Daru kembali ke tempat Alvin setelah terdiam cukup lama di depan pintu studio. Ia masih berusaha mengembalikan nyawanya yang sekejap melayang akibat sengatan listrik yang diciptakan Raka di pipinya. Daru tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Raka padanya !! Terlalu banyak pertanyaan yang berseliweran di kepala Daru sebenarnya. Mengapa Raka sering mengecupnya, baik itu di kening, pucuk kepala, dan di pipinya seperti tadi. Raka bahkan tidak pernah menyatakan perasaan sekalipun padanya ?! Apa dia hanya mempermainkannya karena doyan melihat wajahnya yang memerah? Jika memang Ia hanya mempermainkannya berarti Raka sudah kelewatan! Lalu setelah ini apa? Apa yang akan Daru lakukan saat bertemu Raka nanti? Apa dia harus menanyakan maksud dari tindakannya itu atau pura-pura bodoh saja?! Daru sudah hampir gila hanya karena sebuah kecupan, kecupan yang tak pernah Ia duga datang dari orang yang sangat Ia cintai. Uh...andai saja kau tahu bahwa Raka telah memerawani bibirmu Ru!
" Ru...Daru!! Oeeeey!!" Alvin mengguncang-guncang pundak Daru yang duduk di depan kanvasnya dan bertingkah layaknya patung manekin, diam membatu juga sedikit pucat. Apa sahabatnya ini habis melihat setan di luar sana? Kenapa tingkahnya berubah sejak kembali dari mengantar Raka? Pikir Alvin.
" I....iya....viiin...," Kening Alvin berkerut. Jelas telah terjadi sesuatu pada sahabatnya, dan apapun itu, pastilah hal yang begitu besar hingga membuat Daru tampak...shock?
" Kenapa Lo?? Jangan bikin gue takut deh sumpah!! Lo taukan gue paling takut setan." Kali ini balik Daru yang menatapnya heran.
" Setan? Maksud kamu apa Vin?" Tanya Daru polos.
" My...God!! Lo itu udah kayak abis liat setan tau gak! Pucat gitu. Lo kenapa sih? Buruan cerita ma gue." Daru terlihat salah tingkah, wajahnya yang beberapa saat lalu tampak pucat, kini memerah drastis.
" Mas...mas Raka Vin...,"
" Di...dia kenapa?" Tanpa sadar Alvin ikut bertanya denga suara terbata seperti sahabatnya.
" Dia...dia....—" Selamat pagi adek-adek, maaf sudah membuat kalian menunggu, Nama saya Karina dan hari ini saya yang akan memandu kalian dalam menyelesaikan karya untuk pameran minggu depan, di mohon kerja sama-nya yah!!" Seru seorang wanita muda berparas cantik yang tiba-tiba masuk ke ruangan. Kedatangan wanita itu membuat Daru mengurungkan niat untuk menjelaskan kejadian tadi pada Alvin, dan tampaknya, sahabatnya itu juga langsung lupa pada rasa penasarannya sebab kini matanya tak lepas dari wajah cantik Karina.
Sepertinya seseorang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama disini.
***
~Raka POV~
Bibir gue gak mau berhenti nyengir sejak tadi, gue udah mencoba buat stay cool tapi usaha gue sia-sia belaka.
Shit nyaris aja gue nyosor bibirnya! Untung akal sehat gue masih jalan, tapi sumpah, bisa ngecup pipinya aja gua udah seneng banget.
Gue tahu belum sepantasnya gue ngelakuin hal itu pada calon pacar gue, tapi jangan salahkan gue karena Daru terlalu menggoda sehingga membuat iman gue kendor, apalagi tadi dia juga diam saja, dia gak nampar gue. s**t!!s**t!! Gue harus bisa ngontrol diri kalau gak mau doi ilfill, bisa-bisa kemesuman gue bikin Daru takut dan memutuskan untuk ngejauhin gue.
Tidak...tidak...gue gak bakal biarin itu terjadi, Raka you must stay cool, Man!! Yeah...gue harus bisa lebih mengontrol iblis dalam diri gue jika berada dekat dengan Daru, semoga aja anak itu gak maksa gue buat jelasin maksud dari kecupan tadi, gue kan udah berencana nembak dia pas ultahnya, gak mungkinkan gue ngomong duluan kalau gue cinta sama dia, saking cintanya gue udah hampir gila. Ternyata seperti ini yah rasanya jatuh cinta? Gue bener-bener harus minta maaf sama semua orang yang pernah gue cemooh karena bersikap terlalu lebay ke pasangan mereka, sekarang gue baru sadar apa yang membuat mereka bersikap seperti itu. Seriusan...gue gak pernah ngebayangin bakal jadi seperti ini, mana diri gue yang cuek dan masa bodo' dengan keadaan? Kenapa gue bisa jadi cowok h***y-an kayak gini?? Sial!!
Setelah berjam-jam mengemudi akhirnya gue tiba di kampus, karena otak gue yang terus-terusan berisik semenjak di perjalanan, gue sampai gak nyadar kalau udah di kampus aja. Mobil gue berbelok masuk ke parkiran fakultas, dan dari jauh gue bisa melihat mobil milik Ardhan baru saja parkir. Kebetulan di samping mobilnya masih ada tempat kosong, jadi tanpa pikir panjang gue masuk kesana. Mumpung gue ketemu anak itu dan kuliah juga baru mulai sekitar se-jam lagi, gue memutuskan untuk membahas masalah Putra dengannya.
Yaah...gue gak boleh egois hanya sibuk dengan permasalahan cinta gue saja, sahabat-sahabat gue bahkan memiliki permasalahn cinta yang lebih rumit, mana bisa gue tenang-tenang aja kalau Putra yang sekarang entah sedang dimana, merasa menderita.
" Oey Bro!! Tumben datang cepat !" Gue menghampiri Ardhan dan menepuk punggungnya seperti biasa. Anak itu tersenyum malas, kentara sekali kalau dia datang cepat bukan karena kemauannya.
" Gue habis ngantar calon bini' gue, malas banget kalau harus pulang lagi, mending gue langsung ngampus aje..." calon bini'? Oh iya, gue hampir lupa kalau sekarang Ardhan sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita, ckck...semakin rumit saja, mereka berdua sudah memiliki pasangan masing-masing tapi gue gak bener-bener tahu isi hati Ardhan, apa bener yang di katakan Daru, kalau anak ini sebenarnya juga memiliki rasa sama Putra, hanya saja dia terlalu bego' untuk menyadarinya, tapi jika benar seperti itu, apa jadinya pasangan-pasangan mereka nanti, dua hati otomatis akan hancur disini.
" Bro!! Kok bengong?! Kesambet lu?" Gue tersentak kaget saat tangan Ardhan dengan lancangnya memukul jidat gue, sialan!!
" Apaan sih Lo!!"
" Lah...Lo yang apa-apaan? Main bengong-bengong aja, orang diajak ngomong juga."
" Sorry !!" Dilihat dari tampangnya, Ardhan sepertinya heran ngeliat tingkah gue, jujur gue jarang banget ucapin kata maaf walaupun biasanya gue emang salah, tapi kali ini beda, soalnya gue butuh menciptakan suasana yang harmonis agar bisa ngomong secara baik-baik dengan cecunguk satu ini.
" Lo ikut gua. Ada yang mau gua omongin ma Lo." Ardhan kembali terlihat mengerutkan kening.
" Ngomongin apa? Kok keliatan-nya serius banget?! Jangan-jangan Lo mau nembak gua yah ?!!" Tendangan keras seketika bersarang di p****t Ardhan. Ia mengaduh kesakitan, gue yang tadinya berniat ngebaikin dia langsung enggan.
" Njirr!! Sakit tau' Ka' !! Umpatnya masih dengan tampang kesakitan yang ngebuat gue entah mengapa merasa puas.
" Makanya kalau ngomong tuh dipikir dulu!! Udah...ikut gua!!" tanpa pikir panjang gue menyeret makhluk satu itu menuju ke kursi lingkar yang terletak di bawah pohon mangga, tempat gue dan para sahabat gue biasa nongkrong. Sebelum membuka suara gue mengeluarkan sebungkus rokok favorit gue, merokok selalu bisa ngebuat gue berfikir tenang, karena masalah satu ini cukup serius jadi gue harus dalam keadaan se-rileks mungkin.
" Ini tentang Putra...," mendengar nama sahabat gue yang satu itu, tiba-tiba Ardhan menjadi salah tingkah, Hmmm...
" Emangnya dia kenapa?" Tanya Ardhan pura-pura polos. Kentara sekali jika anak ini sedang gelisah, matanya akan jelalatan kemana-kemana dan Ia tidak berhenti mengusap tengkuknya, dari dulu kebiasaannya tidak pernah berubah, maka dari itu kami hafal betul kalau Ardhan sedang dalam keadaan tidak stabil.
" Lo jangan pura-pura bego', gue tau kalau ada sesuatu yang Lo sembunyiin terkait Putra. Kalian sahabat gue, gue gak bisa terus-terusan berdiam diri ngeliat kalian bertingkah seperti anak kecil yang lai ngambekan." Gue memberi sedikit tekanan dalam nada suara gue agar si bego' depan gue ini paham betul gimana khawatirnya gue sama keadaan mereka. Ardhan menghela nafas panjang, melihatnya mulai depresi, gue pun menyerahkan sebatang rokok padanya. Dengan pasrah Ia menerima rokok itu dan mengisapnya dalam-dalam seolah rokok itu satu-satunya alat yang dapat membantunya tetap bernafas.
" Dia jatuh cinta ama gua Ka'.....," keheningan melanda kami cukup lama, satu kejutan lagi, ternyata Ardhan sudah mengetahui tentang perasaan Putra.
" Gue gak sengaja dengar pas dia curhat ke Daru di rumah Lo waktu itu. Gue shock!! Tapi yang ngebuat gue gak habis pikir, setelah gua tahu perasaannya, anak itu ngehindarin gua dan kemarin gue mergokin dia jalan sama cowok yang ternyata pacarnya. Gimana gue gak bingung coba!?"
Apa anak ini gak punya otak? Dia gak sadar emang kalau apa yang sudah Putra lakuin itu juga karena Ardhan sendiri memilih untuk berpacaran dengan orang lain.
" Bro, Lo pikir dengan berpacaran sama siapapun cewek Lo sekarang itu gak ngebuat Putra hancur? Wajarlah dia jauhin Lo!! Sekarang gue mau tanya ama Lo, Apa yang sebenarnya Lo rasain ke Putra?" Hening lagi. Sepertinya pertanyaan gue menohok hati Ardhan karena sekejap gue melihat dia menegang di tempat, wajahnya juga jadi semakin pucat.
" Gue gak tau Ka'. Lo taukan masalah seperti ini gak mudah buat gue hadapin! Kalau Putra cewek sih gue masih bisa ngambil sikap tapi...dia cowok Raka! Gue bukan gay..." Suara Ardhan sedikit bergetar saat mengatakannya, gue yakin kalau dia sendiri tidak yakin dengan apa yang di ucapkannya . Ardhan menolak untuk menerima bahwa dirinya gay tetapi gue tahu, dari lubuk hatinya yang paling dalam, Ia menginginkan Putra.
" Oh...jadi karena dia cowok, Lo gak bisa tegas buat menentukan sikap?! Gue kasih tau ke Lo ya Dhan, mau cowok atau cewek kalo Lo benar-benar mencintai orang itu dengan tulus maka apapun konsekuensinya bakal Lo hadapin !" Gue gak tau apa gue sendiri bisa mempertanggung jawabkan apa yang sudah gue katakan ke Ardhan, tapi satu hal yang gue yakini, mulai saat ini gue bakal menghadapi semua rintangan yang mungkin nantinya bakal menghadang hubungan gue dan Daru. Gue berjanji bakal lakuin apapun untuk membuatnya bahagia, termasuk merelakannya bersama orang lain, walaupun gue tau gue gak bakal pernah bisa melakukannya. Ckk...Benarkah gue bakal rela?? Membayangkan Daru berada dipelukan lelaki atau wanita lain aja udah ngebuat gue emosi.
" Gue...gue butuh waktu Ka', gue butuh waktu buat mencari tahu apa yang sebenarnya hati gue inginkan." Gue menepuk pundak Ardhan pelan, sebagai sahabat gue cuma bisa berada disampingnya buat mendukungnya. Seperti yang dikatakan Daru, yang bisa menyelesaikan masalah ini hanya mereka berdua, kami cuma bisa memberikan dorongan dan semangat dari belakang.
" Yeah...Gue cuma berpesan, jangan pernah bohongin hati Lo karena ada seorang cowok di luar sana yang tulus mencintai Lo Dhan." Putra mungkin telah memiliki seseorang di sisinya saat ini, tapi gue yakin kalau perasaannya ke Ardhan sangat kuat apalagi anak itu adalah tipe orang yang sekali nyaman dan menyukai seseorang, Ia akan sulit untuk berpaling dari orang itu. Sama halnya dengan persahabatan, hanya kami ber-empat lah sahabat Putra, Ia sudah merasa nyaman dengan keberadaan kami disisinya, maka dari itu Ia tidak pernah sama sekali berniat untuk mencari sahabat-sahabat lain. Hati Putra sangat rapuh, Ia merupakan anak tunggal yang terkekang oleh batasan-batasan yang diberikan oleh kedua orang tuanya, Ia juga yang membuatnya agak sulit beradaptasi dengan dunia luar. Putra tumbuh menjadi anak yang kerap bergantung dengan orang lain, jika Ia sudah merasa klop dengan seseorang, maka seluruh hidupnya akan Ia gantungkan pada orang itu. Gue yakin diantara kami ber-empat, Ardhan-lah satu-satunya tempat Putra menggantungkan seluruh hidup bahkan hatinya. Hanya dengan Ardhan saja Putra 100% menjadi dirinya sendiri, yah...hanya Ardhan yang bisa membuat seorang Putra Sanjaya terlihat lebih hidup setiap harinya.
Kini beban di pundak gue sudah sedikit berkurang, setidaknya sekarang gue tahu kalau kedua sahabat gue sedang berusaha untuk menemukan jalan cinta mereka, gue berharap semuanya akan baik-baik saja sampai kami lulus dan melanjutkan kehidupan masing-masing. Perjalanan masih panjang, masih banyak hal di depan sana yang harus kami hadapi, hal yang lebih sulit dari masalah percintaan tentunya.
***
Seperti yang telah di infokan sebelumnya, mendekati pameran akbar karya-karya para Mahasiswa IKJ, mereka benar-benar harus menghabiskan waktu hingga larut malam di studio. Daru dan Alvin yang telah melakukan beberapa finishing pada lukisan mereka pun baru bisa di izinkan pulang setelah jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22.30 PM. Kedua bocah itu sekarang tengah berdiri di teras fakultas untuk menunggu jemputan masing-masing, Alvin menunggu Kak Regha sementara Daru menunggu sang calon kekasih.
" Ru kayaknya gua jatuh cinta deh...," omongan Alvin yang secara tiba-tiba meloncat keluar dari mulutnya membuat Daru berbalik sembari memasang tampang bingung.
" Kamu jatuh cinta sama siapa vin? Kok tiba-tiba sekalii??" Tanya Daru polos. Disampingnya, Alvin menampakkan senyum 100.000 voltnya yang amat manis.
" Kak Karina."
Akh...mendengar jawaban Alvin, Daru seperti tersadar dari lamunan. Pantasan sejak di studio tadi Alvin sama sekali tidak fokus pada lukisannya, kedua matanya terus saja membuntuti Kak Karina kemanapun wanita cantik itu pergi. Alvin bahkan beberapa kali dengan sengaja melakukan kesalahan agar Kak Karina menghampiri tempatnya dan memberikan pengarahan. Spontan Daru geleng-geleng kepala, ternyata zaman sekarang masih ada yah yang namanya Love at First sight !
" Hhh...kamu beneran suka sama Kak Karina Vin?? Aku sih nda' heran, wong Kak Karina-nya aja cantik gitu, tapi kayaknya saingan kamu banyak deh Vin, ndak liat kalau teman-teman kita yang lain juga pada perhatiin dia ?" Daru juga menyadari jika bukan cuma Alvin saja yang dibuat terpesona oleh kecantikan serta kecerdasan dari Kak Karina, hampir semua pria di kelasnya terang-terangan mencari perhatian si asisten dosen cantik itu.
" Iyye gua tau kok Ru ! Tapi lihat aja nanti, Kak Karina bakal gue dapetin Hehehehe !!" Seru Alvin penuh percaya diri.
Daru hanya tertawa menanggapi tingkah sahabatnya itu sehingga membuat Alvin sedikit tersinggung. Apa Daru pikir dia bercanda?? Walaupun tubuhnya mungil serta wajahnya imut-imut, Alvin adalah seorang lelaki sejati yang rela berjuang demi cinta, dalam hatinya Ia bahkan mulai menyusun rencana untuk mendekati Karina.
Saat tengah asik-asiknya bercerita dengan Daru perihal usahanya untuk mendekati Karina, mobil Wrangler Raka berhenti tepat di depan mereka berdua. Raka menurunkan kaca lalu memberikan aba-aba pada Daru untuk segera naik. Raka juga menawari Alvin tumpangan namun tak beberapa lama kemudian, mobil Kak Regha tampak memasuki fakultas.
" Ah...kakak gua juga udah datang tuh, thanks buat tawarannya Mas, lagian gua gak mau jadi obat nyamuk malam-malam gini hhhh ," goda Alvin sembari mengedipkan sebelah matanya pada Daru yang menatapnya horror.
" Oke kalau gitu Ru, sampai jumpa besok yah !!" Alvin menepuk pundak Daru penuh semangat lalu mengintip ke dalam mobil Raka, berpesan agar Ia menjaga Daru sampai selamat tiba di rumah. Raka mengangguk mantap kemudian mengangkat satu jempolnya sebagai ucapan 'tenang aja, dia aman bersama gue'. Wajah Daru kontan memerah saat melihat tingkah dua cowok di depannya, mereka seolah-olah lupa bahwa dirinya masih berdiri di situ. Usai berpamitan pada Alvin dan juga Kak Regha, Daru pun masuk ke dalam mobil. Seketika kecanggungan melanda kedua sejoli itu, Daru duduk manis di kursinya dan sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Raka, Ia takut Raka mendapati wajahnya memanas menahan malu akibat sensasi ciuman mereka yang masih berbekas sejak pagi tadi.
" Lo capek?" Tiba-tiba suara berat Raka memecah keheningan di antara mereka, Daru berbalik sebentar ke arah pria tampan di sampingnya lalu mengangguk perlahan.
" Iya mas...hari ini cukup melelahkan, tapi Aku puas bisa menyelesaikan beberapa bagian terpenting dari lukisanku." Jawab Daru sembari berusaha menahan kegugupannya.
" Syukurlah kalau gitu, gue ikut senang dengarnya." Tangan besar Raka refleks mengusap puncak kepala Daru . Entah mengapa saat bersama anak itu, Raka tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya meskipun hanya sebuah sentuhan ringan. Keheningan kembali melanda mereka berdua, Raka tidak tahu lagi bagaimana Ia harus membuka percakapan sementara cowok manis di sampingnya kelihatan grogi. Apakah kelakuannya tadi pagi sudah keterlaluan sehingga membuat Daru bertingkah seperti itu padanya? Apa Ia mulai merasa risih berada disampingnya? Pikiran itu tak henti-hentinya menghantui benak Raka, namun Ia terlalu takut untuk menyuarakannya.
" Hmm...Mas bisa berhenti di warung itu sebentar? Aku mau beli wedang." Pandangan Raka mengikuti arah tunjuk Daru, tanpa pikir panjang, Ia pun segera menepi kan mobilnya. Warung yang mereka singgahi cukup nyaman, ada kebun kebun kecil di belakangnya yang menyediakan beberapa kursi panjang untuk para pengunjung. Daru duduk di salah satu kursi pada bagian tengah kebun, tepat berhadapan dengan beberapa petak bunga berbagai macam yang sangat indah walau di malam hari, di atasnya langit malam terlihat sangat cerah bermandikan kerlap kerlip bintang yang mempesona.
" woaaah...Indah sekali...," Daru bergumam sendiri, pemandangan langit malam ini membuatnya takjub, Ia memang sangat menyukai bintang-bintang, tak heran di beberapa karyanya Daru kerap melukis pemandangan langit malam yang penuh dengan bintang, salah satu karyanya yang berjudul mudik antar galaxy bahkan pernah mendapatkan award sebagai the best art and the best Illusion optic.
" Serius banget liatin langit, nih minuman Lo." Dari arah sampingnya, Raka muncul sembari menyerahkan segelas wedang jahe hangat untuk Daru. Anak itu menerimanya dengan senyuman sebagai tanda terima kasih. Ia memperhatikan Raka yang ikut duduk di sebelahnya, Raka tidak memesan wedang sama seperti dirinya melainkan kopi favoritnya.
" Mas ndak suka wedang yah?" Tanya Daru penasaran.
" Hmm...dibilang gak suka sih gak juga cuma gue lagi pengen ngopi aja." Daru ber ooh- ria mendengar jawaban Raka. Kehangatan dari wedang jahe yang diminumnya membuat Daru jadi kangen rumah. Ia ingat sekali jika Ibu dan neneknya sangat suka membuatkannya wedang saat Ia sedang kurang fit, minuman itu dapat menghilangkan rasa lelahnya, karena itu, kebetulan saat Ia melihat promosi wedang jahe di papan besar depan warung ini, Ia segera meminta Raka untuk menepi.
" Minuman ini baik buat tubuh apalagi kalau kurang fit, nanti aku buatin untuk Mas Raka kalau mas lagi capek-capek." Raka tersenyum senang mendengar perhatian dari pujaan hatinya, seketika hatinya merasa hangat, sama seperti hangatnya segelas kopi yang sedang di pegangnya.
" Gak sabar pengen nyobainnya, thanks yah." Mereka berdua saling bertukar senyum, senyum yang lembut juga intens.
Daru kembali mengalihkan pandangannya ke langit di atas sana sementara disampingnya Raka tak mengalihkan sedikitpun tatapan matanya dari wajah Daru. Ia tidak pernah bosan memandangi tiap jengkal wajah pria disebelahnya, kulit wajahnya yang halus, bibirnya yang mungil, matanya yang bulat serta lesung pipinya yang menggoda, semuanya adalah candu bagi Raka membuatnya tak henti memuja ciptaan Tuhan yang sangat indah disampingnya itu.
" Mas langitnya keren yah, banyak bintangnya...," Raka melihat mata Daru berbinar, Ia tampak begitu manis saat ini dengan pantulan cahaya bintang-bintang di matanya.
" he-eh. Segitu sukanya sama bintang sampai mata Lo berbinar-binar gitu." Sindir Raka diikuti kekehan ringan yang keluar dari mulutnya.
" Iya Mas aku suka sekali apalagi kalau bintangnya lagi banyak kayak begini. Waktu kecil aku sampai nangis di marahin Bu'e karena pengen tidur di halaman sambil melihat bintang-bintang...sampai sekarang Aku bahkan masih pengen bisa tidur di temani beribu cahaya bintang, pasti menyenangkan." Tanpa sadar Daru bercerita panjang lebar pada Raka, Ia sampai lupa dengan rasa canggung dan grogi yang sejak tadi di rasakannya saat berada di samping pria itu. Sepertinya langit malam dengan taburan bintang kesukaan Daru sudah membuat anak itu lupa akan segalanya. Kini di benaknya hanya ada bintang, bintang, dan bintang.
Di dalam otak Raka sebuah ide cemerlang tiba-tiba muncul, sekarang Ia tidak perlu pusing lagi untuk mencari hadiah yang kiranya di sukai Daru. Demi seseorang yang di cintainya, Raka rela melakukan apapun, bahkan memetik seribu bintang bagi sang pujaan hati sekalipun.
***
Mobil Wrangler Raka memasuki halaman rumah. Setelah menghabiskan minumannya serta puas memandangi langit malam penuh bintang bersama sang pujaan hati, Ia pun membawa Daru pulang. Malam semakin larut, jam di dashboard mobil Raka pun telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Di sebelahnya, tepatnya di kursi penumpang, cowok manis yang sedari tadi begitu semangat bercerita tentang kecintaannya pada bintang-bintang juga telah tertidur lelap dengan jaket Raka menyelimuti tubuhnya. Raka tersenyum hangat melihat wajah Daru yang tertidur pulas, Dia pasti capek sekali, Pikir Raka.
" Hey, kita udah nyampe..." Bisikan lembut dari bibir Raka mencoba menyadarkan Daru, Ia bahkan mengelus-ngelus sayang pipi yang tadi pagi dikecupnya itu untuk membangunkan si pemilik.
" ngghh...," hanya gumaman singkat yang terdengar dari mulut Daru sementara matanya tetap menutup, Ia bahkan merapatkan jaket Raka di tubuhnya. Melihat Daru tetap pada posisi nyamannya, Raka tidak tega juga untuk membangunkannya, anak itu kelihatan lelah sekali. Tidak ingin berdiam diri saja dan membiarkan Daru tertidur di mobil, Raka pun keluar dari mobilnya lalu membuka pintu kursi penumpang pelan-pelan. Dengan sigap, lengan kekar Raka mengangkat tubuh Daru yang lebih kecil darinya. Ia mengangkat Daru dengan posisi bridal style karena lebih mudah melakukannya ketimbang menggendong Daru di punggunya, lagian tubuh ramping Daru juga sangat ringan, bahkan karung beras terasa lebih berat untuk diangkat ketimbang cowok manis itu. Setelah tubuh Daru di rasa pas di gendongannya, Raka pun menutup pintu mobil di belakangnya dengan menendangnya.
Perlahan Raka berjalan memasuki rumah, Ia bisa merasakan nafas hangat Daru di dadanya dengan sangat jelas. Refleks Ia mendekatkan wajah lalu mengecup kening Daru lembut. Rasa sayangnya pada anak itu semakin hari terasa semakin besar hingga jantung Raka hampir tidak kuat untuk menahan gejolak perasaannya. Ingin sekali Ia meneriakkan pada dunia betapa Ia sangat mencintai Daru dan ingin hidup bersama cowok manis itu selamanya.
Sesampainya di kamar Daru, Raka menidurkan anak itu pelan-pelan di kasurnya, Ia juga tidak lupa melepas sepatunya, namun saat Raka hendak mengambil jaketnya, tangan Daru semakin mempererat dekapannya pada jaket itu tanpa membuka mata sama sekali. Sesaat Raka merasa iri pada jaketnya sendiri, Ia juga ingin Daru memeluk tubuhnya erat dalam tidurnya, Ia ingin membuat Daru merasa aman dalam dekapannya, hanya Daru seorang yang Raka inginkan tak ada orang lain lagi.
" Gue sayang banget ama Lo..." Bisik Raka sebelum menarik selimut untuk menutupi tubuh ramping Daru. Raka kembali mendekatkan wajah untuk mengecup puncak kepala pria manisnya lalu tanpa menimbulkan sedikitpun suara, Ia keluar dari kamar. Raka melihat Daru memeluk jaketnya erat tapi Raka tidak pernah tahu, jika saat itu, di dalam mimpi Daru, Ia tengah menenggelamkan tubuh dalam dekapannya.
08.00 Pagi
Daru meloncat turun dari kasur king size-nya saat alarm yang entah sudah berbunyi beberapa kali membangunkannya. Tak henti-hentinya Ia merutuki diri karena bangun kesiangan, meskipun masih jam 8 pagi, bagi Daru sudah sangat kesiangan. Anak itu hendak berlari ke kamar mandi, namun Ia hampir terjatuh akibat terpeleset oleh jaket hitam yang tergeletak di lantai. Ia kemudian memungut jaket itu dan seketika mengernyitkan kening saat memegang benda yang menguarkan bau seseorang yang sangat dikenalnya.
" Kenapa jaket Mas Raka ada disini??" Daru terdiam di tempatnya, tapi tak lama kemudian Ia tersadar,
" Kenapa aku bisa tidur di kamar?? Bukannya tadi malam...," Pooof...wajah Daru langsung memerah, membayangkan bahwa pasti Raka lah yang telah memindahkannya ke kamar lalu menyelimutinya dengan jaket membuat Daru malu plus merasa bersalah bukan main.
" Daru bodoooh...bisa-bisanya kau ketiduran di mobil...aaaakhh!!" Cowok manis itu memarahi dirinya sendiri sembari memukul-mukul kepalanya dengan telapak tangan, namun tak lama kemudian Ia mengalihkan pandangan lagi pada jaket Raka. Daru tersipu melihat jaket berwarna hitam di tangannya kini dan refleks Ia membenamkan wajahnya disana, menghirup dalam-dalam aroma lelaki yang sangat di cintainya, aroma aqua bercampur tembakau.
Alarm Daru kembali berbunyi, benda itu sekejap mengembalikan Daru pada kenyataan bahwa Ia bangun kesiangan. Tanpa pikir panjang serta berlama-lama menciumi jaket Raka, Daru-pun segera melipatnya lalu menaruhnya di atas kasur dan ngacir masuk ke kamar mandi.
Saat Daru tengah mandi, di lantai bawah pemuda tampan yang entah kena angin apa sehingga bangun cepat, sedang menyiapkan sarapan pagi. Ia menyiapkan menu sederhana berupa roti bakar isi telur beserta segelas s**u murni untuk sang pujaan hati dan Toraja Coffee untuknya. Mood Raka sedang berada di tingkat maximal happiness saat ini karena sebentar siang Ia akan mulai mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat hadiah ulang tahu Daru, ya...Raka memang tidak pernah berencana untuk membelikan Daru hadiah melainkan membuatnya, statusnya sebagai salah seorang Mahasiswa Teknik Elektro UI sedang dipertaruhkan disini, Ia akan menggunakan pengetahuannya di bidang elektro untuk membuat sesuatu yang menakjubkan bagi Daru, tentunya sesuatu yang berhubungan dengan kesukaannya.
" Mas Raka..." Suara lembut yang berasal dari balik punggung Raka membuatnya refleks berbalik,dan seperti biasa, Ia akan tercengang melihat penampilan Daru yang memang selalu kelewat manis untuk seorang lelaki.
" Pagi...Tidur Lo nyenyak banget." Raka tersenyum hangat pada cowok manis yang kini tengah berjalan perlahan ke arahnya. Daru tampak tidak enak, bisa-bisanya Ia bangun telat lalu membuat Raka yang semsetinya baru akan dibangunkannya setelah sarapan pagi selesai malah membuat sarapan untuk mereka. Apalagi semalam Daru telah membuatnya kerepotan mengangkatnya, walau sebenarnya Raka senang-senang saja melakukannya, hmm...bukan senang-senang saja sih, tapi senang banget.
" Aku...minta ma-" Gue gak mau denger kata-kata itu ! Sekarang Lo duduk manis disana, sebentar lagi sarapannya beres. Eh...dan satu lagi, jangan pasang tampang bersalah kayak gitu, gue mau liat lesung pipi Lo." Mendengar perintah Raka, Daru langsung tersenyum, dua lesung pipinya kemudian muncul.
" Nah...gitu dong, itu baru Daru-gue." Saking semangatnya, Raka sampai tidak sadar akan omongannya yang terkesan posessive, sejak kapan Daru jadi miliknya? Nembak aja belom, tapi pemuda tampan itu sama sekali tidak peduli, biar saja Daru mengetahui perasaannya dengan melihat tindakannya toh tinggal tunggu waktu saja untuk meresmikan hubungan mereka.
" Mas kok tumben bangunnya cepat? Tadi aku ketok-ketok kamar Mas, tapi pas dengar suara ribut-ribut di sini aku langsung turun." Daru membuka suara saat Raka telah meletakkan piring-piring berisi sarapan serta dua gelas minuman di atas meja. Tidak langsung menjawab pertanyaan Daru, cowok tampan itu memposisikan duduknya dengan nyaman dulu tepat di hadapan sanga pujaan hati yang masih menatapnya heran.
" Karena hari ini gua lagi senang banget ." Bukannya puas mendengar jawaban Raka, malah semakin banyak pertanyaan yang muncul di benak Daru sekarang.
" Senang kenapa Mas???" Daru mulai kepo, entah mengapa tiba-tiba Ia merasa penasaran dengan jawaban Raka.
" Lo mau tau aja atau mau tau banget ??" Bukan Raka namanya kalau tidak mengunakan kesempatan dalam kesempitan untuk menjahili sang calon kekasih, Ia suka sekali melihat bibir Daru yang mengerucut jika dijahili.
" Aku nda' mau tanya-tanya lagi, lupain aja Mas." Reaksi Daru membuat Raka terkekeh dalam hati, " Duh...manis banget sih calon pacar gue" ujar Raka dalam benaknya.
" Becanda, bibirnya jangan manyun-manyun gitu nanti ada yang nyosor loh."
" Emang siapa yang mau nyosor?" Tanya Daru polos.
" Hmmm...siapa yah??" Tanya Raka balik sembari memasang tampang pura-pura bego'.
" Ah...gue tahu!" Tiba-tiba senyum nakal tersungging di wajah Raka. Ia bangkit dari duduknya lalu memajukan wajahnya hingga berjarak beberapa senti saja dari wajah Daru. Seketika anak itu menegang di tempat dan refleks menutup matanya. Apa Raka akan menciumnya lagi? Tanya Daru dalam hati.
Lama Daru menunggu dengan mata tertutup, tapi Raka tak juga melakukan apapun seperti yang di pikirkan Daru. Perlahan cowok manis itu membuka matanya, dan wajahnya langsung memerah menahan malu saat Ia mendapati Raka sudah duduk kembali di tempatnya seolah tak terjadi apa-apa.
" Cepat di makan sarapannya, nanti dingin loh..." kentara sekali kalau Raka berusaha menahan senyum di wajahnya, Ia tahu apa yang ada di pikiran Daru hanya dengan melihat rona merah yang muncul di wajah anak itu. Daru tidak membuka suara lagi, Ia terlalu malu untuk berbicara, Raka sudah berhasil membuat jantungnya jumpalitan pagi ini, tapi tetap saja seberapa seringnya pun Raka menggodanya, Daru tetap termakan oleh candaannya, Ia tidak pernah tidak terjatuh di dalam lubang yang sama.
***
~ Galih POV~
Mengejar tanda tangan penguji itu benar-benar menyita banyak waktu, padahal hari ini gue sudah bisa menyelesaikan bab III proposal gue andai saja tidak harus membuang banyak waktu untuk menunggu Pak William salah seorang penguji yang sedang rapat di sebuah hotel yang tidak jauh dari kampus Daru. 5 jam waktu gue sudah terbuang untuk mengejar tanda tangan beliau, alhasil gue harus menyusun ulang jadwal-jadwal yang sudah gue buat untuk kelancaran finishing proposal ini. Gue adalah tipe orang yang perfectionis, jadi jika ada sedikit saja hal yang menyimpang dari apa yang udah gue atur, gue bakalan stress sepanjang hari, itulah kelemahan dari orang yang terlalu perfectionis seperti gue ini. Kepalang tanggung sudah berada jauh dari kampus, gue pun memutuskan untuk singgah di salah satu cafe terdekat, sekalian memperbaiki jadwal kerja gue yang sudah acak adul. Kebetulan cafe terdekat dari tempat gue tadi adalah " Bookworm Cafe" gue pun menepikan mobil gue di sana. Cafenya lumayan bagus, tempatnya juga nyaman, sesuai dengan namanya, di cafe ini terdapat ber-rak-rak buku yang rata-rata berisi buku-buku Internasional. Sebelum memilih tempat duduk, gue mengambil buku National Geographic di salah satu Rak, buku ini sudah menjadi favorit gue sejak kecil, begitu juga dengan channelnya yang tidak pernah absen di Tv kamar gua. Sambil membopong tas laptop serta buku tebal bersampul kuning itu, guepun naik ke lantai atas, dari yang gue amatin, sepertinya di lantai atas tempatnya jauh lebih nyaman. Mata gue menjelajah mencari tempat duduk yang kiranya pas ketika sudah berada di puncak tangga, Namun saat tengah sibuk mencari-cari, mata gue menangkap sosok yang begitu familiar, Daru. Tak sengaja Mata kami bertemu, refleks Dia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya ke arah gue. Sembari membalas senyumnya, gue berjalan mendekat ke tempatnya. Daru duduk sendirian disana, di atas mejanya tampak bertumpuk-tumpuk buku sketsa.
" Hei ! Sendirian aja dek?" Tanya gue setelah Daru mempersilahkan gue untuk duduk di hadapannya.
" Iya Mas, sebenarnya aku sama teman cuma dia-nya belum datang." Sepertinya gue tau teman yang di maksud Daru, pasti anak berwajah marmut yang pernah diajaknya ikut ke Pizza tempo hari, teman yang sudah membuat Aro dan Ardhan begitu excited karena Ia menyimpan banyak kontak cewek-cewek cantik di ponselnya. Gue cuma bisa tersenyum dalam hati, lucu juga melihat mereka bisa menjadi teman dekat.
" Gimana kabarmu? Raka gak nyusahin kamu di rumah kan?" Daru kembali tersenyum dan sekilas gue bisa menangkap rona merah di pipinya saat menyinggung nama Raka. Wah...apa terjadi sesuatu di antara mereka yang gak gue tahu? Menarik.
" Kabar aku baik Mas. Sejauh ini Mas Raka gak nyusahin kok malah aku yang banyak nyusahin dia, sampai-sampai kemarin pas Aku ketiduran di mobilnya dia yang angkat aku ke kamar..." Jawab Daru dengan tampang sedikit bersalah.
" Dia ngangkat kamu? Waah...Gak biasanya Raka seperhatian itu bahkan sama pacar-pacarnya dia gak pernah sampai segitunya. Berarti dia sayang banget sama kamu dek." Rona merah itu lagi, oke...kalau cuma sekali gue bisa maklum tapi wajah Daru terus memerah saat membicarakan Raka, gue berasa lagi ngobrol sama cewek yang sedang kasmaran atau jangan-jangan mereka berdua memang sedang kasmaran? Soalnya akhir-akhir ini Raka juga berubah sama seperti Putra cuma bedanya Raka gak kabur-kaburan melainkan jadi sedikit lebay dan melow. Tidak jarang gue juga pergokin dia senyum-senyum sendiri sambil menghisap rokoknya.
" Oh iyya Mas, kalau ada waktu, besok datang ke pameran lukisan kami yah di hall fakultas seni rupa IKJ, itu pameran akbar yang diadain tiap tahun !" Rona merah di wajah Daru kini sudah terganti dengan binar-binar semangat di matanya. Kalau diperhatiin baik-baik, wajah anak ini terlalu manis untuk ukuran cowok, dia lebih terlihat seperti gadis-gadis jawa dengan potongan rambut yang pendek, di tambah lagi lesung pipi di wajahnya itu membuatnya semakin enak di pandang. Hmm...gak heran kalau seorang Raka Myles bisa kepincut, kalau tidak ingat Daru seorang pria dan sepertinya memiliki perasaan pada sahabat gue yang satu itu, gue juga mungkin udah jatuh hati padanya.
" Kayaknya besok Aku free, oke Aku bakal sempatin singgah di pameran kalian, aku juga penasaran mau liat lukisan kamu. Bdw temanya apa?"
" Temanya tentang cinta Mas, judulnya memendam cinta pada sang bulan...," Raut wajah Daru berubah sendu, anak ini benar-benar pandai mengekspresikan emosinya, gue salut sama dia. Tapi...kenapa dia sedih? Apakah lukisan yang Ia buat itu ada hubungannya dengan perasaannya saat ini?
" Kamu sedang memendam cinta pada seseorang?" Daru tersentak mendengar pertanyaan gue, tiba-tiba Ia tampak salah tingkah. Akh...sudah gue duga.
" Ti...tidak...itu cuma karya aku saja, nda' ada hubungannya dengan perasaanku Mas." Hmm...dia sama sekali tidak pandai berbohong, Daru Daru Lo benar-benar lucu, gue jadi pengen mengenal dia lebih jauh.
" Oh gitu yah...maaf udah asal ngomong."
" nda'...nda' papa kok Mas."
Tanpa gue sadari, gue sama sekali tidak menyentuh laptop gue buat menyusun ulang jadwal kerja karena keasikan ngobrol dengan cowok manis di depan gue ini, ternyata bukan cuma kaya akan pengetahuan seni dan budaya, Daru juga cukup paham akan politik terbukti dari tanggapan-tanggapan yang Ia lontarkan dari pembahasan yang gue angkat, mengobrol dengannya sangat menyenangkan, gue jadi berasa punya adek yang bisa diajak sharing tentang hal-hal apapun bukan hanya entertain melulu. Ketika sedang asik-asiknya membahas tentang jatuhnya pesawat Hercules di Medan beberapa waktu yang lalu, seseorang menghampiri kami.
" Ru...Sorry banget gue telat!! Tiba-tiba ada urusan Bem !" Seru cowok berwajah marmut yang gue kenali sebagai sahabat Daru, kalau tidak salah namanya Alvin.
" Ah...gak papa Vin, untung aja ada Mas Galih yang temanin aku." Mata Alvin beralih ke arahku, dia memamerkan senyum yang membuatnya tampak semakin kayak marmut, matanya menyipit dan ada garis-garis halus di bawahnya, persis seperti Hamtaro.
" Hai kak, makasih dah temanin Daru." Sapanya.
" Hei, iyya sama-sama. Bdw Aku cabut dulu kalau gitu soalnya masih mau kerja proposal, Daru udah gak sendiri lagi kan...," Daru mengangguk pelan sembari mengucapkan terima kasih karena sudah menemaninya.
Mereka berdua menjabat tangan gue sebelum gue beranjak dari sana dan berjanji untuk datang di pameran mereka besok. Sama seperti Daru, Alvin juga sangat bersemangat untuk mempromosikan pameran akbar mereka, anak itu malah terlihat lebih heboh. Gue hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya, baru kali ini gue bertemu dengan orang yang memiliki semangat super seperti Alvin, anak itu jelas membawa aura positif kemanapun Ia pergi, kenapa gue bisa bilang begitu? Yah...karena saat gue menatap matanya, gue tahu dia adalah orang yang menyenangkan.
***
Jauh di tengah kota, tepatnya di sebuah distrik pertokoan yang menjual berbagai macam alat-alat elektronik serta pertukangan, seorang pemuda tampan tengah sibuk memilah-milah beberapa jenis kabel serta lampu-lampu kecil di dalam kotak kaca. Di Salah satu tangannya, Ia membawa plastik besar yang berisi kawat, tripleks, dan bahan-bahan lain yang Ia butuhkan untuk membuat entah apa yang ingin dibuatnya.
" Raka!!" Suara cempreng seorang wanita refleks membuat cowok yang sedang asik melihat-lihat ke dalam kaca itu berbalik. Mata Raka melebar saat melihat wanita yang baru saja memanggilnya.
" Karina?!!!" Tanpa banyak omong, gadis cantik di hadapan Raka langsung menghambur ke dalam pelukannya. Raka menjatuhkan plastik yang di pegangnya lalu membalas pelukan wanita itu. Ia memeluk Karina erat, sudah sekian lama mereka tidak bertemu sampai-sampai Raka mulai meragukan keberadaannya.
" Akhhh...gue kangen banget ama Lo sumpah!!" Gumam Karina di d**a Raka, jantungnya berdegub kencang sekali, Ia tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan orang yang sangat di sayanginya ini. Begitu pula dengan Raka, Ia tidak pernah menyangka akan memeluk Karina lagi.
" Gue juga kangen banget ama Lo, mulai sekarang jangan pernah ninggalin gue lagi..." Ujar Raka lembut sambil mempererat pelukannya, tidak peduli jika saat ini mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar.
Raka sangat menyayangi Karina begitupula sebaliknya tapi keadaan membuat mereka terpisah cukup lama, tapi ada satu pertanyaan yang timbul, siapa sebenarnya Karina dalam kehidupan Raka??
To be Continued...