Sepeninggal Raka, cowok manis yang kini tengah duduk sendirian di ruang makan itu sama sekali tidak menyentuh sarapannya, tiba-tiba nafsu makannya menghilang seiring dengan kepergian sosok pria yang begitu berarti bagi hidupnya. Ini bukan kali pertama Raka meninggalkannya, sejak pria tampan itu pulang ke rumah pada larut malam tempo hari, sikapnya mulai berubah. Daru bisa menyadarinya, hanya saja Ia mencoba untuk bersabar dan tetap mempercayai Raka. Semoga saja kepercayaan yang Ia berikan padanya tidak sia-sia, dan semoga saja keputusannya untuk menunggu Raka sudah tepat. Sebisa mungkin Daru mengontrol pikiran-pikiran negative-nya, Ia tidak ingin pikirannya menjadi malapetaka untuknya. Yah...saat ini hanya kesabaranlah yang terus di pupuk Daru dalam hatinya, berharap suatu hari nanti, kesabarannya membuahkan hasil yaitu sebuah kebahagiaan.
Perlahan cowok bertubuh ramping itu bangkit dari kursi, Ia membereskan meja makan lalu menaruh piring-piring berisi sarapan pagi yang tadi di buatnya ke dalam lemari di samping kulkas.
Setelah itu Daru memutuskan untuk membersihkan seluruh rumah, Ia sengaja ingin menyibukkan diri agar tidak terlalu memikirkan Raka yang sekarang entah berada dimana dan bersama siapa. Sudut demi sudut rumah disapu Daru, barang-barang serta perabot yang berdebu tak lupa di lap-nya, mulai dari teras depan, lantai atas hingga halaman belakang semua dibersihkannya, namun hanya ada satu ruangan yang tidak disentuh Daru, kamar Raka. Entah mengapa Ia enggan menginjakkan kaki di ruangan dingin itu, masuk kesana dan mencium bau Raka yang memenuhi penjuru ruangan hanya mampu membuatnya sedih.
Puas akan rumah yang kini sudah rapi, bersih, dan harum layaknya iklan-iklan perumahan di Televisi, Daru pun kembali ke kamarnya. Sebelum Ia membanting dirinya di kasur akibat lelah yang menyerang, anak itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Tak lama setelah selesai mandi, Daru mengambil buku sketsanya untuk men-doodling, aktivitas itu kerap di lakukannya pada waktu luang jika tak ada lagi hal penting yang ingin dikerjakan. Biasanya hasil-hasil doodling Daru di jual oleh Asih adiknya tanpa sepengetahuannya, wanita muda berparas Ayu itu memang memiliki bakat bisnis yang tak bisa di remehkan. Di Jogja sana, Asih kerap membantu sang Ibu untuk mempromosikan batik handmade keluarga mereka, dibandingkan kakaknya, sang Adik lebih aktif, wajahnya yang cantik serta sifatnya yang ceria membuat siapapun senang berada di dekatnya. Ngomong-ngomong soal Asih, sudah hampir sebulan Daru tidak pernah menghubungi adik kecilnya itu, Ia hanya sering menelpon Bu'e nya namun Asih tak pernah berada di dekatnya.
" Ngomong-ngomong si Asih lagi ngapain yah ? ta' coba telpon saja ah ...," Daru mengambil ponsel yang sedang di charge-nya di dekat Tv. Saat ponsel pintar itu sudah berada di tangannya, Ia segera mencari kontak Asih lalu menelponnya.
Cukup lama Daru menunggu hingga akhirnya saluran telpon mereka tersambung. Seketika suara nyaring adiknya menyambut di seberang sana.
"MAS DARUUUUUUU!!! Kok Mas baru telepon Aku sih???" Tanya Adiknya dengan nada yang sengaja Ia buat merajuk.
Mendengar suara gadis cantik yang amat sangat di sayanginya, mau tak mau membuat Daru tersenyum geli sembari menggeleng-gelengkan kepala. Haah...betapa Ia saagat merindukan Asih.
" Ngapunten nggeh Sih, Mas banyak tugas, kemarin saja baru selesai pameran akbar. Piye kabarmu de'? Apik? "
" Apik-apik wae Mas. Mas piye kabare? Aku rindu sama Mas.." Jawab Asih.
" Sama, Mas juga Apik. Kalau keadaan di sanggar piye?" Daru juga sudah rindu sekali dengan sanggar tempatnya menimbah ilmu, Ia sudah tidak sabar ingin pulang dan membagikan Ilmu yang Ia dapatkan di kampus pada para seniman-seniman muda yang berada disana.
" Sanggar aman Mas. Eh...Mas, aku ada kabar gembira buat kamu nih." Ujar Asih tiba-tiba kegirangan, Daru mengerutkan kening, apa gerangan kabar gembira yang membuat adeknya sesenang itu?
" Mbak Sari udah kembali dari luar negeri Mas. Sekarang dia ngajar nari di sanggar, addduh...dia ayu sekali loh Mas, Aku sampai pangling. Bu'e aja sekarang akrab sekali sama dia, udah kayak ibu dan Anak."
Sari?? Namanya cukup familiar di telinga Daru tapi tetap saja Ia tidak bisa mengingatnya.
" Sari sopo toh de'?" Tanya Daru polos. Ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tiba-tiba gatal sembari berusaha mengingat-mengingat siapa gerangan wanita yang bisa dengan cepatnya akrab sama Ibunya.
" Lah!! kok Mas lupa ?! Bukannya dulu Mas demen sama dia toh ? sampai-sampai tiap Mbak Sari latihan, Mas intipin." Ingatan Daru seketika kembali pada masa kecilnya, dimana Ia kerap memperhatikan gadis penari cantik di sanggar kakeknya, dan saat Ia hendak menyatakan perasaannya, gadis itu pindah keluar negeri. Sari adalah cinta pertamanya pikir Daru sebelum Ia bertemu dengan Raka.
" Ooh..." Jawaban singkat yang keluar dari mulut kakaknya kontan membuat Asih bingung, Ia tidak menyangka reaksi kakaknya akan sedatar itu, padahal waktu kecil dulu, Asih tahu jika kakaknya tidak pernah absent melihat Sari latihan, dan saat dia pergi, Daru sempat mengurung diri seharian di kamar.
" Kok cuma Ooh sih Mas?? Mas udah nda' demen yah ma Mbak Sari, atau jangan-jangan, Mas ketemu cewek cantik yah di Jakarta sana??" Pertanyaan Asih sontak membuat Daru terdiam.
Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi jika adik dan ibunya tahu dirinya jatuh cinta dengan seorang pria? Daru tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.
" Nda' kok Sih, Mas sibuk kuliah, nda' sempat pikirin itu...,"
Bohong! Hati Daru mulai berteriak-teriak. Cowok manis itu kini merasa sangat berdosa pada keluarganya, Ia meminta restu untuk pergi ke Jakarta buat kuliah, tapi apa yang terjadi ?! Daru menjadi seorang Gay!
Tangan Daru yang memegang ponsel tiba-tiba bergetar, mendengar Asih yang terus bertanya apakah dia sudah punya pacar atau adakah gadis yang di taksirnya di Jakarta sukses menohok jantung Daru bertubi-tubi.
Ia sekarang hanya bisa bungkam, karena Daru tahu, jika Ia membuka suara, Ia hanya akan mengucapkan lebih banyak kebohongan.
" Mas kok diam sih? Asih ada salah ngomong yah?" Menyadari kesunyian di seberang telponnya, membuat Asih merasa tidak enak, apa dia Sudah menyinggung perasaan kakaknya??
" Ah...mboten Sih, Mas hanya tiba-tiba pusing. Kalau gitu Mas istirahat dulu yah, salam buat Bu'e sama Sari." Meskipun masih rindu dengan adiknya dan masih ingin bercerita lebih banyak hal, tetapi Daru memutuskan untuk segera mengakhiri telponnya. Ia tidak kuat mendengar adiknya yang terus-terusan memintanya untuk mencari gadis cantik dan baik hati buat di jadikan pacar, karena hal itu mustahil! Seluruh hati Daru telah di bawa oleh Raka, anak itu bahkan tidak yakin, masih adakah sedikit ruang di hatinya untuk membiarkan orang lain masuk jika Raka tak bisa Ia miliki. Daru tidak tahu dan sama sekali tidak ingin tahu.
***
Satya duduk melamun di ruang Bem. Entah mengapa semenjak bertemu dan berbicara pada Daru saat pameran Akbar beberapa hari yang lalu, Ia tidak bisa menghilangkan wajah manis anak itu dari kepalanya. Senyum manis yang menampakkan kedua lesung pipinya membuat Satya rindu ingin melihatnya lagi. Apa dia jatuh hati pada Daru? Hal itu terdengar gila dan Satya sama sekali tidak yakin, meski jantungnya berdetak kencang tiap kali mengingat juniornya yang satu itu.
" KAK SATYAAAA!!" pria tampan berdarah Sunda yang sedari tadi menatap kosong ke luar jendela sembari senyam-senyum tak jelas nyaris terjatuh dari kursinya saat mendengar suara cempreng seseorang berteriak di telinganya.
" Alvin ?! Lo kok teriak di telinga Gue sih, kalau Gue tuli gimana?" Protes Satya sembari mengusap-ngusap telinganya yang berdengung. Ia memandang kesal pada Alvin yang berdiri melipat tangan di hadapannya.
" Gimana Gue gak teriak kak! Dari tadi Gue panggil-panggil, kakak cuma senyam-senyum sendiri kayak orang gila, kesambet apa??!" Bukannya meminta maaf, Alvin malah balik ngomel, dia adalah orang kedua setelah wakil ketua Bem yang berani memarahi serta menegur Satya. Selain kedua orang itu, sudah tak ada lagi yang berani padanya.
" Lo ada perlu apa emang ?" Telinga Satya masih terasa sakit, namun Ia tetap berusaha bersikap profesional layaknya Direktur sebuah perusahaan yang sedang berhadapan dengan karyawannya.
" Nih data teman-teman angkatan gue yang gak ikut pengkaderan, minggu lalu kakak minta kan?" Alvin menyodorkan selembar kertas Hvs yang berisi deretan nama-nama Mahasiswa angkatan 2015 fakultas Seni Rupa IKJ yang tidak mengikuti prosesi pengkaderan, baik yang tidak mengikutinya dari awal hingga akhir, maupun yang tidak menyelesaikannya.
" Ah, Iya, gue emang minta datanya, soalnya absent panitia yang kemarin hilang. Thanks yah Vin, Lo emang bisa gue andelin." Mendengar pujian Satya, alih-alih membuat Alvin melayang, aktivis muda itu malah memutar bola matanya eneg, Ia tahu kalau Satya adalah salah seorang senior yang mengadang-gadang dirinya untuk naik menjadi ketua Bem tahun depan, makanya, mulai sekarang sedikit demi sedikit Satya membebani tugas-tugas setara ketua Bem padanya. Tugas-tugas menumpuk itulah yang terkadang membuat Alvin mangkir dari kuliah hingga dia mendapat petuah berjam-jam dari Sahabat tersayangnya.
" Ya udah kalu gitu kak, gue cabut dulu ye, mau ketemu Daru." Mendengar nama junior yang akhir-akhir ini mendominasi pikirannya, refleks tangan Satya menahan lengan Alvin yang hendak berlalu.
" Tunggu Vin...,"
" Apalagi Kak? Mau kasih gue tugas lagi? Pliss deh biarin gue santai-santai dulu. " Keluh Alvin.
Baru saja Ia terbebas dari tugas merepotkan mencari tahu siapa saja teman-temannya yang mangkir dari pengkaderan, bapak ketua Bem yang menjadi pujaan hati para wanita di fakultasnya itu sudah ingin memberinya tugas baru lagi ?! Bisa-bisa Alvin gila di buatnya. Mungkin Ia dengarkan saja petuah Daru untuk segera berhenti dari Bem sebelum Ia terlibat terlalu jauh dan menanggung lebih banyak beban di pundaknya. Batin Alvin.
" Gak kok tenang aja. Gue cuma- Satya diam sebentar, sebenarnya Ia malu mengatakannya pada Alvin, reaksi anak itu pasti berlebihan apalagi yang ingin di bicarakan Satya ini mengenai sahabatnya-Uhmm...ini soal Daru Vin, hnn...gue...gue pengen kenal dia lebih jauh, Lo...Lo mau kan bantuin gue ?" Rahang Alvin nyaris terjatuh ke lantai, baru kali ini Ia melihat seniornya yang berwibawa dan bijaksana tampak seperti remaja ababil yang sedah jatuh cinta. Wajah Satya merah saudara-saudara, semerah kepiting yang kelamaan di rebus.
" The Hell!! Lo naksir sahabat Gue kak???!!" Tanpa Satya omongin-pun, Alvin sudah tahu akan lari kemana pembicaraan mereka.
Dia bukan orang bego' yang tidak bisa membaca tingkah orang yang sedang fall in Love. Sahabat Daru yang berwajah imut layaknya marmut itu hanya mampu geleng-geleng kepala, Alvin tidak pernah menyangka jika suatu hari nanti Ia akan memiliki sahabat cowok yang mampu menarik hati Para pria tampan, hal ini sungguh langka.
" Gue...gue gak tahu Vin, tapi sejak pameran kemarin, gue gak bisa berhenti pikirin Daru."
" Huooooekh...Jijay banget sih Lu kak. Sahabat gue itu cowok, gue gak tau lo gay...," meskipun di ruang Bem hanya ada mereka berdua, Alvin tetap berusaha mengecilkan suaranya. Pembahasan mengenai orientasi seksual seseorang bukanlah hal yang bisa digembar-gemborkan serta diributkan seenaknya.
" Gue bukan gay Vin. Gue belum pernah ngerasain hal seperti ini sama pria manapun sebelumnya, makanya gue heran, kenapa gue bisa...gue bisa deg-degan hanya karena mikirin Daru," Satya terlihat frustasi.
Alvin jadi tidak tega melihat keadaan kakak seniornya, Ia jadi teringat saat pertama kalinya Daru jujur akan perasaannya pada Raka dulu, sahabatnya itu juga tampak sangat frustasi sama seperti Satya sekarang ini.
" Maaf yah Kak, bukannya gue gak mau bantu, hanya saja untuk masalah seperti ini, gue gak bisa ikut campur. Kalau emang Lo serius sama sahabat gue yah...gue gak ngelarang Lo buat dekatin dia, tapi ingat, jangan sampai Lo ngebuat Dia sedih, karena gue gak akan tinggal diam." Alvin tahu di hati sahabatnya saat ini hanya ada Raka seorang, tetapi hubungan mereka juga belum jelas, makanya Alvin tidak melarang Satya mendekati Daru, lagipula Satya adalah pria yang baik meskipun dalam urusan organisasi seniornya itu terkenal otoriter, so tidak ada masalah selama Daru belum bersama siapapun.
" Gue janji gak bakal ngebuat dia sedih Vin, Makasih yah !! Bdw mulai besok Lo bisa bebas tugas, fokus ke pelajaran Lo sampai final nanti." Mata Alvin berbinar-binar bahagia, hmm...emang yah orang yang lagi jatuh cinta itu bisa berubah jadi sebaik malaikat meski Ia sebenarnya Iblis. Hari ini Alvin sudah melihat buktinya tepat di depan mata.
***
" Lo sayang banget yah sama dia Ka'? Dari kemarin gue perhatiin, Lo sibuk banget nyelesain hadiah ulang tahunnya." Karina menyandarkan dagunya di atas pundak Raka yang sedang duduk bersila di depan meja osin. Wanita cantik itu tidak habis pikir melihat tingkah cowok di depannya yang berubah drastis saat sedang jatuh cinta. Raka yang Ia kenal dulu adalah anak yang cuek, cenderung masa bodoh dengan sekitarnya apalagi jika hal-hal yang menyangkut percintaan dan semacamanya, Raka suck banget.
" Gue gak pernah sesayang ini sama seseorang Rin, Daru adalah segalanya buat gue. Pokoknya kado ini harus udah selesai sebelum hari ulang tahunnya." Jawab Raka yang masih sibuk mengutak-atik jalinan kabel untuk di sambungkannya pada lampu di dalam sebuah kotak berbentuk silinder.
" So...Lo udah siap buat nembak dia nih?" Karina kembali bertanya, kali ini Ia melingkarkan tangannya di leher Raka.
" Gue kesepian dong...," lanjutnya.
" Bukan urusan gue !" Jawab Raka ketus dibalas dengan jitakan keras Karina di kepalanya.
" Dasar Adek menyebalkan!!"
" Emangnya Lo bukan Kakak yang nyebelin? Ngilang seenaknya, datang-datang bawa orok. Lo udah ngebuat gue nyaris kena serangan jantung tau gak!" Karina terdiam mendengar ucapan Raka.
Sebenarnya Ia tidak ingin membuat Raka khawatir, Ia sangat menyayanginya, adik tirinya itu adalah salah satu alasan Karina untuk tidak mengakhiri hidup saat ditinggal mati oleh ayah dari anak yang di kandungnya.
Karina adalah anak tunggal dari Ayah Raka bersama almarhum istri pertamanya, seorang wanita keturunan Indonesia sama seperti Ibu Raka. Setelah ayahnya menikah lagi dan Raka hadir di tengah-tengah mereka, Karina sangat bahagia, akhirnya Ia tidak sendirian, akhirnya Ia memiliki adik yang bisa dicintainya sepenuh hati, sampai kejadian memilukan itu memisahkan mereka. Saat itu Karina duduk di kelas tiga SMA sementara Raka masih duduk di kelas 3 SMP. Pada suatu Malam, pacar Karina datang ke rumah untuk melamarnya, saat itu Karina sudah mengandung 2 bulan, Ayahnya marah besar dan langsung mengusir laki-laki itu. Karina tidak terima akan perlakuan ayahnya, Ia begitu mencintai pacarnya sama seperti bayi yang di kandungnya, tapi sayang, Sang ayah juga menyuruhnya menggugurkan bayi itu. Karena tidak sanggup memenuhi permintaan ayahnya, Karina pun memutuskan untuk kabur. Dia lari bersama ayah dari anaknya dua hari setelah pengusiran, meninggalkan adik yang sangat dicintainya juga ayah yang sudah dibuatnya kecewa.
Mereka menikah dua bulan setelahnya, namun di tengah-tengah kebahagiaan mereka, Karina keguguran. Stress yang Ia alami membuat janinnya tak mampu bertahan. Kala itu Karina begitu terpuruk, untung saja sang suami selalu setia menjaganya hingga mereka diberikan momongan lagi beberapa tahun kemudian. Tapi apalah daya, Karina bukan Tuhan yang menggariskan takdir. Suaminya meninggal akibat kecelakaan saat kandungannya baru berusia dua minggu. Seketika dunia wanita cantik itu hancur, satu-satunya orang yang Ia miliki di sisinya kini pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Hidup Karina kacau, Ia sempat stress dan memutuskan untuk mengakhiri hidup sampai Ia bermimpi, mimpi dimana Ia bertemu Raka, ayah, dan Ibu kandungnya. Dalam mimpi Karina, mereka menghentikannya, Mereka mengatakan bahwa gadis itu tidak sendiri, Ia masih memiliki ayah dan adik yang merindukannya. Berbekal bunga tidur tersebut, Karina bangkit dari keterpurukannya. Ia pindah dari Amerika ke Indonesia untuk memulai hidup baru bersama calon bayinya, lalu melamar sebagai asdos di kampus Daru.
4 bulan sudah Ia tinggal di Jakarta sampai tanpa sengaja Ia bertemu dengan adik yang sangat dicintainya setelah sekian lama mereka terpisah. Raka yang juga sangat mencintai kakak tirinya itu tak akan pernah bisa dan sanggup untuk melepasnya lagi. Ia ingin menjaga Karina juga calon keponakannya hingga tiba saatnya mereka menemui sang Ayah.
" I'm really sorry. I don't mean it... " merasa tidak enak karena kakaknya tiba-tiba bungkam membuat Raka segera menghentikan aktivitasnya lalu berbalik menghadap Karina. Ia menggenggam kedua tangan wanita cantik itu penuh sayang.
" Gak papa kok, gue yang harusnya minta maaf. Gue udah ngerepotin Lo dan mencuri banyak waktu Lo bersama Daru, Maafin gue yah..." Raka menghela nafas panjang dan mengangguk perlahan.
" Ya udah...kalau Lo gak pengen merasa bersalah ke gue, Nih - Raka menyerahkan karton beserta gunting ke pangkuan Karina - Bantuin gue nyelesain kado buat calon adek ipar Lo!" Merasa di perlakukan seenaknya oleh Raka, Karina kembali menjitak kepala cowok tampan itu.
" Dasar Menyebalkan!!"
Mereka berdua kembali berdebat. Karina tak berhenti mengomel tetapi Ia tetap membantu Raka menyelesaikan kadonya dengan senang hati, toh...dia melakukannya untuk sang calon adek ipar yang manis.
***
Alvin melangkah gontai meninggalkan kampus, Ia sedikit sebal karena Daru tidak mau menemaninya ke Bookworm cafe padalah cowok berwajah marmut itu kini memiliki lebih banyak waktu luang akibat di bebas tugaskan dari urusan Bem-nya.
~Flashback~
" Ru temanin gue ke bookworm cafe yuk...suntuk nih." Rajuk Alvin pada sahabatnya yang tengah sibuk membuat desain cover album untuk salah satu band Indie di fakultas musik kampus mereka.
" Aku nda' bisa Vin, kamu ndak liat aku lagi bikin apa..." Ujar Daru tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas penuh goresan pensil di atas meja.
" Lanjutin di Cafe aja Ru, yah...yah...," Daru tetap menggeleng, Ia tahu jika menuruti Alvin untuk pergi ke cafe, Daru tidak akan bisa fokus mengerjakan tugasnya karena sahabatnya yang satu itu tidak akan berhenti mengganggunya dengan mengajaknya cerita, bergosip, atau semacamnya.
" Ya...udah deh, gue pergi sendiri aja! Daru gak asik!" Terpaksa Alvin beranjak meninggalkan Daru yang sama sekali tidak menggubrisnya, Ia memutuskan untuk pergi sendiri saja ke tempat nongkrong favoritnya itu.
~End Of Flashback~
Berharap sesampainya di Cafe moodnya bisa kembali membaik, Alvin malah semakin jengkel. Buku National Geography yang biasa di bacanya raib dari rak buku tempatnya disimpan. Ia berusaha mencarinya di sela-sela buku besar lainnya tapi tidak juga menemukannya. Hanya buku itu yang ingin di baca Alvin, Ia tidak ingin buku yang lainnya, sifat kekanak-kanakannya mulai muncul. Sembari menghentak-hentakkan kaki dan memanyunkan bibirnya semanyun-manyunnya, marmut kecil yang menggemaskan itu berlalu meninggalkan jejeran rak buku di lantai dasar, lalu naik ke atas untuk menikmati free wi-fi saja.
Alvin berjalan malas-malasan menuju ke arah meja favoritnya di ujung ruangan. Siang ini Bookworm Cafe sangat sepi, hanya ada sepasang pengunjung di tengah ruangan, serta seorang pria yang memunggungi Alvin tepat di meja yang berhadapan dengan meja favoritnya. Perlahan kaki-kaki mungilnya melangkah diatas lantai kayu yang berderit setiap Ia menginjaknya, sampai akhirnya Ia sudah berada di sebelah meja pria tadi. Tak sengaja, mata Alvin menangkap sosok buku yang sedari tadi di carinya di Rak, buku itu terbuka lebar di depan pria tampan berkacamata yang sedang membacanya.
" Akh...Kak Galih kan??!" Mendengar namanya disebut, refleks pria tampan yang tengah asik tenggelam dalam bukunya berbalik.
Mendapati wajah imut Alvin memandangnya riang, mau tak mau membuat Galih tersenyum.
" Hei...wanna join?" Bukannya mengiyakan tawaran Galih terlebih dahulu, tanpa pikir panjang Alvin langsung meloncat duduk di kursi yang berhadapan dengan cowok itu. Tingkah Alvin yang seperti tupai membuat Galih tertawa dalam hati. Anak ini benar-benar unik. Batinnya.
" Sendiri aja Vin? Daru-nya mana?" Wajah Alvin kembali ditekuk, Ia menggeleng-geleng pasrah menjawab pertanyaan Galih.
" Dia gak mau nemanin gue kak, Daru lagi gak asik...Kalau kakak sama siapa? Sendirian lagi??" Galih mengangguk sambil tersenyum, Ia takjub melihat ekspresi wajah Alvin yang berubah hanya dalam hitungan detik. Apa semua anak seni pandai bermain ekspresi yah? Tanyanya dalam hati.
" Aku habis ke tempat penguji, biasalah mahasiswa tingkat akhir..." Alvin ber-ooh ria menanggapi jawaban cowok tampan di hadapannya, lalu tak lama kemudian matanya kembali mendarat ke buku favoritnya di atas meja. Menyadari Alvin yang tiba-tiba fokus pada buku di depannya, Galih refleks memutar buku itu berbalik ke arah Alvin.
" Kamu juga baca National Geography? " Tanya Galih penasaran.
Alvin mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk untuk melihat gambar paus raksasa yang muncul ke permukaan laut dan menatap Galih dengan kedua mata berbinar.
" Bukan cuma baca, gue juga gak pernah ganti channel-nya, selalu update info-info terbarunya, dan satu lagi kak, tema lukisan gue rata-rata yang berhubungan dengan ini." Ujar Alvin sembari mengangkat buku tebal itu dari atas meja. Tiba-tiba Ia menjadi excited sendiri, cowok imut itu mulai bercerita betapa Ia sangat menyukai kehidupan mahkluk-makhkuk di bawa laut, juga bagaimana tumbuhan dan hewan memiliki cara mereka sendiri untuk saling menebar cinta satu sama lain, bagaimana perjuangan mereka dalam mempertahankan hidup dan melindungi keturunan mereka. Semuanya adalah hal yang menakjubkan bagi Alvin.
Seketika, Galih merasa begitu terpesona pada cowok imut yang sekarang duduk di hadapannya, Ia tidak menyangka orang se-hyperaktif bahkan segokil Alvin memiliki Interest yang sama dengannya. Bahkan cara mereka memandang keindahan alam- pun tak jauh berbeda. Ini pertama kalinya Galih bertemu seseorang seperti Alvin, sahabat-sahabatnya mana ada yang mau repot-repot mempelajari alam sampai sedetail itu, di otak mereka kalau bukan cewek, otomotif, game, makanan, dan hal-hal berbau entertain lainnya.
" Woow...Aku gak nyangka kamu juga tergila-gila pada National Geography Vin, sama kayak Aku."
" Beneraaan kak??? Waaaaah...akhirnya gue punya temen yang se-hobi !! Bdw kakak mau kan jadi teman gue?" pertanyaan konyol sebenarnya, mereka sudah se-akrab itu tapi Alvin tetap menanyakan apa Galih mau jadi temannya, tentu saja Galih menjawab " Kita menyukai hal yang sama, cerita kita nyambung, Aku suka ngomong sama kamu dan sepertinya kamu juga sama, lalu apalagi yang membuat kita tidak bisa menjadi teman?" Alvin mengerutkan kening, Ia berpikir sebentar, benar juga yah!! Semestinya Ia tidak perlu bertanya.
" Gak ada Kak!!" Seru Alvin girang.
Galih pun tertawa, kali ini bukan di dalam hati.
***
Sudah lebih dari dua lusin kertas yang di hambur-hamburkan Daru karena gagal membuat sketsa yang pas untuk album baru dari band Indie fakultas musik di kampusnya. Beberapa hari yang lalu, vokalis sekaligus penulis lagu band itu meminta bantuannya untuk mendesain cover album mereka karena Ia terpesona melihat lukisan Daru yang di pajangnya pada Pameran Akbar tempo hari. Awalnya Daru menolak tawaran tersebut, sebab ini kali pertama ada yang memintanya untuk membuat desain cover album. Namun, karena sang vokalis terus memohon dengan wajah memelas kelemahan Daru, cowok manis itu pun menerimanya.
" Bagaimana ini ? Aku nda' ada ide....," gumamnya sembari mebentur-benturkan kepala perlahan di permukaan meja perpustakaan. Tanpa Daru sadari, absentnya Raka dalam kehidupannya akhir-akhir ini berdampak pada fokusnya. Ia tidak lagi bisa berkarya sepenuh hati, moodnya telah di bawa pergi sama halnya dengan hatinya yang sudah dicuri cowok tampan itu.
" Kepalanya jangan dibentur-benturin di meja, nanti benjol loh." refleks Daru mengehentikan aktivitasnya saat mendengar suara lembut seseorang di balik punggungnya.
Perlahan Ia menoleh lalu memasang senyum canggung pada cowok tampan yang kini tengah berdiri di belakangnya.
" Kak Satya! Duduk kak," dengan sopan Daru mempersilahkan senior yang diam-diam naksir padanya itu untuk duduk di sampingnya.
Tentu saja Satya tidak menolak, Ia girang bukan main. Sebenarnya sejak tadi Satya sudah berada di perpustakaan dan memperhatikan Daru dari jauh, tapi baru sekarang Ia berani mendekat dan menegur pujaan hatinya itu.
" Kamu lagi ngapain? Kayanya pusing banget ." Mata Satya menatap wajah Daru intens, Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memperhatikan cowok manis yang di taksirnya, mumpung mereka berada sedekat ini. Daru yang polos santai saja di perhatikan oleh Satya, lain halnya jika Raka yang melakukannya, wajahnya pasti sudah mengalami heat up.
" Aku lagi ngerjain proyek cover album-nya Band Legatho Kak, kemaren mereka minta tolong buat di desainin, tapi sekarang aku malah pusing mau buat apa..." keluh Daru. Tidak biasanya Ia mengeluh dengan orang yang baru dekat dengannya, tapi entah mengapa, Daru merasa nyaman disamping Satya, kakak seniornya itu seolah bisa membuatnya tenang. Mungkin karena dia orang baik. Pikir Daru.
" Cover album yah, kenapa kamu gak coba nge-doodling aja? Menurutku tema doodle bagus untuk cover album band indie kayak legatho, tinggal theme doodlenya kamu sesuain aja dengan aliran mereka kan." Saran dari Satya seperti membangunkan singa dalam diri Daru.
"Benar juga!! Kenapa Aku ndak kepikiran buat doodling, padahal dari kemarin aku ngerjain itu terus kalau lagi kosong." Batin Daru tetiba bersemangat.
" Kakak bener juga, aku nda' kepikiran ke sana loh kak!! Addduh...makasih banyak yah, aku ndak tau lagi mau buat apa kalau nda' ada kakak yang bantu nyari ide ..." seru Daru girang.
Ia tersenyum lebar sekali pada Satya hingga membuat jantung cowok itu nyaris melompat keluar saking senangnya melihat lesung pipi Daru. Andai saja Ia bisa menyentuh dua lubang menggemaskan itu, Satya rela melakukan apapun, apapun!
" Ti...tidak masalah, aku senang bisa bantu kamu. Hmm...gimana kalau aku bantu nge-desainnya juga, kamu gak keberatan kan?" Mata Daru melebar, Ia tidak menyangka kakak ketua Bem-nya itu mau repot-repot membantunya yang bukan siapa-siapa, maksud Daru, Ia hanyalah mahasiswa biasa yang tidak bergabung dengan Bem dan organisasi manapun, Ia juga tidak pernah benar-benar berbicara pada Satya. Kakak seniornya itu pastilah orang yang sangat baik karena peduli pada juniornya. Batin Daru masih dengan pemikiran yang amat sangat polos. Andai saja Raka berada disampingnya saat ini, Dia pasti sudah menendang Satya keluar jendela. Siapapun bisa melihat dengan jelas wajah Satya yang mupeng maksimal di dekat Daru, tapi sayang, Daru sendiri terlalu polos untuk menyadari maksud PDKT dari kakak seniornya tersebut.
" Kakak serius mau bantu? Aku jadi ndak enak kalau ngerepotin."
" Gak kok, aku sama sekali gak merasa direpotin. Aku tulus pengen bantu kamu, boleh yah ?" Tampak Daru berpikir sebentar, namun lagi-lagi Ia mengalah setelah melihat wajah memelas Satya. Akhirnya, mereka berdua pun tenggelam dalam kesibukan membuat desain cover album itu, sambil mengobrol dan sesekali bersenda gurau hingga membuat keributan kecil yang menyebabkan mereka kena tegur Ibu penjaga perpustakaan, namun teguran itu tidak membuat keduanya berhenti tertawa, mereka seolah merasa bahwa dunia hanya milik mereka berdua.
Dua jam kemudian, kerjaan mereka akhirnya selesai. Ada total 6 desain yang di buat, 3 hasil karya Satya dan sisanya hasil karya Daru. Keduanya cukup puas dengan hasil karya masing-masing, terbukti dengan pujian-pujian yang mereka lontarkan satu sama lain, pujian tulus tanpa adanya maksud tertentu karena keduanya memang merupakan seniman yang hebat.
" Sekali lagi makasih yah Kak! Besok aku akan nyerahin desain-desain ini ke Kak Akram, semoga dia-nya puas. " Daru tak henti-hentinya memandangi doodle-doodle yang bertumpuk rapi di atas meja, syukurlah tugasnya bisa selesai hari ini juga.
" Bdw perpus udah mau tutup, kita balik yuk, kamu pulang sama siapa?" Tanya Satya yang tak mau melewatkan sedikitpun kesempatan untuk bisa bersama Daru, jika anak itu pulang sendiri kan dia bisa mengantarnya, hitung-hitung bisa tau tempat tinggal sang pujaan hati.
" Sendiri aja kak ." Jawab Daru spontan, sejak beberapa hari yang lalu, Raka memang sudah tidak mengantar jemputnya lagi, cowok itu kerap pergi sebelum Daru selesai bersiap-siap ke kampus dan baru pulang ketika Daru sudah tenggelam dalam tidurnya.
" Kalau gitu aku antar kamu pulang yah, sekalian aku juga mau pulang ini." Tawaran Satya jelas di tolak mentah-mentah oleh Daru. Mana mungkin Ia mau diantar pulang setelah membuat Satya tinggal sampai sore untuk membantunya menyelesaikan proyek tadi, tentu saja Daru tidak enak, meskipun Satya memelas sekalipun, Daru tetap bersikeras untuk menolaknya. Untung saja Daru tidak perlu capek-capek melakukan penolakan karena dari arah luar perpustakaan, seorang pria bertubuh jangkung dan berwajah sangar yang di kenali Daru sebagai kakak wakil ketua Bem memasuki ruangan lalu menegur Satya.
" Disini Lo rupanya, gue cari-cari dari tadi, kirain Lo udah cabut ." Suara berat dari seniornya yang kini merangkul pundak Satya membuat bulu kuduk Daru merinding, Ia tak pernah melihat seseorang seseram wakil ketua Bem-nya itu sebelumnya.
" Ngapain Lo cari-cari gue? Ini gua udah mau pulang." Seketika wibawa Satya ngacir entah kemana saat berhadapan dengan teman angkatannya itu, Ia juga refleks menepis lengan kekar yang melingkar protective di bahunya .
" Enak aja main pulang-pulang, sebentar lagi kita ada rapat dengan ketua-ketua UKM ! Lo mau kabur gitu aja, jangan harap gue izinin!" Mendengar perkataan Zaldhy, Satya seperti di banting ke tanah setelah Ia sudah terbang tinggi ke awan menikmati momment-momment PDKT-nya bersama Daru. Ia benar-benar lupa akan rapat itu. Sial! Umpatnya.
" Kalau begitu saya balik duluan yah kak, sekali lagi makasih atas bantuannya. Oh ya, semoga rapatnya berjalan lancar." Satya hanya bisa pasrah saat Ia harus merelakan sang pujaan hati menghilang di balik pintu perpustakaan setelah berpamitan dengannya, sementara di sebelahnya, Zaldhy menatap tidak suka pada Daru yang baru saja pergi. Ada gejolak aneh dalam hati pria jangkung itu, apalagi jika bukan..... rasa cemburu.
" Katanya sebentar lagi rapat! Kok lo masih bengong disitu?! Yuk ke ruang Bem !" Seru Satya jengkel pada Zaldhy yang tiba-tiba datang mengacaukan rencananya untuk mengantar Daru pulang.
" Iya-iya, gak usah sewot gitu kali." Zaldhy kembali merangkul pundak Satya, namun kali ini, sang ketua Bem tidak menolaknya.
To Be Continued...