~14~ Waiting for You

5116 Words
Sedari tadi Daru tidak bisa berhenti gelisah di kamarnya, jam di nakas sudah menunjukkan pukul 00.00 tapi Raka sama sekali belum pulang ke rumah, ponselnya juga mati dan Daru tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia sempat mencoba menelfon Alvin dan bertanya apakah Ia memiliki nomor Aro atau Ardhan, tapi sayang nomor mereka juga hilang dari kontak ponsel Alvin yang memang beberapa waktu lalu mengalami error. Daru takut terjadi apa-apa pada Raka sebab ini adalah kali pertama Ia pulang telat dan tidak menghubunginya. " Kamu dimana Mas? Aku khawatir... " gumam Daru resah pada dirinya sendiri. Ia meraih jaket Raka yang sudah dilipatnya Rapi di atas kursi, semestinya jaket itu sudah harus kembali pada sang empunya, namun Daru masih menahannya, entah untuk apa tetapi yang Ia tahu, Ia masih ingin berlama-lama menyimpan benda yang memiliki bau khas Raka. Daru menenggelamkan wajah pada jaket hitam di tangannya, benda itu masih menguarkan bau yang sama membuat Daru merasa jika saat ini Ia tengah memeluk Raka. Hatinya yang sedari tadi gundah kini mulai tenang, benda di tangannya seperti memiliki sihir yang mampu menghilangkan keresahan di hatinya. Bruum...Bruum  Suara Wrangler Raka yang memasuki halaman rumah membuat Daru terlonjak. Ia segera bangkit dari kasur dan tanpa pikir panjang langsung berlari ke bawah. Dengan terburu-buru Daru membuka pintu rumah,  seketika perasaannya lega bukan main. Raka sudah pulang, Ia juga kelihatan  baik-baik saja , namun ada sedikit gurat aneh yang tampak di wajah tampannya. Melihat Raka berjalan perlahan memasuki teras, ingin sekali rasanya Daru menghambur kepelukannya tetapi Ia sadar, Ia bukan siapa-siapa yang bisa dengan lancangnya melakukan hal itu, Yang bisa Daru lakukan saat ini adalah menyambut Raka dengan senyuman hangat seperti biasanya, senyuman yang membuat kedua lesung pipi favorit Raka muncul. " Gue pulang...," Ujar Raka pelan sembari mengelus pipi Daru lembut. Jari-jarinya yang besar juga tidak absent untuk mengusap lesung pipi cowok manis di hadapannya . " Selamat datang. Mas pasti capek, aku masakin air dulu y —" Daru tidak sempat melanjutkan omongannya karena tiba-tiba saja pria yang sejak tadi di khawatirkannya itu memeluknya. Lengan besar Raka melingkar dipinggang ramping Daru, sementara wajahnya Ia tenggelamkan dalam lekukan leher jenjang cowok manis itu. Bulu kuduk Daru sampai merinding merasakan hangat nafas Raka yang memburu di lehernya. Ia juga bisa menghirup bau maskulin Raka yang amat sangat disukainya saat Ia membenamkan wajah di d**a bidangnnya, tetapi sesuatu mengganggu indra penciuman Daru. Mengapa ada bau wanita di tubuh Raka?" *** Seluruh Mahasiswa Seni Rupa IKJ baik junior maupun senior sedang sibuk mondar-mandir di Hall fakultas Mereka beberapa jam sebelum open gate. Mereka saling bersahut-sahutan satu sama lain sembaril memindahkan stand-stand lukisan beserta karya-karya para seniman. Tidak sedikit dari junior yang kena damprat oleh seniornya karena melakukan kesalahan, baik kesalahan ringan sekalipun, tetapi tidak sedikit juga senior yang kena omel oleh Dosen mereka sebab bisa-bisanya Hall masih dalam keadaan kacau padahal beberapa jam lagi pameran Akbar akan di gelar. " Sialan, lukisan Kak Eghi kemana??  Mampus!!" Seru salah seorang junior yang kelabakan mencari karya senior tua di kampusnya. Ia berlari kesana kemari sambil sesekali memeriksa lukisan-lukisan yang bersandar di dinding. " Lo nyari ini??" Tanya seorang anak berwajah marmut yang seangkatan dengannya. " Akh iya lukisan itu!! Thanks banget yah Vin, kalau gak ada Lo mungkin gua udah kena busur senior." Ujarnya menepuk-nepuk punggung alvin. " Sip. Bdw...Lo liat Kak Karina gak? Kok dari tadi gue gak liat dia padahal dosen-dosen udah pada hadir tuh." Alvin melihat ke arah para dosen yang mulai berkumpul, matanya masih berusaha mencari keberadaan asdos cantik yang menjadi tokoh utama dalam mimpinya tadi malam. " Dari tadi juga gua gak liat dia Bro, mungkin aja Kak Karina belum datang." Alvin mendengus kecewa, Ia pun mengangguk pasrah kepada temannya lalu mempersilahkan anak itu kembali pada kesibukannya mengatur stand. " Kak Karina belum muncul, Daru juga belum muncul. Anak itu kemana sih?!" Tak lama setelah Alvin ngomong, di kejauhan tampak sahabatnya berlari-lari kecil menghampirinya, Wajah manisnya terlihat kelelahan. Daru mengatur nafasnya yang memburu saat berhenti di hadapan Alvin, Ia membungkuk setengah untuk menenangkan jantungnya yang sudah nyaris copot. " Hahh...haah...Vin maaf...aku...telat... hah," kedua alis Alvin bertaut, aneh, kenapa Daru datangnya telat? Bukannya dari kemarin dia yang paling semangat dengan acara ini? Malahan Alvin berpikir kalau sahabatnya bakal stay di tempat sejak subuh. " Kok Lo bisa telat sih Ru? Terus kenapa sampai keringatan gitu, emang Lo lari dari rumah sampai ke sini?" Tanya Alvin setengah bercanda namun di balas anggukan oleh sahabatnya itu. " Aku...aku memang lari dari rumah sampai ke sini Vin ." Mulut Alvin terbuka lebar mendengar jawaban Daru, mengapa sahabatnya bisa  sampai berlari ke kampus? Lalu Raka kemana??! Semakin banyak pertanyaan di kepala Alvin, Ia tidak habis pikir, bisa-bisanya Raka meninggalkan Daru di hari pentingnya. " Mas Raka mana? Dia gak nganter Lo?" Raut wajah Daru terlihat sedikit aneh saat Alvin menanyakan keberadaan Raka. Sejak Daru bangun pagi tadi, Cowok tampan itu memang sudah tidak ada di rumah, berkali-kali Daru mengetuk pintu kamarnya tetapi tak ada jawaban, waktu Ia memutuskan untuk memeriksa ke dalam, saat itulah kekosongan menyambutnya. Kamar Raka dingin, terlihat gelap seperti biasanya, juga tak ada tanda-tanda keberadaan seseorang di sana. Awalnya Daru berpikir Raka sudah bangun dan berada di lantai bawah, tapi sama saja, Daru tetap disambut oleh keheningan saat turun ke lantai satu. Semalam cowok tampan yang menjadi pujaan hati Daru itu memang tampak aneh, Ia tiba-tiba saja memeluk tubuhnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan saat mereka sudah berada di dalam rumah dan Daru telah menyiapkan air hangat untuk di pakainya, Ia tetap bungkam. Sikap Raka yang diam dan dilingkupi oleh aura dingin membuat Daru takut untuk bertanya macam-macam, alhasil cowok manis itu pasrah saja saat Raka menyuruhnya untuk tidur duluan. Di dalam kamar, bukannya naik ke atas kasur lalu tidur, Daru malah duduk bersandar di kepala tempat tidur-nya  sembari memikirkan perubahan sikap Raka, juga bau wanita yang tak sengaja di ciumnya saat berpelukan dengannya. Tiba-tiba hati Daru terasaa ngilu, ada sebuah perasaan tidak enak yang melingkupi dirinya, perasaan tidak enak itulah yang membuatnya terjaga hingga lepas malam, dan baru jatuh tertidur saat Adzan subuh berkumandang di Masjid kompleks. " Nda' Vin, Mas Raka bilang dia ada urusan jadi harus buru-buru pergi, lagian Aku juga yang salah karena bangun kesiangan, semalam aku terlalu tegang memikirkan acara ini, jadinya telat bobo'..." Daru terpaksa berbohong pada Alvin, Ia tahu jika sahabatnya adalah tipe orang yang tidak bisa tenang kalau terjadi sesuatu pada dirinya, makanya, sebisa mungkin Daru menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja, meskipun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ia merasa ketakutan. Takut kehilangan orang yang sangat dicintainya. " Eeh...kalian berdua!!  Ngapain masih ngobrol di situ?  Sana bantuin teman-teman kalian !!" Seru salah seorang senior wanita yang tak sengaja mendapati Alvin dan Daru tengah mengobrol di tengah-tengah hall. Refleks Daru meminta maaf pada kakak angkatannya, sementara Alvin malah menjulurkan lidahnya jengkel saat senior sewot itu telah berbalik memunggungi mereka. " Dasar Mak lampir, pantas aja gak laku-laku!" Daru menyikut lengan Alvin keras, menyuruhnya untuk jaga mulut, jangan sampai Ia terlibat masalah lagi dengan senior seperti beberapa hari yang lalu, saat Ia mendapatkan tamparan pedis di pipinya oleh salah seorang senior wanita di Bem yang tak sengaja mendengar umpatannya. Alvin memang tipe orang yang ceplas ceplos, terkadang Ia langsung mengungkapkan apa yang ada di kepalanya tanpa berpikir terlebih dahulu, bersyukur dia memiliki Daru di sampaingnya, setidaknya ada yang senantiasa mengingatkan kelalaiannya. Daru memindahkan lukisannya dari studio menuju ke hall dimana para Maba sudah disiapkan tempat tersendiri untuk memajang karya-karya mereka. Lukisan Daru berada di tempat yang berbeda dengan milik Alvin sebab tema dari karya mereka berbeda, Daru mengangkat tema cinta sementara Alvin tentang alam, sahabatnya memang sangat menyukai hal-hal yang berbau lingkungan dan makhkuk hidup, maka dari itu Alvin tak pernah lepas dari hobinya menonton National Geography channel juga mengoleksi buku-buku yang berkaitan dengan itu. Daru menarik nafas panjang saat Ia telah selesai memajang karyanya juga membantu teman-teman angkatannya yang lain, 10 menit lagi sudah open gate, acara pameran berlangsung dari jam 10 pagi hingga 7 malam, bukan hanya menampilkan karya-karya seni rupa, tetapi dalam acara tersebut juga menampilkan pementasan seni dari seluruh jurusan yang ada di Universitas IKJ, mulai dari sastra, teater, dan juga musik. Para tamu yang di undang juga bukan hanya dari civitas akademik saja melainkan beberapa pejabat tinggi sampai menteri kebudayaan, para seniman kondang di Indonesia juga turut meramaikan acara besar ini, karena itu sejak beberapa hari yang lalu, Daru begitu excited menanti-nanti acara ini. Saat hari yang di nanti-nantinya tiba, bukannya senang dan bersemangat, Daru malah terduduk lesu di atas kursi panjang depan lukisannya, Ia memandang kosong ke arah lukisan besar yang sengaja di buatnya khusus untuk di tunjukkan pada sang pujaan hati, saat ini Daru tidak tahu lagi apakah pria itu akan muncul di acara ini atau tidak. Ia terlalu takut untuk menghubungi Raka, takut jika cowok itu tidak menggubrisnya. Daru hanya bisa berdoa, semoga saja Raka datang dan melihat karyanya, karya yang di buat Daru penuh rasa cinta untuknya. " Dek, ngapain kamu masih disini? Kita udah mau open gate, cepat ke depan." Seseorang bersuara berat mengagetkan Daru, Ia refleks berbalik lalu mendapati ketua Bem-nya berdiri tepat di belakang punggungnya. " Ah...oh iyya kak, saya segera ke depan." Merasa tidak enak karena melamun sendirian sementara teman-temannya sudah berkumpul di depan membuat Daru sedikit canggung, Ia membungkuk sopan pada pria tampan idola para wanita di jurusannya itu kemudian berlalu meninggalkan sang kakak ketua Bem yang masih berdiri di tempatnya. " Waah...lukisan ini ngebuat gue merinding, benar-benar dibuat dengan penuh perasaan..." Gumam cowok bernama Satya yang menjadi ketua Bem jurusan Seni Rupa saat tanpa sengaja Ia melihat ke stand dimana lukisan Daru terpajang. Alvin kembali menggeleng-gelengkan kepala ketika Ia memergoki Daru menyusup di antara kerumunan orang dengan terburu-buru, "Kenapa tingkah Daru aneh sekali hari ini? Pasti terjadi sesuatu dengannya." Ujar Alvin dalam hati. Daru bukan orang yang bisa menutupi perasaannya, Ia seperti buku yang terbuka, orang-orang bisa dengan cepat menebak apa yang sedang dirasakan Daru walaupun anak itu mati-matian menyembunyikannya. Di atas panggung yang berada di area depan pintu Hall fakultas seni rupa, Bapak Dekan fakultas Mereka memberikan sambutan sekaligus membuka acara pameran akbar tahunan fakultas seni rupa IKJ, para tamu yang hadir serta keluarga besar Mahasiswa IKJ bersorak-sorai penuh semangat atas di bukanya acara itu. Usai prosesi pembukaan sekaligus pembacaan doa, satu persatu penghibur menaiki panggung untuk meramaikan acara tersebut, paduan suara dari fakultas musik mulai unjuk gigi di atas sana sementara para mahasiswa Seni rupa kembali pada stand-stand mereka masing-masing. Tiap Mahasiswa yang karyanya di pajang wajib berada di dekat karya mereka, sebab mereka bertanggung jawab untuk menjelaskan karya tersebut kepada para pengunjung. Alvin dan Daru sempat bertukar senyum sebagai penyemangat bagi satu sama lain karena mereka berada di area yang berbeda sehingga mustahil untuk saling bersenda gurau. Sebisa mungkin Daru menekan perasaannya yang tidak tenang, Ia tetap memberikan senyum termanisnya kepada para pengunjung yang singgah untuk melihat serta memuji keindahan lukisannya. Salah seorang seniman senior di kampusnya bahkan terang-terangan mengatakan bahwa lukisan Daru bisa berharga puluhan juta jika Ia mengikut sertakannya dalam pelelangan. Sayangnya, lukisan itu dibuat Daru bukan untuk acara lelang seperti Alvin yang jelas-jelas dari awal berniat untuk melelang lukisannya. Cowok manis itu tulus membuat karyanya untuk seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya saat ini, orang yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, juga yang telah  mengisi kekosongan dalam hatinya.  Detik demi detik berlalu, hari semakin sore, pengunjung pun semakin membludak, di atas panggung, acara pelelangan mulai di buka. Para calon pembeli serta penonton telah berkumpul di depan panggung sementara para seniman yang mengikut sertakan karyanya untuk dilelang di berikan tempat khusus di sisi timur panggung. Dari tempatnya menjaga stand, Daru bisa melihat Alvin sudah berbaris bersama para  peserta lelang lainnya, senyum sumringah khas Alvin menghiasi wajah imutnya, Ia tampak seperti anak TK yang baru saja di beritahu juri bahwa karyanya menjadi juara satu. Melihat kecerian di wajah sahabatnya membuat hati Daru sedikit tenang, jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore dan sedari tadi sama sekali tidak ada tanda-tanda kehadiran Raka. Daru hanya bisa bersabar, Ia terus berusaha menepis pikiran-pikiran negatif di kepalanya setidaknya Ia masih memiliki waktu 3 jam untuk menunggu sang pencuri hatinya. Saat tengah memperhatikan tingkah konyol sahabatnya dalam mempresentasikan karyanya di atas panggung, tiba-tiba saja bahu Daru di tepuk oleh seseorang dari belakang. Seketika jantung Daru berdegup kencang, akhirnya pria yang Ia tunggu-tunggu datang juga, dengan penuh semangat Daru berbalik ke belakang sembari memamerkan senyum termanisnya, " Mas Ra...," ucapan Daru terhenti ketika melihat wajah seseorang yang menepuk punggungnya barusan. " Mas Galih...," Rasa kecewa seketika meliputi hati Daru, ternyata bukan Raka yang datang, namun, karena tidak ingin membuat Galih tersinggung, Daru-pun tetap tersenyum selebar-lebarnya untuk menyambut cowok tampan berkacamata itu. " Sorry dek baru bisa datang jam segini, Aku kira acaranya sudah selesai, untung aja masih keburu." Ujar Galih sembari memamerkan senyum mempesonanya. Beberapa pengunjung wanita yang tidak sengaja lewat di dekat mereka dengan terang-terangan melirik ke arah Galih, Raka dan geng-nya memang kerap menarik perhatian para kaum hawa, tak heran sebab ke lima-nya memiliki kharisma luar biasa, wajah tampan, tubuh tinggi serta atletis membuat mereka tak jarang menjadi rebutan para wanita. " Nda' papa kok Mas, Mas udah sempatin datang aja aku seneng toh." Galih kembali tersenyum, Ia lalu mengalihkan pandangannya dari wajah manis Daru ke arah lukisan raksasa yang terpajang pada stand tepat di samping mereka. " Wow...!! ini karya kamu dek ?!" Mata Galih memandang takjub pada lukisan seorang pria yang sedang duduk di atas bukit sembari memandang jauh ke arah langit senja seolah sedang menunggu sesuatu. " Iyya, bagaimana menurut Mas?" Tanya Daru antusias berharap Galih menyukai lukisan buatannya itu. " This is amazing!! Aku sampai merinding melihatnya, hmmm...kalau boleh ku tebak, pria ini pasti sedang menunggu kehadiran sang bulannya kan ?" Daru sedikit terkejut, Ia tidak menyangka Galih bisa menebaknya secepat itu, padahal beberapa pengunjung yang sedari tadi memperhatikan karyanya tidak bisa memahami maksudnya, kecuali para seniman senior tentunya. " Tepat sekali, waah...Mas pengamat lukisan yang hebat!!" " Gak juga, aku cuma nebak-nebak aja kan waktu itu kamu bilang kalau judulnya memendam cinta pada sang bulan kan? Jadi kalau di lihat dari gerak gerik pria ini, jelas sekali kalau Ia sedang menunggu kehadiran sang pujaan hatinya." Hati Daru terasa tertohok mendengar ucapan Galih yang bisa dengan tepat menjabarkan perasannya saat ini. Bagi Daru Raka memang bulannya, pria yang mengelilingi dunianya tanpa henti, seseorang yang tak bisa dipisahkan dari hatinya yang Daru ibaratkan sebagai bumi. " Daru...?!" Panggilan Galih refleks mengembalikan cowok manis yang tiba-tiba saja tersesat dalam pikirannya sendiri itu kembali ke dunia nyata. " Iyya Mas ??" Jawab Daru salah tingkah. " Kamu melamun. Ngelamunin apa?" Kedua alis Galih menaut, seolah mencoba membaca pikiran Daru. Seperti mendengar bisikan entah dari mana, cowok tampan itu langsung membuka suara. " Raka belum datang ke sini yah?" Pertanyaan Galih membuat Daru semakin tertohok, mengapa sahabat Raka yang berdiri di depannya ini sangat pandai menebak isi hatinya, apakah dirinya bisa di baca semudah itu, Daru mulai frustasi. " Ehm...belum Mas, Mas Raka belum datang." Jawab Daru nyaris seperti bisikan, Ia menunduk dalam-dalam, matanya mulai sedikit berair, namun sekuat tenaga Ia berusaha agar tidak menangis. Galih bisa merasakan kesedihan melingkupi diri Daru dengan sangat jelas, melihat tubuhnya yang mulai bergetar, cowok berkacamata itu pun hendak menenangkannya dengan sebuah pelukan, tapi sayang, sebelum Galih sempat menyentuh Daru, ponsel di saku celananya berbunyi. Buru-buru Galih mengangkat telponnya yang ternyata dari salah seorang pengujinya. Hasil omongan Galih dan dosennya membuatnya terpaksa harus pamit kepada cowok manis yang ingin sekali di peluknya itu. " Dek maaf, sepertinya aku harus pamit duluan, salam buat Alvin yah.." Ujar Galih lembut sembari mengelus puncak kepala Daru, baginya Daru tampak seperti adik kecilnya yang begitu rapuh, melihat anak itu membuat Galih tergerak untuk menjaganya dan menyayanginya. " Iya Mas nda' papa, sekali lagi makasih udah datang." Daru membalas senyuman hangat Galih, Ia merasa senang dengan perlakuan cowok tampan yang begitu lembut di depannya itu, kebaikan serta kehangatan seorang kakak terpancar jelas dari dirinya. " Oh iyya aku boleh minta nomor kamu? Kapan-kapan kita jalan bareng oke." Tanpa pikir panjang Daru menukar nomornya dengan Galih, Ia akan senang sekali jika menghabiskan waktu dengan orang secerdas dan sebaik Galih, orang yang sudah Daru anggap seperti kakak kandungnya sendiri. Tak lama setelah say good bye dengan Galih, dari arah panggung, tampak sahabatnya berlari ke arahnya dengan senyum yang sangat lebar. " Daru gue dapat Dua  Belas juta lima ratus, lukisan gue di beli sama pak Dekan!!!" Alvin meloncat-loncat girang di hadapan Daru, sesekali Ia mempraktekkan tari hula-hula yang gak jelas, beberapa teman angkatan mereka juga menghampiri dan memberi selamat pada Alvin. Daru turut bahagia atas pencapaian sahabatnya, akhirnya impian Alvin membeli ponsel baru dengan uang hasil pelelangan lukisannya pun bisa terwujud. " Eh iyya Vin, tadi Mas Galih datang, dia nitip salam buat kamu." " Oh yaa?? Waah...gue gak sempat pamerin lukisan gue ke dia, bdw  bilangin ke kak Galih salam balik juga dari gue yah." Daru mengangguk patuh pada permintaan sahabat tersayangnya itu. " Hmm... Ru kayaknya gue gak bisa stay sampai penutupan deh, gue ada acara keluarga, Lo gak papa kan gue tinggal?" Tanya Alvin sedikit khawatir, sebenarnya Ia tidak tega meninggalkan Daru karena Ia tahu kalau sejak tadi Mas Raka belum datang-datang juga, tetapi apalah daya, kakak over protectivenya sudah berada di parkiran menjemputnya, terpaksa Alvin harus meninggalkan sahabatnya dengan berat hati. " Adduh...Nda' papa kok vin santai aja, di sini kan aku juga ndak sendirian, tuh masih banyak anak-anak yang lain." Ucap Daru lalu menunjuk ke arah kerumunan teman-teman angkatannya. Alvin menghela nafas panjang kemudian menepuk pundak  Daru. " Oke kalau gitu, tapi ingat yah Ru setelah penutupan Lo harus langsung pulang, ada atau tidaknya Kak Raka pokoknya kalau udah waktunya pulang jangan menunggu sendirian disini oke !" Alvin sengaja mempertegas kata-katanya karena Ia tahu kalau sahabatnya pasti akan menunggu Raka sampai batang hidung cowok itu muncul, tak peduli dengan bahaya apapun yang akan menimpanya. " Iya Vin, Aku janji bakal langsung pulang kok." " Beneran janji loh ya??" " Iyya...iyya," puas dengan jawaban Daru, Alvin-pun memeluk sahabatnya penuh sayang sebelum akhirnya pergi meninggalkannya seorang diri dalam penantian yang tak pasti. " Sampai kapan Kau akan membuatku menunggu Mas?" Tanya Daru sembari memandang lukisannya dengan mata berkaca-kaca. *** Di jalanan kota Jakarta yang macet, sebisa mungkin seorang pemuda tampan yang mengendarai mobil Wranglernya menyelip diantara celah-celah barisan mobil yang mengantri. Jantungnya berdegub kencang sekali seolah hendak meremukkan organ pusat kehidupannya itu. Tak henti-hentinya Ia melirik ke arloji yang melingkar di tangannya dan sesekali mengumpat kasar saat ada motor yang mencoba menghalangi jalannya. " God !! Semoga dia masih berada disana. Sialan ! bisa-bisanya gue lupa kalau hari ini pameran Daru." 15 menit lagi Pameran akbar tahunan fakultas Seni Rupa IKJ di tutup. Para peserta pameran sudah mulai membereskan barang-barang di stand mereka masing-masing. Tamu-tamu yang di undang juga sudah pada pulang, menyisakan Dosen-dosen penanggung jawab serta panitia acara yang masih stay di tempat hingga acara benar-benar selesai. " Ru, Lo kok belum beres-beres? Sebentar lagi kan dah closing?" Tanya seorang wanita teman angkatan Daru saat Ia melihat temannya masih duduk di depan lukisan raksasanya. " Ah, sebentar lagi Git, Aku masih nunggu seseorang." Gita yang mendengar jawaban Daru hanya mengangguk paham, padahal Dia berniat untuk membantu Daru membereskan stand-nya apabila Ia memang butuh bantuan. " Ya, udah kalau gitu, Gue balik duluan yah, bdw Lo hati-hati, jangan sampai kejadian pas pengkaderan terulang lagi." Ujar Gita memperingatkan. Kejadian saat Daru di kurung oleh senior di gudang saat pengkaderan beberapa waktu lalu memang terdengar oleh seluruh teman-teman angkatannya. Mendengar musibah yang menimpa Daru, jelas semua teman-teman angkatannya merasa geram, tak sedikit dari Mereka yang mengajukan protes ke pihak fakultas atas perbuatan tidak menyenangkan yang menimpa salah seorang teman Mereka, dan alhasil pihak fakultas memberikan fast respon sehingga para senior yang terlibat dalam kasus itu mendapatkan skors, awalnya Mereka hanya di skors selama 3 bulan, namun teman-teman Daru bersikeras agar hukuman Mereka di tambah, dan syukurlah demo mereka yang di ketuai oleh sahabat Daru yang cerewet itu pun di ijabah oleh Bapak Dekan. 3 orang senior Daru mendapatkan skors selama satu semester, sebenarnya tidak sedikit juga kawanan mereka yang protes, tapi apalah daya, ketika Bapak Dekan sudah berbicara, Mereka hanya bisa bungkam. Akibat kasus yang terjadi saat pengkaderan kemarin, Alvin semakin terkenal di kalangan senior alih-alih Daru yang menjadi korban, hal itu di karenakan Alvin memiliki jiwa Aktivis yang begitu besar sehingga mampu menggerakkan hati para teman-teman satu angkatannya. Dia juga telah di gadang-gadang menjadi calon ketua BEM untuk periode tahun depan meskipun Daru kurang setuju akan hal tersebut sebab urusan Bem membuat kuliah Alvin menjadi terbengkalai. Daru berharap mereka bisa lulus bersamaan dengan target kuliah 3,5 tahun, tapi akhir-akhir ini Daru menjadi pesimis melihat tingkah Alvin yang mulai malas-malasan masuk kelas dengan alasan sibuk di Bem dan organisasi tidak jelas lainnya. " Iya, makasih yah Git. Kamu juga hati-hati." Daru melambaikan tangan pada Gita yang berlalu dan menghilang di balik pintu kaca di seberang ruangan. Kini pria manis itu kembali pada kesendiriannya, Ia merogoh ponsel dalam kantong celananya kemudian mendengus pelan saat melihat jam. Tinggal menghitung menit, semua orang sudah harus meninggalkan hall, Daru mulai resah, apakah Ia sanggup bertahan untuk menunggu seseorang yang bahkan Ia tidak tahu apakah orang itu akan datang atau tidak. Tak menjadi masalah bagi Daru jika memang Ia harus pulang sendiri, hanya saja keinginannya untuk menunjukkan lukisannya pada Raka belum memudar. Di kejauhan tampak ketua Bem tengah sibuk mengkordinir para panitia agar segera menyelesaikan tanggung jawab mereka lalu meninggalkan tempat. Merasa tidak enak melihat kakak angkatannya yang kepayahan memberikan instruksi, Daru pun tergerak untuk membantunya. Perlahan Ia berjalan melewati easel-easel yang sudah terlipat dan bersandar rapi di dinding, tak ada lagi karya yang terpajang disana, satu-satunya karya yang masih berdiri tegak pada standnya hanya milik Daru seorang. " Ada yang bisa saya bantu kak ? Sepertinya kakak sedikit kesulitan." Satya berbalik saat mendengar suara Daru menegurnya dari balik punggung. " Loh, kamu belum pulang Handaru ?" Tanyanya kaget melihat junior-nya yang juga sahabat dari Aktivis muda sekaligus anggota Bem dadakan bernama Alvin, tersenyum canggung ke arahnya. " Belum Kak, saya masih menunggu seseorang." Jawab Daru dengan wajah yang memerah. Satya mengerutkan kening melihat tingkah juniornya yang kalau diperhatikan terlihat begitu manis. " Oh, ya udah, mumpung kamu masih disini tolong bantuin Aku pindahin lukisan-lukisan disana ke dalam studio yah." Mata Daru mengikuti jari telunjuk Satya yang mengarah ke jejeran lukisan yang bersandar di dinding. " Siap kak !!" Jantung Satya seketika berdegub kencang saat melihat Daru tersenyum dan memamerkan kedua lesung pipinya. Refleks cowok itu menggeleng-geleng frustasi, berusaha menyadarkan dirinya bahwa Daru adalah seorang pria, bagaimana bisa Ia merasa deg-deg-an melihat seorang pria tersenyum !? Halaman kampus IKJ sudah sepi ketika mobil Raka memasuki gerbang kampus. Keringat dingin mulai membahasi keningnya, jantung Raka berdetak semakin tidak karuan saat Ia berbelok ke parkiran fakultas Daru dan tidak mendapati satu kendaraan pun terparkir disana. Buru-buru Ia melompat turun dari mobil dan berlari menuju ke arah pintu depan Hall fakultas pujaan hatinya. " Siall, pintunya sudah terkunci!! Mana ponsel gue mati. Gimana caranya gue bisa hubungin Daru!? Atau dia sudah pulang yah?? Sial gue terlambat !!" Raka mulai putus asa, namun perasaannya mengatakan jika Daru masih berada di sana. Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang satpam berjalan mendekat ke arahnya. " Cari siapa Mas?" Tanya Pak Satpam ketika Ia sudah berhadapan dengan Raka. " Adik saya pak. Dia mahasiswa peserta pameran disini, apa ada pintu lain tempat saya bisa masuk? Sepertinya adik saya masih di dalam." Pak satpam tampak berpikir sebentar, Ia lalu tersenyum seolah tiba-tiba menyadari sesuatu. " Akh, mungkin anda yang sejak tadi di tunggu Mas itu! Waktu saya mau ngunci pintu, saya ketemu sama dia, terus pas saya suruh pulang dianya ngotot, katanya masih mau menunggu seseorang jadi saya kasih waktu 5 menit." Hati Raka terasa pilu, bisa-bisanya Ia membuat Daru menunggu. " Sekarang Dia dimana pak ? tolong beritahu saya!!" Melihat Raka yang tampak frsutasi dan khawatir, Pak Satpam itu pun segera mengantarnya menuju ke pintu belakang hall. Ia menyuruh Raka cepat-cepat menjemput adiknya karena Ia bertanggung jawab untuk segera mengunci seluruh gedung. Tanpa berlama-lama Raka segera berlari menyusuri lorong- lorong gedung yang mulai gelap, hanya beberapa lampu kecil yang di biarkan menyala. Dalam hatinya, Raka tak berhenti mengutuk diri karena sudah melupakan acara penting Daru akibat fokus dengan Karina, yah, akhir-akhir ini pikirannya memang sedang tertuju pada gadis cantik itu, kembalinya Karina dalam kehidupan Raka membuatnya kacau, bagaimana tidak, gadis yang sangat di sayanginya tiba-tiba saja muncul dan membawa bayi tak ber-ayah dalam perutnya, Raka tidak bisa diam saja melihat keadaan Karina yang memprihatinkan, meskipun Ia tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan masalah Karina. Gadis itu sangat membutuhkannya saat ini, jika terjadi apa-apa padanya, Raka tidak tahu apakah Ia masih bisa menyebut dirinya seorang lelaki. Langkah kaki Raka semakin lebar, Ia terus mempercepat larinya hingga masuk semakin dalam ke ruangan besar di depannya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang disana, apakah Ia terlambat? Apakah Daru memutuskan untuk menyerah menunggunya ? Pikiran-pikiran negatif mulai menguasai Raka. Saat tiba di depan sebuah pintu kaca besar di bagian barat Hall, pria tampan itu menghentikan langkah. Ia terpaku di tempat seolah terkena sihir dari satu-satunya lukisan yang terpajang di tengah-tengah ruangan. Perlahan Ia berjalan mendekat ke arah lukisan seorang pria yang tengah duduk di atas bukit sembari memandang ke arah langit senja, Raka mengingat goresan itu, Ia mengingat warna senja itu. " Indah sekali....," gumam Raka takjub, jari-jarinya yang besar lalu menelusuri permukaan kanvas di hadapannnya. " Mas Raka !" Suara yang begitu familiar memanggilnya dari arah belakang, sontak Raka tersadar dari keterpesonaannya pada lukisan buatan Daru. " Daru...," di seberang ruangan tepat di hadapannya, Raka melihat sang pujaan hati berjalan mendekat ke arahnya. Hati Raka tiba-tiba merasa sakit, Daru menangis, tetes demi tetes air asin berjatuhan dari matanya yang bulat. Tangan Raka bergetar saat Ia berusaha meraih tubuh Daru yang semakin mendekat ke arahnya, dan ketika Ia berhasil mendekap tubuh ramping pria yang sangat di cintainya itu, tangisan Daru pecah. " Maafin gue, gue bener-bener minta maaf...," hanya kata maaf bertubi-tubi yang mampu di ucapkan Raka, Ia sadar akan kesalahannya, Ia tahu Ia b******k, Ia tahu jika orang-orang akan membencinya jika membuat Daru menangis, bukan hanya orang-orang, Raka juga membenci dirinya sendiri karena telah melanggar sumpah untuk tidak membuat anak dalam pelukannya saat ini bersedih. " Mas...Aku...aku pikir Mas tidak akan datang...hiic...aku pikir...Mas lupa aku...hiic...," pelukan Raka semakin erat di tubuh Daru, Ia tak tahu lagi bagaimana cara untuk menghentikan tangisan cowok manis itu selain mendekapnya seerat mungkin. " Maafin gue...," Apalagi yang bisa di ucapkan Raka selain kata maaf, mana mungkin Ia tega memberi tahu Daru bahwa Ia sempat melupakan acara pentingnya karena seorang wanita, seorang wanita yang bahkan tidak diketahui Daru adalah asisten dosen yang menjadi pujaan hati Alvin sahabatnya. Perlahan Raka melepas pelukannya lalu menangkup wajah Daru. Tangannya yang bergetar berusaha sekuat tenaga untuk menghapus air mata yang jatuh di pipi pria manisnya. " Jangan menangis lagi...Gue gak sanggup liatnya..." Daru masih sesenggukan, tidak semudah itu untuk menghentikan tangisannya yang sudah Ia tahan sejak pagi tadi. Kalang kabut melihat air mata Daru yang terus mengalir, Raka pun menghela nafas panjang. Ia sudah berjanji untuk tidak melakukan hal ini lagi sebelum resmi menjadikan Daru sebagai kekasihnya, tetapi keadaan membuatnya terpaksa untuk melakukannya. Berbekal jantung yang berdegup kencang serta tangan yang bergetar hebat, Raka menarik tubuh Daru hingga menempel pada tubuhnya lalu mencium bibir anak itu mesra. Raka bisa merasakan air mata Daru di bibirnya, Ia bisa merasakan kesedihan Daru melalui ciumannya. Awalnya Daru sama sekali tidak merespon dengan bibir Raka yang mulai bergerak menghisap bibir bawah dan atasnya, tetapi Raka seolah meyakinkannya bahwa Ia melakukan hal itu untuk menenangkan dirinya. Perlahan mata Daru menutup, lalu kedua tangannya yang berada di samping tubuh refleks terulur dan melingkar di leher Raka. Tanpa sadar, Daru menarik tengkuk Raka agar pria tampan itu memperdalam ciumannya, Raka sedikit kaget dengan apa yang dilakukan Daru tetapi kekagetannya tidak berlangsung lama karena kini mereka berdua sudah tenggelam dalam ciuman yang dalam dan basah. Bibir mereka saling melumat, menghisap, menarik satu sama lain seolah ini adalah hari terakhir bagi keduanya untuk bertemu. Tak ada satupun dari mereka yang mau mengalah, keduanya seperti ingin mendomaninasi ciuman itu. Raka mulai memaksa lidahnya masuk ke dalam mulut Daru, merasa geli oleh daging tak bertulang yang tiba-tiba menyapa bibirnya membuat Daru hilang fokus dan mengerang pelan, saat itulah Raka mengambil kesempatan kemudian menembus celah di bibir ranum pria manisnya. " Hmmh...nghh...nhh...," suara erangan lembut dari dasar tenggorokan Daru membuat pria tampan yang sedang memagutnya menjadi semakin liar. Satu tangan Raka melingkar protective pada pinggang calon kekasihnya, sementara tangan satunya menarik tengkuk cowok manis itu agar Ia bisa memasukkan lidahnya semakin dalam ke mulut Daru, berdansa dengan lidah mungilnya, serta beradaptasi dengan rongga mulut yang nantinya akan sering Ia masuki. Daru mulai kehabisan nafas, namun Ia enggan untuk menyudahi ciuman panas yang sangat nikmat itu. Air matanya sudah berhenti mengalir, tampaknya Raka berhasil menggunakan cara terlarangnya untuk menghentikan tangis Daru. " Nhhh...Mas...nghhh...," Lidah Daru mulai berhenti bermain, Ia akhirnya pasrah membiarkan Raka memerkosa mulutnya, liurnya sampai menetes turun ke dagunya akibat mulutnya yang terus terbuka membiarkan lidah Raka menghujamnya. Merasakan tubuh Daru yang mulai melemas, Raka-pun terpaksa menghentikan ciumannya, Ia menjilat liur Daru yang menetes di dagu mungilnya tanpa merasa jijik sama sekali, kemudian memberikan kecupan singkat pada bibir yang telah Ia buat basah kuyup, memerah dan sedikit bengkak itu. " Tangisan Lo udah berhenti....," Ujar Raka sembari mengatur nafasnya yang berat karena nafsu. Daru mengangguk perlahan, matanya masih setengah tertutup, nafasnya juga sama seperti Raka, berat. Tak lama kemudian, Raka melihat Pak satpam yang tadi Ia temui di luar berjalan ke arah mereka. " Aduuuh, Kenapa kalian masih disini ?? Saya kirain sudah pulang. Cepat keluar, pintunya udah mau saya kunci." Gerutu Pak satpam. Daru dan Raka meminta maaf kepada bapak baik hati yang sudah memberikan kelonggaran waktu bagi mereka, meskipun kelonggaran waktu itu sempat mereka pakai untuk saling memagut mesra. Sebelum keluar dari ruangan, Raka menahan tangan Daru, Ia lalu menyuruh anak itu menunggunya sebab Ia ingin membawa serta lukisan menkajubkan Daru untuk ikut pulang bersama mereka. Untung saja lukisan Daru tidak dijadikan property kampus sehingga mereka diizinkan untuk membawanya. " Mas mau naruh lukisannya dimana?" Tanya Daru penasaran ketika Raka selesai mengikat lukisan itu di belakang mobilnya. " Menurut Lo bakal gue taruh dimana?" Bukannya menjawab Raka malah balik bertanya. " Hmmm...di ruang tengah yah??" Raka menggeleng mantap mendengar pertanyaan Daru. " Gak bakalan ! Gue taruh di kamar gue laah ." " Kenapa??" Daru semakin Kepo. Melihat cowok manis yang terus menatapnya dengan kedua mata bulat menggemaskannya itu membuat Raka tak bisa mengacuhkannya. " Tentu aja supaya gue selalu ingat kalau ada anak manis yang gak pernah menyerah buat menunggu gue." wajah Daru kontan memerah mendengar kata-kata Raka. Ia tidak akan pernah menyerah, Daru berjanji sampai kapanpun Ia tidak akan pernah menyerah menunggu Raka membalas cintanya. To Be Continued~~ 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD