Bukan Alvin namanya jika Ia tega mendiami Daru lebih dari sehari, meskipun kemarin Ia sempat kesal pada sahabatnya yang menolak untuk menemaninya ke cafe, kini Alvin dan Daru kembali bersama lagi, menghabiskan waktu luang mereka di kantin fakultas.
" Eh...Ru! Tau gak kemarin gue ketemu siapa di cafe??" Tanya Alvin girang. Matanya berbinar-binar senang seolah Ia baru saja memenangkan lotre.
" Kak Karina yah?" Tebak Daru. Jika melihat dari ekspresi Alvin yang sangat gembira, kalau bukan Kak Karina, siapa lagi yang bisa membuat sahabatnya tampak seperti orang yang habis menang lotre itu?!
" Salah! Salah! Oh iyya, ngomong-ngomong soal Kak Karina, kok beberapa hari ini gue gak pernah liat dia yah?? Jadi kangeeeeeen~" wajah Alvin tetiba merajuk, absentnya Karina dari pandangan matanya tanpa sadar membuat perhatian Alvin teralihkan dari asdos cantik itu, apalagi setelah sekarang Ia memiliki 'teman' yang sehobi dengannya, Sosok Karina semakin jauh dari benaknya.
" Aku juga nda' tau Vin, semoga dia baik-baik saja dan cepat kembali ke kampus. Aku suka cara dia mengajar." Alvin mengangguk-ngangguk setuju, tak lama kemudian, mata Alvin teralihkan pada pesan Bbm yang muncul di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang cowok imut itu segera memeriksa pesannya yang ternyata dari teman se-hobinya.
Galih Nawira
Hei, bentar ada waktu gak dek? Kebetulan aku mau ke GI buat hunting seri baru buku National Geo, mau ikut?
Mata Alvin seketika melebar membaca bbm dari Galih tersebut, Ia juga tak bisa menahan senyum lebar yang kini menghiasi wajahnya. Ia senang sekaliii!!! Baru kali ini ada yang mengajaknya hunting buku National Geo, biasanya Alvin hanya pergi sendiri untuk mencarinya atau memaksa kakaknya untuk menemani.
Secepat kilat cowok imut itu membalas bbmnya. Ia tidak ingin berlama-lama membalasnya, takut Galih tetiba berubah fikiran dan mengajak orang lain. Heran dengan tingkah Alvin yang senyam-senyum sendiri melihat layar ponselnya, rasa penasaran pun menghinggapi Daru, " Itu siapa Vin? Kayaknya kamu seneng sekali! Gebetan baru yah? Bukannya dari kemarin kamu masih sibuk ngejar-ngejar Kak Karina??" Senyum Alvin semakin lebar, Ia lalu sengaja memamerkan bbm Galih tadi pada Daru. Daru pun segera mendekatkan wajah agar bisa melihat lebih jelas nama serta pesan yang terpampang di layar ponsel Alvin.
" Kak Galih??!! Kamu sama Kak Galih pacaran Vin??" Tanya Daru polos, entah mengapa Ia bisa langsung mengacu pada kesimpulan seperti itu, Alvin saja di buatnya bengong.
" Pacaran apaan?? Emang gua gay!" Perkataan Alvin sontak membuat Daru terdiam, Ia sedikit tersinggung, tetapi secepat kilat Alvin meminta maaf padanya, sahabatnya itu juga tak berhenti merutuki diri karena sudah sembarangan ngomong.
" Gue...gue gak maksud nyinggung Lo Ru, serius, maafin gue yah pliss." Daru tau jika sahabatnya memang tidak bermaksud menyinggungnya, tapi tetap saja perkataan Alvin menohok hatinya.
" Gak papa kok Vin, maafin Aku udah nuduh sembarangan." Melihat Daru menunduk dalam-dalam Alvin semakin kalang kabut, ini bukan pertama kalinya Ia membuat sahabatnya sedih akibat mulut besarnya yang tak terkontrol.
" Gue harus gimana dong supaya Lo gak sedih lagi Ru?? Adduh..tau gue nyanyi aja yah ! ~~~Bang Toyyib Bang Toyyib kenapa gak pulang-pulang-tangan Daru refleks menutup mulut Alvin, Ia malu sekali karena orang-orang di sekitar mereka mulai memperhatikan, dan lagi lagu yang dinyanyikan Alvin mengingatkannya akan Mas Raka yang akhir-akhir ini memang jarang pulang kayak Bang Toyyib.
" Vin kamu jangan nyanyi keras-keras, diliatin orang tuh." Bisik Daru malu.
" lagian gue gak tau lagi gimana caranya ngebuat lo berhenti sedih Ru, maafiiiin yah ~~~" Daru menghela nafas panjang, Ia lalu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
" Jadi, gimana ceritanya kamu bisa janjian sama Kak Galih? Kalian memangnya pernah ketemu??" Alvin mengangguk bersemangat, Ia mulai bercerita tentang pertemuannya yang tak sengaja dengan Galih di Cafe tempo hari, dan bagaimana Ia tiba-tiba excited bercerita mengenai semua hal tentang National Geo pada cowok yang juga memiliki interest yang sama dengannya.
" Oh gitu toh, waah syukurlah kamu bisa ketemu sama temen yang se-hobi Vin, apalagi kalau orangnya sebaik Kak Galih, kamu beruntung."
" Iyya Ru, Dia baik banget, asik pula. Padahal nih ya, awalnya gue pikir dia itu cowok yang kutu buku dan ngebosenin." Penampilan Galih yang terkesan sangat rapi plus kacamata yang bertengger di wajahnya, memang membuatnya terlihat seperti seorang kutu buku yang introvert, but jauh di dalam dirinya Galih adalah Pria yang menyenangkan untuk diajak bertukar sudut pandang apalagi yang menyangkut kehidupan. Tak heran, melihat kebiasaannya memperhatikan sekeliling dimanapun Ia berada, baik kebiasaan orang-orang di sekitarnya maupun keadaan lingkungan disekelilingnya, tak ada satupun yang lewat dari pengamatan Galih.
" Bdw, gimana proyek cover album Lo Ru? Udah beres?" Kali ini gantian Daru yang bercerita tentang bagaimana Satya sang ketua Bem tiba-tiba datang menghampirinya, membantunya mencari ide,dan juga menyelesaikan proyek itu hingga sore hari. Alvin yang sudah mengetahui maksud terselubung dari seniornya itu hanya bisa manggut-manggut, Ia sedikit terkejut dengan pergerakan Satya yang terbilang cukup agresive dalam mendekati Daru, sampai menawari pulang bareng segala. Hebat juga dia. Batin Alvin.
" Ah...Aku lupa pengen kasih ini ke Kak Satya!" Daru mengeluarkan kotak berukuran sedang yang di bungkus oleh plastik putih dari dalam tasnya. Ia lalu menaruh kotak itu di atas meja.
" Apaan tuh?" Tanya Alvin penasaran.
Kalau diliat dari model-modelnya sih seperti handmade bento.
" Aku buatin chicken Katsu saus Teriyaki buat Kak Satya, sebagai ucapan terima kasih. Ehmm...kamu temanin aku ke ruang Bem buat kasih bekal ini ke Kak Satya yah Vin." Pinta Daru. Ia tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di ruang Bem maupun daerah sekitarnya, karena itu, hanya Alvin satu-satunyalah yang dapat Ia mintai bantuan untuk menemaninya.
" Sure, why not ? Ya udah yuk kesana, mumpung kelas kita belum mulai."
Setelah membayar makanan mereka di counter, kedua sahabat karib itupun beranjak meninggalkan kantin. Mereka berjalan sembari bersenda gurau satu sama lain. Menghabiskan waktu bersama Alvin, sejenak mengalihkan pikiran Daru dari pria yang sudah membawa lari hatinya, jauh di dalam dirinya, Daru sangat merindukan kehadiran Raka, mengapa? Mengapa Ia harus selalu pergi meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.
" Ru...Kita udah sampe nih, kok Lo tiba-tiba melamun sih?!" Mereka berdua kini telah berdiri di depan sebuah pintu kayu dengan tulisan 'Ruang BEM Fakultas Seni Rupa' yang terpajang di bagian atas pintu. Daru meminta maaf pada Alvin yang hanya menanggapinya dengan mengedikkan pundak. Ketika Alvin hendak membuka pintu di hadapannya, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dari dalam. Seorang pria berdiri di ambang pintu, memasang tampang terkejut saat matanya menangkap sosok sang pujaan hati.
" Daru?! Pekiknya kaget.
Kentara sekali jika Ia sangat senang melihat orang yang di taksirnya tengah berdiri dihadapannya sembari memamerkan senyum termanisnya.
" Kak Satya...," Satya menggaruk-garuk tengkuknya canggung, cengiran di bibirnya tak dapat Ia sembunyikan sama sekali. Melihat kedua makhluk di samping dan di hadapannya yang saling tatap-menatap canggung, mau tak mau Alvin mencairkan suasana tersebut sebelum Ia eneg melihat wajah seniornya yang mupeng bukan main memandang sahabatnya.
" Pegel nih gue berdiri disini! Boleh masuk gak??" Sindiran Alvin seketika menyadarkan Satya yang masih berdiri menjulang menghalangi jalan masuk ke ruang Bem.
" Oh...sorry Vin, silahkan masuk." Satya menggeser tubuhnya sedikit, namun, bukannya langsung masuk, Alvin malah berbalik menghadap Daru sebentar.
" Lo mau ketemu Kak Satya kan, kalau gitu gue masuk duluan yah. Silahkan kalian ngobrol berdua." Mendengar perkataan Alvin, jantung Satya nyaris keluar menembus dadanya.
"Daru mau ketemu gue? Waaaaaaaaaah...." batinnya kegirangan.
Tanpa berlama-lama menjadi obat nyamuk di sana, Alvin-pun meninggalkan keduanya. Ia menutup pintu ruang Bem di belakangnya lalu ngadem di atas sofa ruangan ber-Ac tersebut.
Satya mengajak Daru menuju ke taman kecil di belakang ruang Bem yang biasa di pakai oleh mereka para anggota Bem untuk mengadakan pertemuan atau rapat. Taman kecil itu di desain dengan sangat rapi dan asri, di tengah-tengah taman terdapat meja bundar plus kursi-kursi kayu kecil yang mengelilinginya. Satya menarik salah satu kursi untuk Daru, sementara Ia sendiri langsung mengambil posisi di sebelahnya. Beberapa detik mereka dilanda keheningan, sampai akhirnya Daru memberanikan diri untuk menyerahkan bekal buatannya kepada Satya.
" Ini Kak...Aku buatin bekal ini sebagai ucapan terima kasih, karena sudah membantuku kemarin, semoga kakak suka." untuk sesaat Satya terdiam, Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali seolah mencoba menyadarkan diri bahwa Ia sedang tidak bermimpi. Sebenarnya Ia ingin menampar wajahnya, namun keberadaan Daru disana membuatnya tidak bisa bertingkah sembarangan, bisa-bisa Ia mati Karir di depan pujaan hatinya.
" Serius ini buat aku...? Kamu...kamu yang bikin sendiri?" Daru mengangguk perlahan, Ia lalu mengeluarkan kotak bekal itu dari dalam plastiknya dan membuka penutupnya. Untuk kesekian kalinya, Satya terpesona dengan hasil karya Daru. Isi kotak itu di susun sangat rapi, seolah di buat oleh koki profesional, bau harum saus teriyaki yang begitu menggoda iman membuat liur Satya nyaris lolos keluar dari mulutnya.
" Wow...aku...aku sampai speechless nih. Aku...Aku langsung cobain yah."
" Iya Kak, silahkan!" Buru-buru Satya meraih sumpit yang sudah disediakan Daru, tanpa ba-bi-bu-be-bo lagi, Dia lansung mencicipi daging berlapis tepung crispy yang dilumuri oleh saus teriyaki yang kebetulan adalah kesukaannya itu.
" Demi Dewa Zeusss!!! Ini..ini..LEZAAAT SEKALII!!!!" Seru Satya heboh.
Tetiba Ia membuang wibawanya entah dimana, Ia tidak peduli lagi jika Daru memandang aneh dirinya, yang Satya tahu sekarang, Ia sangat tergila-gila pada masakan Daru. Seumur-umur makan masakan yang sama di berbagai restaurant Jepang yang ada di Ibukota negara tercintanya ini, tak satupun masakan dari koki-koki restaurant itu bisa menandingi rasa nikmat luar biasa yang Ia rasakan sekarang.
Melihat reaksi Satya yang tak jauh berbeda dengan Raka saat pertama kali mencoba masakannya membuat Daru tersenyum lebar. Syukurlah Satya juga menyuakai masakan buatannya.
Tak butuh waktu lama bagi Satya untuk mengosongkan kotak bekal di hadapannya, tangannya seolah tidak bisa berhenti menyuapkan nasi beserta daging lezat itu ke mulutnya.
" Ini Kak minumnya..." Daru menyerahkan botol minum berwarna hijau pada pria yang tampak kekenyangan di sampingnya.
" Thanks yah Dek. Serius ini enak banget, lain kali buatin lagi yah." Cengiran Satya semakin lebar, kini Ia semakin yakin akan pilihannya, Daru memang yang terbaik. Ia sudah tidak sabar lagi untuk menyatakan perasaannya pada Daru. Meskipun Satya masih belum tahu apakah Daru akan menerima perasaannya, setidaknya Ia harus tetap mencoba kan!
" Iya Kak, lain kali bakal kubuatkan lagi." Jawab Daru tulus. Ia senang jika orang-orang di sekitarnya merasa bahagia dengan sesuatu yang dihasilkan oleh kedua tangannya, bukan hanya karya di atas kanvas yang mampu memanjakan mata siapapun yang melihatnya tapi juga karya berupa makanan-makanan lezat yang dibuatnya.
" Ru...,"
" Ya Kak??" Satya terdiam sebentar, sejujurnya Ia ingin sekali mengantar Daru pulang, jika Ia memintanya sekarang, apa anak itu akan mengizinkannya yah? Apa salahnya untuk di coba! Batin Satya mantap.
" Hari ini pulang bareng aku yah. Ayolah, aku benar-benar tulus ingin mengantarmu pulang, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih atas masakan super lezat ini." Tampak Daru tengah menimbang-nimbang, sebenarnya tidak ada salahnya dari menerima niat baik Satya untuk mengantarnya, toh sekarang sudah tak ada lagi orang yang menjemputnya. Tak tega melihat tatapan penuh harap dari Satya yang terus memandangnya, cowok manis itu pun menerima tawarannya.
" Baiklah kalau begitu, padahal rumah aku nda' jauh dari sini loh Kak, jalan kaki sepuluh menit saja udah nyampe." apapun yang di ucapkan Daru tidak ada artinya bagi Satya, Ia tetap ingin mengantarnya pulang, mau rumah nya hanya dua blok dari sini kek, tepat bersampingan dengan kampus kek, Satya tak peduli. Pokoknya Hari ini Ia harus bisa mengetahui rumah Daru.
***
Alvin masih sibuk bersantai di atas sofa sambil browsing mengenai National Geo di ponselnya saat tiba-tiba seseorang memasuki ruangan Bem. Ia mengangkat kepalanya yang kecil untuk melihat siapa gerangan yang telah menganggu ketentramannya di dalam sana sendirian.
" Ngapain Lo disini? Bukannya Lo bebas tugas?" Tanya suara berat seorang pria yang berdiri menjulang di hadapan Alvin sembari menutup pintu ruangan di belakangnya.
" Gue tadi nemanin Daru, dia mau ketemu sama Kak Satya." Alis pria tadi seketika bertaut, 'Daru?? Apa dia anak yang di perpustakaan bersama Satya kemarin?' Tanyanya dalam hati, entah mengapa sebuah perasaan kesal kembali muncul dalam dirinya. Akhir-akhir ini sikap Satya memang berubah, Ia suka senyum-senyum sendiri dan bersenandung tidak jelas, apalagi jika melihat anak itu, wajah Satya langsung memerah seperti wanita yang sedang dilanda cinta. Sial!! Apa mereka menjalin hubungan?
" Ada perlu apa dia bertemu Satya? Urusan kuliah?" Suara dingin dan menusuk dari senior yang merupakan wakil Satya itu membut Alvin diam membatu di tempatnya dengan kening berkerut, O'...oh is he jealous??
" Gue gak tau. Kakak tanya sendiri aja ke Kak Satya." Dalam hati Alvin berdecak, satu demi satu pertanyaan konyol mulai menghampiri benaknya, 'Apa gue tanpa sengaja masuk dalam sebuah cerita dimana semua tokohnya Gay?' atau 'Apa gue datang ke dunia yang salah? Maksud gue...come on apa di dunia ini sudah gak ada cewek, sampai para pria tampan ini pada incar pe**s berjalan??'.
Saat tengah sibuk dengan pikiran-pikirannya, pintu ruang Bem kembali terbuka, kali ini sang objek pembicaraan mereka tadi-lah yang datang.
" Kalian sudah selesai ngobrolnya, cepat amat??" dengan sengaja Alvin memanas-manasi keadaan, Ia ingin meyakinkan apa benar kalau Zaldhy sang wakil ketua Bem punya rasa sama Satya.
Dan ternyata, apa yang di duganya benar, wajah Zaldhy seketika mengeras, matanya berkilat penuh bara cemburu saat melihat Satya tersenyum hangat kepada Daru, dan juga saat Satya berpesan pada sahabatnya itu untuk menunggunya di parkiran motor setelah kuliah terakhirnya selesai.
" Kenapa Kakak nyuruh Daru buat nunggu di parkiran? Kalian mau pulang bareng yah??" Pertanyaan Alvin sontak membuat wajah Satya memerah karena senang, sementara di sebelahnya Daru hanya tersenyum pasrah sembari menganggukkan kepala.
" Ooh...Ya udeh kalo gitu, kita mau masuk kelas dulu yah Kak." Alvin bangkit berdiri dari duduknya, sekilas mencuri pandang ke arah Zaldhy yang sepertinya sudah hampir meledak, lalu segera menarik tangan Daru untuk pergi dari sana.
Setelah Alvin keluar dari ruangan dan menutup pintu di belakangnya, buru-buru Satya menghambur menuju ke meja kerjanya, Ia membongkar satu demi satu Map plastik tempat data-data Mahasiswa angkatan 2015 tersimpan.
" Nyari apa Lo?" Tanya Zaldhy dengan suaranya yang dingin dan menyayat hati. Satya yang memang sudah berteman dengannya sejak Maba itu sama sekali tidak terpengaruh dengan hawa membunuh yang kerap menyelimuti Zaldhy, Dia sudah kebal, sangat kebal sampai-sampai Ia tidak menyadari jika orang terdekatnya itu memendam rasa padanya.
" Cari biodata-nya Daru." Jawab Satya polos.
" Ngapain Lo nyari-nyari biodatanya? Emang ada hal penting yang mau Lo liat disitu?" Zaldhy mulai jengkel, Ia tidak terima jika pujaan hatinya sampai direbut oleh junior yang baru saja menyandang status sebagai Mahasiswa, meskipun Ia tahu, salahnya juga karena tak kunjung mengumpulkan keberanian untuk menembak Satya.
" Iya Zal, gue pengen tahu kapan Daru ulang tahun." Ujar Satya yang masih sibuk memeriksa setiap lembar biodata yang sudah di dapatkannya.
" Akh...ketemuuu!!" Dengan seksama bapak ketua Bem yang tampan itu mulai mencari tanggal ulang tahun Daru. Matanya melebar saat Ia sudah menemukannya.
" Minggu depan dia ulang tahun Zal! Siaalll gue harus segera siap-siap nih!" Alis Zaldhy berkerut, " siap-siap untuk?" Tanyanya.
" Yah untuk nyatain perasaan gue lah ! Gue pengen nembak Daru pas hari ulang tahunnya Zal!! Doain gue keterima yah!" Jawaban Satya refleks membuat lutut Zaldhy lemas, apakah ini berarti dia sudah kalah?
***
" Ru, Lo beneran mau pulang bareng Kak Satya? Emang Mas Raka gak jemput Lo?" Tanya Alvin penasaran.
Ia tidak menyangka jika Daru mengiyakan tawaran Satya untuk mengantarnya pulang, karena biasanya, sahabatnya itu sudah di tunggu di parkiran oleh calon kekasihnya.
" nda' Vin, Akhir-akhir ini Mas Raka sibuk. Aku ndak enak kalau tiap hari di jemput, jadi yah lebih baik aku sendiri aja, lagian rumah kan dekat." Sebenarnya Daru sedikit kecewa akibat Raka yang tidak ada untuk menemaninya belakangan ini, padahal anak itu selalu menunggu waktu pulang kuliah agar Ia bisa cepat-cepat bertemu Raka, melihatnya duduk di atas kap mobil sambil merokok, lalu tersenyum hangat saat melihatnya muncul. Ia sangat merindukan Raka, saking rindunya sampai terasa sakit.
" Iya juga sih. Kalau jadi Lo gue juga pasti ngerasa gak enak, tapi kan aneh aja, bukannya kemaren-kemaren Mas Raka yang ngotot buat antar jemput Lo? Atau jangan-jangan, kalian lagi ada masalah yah? Pertengkaran suami istri misalnya." Andai saja Daru bisa bercerita pada Alvin tentang perubahan sikap Raka pada dirinya, mungkin Ia tidak akan segalau ini, namum Daru tidak bisa mengatakannya, Ia takut Alvin terbawa emosi lalu melabrak Raka, Daru ingin masalah ini bisa Ia selesaikan sendiri.
" Kami baik-baik aja kok. Mas Raka memang lagi sibuk saja, kan dia udah mau proposal, wajarlah kalau sibuk." Sebisa mungkin Daru menutupi kesedihan di wajah dan suaranya, Ia tahu jika sahabatnya itu adalah seorang pengamat yang hebat, salah-salah, Ia bisa ketahuan kalau sedang ada masalah.
" Vin kalau gitu Aku duluan yah, kasian Kak Satya udah nungguin kayaknya." Setelah berpamitan pada sahabatnya, Daru segera berlari-lari kecil meninggalkan gedung menuju ke parkiran. Ternyata dugaannya tepat, Satya sudah duduk manis, menunggu di atas motornya. Sesampainya di tempat Satya, Daru meminta maaf karena telah membuat cowok tampan itu menunggu, Ia tidak menyangka kalau kuliah jam terakhir-nya selesai agak lama.
" Santai aja, gue juga baru disini kok. Ya udah yuk pulang, nanti ke -sorean." Tanpa pikir panjang lagi, Daru menerima helm yang diserahkan Satya lalu naik ke kursi penumpang. Kali ini Daru sudah tidak kesulitan lagi naik di atas motor besar, seringnya di bonceng Raka dengan motornya membuat Daru terbiasa, meskipun kadang-kadang Ia masih harus memeluk pinggang cowok itu erat-erat kalau motor melaju kencang.
" Udah siap?" Tanya Satya sembari menengok ke arah Daru yang duduk di belakangnya.
" Udah kak! Yuk jalan." Satya menstarter motor, kemudian membawanya melaju meninggalkan kampus menuju ke rumah sang calon pacar, semoga aja.
Untuk sampai ke rumah Raka, butuh waktu 10 menit jalan kaki, tapi jika menggunakan motor, 5 menit saja mereka sudah berada di depan pagar.
" Ini rumah kamu?" Tanya Satya, sembari memperhatikan rumah minimalis bertingkat di depannya.
" Bukan kak, ini rumah temannya Bu'e, Aku cuma numpang sampai lulus saja disini." Ujar Daru, kemudian memberikan helm yang di pakainya pada Satya. Ketika Satya menerima helm itu, dari arah berlawanan, mobil Wrangler Raka mendekati mereka. Mobil itu berhenti tepat di depan pagar rumah sehingga mau tidak mau, Satya harus menggeser motornya mundur. Jantung Daru berdegub kencang saat Ia melihat Raka turun dari mobil, wajah cowok itu tampak aneh, rautnya persis seperti Zaldhy ketika Ia melihat Satya.
" Siapa ini?" Tanya Raka dingin tanpa basa-basi.
Mata elangnya menatap tajam ke arah cowok yang duduk di atas motor. Dipandang seperti itu dengan Raka, bukannya takut, Satya balik menatapnya garang.
" Ke...kenalin Mas, ini Kak Satya senior Aku di fakultas, dan Kak Satya, kenalin, ini Raka, anak dari yang punya rumah ini." Meskipun atmosfer diantara keduanya tampak menyeramkan, tapi mereka tetap berjabat tangan, jabat tangan yang erat hingga terasa sakit di kedua belah pihak. Tak ingin berlama-lama melihat wajah pria asing yang sudah berani mendekati Daru, Raka segera membuka pintu pagar,
" Daru, cepat masuk. Sudah hampir malam." Ujarnya tegas sebelum kembali naik ke atas mobil dan masuk ke halaman rumah. Melihat tingkah Raka yang sama sekali tidak ramah pada Satya membuat Daru kembali meminta maaf, Ia hanya bisa mengatakan pada seniornya jika Raka bersikap seperti itu mungkin karena lelah, biasanya Ia sangat baik. Sayangnya, Satya bukan cowok bodoh, jelas-jelas tatapan Raka adalah tatapan yang biasa di tunjukkan oleh pria yang tidak suka jika kekasihnya di dekati oleh pria lain. Ternyata Ia punya saingan, tampaknya Ia harus lebih gesit lagi untuk mendapatkan Daru. Batin Satya.
" Ya udah kamu masuk gih, kayaknya si Raka itu gak bakal masuk ke rumah kalau kamu juga gak masuk." Mendengar perkataan Satya, Daru langsung berbalik. Di sana, di depan pintu rumah, Raka menatap mereka tajam dengan kedua tangan dilipat di d**a.
" Iya kak, kakak hati-hati di jalan yah. " Satya mengangguk dan tersenyum lembut, menyadari Raka masih memperhatikan mereka, dengan sengaja Ia mengelus rambut Daru penuh sayang baru kemudian beranjak meninggalkan tempat.
Setelah motor Satya sudah tak terlihat lagi, Daru pun menutup pagar, lalu Ia berjalan perlahan ke arah Raka yang menunggunya di depan pintu.
" Kenapa Mas nda' masuk?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Daru hanya di balas helaan nafas oleh Raka, karena tak kunjung bicara, akhirnya cowok manis itu mengalah dan masuk duluan ke dalam rumah.
" Kenapa Lo gak hubungin gue? Gue bisa jemput Lo di kampus." Tiba-tiba tangan Raka menahan lengan Daru yang hendak naik ke lantai dua.
" Bukannya belakangan ini Mas sibuk? Aku ndak mau gangguin Mas Raka." Jawab Daru jujur, Ia tidak mengerti jalan pikiran cowok di hadapannya sekarang, dari kemarin kan dia yang jarang pulang dan meninggalkannya sendirian, lalu, mengapa sekarang Ia minta untuk di hubungi?
" Kalau gitu kenapa Lo gak pulang bareng Alvin aja ? gue gak suka liat Lo diantar cowok gak jelas, kalau dia punya niat jahat gimana? kan gue juga yang harus tanggung jawab kalau ada apa-apa sama Lo!" Suara Raka tiba-tiba meninggi, kilat amarah kini muncul di mata elangnya. Daru tersentak kaget melihat perubahan pada diri Raka, ini adalah pertama kalinya cowok itu mengangkat suara saat berbicara padanya.
" Kak Satya bukan orang jahat, dia baik sama Aku, dia selalu bantuin Aku, dia - Tiba-tiba Raka menarik tubuh Daru kasar lalu menguncinya di tembok, kedua lengan Daru di dorongnya merapat pada dinding hingga anak itu tidak bisa bergerak.
" Mas...?! Daru tersentak kaget dengan perlakuan kasar Raka padanya, Ia tidak tahu apa yang salah dengan dirinya sehingga Raka menjadi semarah itu.
" Berhenti memujinya depan Gue! Gue gak suka! Oh...atau jangan-jangan Lo suka sama dia yah?!" Mata Daru melebar, jantungnya mulai berdentum gila-gilaan, kenapa Mas Raka bersikap begini??
" Apa...apa maksudmu Mas ? Aku sama sekali tidak mengerti! Kumohon lepaskan Aku!" Daru berusaha lepas dari genggaman Raka yang mulai membuat lengannya kesakitan.
Ia takut, Raka seperti orang lain. Daru tidak bisa menemukan Mas Raka-nya di mata orang ini.
" Gue gak mau Lo berhubungan dengan orang itu lagi! Lo harus dengerin gue!" merasa tidak suka dengan Raka yang mulai mendikte-nya, sekuat tenaga Daru mendorong tubuh Raka. Seketika cowok itu terhempas ke depan.
" Aku ndak mau dengarin Mas! Mas ndak punya hak buat larang aku berteman dengan siapapun, karena Mas bukan siapa-siapaku!!" Marah, Daru marah sekali, setelah cowok itu membuatnya galau berhari-hari, sekarang Ia seenaknya mengatur hidupnya, apa Raka pikir Ia benda mati yang tak punya perasaan. Muak dengan perdebatan ini, buru-buru Daru naik ke tangga, tapi belum sempat Ia mencapai anak tangga yang ketiga, Raka kembali menarik tubuhnya, mendorongnya ke dinding lalu melumat bibirnya kasar. Air mata Daru mengalir, hatinya sangat sakit seiring dengan pagutan Raka yang jauh dari kesan lembut, ciuman cowok itu sama sekali tak berperasaan, dingin, dan menyakitkan. Tak tahan telah diperlakukan tidak senonoh, satu tangan Daru yang masih bebas di angkat-nya tinggi-tinggi kemudian...
PLAK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Raka. Wajah Daru memerah, bukan karena malu melainkan amarah, Raka yang seolah tersadar dengan perbuatannya menatap Daru shock.
" Jahat! Kamu benar-benar jahat Mas!" Tubuh Raka bergetar hebat, kata-kata Daru seperti timah panas yang menghujam jantungnya berkali-kali.
" Gue...gue minta maaf...Ru...," Raka mencoba menyentuh wajah Daru yang berlinang air mata namun cowok manis itu segera menepisnya.
" Jangan sentuh Aku Mas! Jangan pernah menyentuhku lagi!!" Seru Daru kemudian berlari menaiki tangga, masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu.
" Apa yang sudah kulakukan??!" Raka jatuh terduduk di dasar tangga, Ia meremas rambutnya frustasi.
Ia sudah membuat orang yang paling di cintainya tersakiti, apa Ia masih pantas untuk berada di samping Daru?
To Be Continued...