Malam itu Daru tidur nyenyak sekali, keresahan yang bersarang di hatinya menguap seketika dengan kehadiran Raka pada malam setelah acara pamerannya usai, rasa takut akan kehilangan pria yang sangat dicintainya semerta-merta menghilang saat mereka saling memagut mesra.
Mata Daru membuka perlahan, Ia menguap sebentar sebelum benar-benar membuka kedua matanya yang bulat. Di sebelahnya, weker di atas nakas menunjukkan pukul 05.00, masih banyak waktu bagi Daru untuk menyiapkan sarapan pagi, karena itu, dia tidak langsung melompat bangun dari kasur melainkan membiarkan pikiranya mengawang-ngawang sebentar.
Jari-jari Daru yang jenjang refleks menyentuh bibir ranumnya saat tak sengaja pikirannya mengarah pada kejadian kemarin malam, saat dimana tangisnya pecah dalam dekapan Raka lalu Ia menciumnya agar diam. Daru bisa merasakan ciuman Raka yang berbeda dari sebelumnya, seketika hatinya membuncah, Raka menginginkannya sama seperti dia menginginkan cowok itu. Wajah Daru memerah secara drastis, mengingat dirinya yang begitu agresive dalam membalas ciuman sang pujaan hatinya membuatnya malu. Ia tidak menyangka jika sampai lupa diri dan bertindak sejauh itu. Daru menarik bantal yang Ia tiduri kemudian membenamkan wajahnya pada buntalan kapuk berlapis sarung bunga-bunga tersebut. Namun tak lama kemudian, Ia langsung menyingkirkan bantalnya dan segera bangkit terduduk di atas kasur seolah menyadari sesuatu.
" Apa Mas Raka juga mencintaiku? Apa dia menciumku karena mencintaiku?!!" Bisa-bisanya Daru baru tersadar sekarang, Ia tak pernah memikirkannya lagi sejak ciuman mereka yang terakhir di koridor, tetapi malam itu Raka tidak sekedar menempelkan bibirnya saja, dia juga....saking malunya, Daru sampai tidak kuat untuk mengingatnya. Apakah dia menjadi cowok m***m sekarang? Apakah dia sudah menjadi cowok murahan karena membiarkan seseorang menciumnya tanpa ada ikatan apapun? Bukankah ciuman semestinya dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai? Lalu...apakah Raka mencintainya ? apakah ciuman kemarin malam membuat mereka terjalin dalam sebuah ikatan cinta ? Rona merah di wajah Daru seketika menghilang, jantungnya mulai berdegub kencang tak karuan. Ia bingung, Ia benar-benar bingung sekarang.
" Bagaimana ini? Apa aku harus menanyakannya? Tapi apa yang harus kutanyakan?????"
Apa yang terjadi semalam seolah mengalir begitu saja, bohong jika Daru bilang Ia tidak menginginkan hal itu terjadi, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Daru mendamba ciuman itu, Ia ingin Raka menciumnya lagi, lagi, dan lagi, tetapi sebagian dirinya merasa bahwa hal itu salah, semestinya Ia menampar Raka atau menjauhi pria yang dengan lancangnya telah merebut ciumannya tanpa mempertegas status mereka.
" Aku harus bicara pada Mas Raka, Aku harus bicara padanya hari ini juga !!" Daru telah membulatkan tekad, Ia kini mengumpulkan segenap keberanian untuk mengutarakan kegundahan di hatinya. Ia tidak ingin di permainkan oleh cinta, Ia tidak mau menjadi lelaki murahan, sahabatnya pasti akan sangat setuju dengan keputusannya, Daru yakin sekali.
Buru-buru Ia turun dari kasur, Daru membersihkan tempat tidurnya terlebih dahulu lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Selama berada di dapur, tak henti-hentinya Ia mempersiapkan pertanyaan yang tepat untuk ditanyakannya pada Raka,
" Mas kenapa kau selalu menciumku? Apa kau mencintaiku?"
Daru menggelengkan kepala keras-keras, tidak mungkin Ia berani untuk bertanya segamblang itu, jika Dia sampai berani melakukannya, berarti jiwanya tertukar dengan Alvin.
Lalu, bagaimana dengan,
" Apa sebenarnya arti diriku di hati mu Mas ?"
'Waaaaah...memalukan, memalukan, tidak-tidak itu sangat memalukaaaan!!!!' Teriak Daru dalam benaknya.
Ia tidak menyangka akan sesulit ini mengajukan sebuah pertanyaan yang bersifat intim. Cowok manis itu mulai merasa galau. Ia pun sempat berpikir untuk menunggu sedikit lagi, mungkin Raka hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaannya, seperti yang pernah dikatakan Alvin, bahwa tinggal tunggu waktu saja sampai Raka menembaknya.
Tapi sampai kapan dirinya harus terus menunggu? Lalu bagaimana jika Raka tak akan pernah menyatakan perasaannya? Apa yang harus Ia lakukan ? Bukankah sudah terlambat jika Daru marah-marah pada Raka karena telah mencuri ciumannya tanpa adanya kejelasan hubungan sama sekali ?!
Hoaaaah.......Beginikah rasanya jatuh cinta? Semua hal terasa begitu ribet, terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang kita sendiri terlalu takut untuk mengetahui jawabannya. Batin Daru dalam hati sembari merajam bawang putih.
Detik demi detik berlalu, waktu seolah berhembus begitu saja, karena terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran yang tak memiliki jalan keluar, Daru tidak menyadari bahwa masakan-masakan yang Ia buat telah selesai dan sekarang waktunya untuk membangunkan seseorang yang sudah membuat otaknya hampir pecah.
" Baiklah, Aku harus tenang. Aku tidak boleh panik kalau bertanya pada Mas Raka nanti." Daru menarik nafas dalam-dalam, kemudian beranjak meninggalkan dapur dan naik ke lantai atas membangunkan Raka.
Cowok manis berambut hitam jatuh serta bertubuh ramping bak model itu membuka pintu kamar pria tampan pujaan hatinya. Kali ini, kamar besar tersebut tak segelap biasanya, Daru dapat melihat sebuah spotlight mungil bertengger tepat di atas lukisan raksasa miliknya yang di pajang Raka tepat diseberang tempat tidurnya. Bibir mungil Daru mengulas senyuman lembut, Ia senang sekali Mas Raka mau mengambil lukisannya lalu memajangnya di kamar pribadinya, dari tempatnya berdiri, Daru juga menyadari, bahwa lukisan itu sengaja di taruh Raka tepat berhadapan dengan tempat tidurnya sehingga siapapun yang berada di atas kasur besar itu bisa terus memandanginya.
Seperti biasa, jika sudah berada di kamar Raka, pertama-tama Daru membuka gorden agar cahaya mentari segera memberikan kehidupan untuk kamar itu, kemudian, jika Ia mendapati banyak benda yang berserakan di sekitar ruangan, maka Ia tak akan segan-segan untuk merapikannya terlebih dahulu, seperti meletakkan majalah-majalah otomotif Raka kembali pada tempatnya, dan melipat pakaiannya yang Ia biarkan berserakan sembarangan sebelum naik ke atas kasur untuk tidur dengan tubuh setengah telanjang. Terkadang wajah Daru di buat panas saat Ia melipat pakaian dalam Raka yang tergolek di atas kursi, pada awalnya Ia sedikit kaget melihat ukuran underwear Raka yang jauh lebih besar daripada miliknya, tapi sebenarnya Ia tak perlu heran secara tubuh Raka memang lebih besar khas pria-pria bule di luaran sana, tinggi badannya saja hampir mencapai 2 meter. Jika bediri di samping Raka, Daru tampak begitu menyedihkan, Ia terlihat sangat pendek dan juga mungil, padahal tinggi Daru cukup proporsional yaitu kisaran 170 cm.
Setelah puas merapikan barang-barang Raka yang berserakan, Daru pun tak ingin berlama-lama mebiarkan cowok yang telah membuatnya banyak pikiran akhir-akhir ini tetap berbaring nyaman di atas singgasananya. Perlahan Ia berjalan mendekat ke arah Raka lalu duduk di samping tempat tidurnya. Senang sekali rasanya bagi Daru bisa melihat Raka masih tertidur pulas di sana, tidak seperti kemarin ketika Ia masuk ke kamar ini dan mendapati tempat tidur Raka kosong, jantung Daru seperti nyaris berhenti waktu itu, Ia takut, Ia takut jika Raka pergi meninggalkannya tanpa kabar. Keberadaan cowok itu sudah menjadi candu baginya. Kini Daru tak bisa lagi membayangkan hidup tanpa adanya Raka disisinya, Ia tak tahu sejak kapan dirinya menjadi sebegitu tergantung pada Raka, tapi yang Daru tahu, jika Raka pergi meninggalkannya, maka hidupnya tak lagi sempurna.
" Mas bangun, sudah pagi..." tubuh Raka yang dibungkus oleh selimut di tepuk-tepuk perlahan oleh Daru. Beberapa kali tepukan, Raka tetap tak merespon. Ia malah semakin memperbaiki posisinya.
" MAS BANGUUUUUUUN!!!! Seru Daru gusar sembari mengguncang-guncangkan tubuh Raka lebih keras.
Akibat guncangan hebat itu, tak sengaja sebuah buku terjatuh dari samping tubuh Raka.
Dengan kening berkerut Daru memungut buku yang tergelatak mengkurap di lantai, Ia heran, sebab tak biasaaya Raka membaca buku apalagi jika sampai Ia bawa tidur, biasanya hanya majalah-majalah otomotif saja yang di baca cowok itu.
Saat sudah berada di tangannya, Daru mencoba membaca sinopsis di belakang buku yang cukup tebal tersebut.
Ketika matanya meangkap sebuah tulisan " .... Seorang istri yang sedang dalam masa kehamilan tentu menjadi sangat sensitive. Karena itu, sebagai seorang suami anda harus mengetahui trik dan cara ampuh untuk menghadapi Istri anda yang sedang mengandung, dalam buku ini sudah kami rangkum berbagai tips bagi para suami untuk menghadapi Istri dalam masa kehamilan...." Seketika tububnya membeku.
Apa ini? Mengapa Mas Raka membaca buku seperti ini? Tanya Daru dalam hati.
Jantungnya mulai berdegub kencang, Ia seolah baru saja mendapatkan kabar buruk.
" Ru...," gumaman Raka membuat Daru terperanjat, buru-buru Ia kembali menyelipkan buku itu ke dalam selimut di samping Raka. Sepertinya Raka tidak menyadari jika Daru baru saja melihat buku itu, karena matanya masih setengah tertutup.
" Mas sudah bangun? ...Kalau begitu aku tunggu di bawah yah ....," sebisa mungkin Daru mengontrol suaranya agar tidak terdengar seperti orang yang sesak nafas, Ia tidak ingin Raka menyadari perubahan yang terjadi pada emosinya.
" Hnnngh...bentar lagi...gue turun." Daru mengangguk perlahan kemudian tanpa pikir panjang, Ia berlalu meninggalkan ruangan.
Cowok manis itu refleks berdiri mematung setelah Ia menutup pintu kamar di belakangnya. Otaknya kembali bekerja, kali ini bukan memusingkan pertanyaan mengenai ciuman kemarin tetapi digantikan oleh " Mengapa Mas Raka membaca buku seperti itu? Dia..., tidak mungkinkan dia akan menjadi seorang ayah, Dia bahkan belum menikah ?!!" Pikiran-pikiran negative Daru mulai merasuki kepalanya, salah satu pikiran negative-nya mengatakan bahwa seseorang tak perlu berada dalam sebuah ikatan pernikahan untuk menjadi seorang ayah pada zaman edan seperti sekarang ini. Banyak di luaran sana sepasang kekasih yang memiliki anak di luar nikah, dan tidak sedikit dari mereka merasa fine-fine saja dengan keadaan tersebut. Bukan hanya pikiran ngative-nya saja yang menghasut, namun pikiran positive Daru tetap berusaha mensterilkan otaknya,
" Raka bukan tipe pria tidak bertanggung jawab, mana mungkin Ia membuat seorang wanita hamil tanpa menikahinya, mungkin Raka membaca buku itu untuk membantu temannya yang sebentar lagi mempunyai anak. Yah...mungkin seperti itu ." Ujar pikiran positive Daru.
" Apa Raka orang bodoh? Mengapa dia mau repot-repot membacanya alih-alih memberikan buku itu pada temannya secara langsung ? Apa temannya buta huruf ? Yang benar saja..." balas pikiran negative Daru tak mau kalah.
Merasa muak dengan kedua pikirannya yang saling mencoba mendominasi, Daru pun menggeleng-gelengkan kepala frustasi untuk mengehentikan mereka. Ia menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan, mencoba menenangkan diri. Batin serta pikirannya sudah terlalu lelah dengan semua hal yang terkait masalah percintaannya akhir-akhir ini, Daru sudah capek, Ia tidak ingin memikirkannya lagi, lebih baik Ia langsung menanyakannya pada Raka saat sarapan nanti.
15 menit kemudian Raka turun ke ruang makan, wajahnya tampak segar sehabis mandi, Ia terlihat semakin tampan saat rambutnya yang berwarna cokekat tua masih dalam keadaan setengah kering dan berantakan. Rambut Raka adalah bagian dari tubuhnya yang paling di sukai Daru setelah rahang kokoh cowok itu, entah mengapa Ia sangat suka menyisir rambut Raka dengan jari-jarinya yang jenjang saat cowok itu sesekali meminjam pahanya untuk berbaring di ruang tengah atau di kamar.
Daru sudah lebih dulu duduk manis di kursi, Ia tengah mengelap-ngelap permukaan piring menggunakan tissue saat Raka ikut bergabung bersamanya di meja makan.
" Maaf udah ngebuat Lo menunggu, lain kali makan aja duluan dek..." Daru menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara berat Raka, kadang-kadang pria itu memanggilnya adek, entah mengapa Daru merasa sedikit ganjil ketika Raka yang mengucapkannya, seolah-olah mereka adalah dua orang asing yang baru saja berkenalan beberapa menit yang lalu.
" Nda' papa Mas, lagian nda' sopan kalau kita makan mendahului yang punya rumah, Bu'e pasti akan memukulku kalau melakukan itu." Jawab Daru polos.
Raka lupa jika anak yang Ia temani bicara adalah orang yang menjunjung tinggi tata krama, berbeda sekali dengan dirinya yang bisa bebas melakukan apapun tanpa banyak aturan yang mengikat.
" Ooh... Sorry klo gitu, gue gak tau. Ya udah, makan gih." Raka menggaruk tengkuknya canggung, entah hanya perasaannya saja atau bukan, Daru terlihat sedikit berbeda pagi ini, dia tak seceria biasanya, seperti ada hal yang mengganggu pikirannya.
"Apa jangan-jangan Daru masih marah atas kejadian kemarin?" Tanya Raka dalam hati.
" ah gak mungkin! Kita kan dah baikan setelah ciuman it— refleks Raka terdiam, takut-takut Ia mengangkat wajah untuk melihat ekspresi Daru. Wajah anak itu tampak datar, Ia bahkan lebih banyak diam, Raka jadi merasa bersalah. Apa Ia harus minta maaf?
" Mas...," tiba-tiba Daru membuka suara.
Here it comes, aura di sekitar mereka menjadi tegang.
" Ya?" Tanya Raka singkat, mata elang-nya yang tajam menatap Daru tepat di matanya.
Di tatap se-intens itu dengan Raka kontan membuat mulut Daru kelu, detak jantungnya kembali berdentum tidak normal. Tiba-tiba Ia lupa akan menanyakan apa! Tentang ciumannya kah? Atau tentang buku itu?
" Mas aku —
Trrt trrt trrrt
Ponsel Raka yang tergeletak di atas meja bergetar, ringtone-nya yang berbunyi nyaring membuat sang empunya ponsel tidak bisa tidak menghiraukannya.
" Sebentar, gue angkat telpon dulu.." Raka meraih ponselnya, Ia sedikit terkejut saat melihat nama Karina terpampang di layar.
"Sial! Apa terjadi sesuatu padanya??" Batin Raka lalu bangkit dari kursi dan meninggalkan meja makan untuk mengangkat telpon.
Melihat tingkah Raka yang sedikit aneh, mau tak mau membuat Daru curiga,
''Siapa yang menelpon Mas Raka? Mengapa dia tidak mengangkatnya di depanku seperti biasanya? Apa jangan-jangan..."
Tak lama kemudian Raka kembali ke ruang makan, wajahnya terlihat sedikit aneh, Ia juga tampak buru-buru.
" Daru...Maaf. Gue gak bisa sarapan di rumah, gue harus pergi." sebenarnya Raka merasa tidak enak dengan Daru yang sudah capek-capek membuatkan sarapan untuknya, tetapi Karina membutuhkannya saat ini. Wanita itu bilang kalau perutnya sakit sekali, Raka tidak bisa membiarkannya begitu saja, Ia harus segera membawa Karina ke rumah sakit.
" Ada apa Mas, kenapa tiba-tiba?" Raka terdiam, Ia tidak bisa mengatakannya pada Daru sekarang, belum waktunya anak itu mengenal Karina, meskipun Daru pasti telah bertemu dengannya, secara Karina adalah asisten dosen di kampusnya, namun tetap saja...Raka belum bisa mengenalkannya pada Daru, saatnya benar-benar belum tepat.
" Gue gak bisa mengatakannya, ini urusan pribadi Gue, maaf." Kata-kata Raka membuat Daru bungkam, hatinya seketika terasa sakit, mengapa? Daru sendiri tidak mengerti.
" Oh iya, kalau gue pulangnya larut, Lo makan malam aja duluan, tidak usah nunggu gue." Daru masih terdiam, Ia sama sekali tidak merespon kata-kata pria di hadapannya.
Melihat cowok manis di depannya menunduk dalam-dalam tanpa memandangnya sama sekali, Raka mengambil inisiatif untuk mendekatinya. Perlahan Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh kepala Daru, namun saat tangannya sudah hampir menyentuh rambut anak itu, Raka berhenti.
Ia menghela nafas panjang,
" Gue pergi..."
" Mengapa...mengapa kau menciumku Mas? Sebenarnya apa arti diriku bagimu.....?— omongan Daru berhenti sejenak, cowok manis itu berusaha sekuat tenaga untuk menahan gejolak rasa sakit di hatinya.
" Apa kau mencintaiku Mas? Apa kau mencintaiku seperti aku mencintaimu?"
Akhirnya Daru bisa mengutarakan isi hatinya, akhirnya Ia bisa mengungkapkan apa yang menjadi beban pikirannya akhir-akhir ini, tapi sayang......
Raka tak bisa mendengarnya, Ia sudah berlalu meninggalkan Daru...
Sendirian.
To Be Continued~~