~Daru PoV~
Melukis selalu bisa membuatku merasa damai. Seolah seluruh dunia tengah menonton kuasku menari di atas kanvas. Semburat jingga telah kutorehkan di atas kanvas putih yang kini penuh dengan sketsa gambar yang akan ku lukis untuk pameran minggu depan. Sudah tak sabar rasanya ingin kutunjukkan karyaku ini pada Mas Raka, berharap perasaanku bisa sampai padanya saat Ia melihat hasil akhirnya nanti. Saat sedang asik memilih kuas untuk membuat garis cahaya, tiba-tiba saja pintu kamarku membuka. Refleks Aku berbalik dan sedikit terkejut melihat Mas Raka berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang sulit untuk di tebak. Ada apa dengannya?
" Eh...Sorry Ru. Gue gak tau kalo Lo lagi sibuk, lanjutin aja melukisnya." Mas Raka hendak menutup kembali pintu kamarku, namun gerakanku lebih gesit untuk menahannya.
Yah...Aku bangkit dari kursi kayu depan kanvas-ku dan berlari ke seberang ruangan untuk menahan tangan Mas Raka.
" Tunggu!! Aku gak sibuk kok Mas. Ini juga lukisannya udah setengah jadi, Mas ada perlu apa? Mau aku buatin makan atau ada yang lain?" Jika dilihat dari dekat, raut wajah Mas Raka lebih suram. Sepertinya Ia sedang banyak pikiran.
Apakah dia punya masalah di kampus? Keluarga? Atau masalah dengan sahabat-sahabatnya? Kuharap semuanya baik-baik saja.
" Gue butuh lo Ru ." Gumam Mas Raka pelan kemudian menyandarkan keningnya di pundakku.
Aku diam membatu, tidak tahu harus berbuat apa. Namun, karena tidak tega melihatnya down seperti itu, Aku pun mengajaknya masuk ke kamar untuk beristirahat sebentar. Siapa tau Mas Raka bisa sedikit tenang setelah kepalanya kupijat.
Aku kini duduk di atas kasur dengan Mas Raka yang berbaring di pahaku, jari-jariku yang jenjang kubiarkan bermain di rambutnya, mengelusnya lembut agar Mas Raka merasa tenang. Ia menutup matanya, menikmati setiap gerakan jariku yang menyisir rambut hitamnya yang mulai panjang. Syukurlah, wajahnya sudah terlihat lebih rileks. Tak ada lagi kerutan-kerutan di dahinya, juga rahangnya kini tampak lebih santai.
" Gue seneng Lo ada disini Ru...," guman Mas Raka.
Matanya masih menutup. Jantungku mulai berdetak kencang plus wajahku juga terasa panas. Semoga saja Mas Raka gak membuka matanya, malu sekali rasanya jika Ia melihat wajahku yang memerah, mana aku nda' bisa kabur karena posisinya yang begitu nyaman di pangkuanku. Oh...Gustii! Tenangkanlah hambamu ini.
" A...Aku juga seneng Mas kalau bisa ada buat bantuin Mas Raka, walaupun seringnya aku malah bikin repot hehe...," Mas Raka menggeleng pelan di pangkuanku tanpa membuka matanya sama sekali.
" Lo sama sekali gak ngerepotin gue. Gue malah bersyukur, semenjak ada Lo disini, gue jadi ngerasain nyamannya pulang ke rumah ." Mendengar ucapan Mas Raka, Aku jadi merasa sedih, Dia pasti sangat kesepian, tinggal jauh dari keluarga untuk waktu yang lama, mana rumahnya besar begini terus si Mbok-juga nda' stay disini. Aku nda' bisa ngebayangin pulang ke rumah dan disambut oleh keheningan, seperti yang biasa kualami saat pulang dari kampus terus Mas Raka belum pulang, sepi sekali rasanya. Gimana dengan Mas Raka yang harus merasakan hal itu selama bertahun-tahun? Bersyukur Ia memiliki sahabat yang ramai seperti kakak-kakak, setidaknya Mereka bisa mengisi hari-hari Mas Raka selama kuliah disini. Dan aku juga turut bersyukur, takdir membawaku bertemu dengannya, bertemu dengan seseorang yang memiliki arti begitu penting dalam hidupku saat ini.
" Iyya Mas tenang aja, pokoknya mulai sekarang Mas nda' bakal kesepian lagi deh di Rumah...toh udah ada Aku disini ." Tampak senyum tipis mengembang di wajah tampan Mas Raka, Aku jadi senang melihatnya. Merasa bahwa Mas Raka sudah cukup tenang, Aku pun memberanikan diri untuk bertanya apa terjadi sesuatu padanya, hingga Ia tampak begitu depresi tadi. Cukup lama Ia terdiam, membuatku merasa bersalah. Semoga saja Mas Raka tidak menganggapku gila urusan, Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu, cuma khawatir dengan keadaannya, siapa tahu saja aku bisa membantu.
" Maaf Mas Aku tidak—" Gue tadi ngobrol ama Putra, Dia nyeritain semuanya ke gue, tentang perasaannya ke Ardhan..." Mas Raka memotong kata-kataku dan dengan nafas yang berat Ia menceritakan hal yang menjadi beban pikirannya. Rupanya Mas Putra sudah memberitahunya, pantas saja Mas Raka terlihat depresi. Dia bukan tipe orang yang masa bodoh akan sesuatu, apalagi jika hal itu berhubungan dengan orang-orang terdekatnya. Mas Raka kerap mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingannya sendiri, dan Ia tidak akan segan-segan mengorbankan dirinya hanya untuk membuat orang lain bahagia. Itu lah salah satu sifat Mas Raka yang membuatku jatuh cinta padanya, bagaimana Ia rela mengorbankan waktunya bersama para sahabatnya hanya untuk menjagaku, Ia juga tidak peduli dengan bahaya yang akan menimpanya saat Ia datang ke kampus untuk menyelamatkanku dulu. Jika melihatnya seperti ini, Aku tidak bisa mengalihkan perhatianku darinya.
" Gue beneran shock dengernya! Gue merasa gagal sebagai sahabat Ru. Bisa-bisanya gue gak menyadari kalau Putra menyimpan perasaan pada Ardhan, dan selama ini Ia tersiksa sendirian untuk menahan perasaannya itu, s**t! Apa yang harus gue lakuin ?!" Mas Raka mengusap-usap wajah frustasi. Kebiasaannya itu kerap Ia lakukan ketika merasa depresi.
Melihatnya mulai bertingkah seperti itu, Aku segera meraih tangannya dan menghentikannya.
" Mas...Mas tenang! Aku juga shock waktu dengar cerita MasnPutra, tapi saat ini kita tidak bisa melakukan apapun selain terus berada di sampingnya dan menasehatinya. Satu-satunya yang bisa menyelesaikan masalah ini hanya Mas Putra, hanya dia yang bisa memutuskan jawaban di hatinya, dan Mas tahu, kurasa Mas Putra gak bertepuk sebelah tangan." Mata Mas Raka tiba-tiba membuka, Ia lalu menatapku penasaran.
" Maksud Lo apa Ru?" Tanyanya bingung.
Aku mengangguk pelan, " Ya...Mas Ardhan juga menyukai Mas Putra, hanya saja Ia belum menyadari perasaannya itu. Aku bisa melihat perubahan di wajah Mas Ardhan saat Mas Aro menyinggung tentang Mas Putra yang punya pacar di meja makan waktu itu, apa Mas ingat?" Tampak Mas Raka terdiam sebentar, raut wajahnya menunjukkan bahwa Ia sedang menggali ingatannya ke beberapa hari yang lalu.
" Iya Lo bener. Seingat gue waktu itu Ardhan tiba-tiba sewot. Ckk...Mereka berdua benar-benar lemot!" Aku tahu, pasti sangat sulit bagi Mas Putra untuk jujur akan perasaannya ke Mas Ardhan, mengingat mereka sahabatan dan Mas Ardhan juga sering membicarakan wanita secara terang-terangan di depan Mas Putra. Tentu saja Mas Putra merasa semakin galau dengan perasaannya, semoga saja Mas Ardhan bisa segera menyadari betapa pentingnya arti Mas Putra bagi dirinya. Yah...semoga kisah mereka bisa berakhir bahagia.
" Kita doakan saja semoga Mereka bisa menemukan jalan yang terbaik untuk bersama yah Mas." Aku tersenyum lembut menatap Mas Raka, Ia balik tersenyum lalu tiba-tiba bangkit dari posisi tidurnya dan duduk bersila tepat dihadapanku.
" Thanks Ru...Lo emang selalu bisa ngebuat gue tenang." Bisik Mas Raka di telingaku, selanjutnya apa yang Ia lakukan membuatku kembali merona. Mas Raka mendekatkan wajahnya di wajahku hingga aku bisa merasakan nafasnya yang hangat di hidungku. Jantungku sudah nyaris melompat keluar saat tiba-tiba saja Ia mengecup keningku. Ehhh? Ap...apa yang sebenarnya kuharapakan? Ti...tidak!! Gusti!! Bisa-bisanya Aku berharap Mas Raka mencium bibirku. Mataku ku biarkan terpejam serapat-rapatnya, merasakan sentuhan lembut bibir Mas Raka di keningku.
Tak lama kemudian Ia mengangkat wajahnya, lalu aku mendengar suara cengiran menggoda keluar dari mulutnya. Perlahan Aku membuka mata dan mendapatinya tersenyum jahil seperti biasa.
" Ngarep yaah?" Hoaaaah...Mas Raka sukses membuat wajahku merah semerah-merahnya, saking malunya dengan sengaja Aku memukul wajahnya pakai bantal.
" Hei !!" Merasa tidak terima dengan perlakuanku, Mas Raka membalik serangan, Ia melemparku secara bertubi-tubi dengan bantal hingga kami berdua berakhir dalam sebuah perang bantal yang seru. Aku dan dia tak henti-hentinya tertawa, menikmati aktivitas kekanakan yang membuat segala gundah dan resah yang sedari tadi menghantui menguap di udara.
" hhhhh....Mas...Mas udah, Ampuuun hhh!!" Aku coba menghentikan serangan Mas Raka karena nafasku sudah hampir habis akibat kebanyakan tertawa. Ia mengehentikan serangannya lalu mencibirku.
" Cemen Lo Ru, baru juga perang bantal, belum perang di kasur !" Aku yang sama sekali tidak mengerti maksudnya hanya bengong sembari menautkan alis.
" Lah Bukannya sekarang kita lagi perang di atas kasur Mas?" Kini balik Mas Raka yang bengong. Tapi tak lama kemudian suara tawanya meledak. Ia menghambur ke arahku dan memiting leherku.
" Polos banget sih adek gue yang satu ini hhhhh !!! Aku yang masih bingung hanya bisa ikut tertawa walau sama sekali tidak paham dengan perang di kasur yang di maksud Mas Raka, mungkin Alvin tahu! Besok aku akan bertanya padanya di kampus.
" Eh...Ru itu lukisan Lo keren banget ! Gue gak sempat perhatiin tadi ." Tiba-tiba Mas Raka berhenti memitingku dan mengalihkan pandangannya ke lukisan setengah jadi yang kubuat di atas kanvas.
" I...itu lukisannya belum jadi Mas,"
" belum jadi aja udah keren gini, gimana kalau udah jadi? Bdw ini yang mau di pamerin minggu depan?" Tanya Mas Raka. Ia kini sudah berdiri di hadapan lukisan yang kubuat khusus untuknya. Jari-jarinya yang besar mengikuti alur semburat jingga yang tadi kulukis.
" Iya Mas, Mas harus datang di pameran Aku yah ," dengan semangat Aku ikut berdiri di sampingnya sembari memasang wajah penuh harap.
" Tentu. Lo gak minta juga gue bakal datang ." Tangan Mas Raka berpindah dari lukisan itu ke wajahku.
Ia mengelus pipiku lembut membuatku tersenyum merasakan kehangatan dari telapak tangannya. Gusti! Aku sangat mencintai pria di depanku ini. Dosakah Aku jika mengharapkannya membalas cintaku?
" Mas..." gumamku pelan.
" Ya?"
" Aku sayang sama Mas Raka."
***
~ Raka Pov~
" Aku sayang sama Mas Raka."
Lima kata yang keluar dari mulut pujaan hati gue sukses ngebuat gue membeku di tempat dengan mulut setengah terbuka. Apa gue gak salah dengar ? Jangan-jangan akibat depresi pasca ngobrol sama Putra otak gua mulai berhalusinasi !
" Apa ?" Hanya sepenggal pertanyaan itu yang keluar dari mulut gue setelah keheningan melanda kami berdua. Daru tampak salah tingkah, wajahnya memerah seperti akan meledak, jika saja manusia bisa megeluarkan asap dari tubuhnya, maka Daru sudah mengeluarkannya sejak tadi.
" Ahhh...it...itu maksud aku, Aku sayang sama Mas Raka soalnya Ma...Mas udah aku anggap seperti kakak kandung Aku ." Dengan terbata, Daru berusaha memperjelas maksud omongannya. Gue jadi merasa sedikit lega, bukan karena dia mengatakan bahwa menyayangi gue hanya sebagai kakak, tapi gue gak mau kalau misalnya Daru beneran punya rasa ke gue dan dia yang ngomong duluan! Dimana harga diri gue sebagai cowok, harusnya gue yang pertama menyatakan perasaan dan nembak dia, bukan sebaliknya. Ckk...sebenarnya gua udah gak tahan mendem cinta gue lama-lama ke dia, ini adalah kali pertama gue mendam perasaan ke seseorang selama ini. Biasanya, kalau gue naksir cewek, cuma butuh waktu tiga hari bagi gue buat nembak, tapi untuk kasus Daru...Shit! Gue gak mau nembak dia tanpa persiapan yang matang, gue mau nembak dia di momment spesialnya, seperti saat dia ulang tahun? Bdw, gua gak tau kapan nih anak ulang tahun! Bener juga, gue harus gunain hari ultah Daru itu buat nembak dia.
" Iya iya...Gue ngerti kok. Gak usah panik gitu. Eh...Gue boleh tau gak kapan Lo ulang tahun?" Daru yang sejak tadi menunduk untuk menyembunyikan wajah manisnya yang memerah langsung mengangkat wajah. Ia menatap gue dengan mata bulatnya yang menggemaskan.
" Bu...bulan depan Mas, tanggal 5." wah...berarti 3 minggu lagi dia ulang tahun! Gue harus segera siapin kado spesial buat dia, plus memantapkan hati gue buat melamarnya menjadi kekasih. s**t! s**t! Gue kok jadi deg-degan kini?! Apa gue juga harus bilang, ini pertama kalinya gue ngerasain yang namanya tegang sebelum menyatakan perasaan ke seseorang? Bener-bener deh, Gue gak tahu mantra sakti apa yang telah digunakan Daru untuk ngebuat gue jadi cowok setara Aro dann Ardhan begini. Mereka pasti bakal nertawain gue kalau tahu gue galau karena cinta!! Yeah...untuk kesekian kalinya gue ngomong, ini pertama kalinya gue GALAU KARENA CINTA.
" Ok deh, I'll keep it in mind. Kalau gitu gue balik ke kamar dulu mau lanjutin proyek tangan robot gue, Lo lanjutin gih melukisnya." Daru tersenyum lembut sembari mengangguk pelan, rona merah di wajahnya kini mulai berkurang, namun semburat tipisnya masih terlihat jelas di mata gue. Sebelum beranjak keluar dari kamarnya, gue kembali mendaratkan kecupan lembut kali ini di puncak kepalanya, rambutnya yang halus terasa begitu lembut saat menyentuh bibir gue, baunya juga enak, seperti bau adek gue yang masih SD di Amerika sana. Jangan bilang dia menggunakan baby kids shampoo ? Ah bodo' amatlah ! Daru mau menggunakan shampoo, sabun merk apapun, bahkan gak pakai sama sekali juga gue tetap tergila-gila sama semua yang ada pada dirinya. Semoga aja gue sanggup untuk menahan diri sampai tiga minggu ke depan. Yah...sanggup gak sanggup gue harus tetap menahan diri.
Baru saja mendaratkan p****t di atas kasur, ponsel gue udah teriak-teriak minta di angkat. Dengan malas gue mengambil ponsel di saku celana dan segera mengangkat telpon yang ternyata dari Mom.
" What's up?" Seperti biasa, Mom akan mendengus gusar diseberang sana jika gue mengangkat telpon dengan cara yang kurang sopan.
Beliau selalu protes karena cara gue ngomong sama dia gak ada bedanya dengan ngomong dengan para sahabat gue. Bukannya itu bagus, berarti gue gak nganggap emak gue tua kan? Pada kenyataannya dia emang belum tua-tua amat, gayanya yang terkesan sangat stylish dan fancy membuatnya terlihat seperti mahasiswi-mahasisiwi sophomore yang berkeliaran di luar sana.
" How are u Baby? Is everything okey at home ?" Tanyanya riang.
Gue menghempaskan tubuh di kasur sembari menutup wajah dengan sebelah lengan, sementara lengan satunya memegang ponsel.
" Yeah...everything's okey, don't worry."
" Are u sure? Suaramu terdengar sedikit aneh baby."
Shit! Kenapa Mom selalu bisa menyadari kalau ada yang salah dengan gue? Kalau harus menjelaskan segala hal ke dia, telpon ini baru akan kututup besok pagi.
" I'm just tired mom, biasalah mahasiswa tingkat akhir." Jawab gue yang tidak sepenuhnya bohong juga. Proyek tangan robot gue ini nyaris ngebuat gue gila, kalau sampai bulan depan proyek ini gak selesai, gue gak bakal bisa lanjut urus proposal.
" Kamu jangan terlalu forsir tenagamu nanti malah sakit. Bdw, gimana keadaan Daru? Kamu jagain dia dengan baik kan?" Gue sedikit salting mendengar pertanyaan Mom, bukan cuma ngejagain dia dengan baik, gua juga udah...yah...tau lah apa yang udah gue lakuin ke dia.
" Iya Raka jagain dia dengan baik kok. Dia udah kayak Gilang sama cakra buat aku." Sorry Mom tapi untuk saat ini Raka belum bisa terus terang tentang perasaan Raka ke Daru. Gue baru akan ngomong ke beliau kalau Daru udah resmi jadi kekasih gue.
" Ahh...Good boy...good boy!! Oh ya sayang, adek-adek kamu itu bulan juni mau main ke Jakarta Loh. Mommy titip mereka ke kamu yah soalnya mommy and Daddy masih banyak kerjaan disini, jadi gak bisa nemenin mereka liburan. Kamu okey khan? Mereka udah kangen banget sama kamu katanya." Wah..serius?? Udah dua tahun gue gak ketemu sama kurcaci-kurcaci itu, kalau boleh jujur gue juga kangen banget sama mereka, tapi gak pernah sempat jenguk mereka di sana.
" Sure Mom!! Aku juga kangen banget sama dua kurcaci itu. Semoga aja mereka gak bikin ulah disini."
" Gak kok, adek-adek kamu itu udah gak senakal dulu. Sekolah bikin mereka jadi lebih dewasa." Syukurlah, kalau beneran mereka udah berubah. Soalnya gue masih ingat gimana mereka berdua bersekongkol untuk merusak mesin pendingin yang gue buat sebagai proyek kuliah dulu cuma gara-gara gue nolak rakitin robot gundam mereka. Wajah sih boleh imut-imut, tapi sikapnya itu loh, udah bikin 7 orang babysitter mengundurkan diri buat ngerawat mereka.
" Baguslah kalau gitu mom, Raka gak perlu panggil bala bantuan buat ngejagain mereka selama disini." Gue dengar Mom tertawa di seberang sana, tawa yang nyaring seperti biasa. Setelah puas mengecek keadaan gue, beliau pun menyudahi panggilan. Selama ini memang hanya Mom yang selalu menyempatkan diri buat hubungin gue, beda dengan Dad yang baru menelpon jika butuh bantuan. Wajar sih, gue gak bisa berharap banyak dari pria itu, secara beliau telah memutuskan untuk menenggelamkan seluruh dirinya dalam urusan bisnis yang gak ada ujung pangkalnya. Gue udah berjanji sama diri gue sendiri kalau suatu saat gue emang harus melanjutkan bisnis orang tua gue, gue gak akan sampai menelantarkan keluarga hanya untuk mengurus bisnis, keluarga tetap prioritas, apalagi kalau gue menikah dengan Daru dan punya anak, hidup gue bakal sepenuhnya untuk kebahagiaan mereka.
Hmm...gimana kalau Daru udah jadi wifey gue yah? Gue pasti bakal jadi pria yang paling beruntung di dunia, punya wifey sexy, jago masak, and extremly sweet. He's so damn perfect wifey for me.
" Oh...Shit! Gue udah gak sabar pengen meluk dia sebagai seorang kekasih! Gue udah capek bersikap seperti kakak yang baik di depannya sementara di dalam diri gue, gue berharap lebih. Ckkk! What should I do now?!
Merasa stress sendiri dengan pikiran-pikiran gue yang semakin hari semakin liar. Gue memutuskan untuk mulai fokus memikirkan hadiah paling berkesan yang bakal gue berikan buat dia nanti, yah... hadiah itu haruslah hadiah yang paling Ia sukai.
***
Daru membawa kanvasnya menuju ke studio lukis di bagian timur jurusan seni rupa. Mulai hari ini, dia dan seluruh teman-temannya akan melakukan finishing karya mereka di kampus. 4 hari lagi, karya-karya itu akan di pajang, karenanya mereka semua akan stay hingga larut untuk menyelesaikan karya masing-masing. Alvin sudah berada di studio saat Daru melangkah masuk sembari membopong kanvasnya, di belakangnya, Raka membuntuti dengan kedua tangan penuh alat-alat lukis Daru. Ia bersih keras untuk membantu membawakan barang-barang cowok manis yang berjalan di depannya itu karena tidak mungkin Ia membiarkan sang pujaan hati kesulitan membawa semua barangnya, mulai dari kuas berbagai nomor, palette, serta ber kotak-kotak cat minyak. Beberapa teman wanita Daru yang juga telah berada di dalam studio memandang Raka terang-terangan, sesekali mereka saling berbisik dengan tatapan yang masih menempel pada wajah tampan Raka. Raka yang menyadari dirinya menjadi pusat perhatian di seluruh ruangan tampak acuh. Ia malah mendekatkan dirinya pada Daru dan beberapa kali membisikkan kata-kata jahil di telinga cowok itu hingga membuat wajahnya merah menahan malu. Di depan kanvas raksasanya, Alvin hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Daru dan Raka yang tampak begitu mesra seolah di ruangan ini hanya ada mereka berdua serta love is in the air-nya. Apa yang di pikirkan Alvin mengenai Raka yang juga punya rasa ke Daru sama sekali tidak salah, melihat bagaimana cowok tampan itu memperlakukan sahabatnya membuatnya seratus persen yakin jika sahabatnya yang manis dan polos itu sama sekali tidak bertepuk sebelah tangan. Alvin merasa sedikit iri pada Daru, Ia juga ingin mencintai dan dicintai seseorang, tapi untuk saat ini, tak ada seorangpun yang mengetuk pintu hatinya. Sudah lama Ia tidak menjalin hubungan dengan seseorang, mungkin sudah hampir 4 tahun. Wanita yang terakhir di kencaninya bahkan sudah memiliki anak, wanita itu memutuskan untuk menerima perjodohan orang tuanya di umurnya yang masih belia, padahal Alvin sangat mencintainya. Yah...mungkin memang mereka belum berjodoh, Alvin berharap Ia bisa segera bertemu dengan jodohnya di masa kuliahnya ini, karena baginya jika sudah memasuki dunia kerja, akan sulit baginya untuk menemukan seseorang yang tulus mencintainya tanpa mengharapkan jabatan ataupun harta.
" Vin...maaf aku telat, kamu dah disini dari tadi ?" Tanya Daru.
Ia kini meletakkan kanvasnya pada stand lukisan yang bersebelahan dengan karya Alvin.
" Gak kok Ru, gue juga baru datang. Bdw, seneng nih yee di anter ayang, sampai masuk ke studio segala'." Alvin berbisik di telinga Daru sembari menyikut lengan sahabatnya jahil. Wajah Daru kembali merona, kenapa orang-orang di sekitarnya gemar sekali mengganggunya. Pikir Daru.
" Kamu apaan sih Vin, nanti Mas Raka denger." Daru balik berbisik, takut-takut Ia melihat wajah Raka, siapa tahu cowok itu mendengar omongan Alvin. Tapi untung saja, sepertinya Raka tidak mendengarnya karena wajah cowok itu tampak biasa-biasa saja.
" Mas makasih yah udah anter aku sampai ke studio, Aku jadi repotin mas lagi." Ujar Daru lembut saat Raka menyerahkan alat-alat lukis yang di bawanya pada anak itu.
" Udah berkali-kali kan gue bilang, gue gak pernah merasa di repotin ama Lo jadi berhenti merasa gak enak gitu."
" Iya nih Mas...Daru tuh gitu, padahal seringnya dia butuh tapi karena takut repotin kamu dianya malah diam aja terus ujung-ujungnya merengek sama gue." Timpal Alvin bercanda. Mendengarnya, Daru langsung mencubit pinggang sahabatnya itu untuk menyuruhnya tutup mulut.
" nda' kok aku nda' pernah merengek sama Alvin...," Daru memanyunkan bibirnya, sebal karena Alvin terus saja nyerocos untuk menggodanya. Raka yang melihat tingkah imut sang pujaan hati hanya bisa tersenyum walaupun dalam hati Ia ingin sekali menghujani Daru dengan kecupan-kecupan.
" Ya udah klo gitu, gue balik duluan yah. Lo jangan lupa hubungin gue kalau dah pulang. Dan satu lagi, Vin jagain Daru buat gue yah." Raka mengalihkan pandangamnya dari wajah manis Daru pada Alvin yang berdiri di belakangnya.
" Oke bos !! Daru aman sama gue!" Seru Alvin sebelum kembali sibuk dengan lukisannya.
Daru mengantar Raka sampai ke pintu studio. Ia keluar sebentar dari ruangan dan menutup pintu studio di belakangnya.
" Mas hati-hati yah, semoga kuliahnya lancar hari ini."
" Iya, Lo juga. Semangat nyelesain lukisannya key." Daru mengangguk pelan sembari memamerkan lesung pipi-nya yang menjadi favorit Raka. Tampak cowok tampan itu celingak celinguk melihat keadaan sekitar, Daru yang heran melihat tingkah Raka di hadapannya hanya bisa bengong.
" Ada ap..." belum sempat Daru melanjutkan omongannya, bibir Raka sudah mendarat manis di pipinya nyaris menyentuh bibirnya. Jantung Daru berdetak gila-gilaan, saat itu lorong di depan studio memang sedang kosong tapi tetap saja, bagaimana kalau tiba-tiba ada yang datang. Namun kekhawatiran Daru berhasil dikalahkan oleh sensasi mendebarkan yang diciptakan oleh kecupan lembut Raka di pipinya.
" Charge gue udah full, thanks yah." Raka tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan pujaan hatinya yang sekarang sedang berjongkok sembari menutup wajahnya yang terasa panas.
" Oh...Gustii"
To be Continued~~