromi.
Sebelum turun dari mobil, Alvin kembali berbalik dan menatap Galih.
" Makasih banyak buat hari ini yah Kak, gue seneng banget bisa habisin waktu dengan teman yang se-hobi." Senyum lebar menghiasi bibir Alvin. Galih yang melihat senyum itu seketika merasakan gejolak aneh di dirinya, darahnya berdesir menimbulkan efek geli di sekitar perutnya. Perasaan apa ini?
" Bye Kak!" Tanpa menunggu respon dari Galih, Alvin sudah melompat turun dari mobil, sambil berlari melambaikan tangan tinggi-tinggi ke arah pria yang kini diam membatu menatap kepergiannya.
"Bye Vin...," gumam cowok tampan berkacamata itu, kemudian menstarter mobil meninggalkan lorong kompleks, dengan senyuman kecil tersungging di bibirnya.
***
" Mau sampai kapan Lo ngurung diri disini? Makan malam gih, dah gue siapin." Suara lembut Karina membahana dalam ruangan dingin dan gelap di apartemennya.
Sebenarnya ruangan itu adalah gudang, tapi karena adik tirinya dengan seenak jidat merubahnya menjadi ruang kerja pribadinya, maka Karina tidak bisa berbuat apa-apa, Raka is so pushy sometimes.
"Lo makan aja sendiri, gue gak nafsu." Mendengar adiknya yang mulai bersikap keras kepala, mau tidak mau membuat Karina turun tangan, Ia tidak bisa membiarkan adik yang sangat di cintainya itu down hanya gara-gara masalah percintaan. Lagipula masalah Raka hanya terkait kecemburuan tak beralasan saja dan Ia sudah bertingkah seperti kekasihnya baru saja naik ke pelaminan bersama orang lain. Karina tidak habis pikir, sejak kapan Raka berubah menjadi cowok melow dramatis seperti ini.
Sudah empat jam Raka mengurung diri di dalam gudang apartement kakaknya semenjak pertengkarannya dengan Daru di rumah beberapa jam yang lalu. Ia tak bisa menghilangkan wajah Daru yang berlinang air mata dan memandangnya penuh amarah, juga rasa sakit. Raka marah pada dirinya sendiri, Ia tidak pernah belajar dari kesalahan. Ini bukan pertama kalinya Raka lepas kontrol akibat dibakar oleh api cemburu, dan kali ini Ia benar-benar menyesal. Ia tak sanggup untuk bertemu dengan Daru, Ia takut jika anak itu tak mau melihatnya lagi, dan lebih parah kalau sampai Ia membencinya. Kehilangan Daru adalah ketakukan paling besar yang dimiliki Raka saat ini, Ia tidak peduli jika Tuhan ingin mengambil nyawanya asal bukan Daru yang di rebut darinya. Melihat bagaimana Daru tersenyum manis pada pria lain selain dirinya refleks membuat darah Raka mendidih, Ia tidak rela, Ia tak sanggup menahan gejolak amarah di hatinya. Raka sangat mencintai Daru saking cintanya Ia nyaris gila karena cemburu. Berhari-hari Raka tidak tidur hanya untuk menyelesaikan hadiah buat pujaan hatinya itu, niatnya ingin pulang ke rumah untuk melihat lesung pipi Daru yang merupakan charge paling mujarab bagi tubuhnya menjadi malapetaka yang membuat mereka semakin jauh. Akibat terlalu fokusnya Raka dalam proyek pembuatan hadiah ulang tahun Daru ditambah lagi dengan menjaga Karina, Ia sampai lupa, lupa jika telah meninggalkan pujaan hatinya sendirian dalam penantian yang tak pasti.
" Mau sampai kapan Lo kayak anak gadis yang habis putus cinta mengurung diri disini? Lo bikin malu gue aja dek!" Seru Karina geram di samping Raka yang duduk di lantai sembari meremas rambutnya.
" Dia benci ma gue Rin, gue gak tau lagi untuk apa gue hidup kalau Daru ngebenci gue." Andai saja saat datang tadi Raka tak bercerita perihal Daru yang menamparnya akibat ketololannya sendiri, mungkin sekarang ini Karina juga sudah menggampar adiknya itu dengan sandal.
" Lo udah sinting!! Terus kalau Lo mati, Daru bakal maafin Lo gitu? Yang ada dia malah tambah benci karena Lo udah ninggalin dia sendiri!"
" Terus sekarang gue harus ngapain?!! Daru pasti dah jijik banget ma gue Rin! Dia bilang gue Jahat !!" Bukannya tenang Raka semakin frustasi, wajahnya memerah akibat menahan segala emosi dalam dirinya.
" Apalagi yang bisa Lo lakuin selain minta maaf dan nunjukin ke dia kalau Lo benar-benar nyesal udah nyakitin dia! Jujur ama perasaan Lo ke dia! Bilang kalau Lo cemburu karna Lo cinta ma dia, Lo gak mau liat di dekat dengan orang lain! Lo udah susah payah buat semua ini untuk Daru, gue yakin, Dia pasti bisa ngerasain betapa Lo sangat mencintai dia." Raka mengangkat wajahnya, Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan melihat satu persatu hasil karya yang sudah dia rakit penuh perasaan untuk Daru. Yah...Dia tidak boleh menyerah semudah itu, ulang tahun Daru tinggal menghitung hari, Ia sudah mengorbankan segalanya hanya untuk membuat Daru bahagia di hari ulang tahunnya.
" Apa menurut Lo dia bakal maafin gue Rin?" Tanya Raka lalu menatap mata Karina, seolah mencari kejujuran disana.
Karina mengangguk sambil tersenyum, senyum yang membuat hati Raka tentram seketika.
" Jika Lo tulus mencintai Dia, gue yakin, perasaan Lo bakal sampai kepada orang itu." Raka refleks memeluk erat tubuh Karina.
Ia bersyukur kakaknya itu ada di sampingnya, kalau tidak, Raka akan terus terkungkung dalam pikiran-pikiran negatifnya.
" Thanks. I don't know what to do if ur not with me sis." Karina menepuk-nepuk punggung Raka pelan.
" Ur welcome my troublesome bro !"
Jauh dari tempat Raka berada, malam yang dingin dilalui Daru dengan kesendirian, dirinya terlelap dengan air mata yang jatuh membahasi jaket hitam dalam dekapannya. Samar-samar Ia bergumam dalam lelap,
" ...Aku...merindukanmu...Mas"
***
Cahaya matahari yang merembes masuk menembus celah-celah gorden di kamar gelap Daru refleks membangunkan pemuda manis itu. Perlahan Ia membuka mata dan merasakan sakit yang teramat sangat di pundak juga punggungnya. Semalam terbaring di atas lantai yang dingin membuat tubuhnya drop.
Susah payah, Daru bangkit dari posisi memprihatinkannya kemudian bersandar pada tempat tidur disampingnya. Ia merenggangkan badan lalu tanpa sengaja matanya terpaku pada pantulan dirinya di cermin besar yang berada tepat di seberang ruangan. Wajah, serta penampilan pria dalam pantulan kaca tersebut sama sekali asing bagi Daru. Ia tidak ingat jika memiliki tubuh yang sangat kurus, wajah tirus, serta mata bengkak dengan rona merah gelap menghiasi sekelilingnya, tak luput gurat-gurat kelelahan tersebar di seluruh wajahnya.
'Apa itu aku?' Tanya Daru dalam hati.
Tidak percaya akan apa yang dilihatnya di cermin, Daru segera bangkit berdiri. Dengan terhuyung-huyung Ia melangkah semakin dekat ke arah orang asing yang berada di dalam kaca. Saat sudah berhadapan dengan orang tersebut, tangan Daru yang bergetar mencoba menyentuh wajahnya. Wajah pria itu sangat menyedihkan, seolah jasad-nya baru saja ditinggal oleh arwah yang bersemayam dalam tubuhnya.
Seketika Daru terkejut, saat tiba-tiba saja setetes air mata mengalir di pipi pria malang itu.
'Jangan menangis...kau kuat. kau tidak boleh menangis oke' Bisik Daru lembut sembari mengusap cermin yang memantulkan dirinya yang tengah menangis.
'Kita bisa melalui ini, yah...kita pasti bisa'
Setelah memberikan semangat pada bayangannya sendiri, cowok manis itupun segera berlalu dari hadapan cermin dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
Kurang lebih satu jam, Daru berkutat di bawah shower tanpa melakukan apapun. Ia membiarkan air hangat jatuh membasahi sekujur tubuhnya, seolah berharap segala kepedihannya bisa ikut mengalir bersama air yang membasuhnya. Sesekali Daru menengadahkan wajah, merasakan butir-butir air jatuh layaknya hujan di pagi hari. Hatinya sudah sedikit tenang sekarang, Ia telah mengurung kenangan pahit kemarin jauh di dalam kotak terkecil hatinya.
Cinta...Dia sendiri yang sudah memutuskan untuk membiarkan cinta bersarang dan terus tumbuh dalam dirinya, apabila tiba saat dimana cinta itu menorehkan luka di sekujur tubuhnya, maka Daru harus siap untuk menahan rasa sakitnya.
Sulit...pada awalnya memang sulit, tapi jika kita bisa bersahabat dengan rasa sakit itu, bukannya Ia akan menjadi senyuman pada akhirnya. Sesaat Daru teringat akan duka yang dialami sang Ibu ketika ditinggal pergi untuk selamanya oleh pria yang sangat dicintainya, kala itu wajah Ibunya selalu terlihat mendung meski mentari bersinar terang di atas kepalanya. Tak jarang hujan bertamu di kedua matanya yang bulat walau kemarau tengah menerjang pelosok-pelosok bumi.
Saat itu, Daru hanya bisa memberikan senyum termanisnya agar sang Ibu bisa bangkit, bangkit dan percaya jika hidupnya masih berjalan, cintanya tidak mati, Ia tidak pernah pergi meninggalkannya, karena cinta itu sudah mengakar dalam hatinya hingga menembus ke jantung dan seluruh pembuluh darahnya.
Tidak jauh berbeda dengan cinta yang kini mulai tumbuh di hati Daru, Ia tidak bisa membunuh cinta yang bahkan belum memiliki tunas apalagi buah itu, karena jika Ia melakukannya, maka Ia sudah membunuh dirinya sendiri, membunuh sesuatu yang berharga yang di sebutnya kebahagiaan.
Merasa tubuhnya kini sudah kembali fit, Daru beranjak dari bathroom stall, mengeringkan tubuhnya, lalu kembali ke kamar untuk berpakaian dan bersiap-siap pergi ke kampus.
***
Pagi-pagi sekali Satya sudah membuka ruang Bem, di punggungnya tersampir tas berisi boneka-boneka puppet untuk salah satu tugas kuliahnya.
Ia mendesah pelan lalu mengeluarkan satu persatu boneka itu. Ada lima model boneka yang dibuat Satya, rabbit, cow, bear, panda, and duck.
'Gue berasa kembali ke zaman Sd, tapi yah sudahlah, namanya juga seniman'
Satya kembali merapikan bonekanya saat tanpa sengaja matanya melirik ke luar jendela dan mendapati cowok manis pencuri hatinya sedang melintasi halaman fakultas. Kening Satya berkerut, Daru tampak berbeda hari ini, wajahnya kelihatan murung.
'Calon pacar gue kenapa tuh? Hmmm...kayaknya gue harus ngelakuin sesuatu...' batin Satya kemudian buru-buru menyambar dua boneka puppetnya, satu model rabbit, dan satunya lagi model duck.
Satya mengambil posisi bersembunyi di balik pohon , dekat taman pertemuan anggota Bem, Ia menunggu sampai Daru lewat baru kemudian menjalankan aksinya.
Cowok manis bertubuh ramping yang belakangan ini tampak semakin ramping, berjalan perlahan menyusuri halaman fakultas-nya. Hari ini Ia sengaja datang lebih pagi dan mungkin untuk seterusnya Ia akan berangkat lebih awal. Berada sendirian di dalam rumah sebesar rumah Raka membuat Daru merasa tidak nyaman, seolah seluruh dunia sengaja meninggalkannya sendiri dalam sepi. Rumah yang akhirnya bisa Daru anggap sebagai rumah keduanya, kini tak lagi memberikan kesan hangat, hanya ada kekosongan yang mencekam, dingin, sepi layaknya kuburan.
Daru semakin mempercepat langkah, Ia ingin segera tiba di perpustakaan lalu menghilang di balik halaman-halaman buku tentang seni kesukaannya.
Saat melewati taman asri tempat Ia dan Satya kemarin mengobrol, tiba-tiba Daru merasa ada seseorang yang mengikutinya. Cowok manis itupun berhenti berjalan, Ia diam membatu di tempatnya, mencoba mendengarkan langkah kaki samar yang mengendap-ngendap di belakangnya. Dengan satu tarikan nafas, akhirnya Daru memberanikan diri untuk berbalik.
" Selamaaat pagiii...Aku rabbit, dan aku Duck, salam kenal ~~~"
Mata Daru melebar, Ia mundur satu langkah akibat terkejut oleh dua boneka puppet bermodel rabbit dan duck yang muncul secara tiba-tiba di depan wajahnya, mana suara kedua boneka itu terdengar sangat aneh. Daru jadi tertawa terpingkal di buatnya.
" Selamat pagi juga Rabby, ducky...," meskipun bingung dengan ulah Satya yang ajaib, Daru tetap berusaha memainkan peran dengan baik. Ia tersenyum ke arah dua boneka itu lalu mencubit pipinya.
" Maukah kau bermaiiiiin dengan kamii ~~~?" Tanya mereka.
Tampak Daru sedikit menimbang-menimbang dengan menaikkan kedua alisnya. Tak lama kemudian Ia mengangguk penuh semangat sembari menahan tawa saat Satya keceplosan say Yes! Di depannya.
" Selamat pagi Kak Satya, pagi sekali sudah di ada kampus..."
Satya menurunkan kedua boneka puppetnya dari hadapan Daru, kemudian berjalan disisinya menuju ke arah bangku taman di belakang pohon besar depan mereka.
" Pagi juga...Iyya nih aku mau ngumpulin tugas boneka ini ke dosen." Timpal Satya menunjukkan kedua boneka lucu di tangannya.
" Kalau kamu? Kok pagi banget datangnya? Ada kuliah yah?" Daru menggeleng pelan, raut sedih kembali muncul di wajah manisnya yang tirus.
" Ada apa? Kamu lagi ada masalah? Kok murung gitu?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Satya membuat Daru kaget, Ia tidak sadar jika raut wajahnya berubah hingga pria disampingnya menyadari kesedihannya.
" Akh...nda' kok kak, aku baik-baik saja...," orang buta pun tahu kalau Daru sedang tidak baik-baik saja, jika mendengar suaranya yang bergetar seperti itu.
Karena sadar jika Daru pasti tidak ingin membicarakan masalahnya pada orang asing seperti Satya yang baru dekat dengannya beberapa hari ini, cowok itupun hanya bisa membantu menghiburnya sebisa mungkin. Ia kembali memainkan boneka puppetnya di depan Daru, berusaha membuat anak itu tertawa dengan lelucon-leucon garing yang dilontarkan oleh si Rabby dan Ducky.
Syukurlah usaha Satya tak sia-sia, suara jeleknya mampu memunculkan dua lesung pipi Daru yang sedari tadi mengembara entah kemana.
" Makasih yah Kak sudah hibur Aku. Kakak bener-bener cocok jadi pelawak, hhh".
" Kok pelawak sih Ru? Aku kan mau jadi aktor tampan terkenal, kayak artis Philipina yang namanya Richard Guiterrez itu."
Daru kembali tertawa, apa Satya sadar dengan apa yang di ucapkannya? tapi Ia senang, senang karena Satya bisa menghilangkan kesedihan di hatinya walau hanya sejenak.
Saat tengah asik bercanda dengan seniornya itu, tiba-tiba saja mereka di interupsi oleh kedatangan Alvin. Seperti biasa senyum sumringah tak pernah absent dari wajah marmutnya.
" Waah...pagi-pagi udah dua-duaan, awas Lo kesambet penunggu pohon." Sindir Alvin saat sudah ikut bergabung dengan Daru dan Satya di bangku taman.
" Gak bakalan, kan pawang-nya udah datang..." Balas Satya hingga membuat Alvin mendengus kesal.
Mentang-mentang bisa dekat dengan sahabatnya, kakak ketua Bem-nya itu semakin hari semakin Pd saja.
" Oh Iya Ru, sebentar pulang bareng lagi yah...boleh gak?" Tanya Satya penuh harap pada Daru yang sedang berbicara dengan alvin di sebelahnya.
" Gak boleh!" Jawaban Alvin yang tiba-tiba sontak membuat Satya dan Daru berbalik ke arahnya.
" Kok kamu yang jawab Vin? Kan aku nanyanya ke Daru." Protes Satya.
Di sampingnya Daru hanya bisa diam, bukannya Ia tidak ingin Satya mengantarnya pulang, tapi Daru takut jika kejadian kemarin terulang lagi, walau dia sendiri tidak yakin apa hari ini, besok, atau besok-besoknya, Raka akan pulang ke rumah. Daru terlalu takut untuk memikirkannya.
" Pokoknya gak boleh, hari ini gue yang bakal nemenin Daru pulang. Kakak pulang bareng Kak Zaldhy aja sana...," Alis Satya saling bertaut, Ia kembali ingin mengeluarkan protes tetapi segera di hentikan oleh Daru yang membuka suara.
" Lain kali aja pulang barengnya yah Kak, hari ini Aku pulang sama Alvin dulu..." Satya tak dapat menyembunyikan raut kecewa di wajahnya, tapi apa boleh buat, Ia tak tidak mau di cap sebagai cowok posessive oleh Daru, mereka bahkan belum jadian.
" Ya udah...Kalau gitu aku masuk kelas duluan yah, sampai ketemu lagi Ru, Vin." Pamit Satya pada dua juniornya yang dibalas anggukan serta senyuman manis oleh Daru, dan lambaian tangan dari Alvin.
Satya kemudian berlalu meninggalkan mereka, membawa kekecewaan dalam hatinya karena tak bisa pulang bareng Daru hari ini.
" Kak Satya kayaknya sedih sekali, Aku jadi ndak enak toh Vin...padahal dia udah niat baik mau ngantar Aku." Ujar Daru sambil menatap punggung Satya yang berjalan menjauh dari mereka menuju ke gedung fakultas.
" Udeh biarin aja, hari ini gue mau main ke rumah Lo, boleh kan?" Menyadari jika akhir-akhir ini ada yang berbeda dengan tingkah sahabatnya, tentu saja Alvin jadi penasaran.
Sejak berpisah dari Galih kemarin, dan sempat menghabiskan waktu bbm-an dengan cowok itu sembari membahas tentang Daru dan Raka yang tampak aneh beberapa hari terakhir, Alvin memutuskan untuk berkunjung ke rumah Raka, siapa tahu saja Ia bisa mengendus penyebab sahabatnya uring-uringan juga sering melamun belakangan ini.
" Iyya boleh kok Vin, kita makan siang di rumah aja kalau gitu. Nanti ta' masakin." Alvin langsung ber-hore ria di udara saat mendengar jawaban Daru, sudah lama Ia tidak memakan masakan super lezat sahabatnya, padahal kemarin Ia sempat iri karena Daru hanya membuat bekal untuk Satya saja, syukurlah hari ini rasa iri itu terbalaskan juga.
Usai kuliah jam terakhir mereka, Alvin segera menarik Daru keluar kelas. Ia sudah tidak sabar ingin pergi ke rumah sahabatnya, dan mencicipi masakan Daru.
" Vin mbo' yah pelan-pelan toh, rumah aku juga nda' bakalan lari." Protes Daru yang tangannya kini di tarik-tarik oleh Alvin.
" Gue udah laper nih Ru, Lo tega liat gue menderita karna kelaperan??" Refleks Daru memutar bola mata saat melihat Alvin memasang tampang memelas plus puppy eyes andalannya.
" Ya..wess, ya..wess, tapi lepasin tangan aku dong Vin, nanti orang-orang kira kamu mau nyulik aku." Dengan berat hati Alvin menuruti permintaan Daru, Ia segera melepaskan genggaman tangannya, tapi tetap mendorong-dorong punggung sahabatnya agar mempercepat langkah.
Mereka berjalan menuju ke rumah Raka, namun sebelum sampai di sana, keduanya singgah sebentar di Swalayan membeli bahan-bahan untuk membuat lasagna, fettucini, dan pai.
Sesampainya di rumah, Daru segera mengganti bajunya dengan kaos oblong dan celana pendek santai, Ia juga meminjamkan bajunya pada Alvin yang merengek ingin pakai baju kaos juga. Setelah selesai dengan urusan ganti-mengganti pakaian, mereka berdua turun ke dapur. Alvin yang dari sananya memang tidak paham akan urusan dapur hanya bisa duduk di atas counter sembari mengamati Daru yang mulai mencincang bawang.
" Mas Raka mana Ru? Masih kuliah yah? Kok gue dah gak pernah liat dia lagi??" Pertanyaan beruntun yang keluar dari mulut Alvin seolah memaksa Daru untuk memuaskan rasa penasaran sahabatnya itu, tetapi sebisa mungkin Ia tetap menutupi apa yang sudah dilakukan Raka padanya kemarin.
" Mas Raka sibuk kuliah Vin, kan kemarin Aku udah bilang kalau dia mau proposal jadinya sibuk..." Kilah Daru yang kini memalingkan wajahnya dari Alvin agar anak itu tidak melihat perubahan yang terjadi pada ekspresinya.
"Masa sibuknya tiap hari sih Ru? Lo yakin lagi gak ada masalah sama Mas-mu?" Bukannya berhenti, Alvin malah semakin mendesak Daru.
Ia tahu tidak semestinya memaksa sahabatnya untuk bicara, tapi inikan demi kebaikan Daru sendiri. Alvin tidak ingin Daru memendam masalahnya sendiri, melainkan berbagi dengannya dan menyelesaikannya bersama-sama.
" Iyya Vin. Aku lagi nda' ada masalah kok." Dalam hatinya Daru meminta maaf, Ia tidak bisa menceritakan masalahnya pada Alvin. Cowok manis itu masih percaya jika Ia bisa menyelesaikan semua masalahnya sendiri.
" Ya udah deh kalau gitu! Gue gak bakal nanya-nanya lagi." Alvin mengerucutkan bibirnya sebal.
Marmut kecil itu tahu kalau terjadi sesuatu pada sahabatnya, tapi sayang Daru terlalu keras kepala untuk diajak curhat.
Saat tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Alvin teringat akan pesan Galih kemarin untuk memberi tahu Daru agar hati-hati jangan sampai membuat Raka cemburu, dan Tanpa pikir panjang Alvin-pun memperingatkan sahabatnya.
" Eh Ru...ada yang mau gue omongin ke Lo tentang Mas Raka ..," Seketika Daru menghentikan aktivitasnya merajam bawang saat Alvin tiba-tiba menyinggung nama Raka.
" Apa Vin? Mas Raka kenapa ?" Daru tidak bisa menyembunyikan ke-khawatiran pada nada suaranya, meskipun Raka telah membuatnya terluka, rasa cinta dan pedulinya pada cowok itu sama sekali tidak hilang.
" Santee...Mas-mu gak kenapa-kenapa kok! Gue cuma mau sampein pesan Kak Galih buat Lo, dan ngomong-ngomong Kak Galih udah tau kalau Lo suka sama sahabatnya..." seperti petir yang menyambar di musim hujan, jantung Daru nyaris terhenti mendengar omongan Alvin.
Mas Galih tahu? Apa Alvin yang sudah membocorkannya? Tanya Daru dalam hati.
Menyadari jika sahabatnya itu pasti sudah salah paham, Alvin segera meluruskannya, Ia mengatakan pada Daru jika Kak Galih mengetahuinya dari pengamatannya pada tingkah laku serta ekspresi wajah sahabatnya itu saat membicarakan Raka.
Daru malu sekali mendengarnya, ternyata Ia memang tidak pandai untuk menyembunyikan sesuatu, apalagi perasaannya. Daru suck banget dalam hal itu.
" Te.. terus pesan Mas Galih buat aku apa Vin?" Alvin menarik nafas panjang sebelum memberitahu perihal sifat buruk Raka saat sedang cemburu pada Daru.
Tak lupa Alvin juga berpesan agar Daru jangan sampai mempertemukan Satya dengan Raka, Ia tidak ingin terjadi hal-hal buruk pada sahabatnya jika sampai membuat Raka salah paham dan dibakar api cemburu.
" Astaga...jadi...jadi kemarin itu Mas Raka cemburuu...?" Bisik Daru yang bisa di dengar Alvin dengan sangat jelas.
Sontak marmut kecil itu melompat turun dari aras counter dan memegang kedua bahu Daru.
" Gue tau ada yang gak beres! Sekarang Lo jujur ama gue, apa yang udah Mas Raka lakuin ke Lo Ru? Jujur!" Melihat mata Alvin yang tampak berkilat, juga mendengar suaranya yang tiba-tiba saja menjadi berat dengan intonasi yang sangat mengintimidasi, akhirnya Daru terpaksa jujur.
Perlahan Ia menceritakan bagaimana Raka tiba-tiba marah padanya karena memuji Satya, lalu insiden ciuman itu dan saat Ia menampar Raka, menyebutnya jahat, dan melarangnya untuk menyentuh Daru lagi.
Kenangan-kenangan menyakitkan itu kembali menghantui benak Daru tapi entah mengapa Ia merasa sedikit berbeda sekarang, hatinya tak begitu sakit lagi, apalagi setelah mengetahui sisi lain Raka saat sedang cemburu.
" Gue...gue gak nyangka Mas Raka bisa ngelakuin hal seperti itu Ru! Dasar b******k! Untung aja Lo nampar dia, kalau gak keperjakaan Lo mungkin udah di renggut !!" Alvin tidak menyangka Raka bisa melakukan hal senista itu pada Daru, meskipun Lo cemburu, bukan berarti Lo bisa ngelakuin hal yang seenaknya dong sama orang.
There's no excuse for something horrible like that!
" Terus dimana dia sekarang? Jangan bilang dia langsung kabur seperti pengecut setelah ngelakuin hal yang gak senonoh sama Lo Ru!" Daru terdiam.
Jika Ia juga memberi tahu Alvin perihal buku dan Mas Raka yang jarang pulang sebelum insiden kemarin, sahabatnya itu pasti akan lebih murka lagi.
Terpaksa Daru kembali berbohong pada Alvin, bohong jika masalahnya dan Raka itu sudah selesai, kini hubungan mereka kembali seperti biasa meski sedikit canggung.
" Terus kapan dia pulang? Gue mau ketemu sama dia!" Tidak mudah untuk menghentikan Alvin yang sedang dilanda amarah, kini Daru bingung bagaimana caranya menenangkan Alvin.
" Aku ndak tau Vin, biasanya Mas Raka pulang malam. Kamu kan ndak bisa tinggal disini sampai malam..."
" Sial! Padahal gue pengen banget ngehajar dia. Awas aja kalau ketemu!" Untung saja Alvin tidak mendesak buat tinggal, kalau sampai Ia mendesak, akan ketahuan jika Raka memang tidak pulang.
" Ya wess, kamu nunggu di ruang tengah aja Vin. Aku mau lanjutin masak, bisa-bisa kita telat makan siangnya." Dengan berat hati, Alvin menuruti kata-kata Daru, perutnya juga sudah keroncongan sejak tadi.
" Apa kamu beneran cemburu Mas? Apa Aku masih bisa berharap??" Gumam Daru saat sudah berada sendiri di dapur.
Tiga hari lagi ulang tahun Daru, meski Ia takut untuk berharap kalau Mas Raka akan datang pada hari specialnya itu, entah mengapa jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah harapan muncul, satu-satunya harapan yang dimiliki Daru untuk bisa bersama dengan orang yang sangat dicintainya.
To be continued...