~7~ Pahlawan Kemalaman

4626 Words
Kamar Daru dipenuhi oleh potongan-potongan kertas, kardus-kardus Indomie, serta tali-tali rafiah yang berserakan. Ia tengah mempersiapkan atribut pengkaderannya yang di mulai besok hingga tiga hari ke depan. Cowok manis itu sedikit kesulitan dalam mempersiapkan atributnya, karena ini adalah pengalaman pertama bagi Daru untuk mengikuti prosesi pengkaderan. Dari isu-isu yang berhembus di kalangan teman sekampusnya, pengkaderan hari pertama merupakan yang paling mengerikan, disitu para senior tidak akan segan-segan untuk mengerjai juniornya hingga mereka bertekuk lutut minta ampun. Trrrt...trrrt...trrrt Ponsel Daru yang terletak di atas kasur bergetar, dengan tergesa-gesa Ia meraih ponsel itu dan mengangkatnya. "Daruu...!! tadi kayanya kita lupa nyatat deh, kata Bakti besok disuruh bawa kacang ijo juga, yang mentah tapi, dan jangan lupa, harus 1001 jumlahnya!" tanpa mengucap salam atau sapaan, celotehan Alvin sudah menyambut di saluran seberang. Daru yang masih stress dengan barang-barang berserakan di hadapannya kini bertambah pusing lagi dengan kacang ijo itu. " Serius?! Masa kita harus itung kacangnya vin?" Tanya Daru tidak percaya. Halooo...hari gini disuruh hitung kacang Ijo? Gila ajaa... "Iyya serius, katanya tuh dah disiapin senior-senior yang khusus buat hitungin kacang yang kita bawa, kalau gak lengkap 1001 atau lebih, kita gak bakal dapat sertifikat pengkaderannya, adddddduh...pusing gue!!" Mendengar Alvin terus mengeluh, mau tidak mau Daru mulai panik juga, mana ini sudah hampir jam 10 malam dan dia belum membeli kacang ijonya. "Ya udah Vin...,kalau gitu aku mau keluar dulu buat cari kacang ijonya, semoga aja toko yang jualnya masih buka." Ujar Daru tampak sama sekali tidak yakin jika masih ada toko yang buka. Alvin lalu menutup telepon setelah memberi semangat pada Daru, dia juga tidak bisa membantu karena kacang ijo miliknya pun hanya pas-pasan. "Aduh...aku harus cari dimana yah?  Mau minta tolong ke Mas Raka nda' enak..." Daru mulai mondar-mandir di kamarnya, otaknya berusaha mencari jalan keluar, tapi sayang Ia menemui jalan buntu. Akhirnya, karena tak ingin membuang waktu terlalu banyak, Ia pun mengambil jaket dan berniat mencari ojek untuk mengantarnya berkeliling. Daru melangkah turun ke lantai bawah dengan perlahan, Ia sengaja tidak ingin menimbulkan suara-suara dan membuat cowok tampan di seberang kamarnya terganggu. Sesampainya di dasar tangga, saat hendak menuju ke rak sepatu untuk mengambil sandalnya, Daru dikagetkan oleh suara Raka yang menegurnya dari belakang. Rupanya Raka sedang tidak berada di kamar, melainkan sedang menonton Tv di ruang tengah ketika Ia melihat Daru turun dari tangga seperti seorang pencuri. "Mau kemana Ru? Kok diam-diam gitu?" Tanya Raka curiga seperti seorang Bapak yang tengah memergoki anak gadisnya yang hendak 'sneak out' tanpa persetujuan orang tuanya. "Aah...uuuhm...itu.. Aku mau cari kacang ijo buat besok, katanya disuruh bawa 1001 dan aku baru tahu barusan dari Alvin." Jawab Daru ragu-ragu. "Lo kok gak bilang ma gue? Trus Lo mau pergi keluar sama siapa? Alvin?" Mendengar pertanyaan cowok di depannya, Daru menggeleng mantap. Dia lalu menjelaskan niatnya untuk mencari ojek yang di tanggapi dengan dengusan gusar oleh Raka.  "Bener-bener deh, kalau Lo kenapa-napa Gue yang bakal repot, tunggu di luar, biar gue yang temanin Lo nyari... Kita naik motor aja biar cepat." Instruksi padat, jelas, dan sedikit memerintah dari Raka membuat Daru hanya mampu mengangguk patuh. Ia segera memakai sandalnya, merapatkan jaket, kemudian menunggu Raka di teras rumah. Tidak butuh waktu lama bagi cowok ramping berparas manis itu untuk menunggu, dari arah garasi, Ia dapat  mendengar raung motor yang distarter. Raka membawa motor besarnya ke halaman lalu menyerahkan salah satu helm yang dipegangnya ke arah Daru. Setelah mengunci pagar rumah, Daru naik ke atas motor. Ia tidak menyangka bahwa suatu saat akan duduk diatas motor yang setinggi itu, padahal sebelum-sebelumnya, Ia hanya mampu melihatnya di Tv atau berlalu lalang di  jalanan. "Wah...tinggi sekali...," gumam Daru saat Ia hampir saja terjengkang jatuh ke belakang. Raka yang melihatnya melalui spion, kontan menarik tangan cowok yang duduk di boncengannya, lalu melingkarkan tangan Daru di pingggangnya. "Peluk Gue supaya Lo gak jatuh, Oke." Di balik punggung Raka, Daru diam membatu, namun tetap menuruti pinta cowok yang kini di peluknya. "Oke.." Mereka melaju menembus malam, berharap masih ada toko yang menjual kacang Ijo mentah yang masih buka. Satu persatu warung pinggiran mereka datangi, tapi sayang hasilnya nihil. Sudah hampir satu jam kedua anak muda itu berkeliling hingga Daru mulai putus asa. "Mas ini sudah malam sekali, kita pulang saja, toko-toko juga sudah pada tutup." Apa yang diucapkan Daru sama sekali tidak diindahkan oleh Raka, Dia bukan tipe pria yang mudah menyerah dan paling malas menghadapi orang yang cepat sekali putus asa. "Lo jangan nyerah dulu, masih banyak waktu kok, emangnya Lo mau besok di hukum, udah Lo diem aja, gue gak  bakal balik kalau kita gak nemu kacang Ijonya." Setelah menceramahi Daru, Raka kembali melajukan motornya. Saat mereka tiba di jajaran ruko-ruko yang merupakan kumpulan toko penjual sembako, mereka pun berhenti. "Ayo turun, semoga aja masih ada yang buka...," Tanpa banyak bicara, Daru menurut dan turun dari motor, bersama-sama mereka menelusuri satu persatu ruko yang sudah tutup. Di kejauhan, tampak cahaya masih menerangi salah satu toko, tetapi yang empunya toko tengah bersiap-siap menggeser pintu tokonya menutup. Dengan sigap Raka berlari menuju toko itu sembari berteriak agar bapaknya tidak menutup tokonya dulu. Di belakangnya, Daru berusaha mengejar, namun Raka sudah berlari jauh. "Tunggu...tunggu...du...lu..hu..hu..," dengan nafas yang ngos-ngosan, juga badan setengah membungkuk menahan lelah, Raka menahan tangan Bapak yang punya toko untuk menutup pintu tokonya. "Ada apa Dek ? Ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Bapak itu heran sekaligus prihatin melihat anak muda dihadapannya. "Saya...ma..mau beli kacang Ijo pak!" Daru terduduk lesu di pinggir jalan, Ia sudah tak mampu lagi berlari, kepalanya pusing sekali. Tidak jauh dari tempatnya duduk, Daru mendengar langkah kaki seseorang yang datang mendekat, Ia mengangkat wajah dan melihat Raka berjalan kearahnya membawa sebuah kantong kresek hitam sembari tersenyum puas.  " I Got That Beans!!" Serunya bangga. Melihatnya, Daru hanya mampu tersenyum sebagai tanda terima kasih. "Maafin aku yah Mas, Aku nda' bisa di andelin..." Ujar Daru lesu. "Gak papa, sebagai ucapan terima kasih, nanti Lo harus masakin gue makanan spesial yang enak-enak, key!" Daru mengangguk penuh semangat, dengan senang hati Dia pasti akan membuatkan Raka masakan yang enak-enak tanpa cowok itu minta sekalipun. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 00:00 PM  ketika mereka menginjakkan kaki di rumah, bukannya langsung naik ke kamar, kedua cowok itu malah menghempaskan diri mereka di atas sofa ruang tengah. Raka mulai berbaring, sementara Daru beranjak ke dapur untuk mengambil minum buat mereka berdua. Masalah belum selesai saat mereka telah mendapatkan kacang itu, masalah barunya yaitu Daru harus menghitung kacangnya agar pas 1001 biji. "Mas Raka duluan tidur aja, Aku masih harus menghitung kacang-kacang ini," Ucap Daru lembut saat melihat Raka sudah tepar di atas sofa. Tiba-tiba Raka bangkit dari posisi nyamannya dan duduk tepat di samping Daru. "Gak...Kita hitung sama-sama aja supaya lebih cepat dan Lo bisa istirahat." Mendengar ucapan Raka, Daru merasa semakin tidak enak hati, inilah alasannya Ia tidak ingin memberitahu Raka saat hendak mencari kacang Ijo tadi, Ia takut merepotkan cowok yang kini sudah mulai menghitung kacang di sebelahnya. "Kalau Lo bengong terus, sampai subuh Kita gak bakal selesai ngitungin ini." Tegur Raka tanpa mengalihkan pandangan dari kumpulan kacang-kacang di atas meja. "Terima kasih mas Raka," hanya kalimat itu yang mampu Daru ucapkan, Ia tidak tahu lagi harus berkata apa atau melakukan apa. Raka terlalu baik padanya sehingga membuatnya takut, takut jika Raka mendengarkan debaran jantungnya saat ini.  Tik...tok...tik...tok, suara detik jam menemani mereka yang sudah dua jam menghabiskan waktu menghitung kacang dalam diam. Akhirnya, pekerjaan melelahkan dan membuat mata sakit itu pun selesai juga. "Ckk...ini pertama kalinya gue ngitung ginian, kalau gue ketemu senior lo, bakal Gue tuang nih kacang di mulut mereka!" Umpat Raka kesal, ada-ada saja pekerjaan yang mereka tugaskan untuk junior-junior mereka, lagian apa masih zaman pengkaderan tahun 2015 menghitung kacang. That's so Old Fashion! "Aku juga nda' ngerti Mas, ini pertama kalinya aku ikut pengkaderan." Ucap Daru polos, matanya sudah meredup, Ia ngantuk dan lelah sekali, tubuhnya juga terasa sudah hampir ambruk. "Ya udah, Lo pergi tidur sana, mata Lo udah mau nutup tuh!" Perintah Raka, kasihan sekali Ia melihat Daru yang hendak terkulai disampingnya. "I..iya, aku naik duluan yah, terima kasih banyak." Entah sudah yang keberapa kalinya Daru mengucapkan terima kasih pada Raka, tampaknya cowok manis itu belum puas mengucapkannya. Daru hendak beranjak dari duduknya, namun rasa kantuk menderanya bagai badai yang tak mau berkomproni. Alhasil, tubuhnya terkulai lemas dan ambruk ke karpet. Untung saja Raka masih sempat meraihnya sehingga kepalanya tidak terbentur meja. "Astaga...!! Lo bener-bener deh, bikin gue gak bisa gak merhatiin Lo." Gumam Raka yang tentunya tidak dapat di dengar oleh Daru yang telah pergi ke alam mimpi. *** ~Daru PoV~ Suara kicauan burung terdengar jelas di telingaku, tubuh ku terasa berat, juga dapat kurasakan hawa panas di tengkukku. Ku buka mata perlahan, berusaha beradaptasi dengan cahaya minim yang menembus melalui sela-sela gorden. Aku segera sadar bahwa diriku sedang tidak berada di dalam kamar, melainkan ruang tengah. Saat hendak bangun dari posisiku, Aku di kagetkan oleh tangan kekar yang memeluk pinggangku. Sontak aku berbalik, dan terlonjak kaget ketika melihat Mas Raka yang tanpa baju memelukku erat. Entah mengapa aku bisa tidur bersamanya di atas sofa, lengan kanan Mas Raka menjadi bantalku sementara satu tangannya memelukku seperti guling. Lama aku memperhatikan wajah tampannya yang tertidur dalam damai, takut bergerak lalu membangunkannya, Aku hanya bisa pasrah mendekam dalam dekapannya. Jantungku kembali memainkan alunan musik keras, semakin Aku memperhatikan wajahnya yang hanya beberapa senti di depanku, semakin panas kurasa wajah ini. Oh...Tuhan apakah ini normal ? "Ngggh...," Kudengar Mas Raka bergumam, tampaknya Ia sudah mulai sadar. Perlahan Ia membuka matanya, hingga akhirnya bertemu dengan mataku. "Lo udah bangun?" Tanyanya santai, tampaknya Mas Raka belum sepenuhnya menyadari posisi kami yang begitu intim saat ini. "Uhhmmm...Aku nda' bisa bergerak." Dengan senyum canggung kuarahkan tatapanku ke arah tangannya yang memeluk pinggangku. Ia mengikuti arah pandangku, lalu melonjak duduk sembari mengusap wajahnya. "God...I'm so sorry, Lo jangan mikir macem-macem yah, semalam Lo ketiduran jadi...,"Mas Raka berusaha menjelaskan tetapi aku segera menghentikannya, Aku tahu jika Mas Raka sama sekali tidak bermaksud buruk, malah aku merasa bersalah karena telah merepotkannya. "Iyya ndak papa kok Mas, kalau begitu Aku siap-siap dulu, sekalian mau buat sarapan juga." Aku berusaha tampak biasa saja walau jantungku rasanya sudah ingin meledak. Mas Raka mengangguk canggung lalu berlalu meninggalkanku naik ke lantai dua. Bukan hanya membantuku mencari dan menghitung kacang,Mas Raka bahkan mengantarku ke kampus, Ia sempat tertawa terpingkal-pingkal melihat penampilanku yang bisa di bilang sangat "Tidak Normal", bagaimana tidak, Aku harus memakai topi dari bola plastik, kacamata hitam, compeng digantung di leher dan harus selalu dihisap setiap saat, tas dari kardus Indomie, rok berbahan tali rafiah serta kaos kaki warna-warni. Mas Raka bahkan tidak tinggal diam untuk tidak mengambil potret diriku, Ia bahkan berniat memperlihatkannya pada para sahabatnya. "Lo manis banget deh Ru hahaha...," Air mata Mas Raka sampai mengalir keluar dari pelupuk matanya karena menertawakanku. Rona wajahku dibuat tidak karuan olehnya. "Mas Rakaaa...berhenti ketawa toh, Aku malu." Sembari tertunduk lesu, kututup wajahku dengan kedua telapak tangan, berharap Mas Raka akan berhenti menggangguku. "Hhhh...oke...oke, ya udah, sana turun.. teman-teman Lo udah pada baris noh!" Ku angkat wajahku lalu melihat ke arah barisan Mahasiswa baru yang telah memenuhi lapangan Parkiran kampus, beberapa senior juga telah bersiap di pos mereka masing-masing. Aku menoleh ke arah Mas Raka dan meraih tangannya seperti biasa. (Salim) "Aku pergi dulu, makasih banyak sudah diantar," ucapku lembut. Saat hendak turun dari mobil, Mas Raka meraih lenganku. "Kalau senior Lo macem-macem, Lo hubungin gue yah...awas kalo nggak!" Wajah Mas Raka berubah serius, begitu juga dengan intonasi suaranya yang menjadi sedikit dingin dan mengintimidasi. "Iya, sekali lagi makasih." Aku turun dari mobil, kemudian melambaikan tangan ke arah mobil Mas Raka yang mulai menghilang di belokan. "Hei kamu...ngapain masih berdiri disitu! Cepat baris sana!" Belum juga mengatur nafas baik-baik, seorang senior sudah mendampratku. Yaah...semoga pengkaderan hari ini berjalan dengan lancar!!  *** Daru melihat Alvin tengah berdiri diantara para Maba yang sudah berkumpul di halaman. Ia pun berjalan ke arah sahabatnya itu dengan mulut mengisap compeng. Beberapa senior baik wanita maupun pria terkikik geli melihatnya, Daru malu sekali dibuatnya, namun Ia hanya bisa pasrah sembari mempercepat langkahnya. "Vin...," Bisik Daru dari balik punggung cowok mungil yang berdiri di depannya. Alvin yang sedari tadi sibuk memperbaiki tali tas kardusnya kontan berbalik. "Daruuu!! Lo kok lama banget sih datangnya?" Tanya Alvin dengan tampang memelas. Ia memanyunkan bibirnya hingga membuat wajah mungilnya tampak semakin imut. "Maafin Aku, Aku telat bangun...soalnya semalam hitungin ini sampe jam 2 ." Kata Daru sembari menunjukkan kacang ijo dalam plastik bening di tangannya. "Lo beneran ngitungin sampe 1001?" Dengan takjub Alvin menatap plastik bening di tangan sahabatnya. "Loh? bukannya kamu bilangnya begitu toh?" Kini Daru menatap Alvin bingung. "Hmm...Iyya sih, cuman setelah gue pikir-pikir, mustahil banget senior-senior itu mau habisin waktu buat ngitungin kacang kita semua, secara kita nih ada 200 orang lebih trus senior kita cuma berapa yang jadi panitia, sampe 50 juga kagak." Penjelasan Alvin memang sangat masuk akal, Daru pun merasa apa yang dilakukannya dengan Raka jadi sia-sia. Coba semalam mereka tidak menghabiskan waktu untuk menghitung kacang-kacang ini, pasti Daru tidak akan terlambat dan...tidur bareng Raka — Wajah Daru seketika memerah saat mengingat kejadian pagi tadi. Ia pun buru-buru membuang muka agar Alvin tidak mencurigainya lagi seperti kemarin. " Selamat Pagi adik-adik semua!! Hari ini pengkaderan tahap pertama akan kita mulai. Kami para panitia berharap, kalian semua mengikuti prosesi dengan tertib, tidak banyak tanya dan menjalankan setiap Instruksi yang diberitahukan oleh kakak-kakak panitia yang berdiri di depan kalian ini , Paham??!" Seru kakak ketua panitia yang bertampang cukup sangar dengan rambut gondrong berantakan — penampilannya seperti orang yang tidak pernah menyentuh air. "Paham kaaaaak ~~~," Jawab para Maba kompak. Mereka terlalu malas atau takut untuk mempertanyakan banyak hal walaupun sebenarnya, di dalam pikiran mereka telah berseliweran hal-hal negatif yang mungkin akan menimpa mereka beberapa waktu ke depan. "Bagus!! Kalau begitu sekarang kita akan bagi kelompok, 10 wanita dan 10 pria dalam satu kelompok. Saya akan mengabsen kalian satu persatu, dan yang di sebut namanya harap maju ke depan untuk bergabung bersama kelompok kalian masing-masing." Daru merasa beruntung karena Ia di tempatkan satu kelompok dengan Alvin, walaupun dalam satu kelompok terdiri dari wanita dan pria, tetap saja mereka dipisah dan diberi tugas yang berbeda. Para wanita ditempatkan di dalam ruangan oleh senior-senior wanita, entah tugas seperti apa yang diberikan pada mereka. Untuk para pria sendiri, mereka semua di jemur selama dua jam dibawah terik mentari, sesekali mereka disuruh hormat pada langit. Peluh bercucuran deras di kening Daru, pandangan matanya mulai berkunang-kunang, ini pertama kalinya Ia berdiri selama itu dibawah terik mentari, fisiknya yang terbilang cukup lemah tentu membuatnya kesulitan. "Jangan ada yang turunin tangan!! Kalau ada yang berani-berani kalian dihukum push up 50 kali!!" Teriak salah seorang senior yang berdiri sambil memegang toak di depan barisan. Jantung Daru berdetak semakin kencang, kakinya lemas, penglihatannya sudah tidak fokus, akhirnya karena sudah tidak tahan lagi, tubuh kurus rampingnya ambruk ke tanah. Alvin yang segera menyadari sahabatnya pingsan berteriak histeris meminta bantuan, beberapa senior berlari menembus barisan dan mengangkat tubuh Daru. Wajah anak itu sangat pucat, badannya dingin. Semalam Ia kurang tidur, hal itu menjadi salah satu penyebab stamina tubuhnya berkurang. Para senior membopong Daru menuju ke tenda yang sudah disediakan untuk menangani jika ada Maba yang sakit atau cedera. Tubuhnya dibaringkan disalah satu matras yang terletak di ujung tenda, Alvin ingin menyusulnya tapi sayang para senior melarang dan menyuruh mereka melanjutkan aktivitas. Tugas-tugas yang diberikan bagi para Maba pria terbilang cukup ekstrem. Di pos pertama mereka harus merangkak melewati bambu-bambu tanpa boleh mengenai bambu itu sementara sulit bagi mereka untuk tidak mengenai bambu yang di pasang begitu rapat ke tanah. Alhasil semua Maba mendapat hukuman push up 50 kali. Di pos kedua lebih parah lagi, mereka yang berjumlah 10 orang harus menaiki kursi kecil yang hanya mampu menampung dua orang diatasnya, jika ada salah satu dari teman kelompok mereka tidak kebagian, makan satu persatu mendapat hadiah tamparan menggunakan sandal eager. Tentu saja tidak ada kelompok yang berhasil, alhasil pipi-pipi mereka harus merasakan nyeri termat sangat akibat digampar penuh nafsu oleh senior. Siksaan demi siksaan tidak berhenti disitu, mereka masih harus melewati pos-pos dimana mereka disuruh untuk membasuh wajah dengan lumpur kotor, berbaring sembari membolak balikkan badan diatas tumpukan sampah juga berkumur menggunakan s**u ultra yang telah digunakan untuk berkumur oleh senior mereka. Banyak dari mereka yang muntah di tugas itu, bukannya disuruh berhenti, mereka malah harus mengulanginya lagi dari awal. Dengan pingsannya Daru, bukan berarti Ia terbebas dari tugas. Setelah sadar, Ia harus melakukan tugas-tugas yang telah dilewati oleh teman-temannya seorang diri. Karena sendirian, tentu lebih sulit baginya dalam menghadapi perintah para senior, ditambah lagi beberapa senior mencoba untuk menjahilinya dengan menyuruh dirinya membuka baju dan memperagakan tarian ular. Daru benar-benar dibuat malu, teman-temannya juga ikut melihat aksinya, mereka ingin tertawa tapi para senior mengancam akan menyuruh mereka telanjang dan hanya mengenakkan kolor saja jika ada yang berani membuka suara. Alvin kasihan melihat Daru yang diperlakukan seperti itu, walaupun Ia juga telah melewati tugas-tugas yang sulit dan menyakitkan tetap saja Ia tidak tega melihatnya. "BERHENTIII!!" Alvin berteriak dari bagian paling belakang barisan. Ia sudah tidak tahan lagi melihat Daru dipermalukan. Dengan memberanikan diri, Ia maju ke depan dan menantang para senior. "Ooooh...jadi sudah ada yang berani melawan kita? Mau ikutan menari telanjang haaaah??! Seorang senior dengan nafas bau berteriak di depan wajah Alvin. Cowok mungil itu dengan terang-terang mundur dan menutup hidung, membuat si senior murka bukan main. "Dasar anak kurang ajar!! Biar kutelanjangi kauu!!" Ia mulai menarik baju Alvin, berusaha merobeknya tetapi gagal karena Alvin tak berhenti memberontak. Beberapa teman dari senior itu membantu memegangi Alvin, mereka mulai melorotkan celananya. "Berhentii...saya mohon berhenti, maaf kan teman saya, saya mohon!!" Daru berlutut disamping senior yang mencoba melucuti baju Alvin, Ia berusaha menahan tangan senior itu agar berhenti, namun karena tenaga si senior yang lebih besar, dengan mudahnya Daru terhempas kebelakang akibat kibasan tangan seniornya. Melihat Daru terlempar sangat keras kebelakang dengan bunyi gedebugh keras membuat senior-senior yang mencoba melucuti baju Alvin berhenti dan menatap ngeri ke arahnya. "Apa dia baik-baik saja?" Ucap senior dengan tubuh jangkung, wajahnya mulai takut. Alvin mendorong kasar pria bernafas bau di depannya dan berlari menghampiri Daru, Ia juga sempat mengambil baju sahabatnya lalu membantunya menutupi tubuh cokelat mulusnya yang kini ternoda oleh pasir dan beberapa memar. "Heei...Lo gak papa? Ru jawab gue!!" Alvin mengguncang-guncang tubuh Daru hingga sahabatnya itu meringis lalu membuka matanya perlahan. "Alvin kamu ndak kenapa-napa kan?" Daru balik bertanya, Ia merasa lega karena melihat Alvin masih mengenakkan pakain lengkap. "Apa-apaan sih Lo, mestinya yang harus di khawatirin itu Lo!" Dengan gusar Alvin membantu sahabatnya untuk duduk. Tidak beberapa lama kemudian beberapa senior yang tingkatnya lebih tinggi dari senior yang mengerjai mereka tadi berdatangan. Para senior memarahi adik tingkat mereka yang telah menggunakan kekerasan serta pelecehan terhadap para Maba, mereka di tugaskan mengkader bukannya malah melecehkan. Akhirnya senior-senior tadi diusir dan digantikan oleh para senior yang tingkatannya lebih tinggi. Mereka menyuruh para Maba untuk pergi ke Aula setelah membersihkan diri dan mendengarkan pengarahan selanjutnya. Hari sudah hampir malam, rupanya pengarahan yang diberikan memakan waktu lebih lama dari perkiraan. Beberapa Maba mulai terduduk lesu nyaris tertidur akibat kelelahan ditambah lagi mereka harus duduk berdesakan sembari mendengarkan para senior berkoar-koar membosankan di depan sana. "Gue ngantuuk banget sumpah...gue dah gak tau lagi mereka ngomong apa di depan." Alvin mulai meracau tidak jelas, kepalanya terkulai lemas di pundak. "Sabar tooh, sepertinya sebentar lagi kelar." Daru berusaha menyemangati sahabatnya walau dirinya pun sudah sangat lelah, punggungnya terasa nyeri akibat terhempas tadi, kepalanya juga sakit, Ia hanya ingin pulang, mandi dan tidur. "Pengkaderan Hari pertama telah selesai, Kita akan berjumpa lagi di pengkaderan Hari kedua besok di Aula ini. Diharap para peserta hadir 30 menit sebelum jam delapan pagi, paham!!" Ketua panitia pengkaderan mengakhiri penjelasnnya, Ia menyuruh para Maba untuk keluar dari ruangan dengan tertib dan melarang satupun dari mereka untuk tinggal lebih lama di kampus, takutnya jika ada senior yang mengganggu mereka. Kakak Alvin telah menunggu di parkiran untuk menjemput, Ia pun mengajak Daru untuk bersama-sama pulang dengannya tapi karena sudah berjanji pada Raka akan pulang bersama Darupun menolak ajakannya. "Lo yakin gak mau pulang bareng gue? Bahaya loh Ru ." Alvin berusaha untuk untuk memperingati namun Daru tetap bersih keras untuk menunggu Raka saja, lagian rumahnya dan Alvin tidak searah, akan merepotkan jika harus mengantarnya dulu. "Ya udah klo gitu, Lo hati-hati yah, kabarin gue klou dah tiba di rumah." Daru mengangguk patuh sembari melambaikan tangan pada Alvin yang sudah naik ke atas mobil. Setelah mobil Mazda silver milik kakak Alvin sudah tidak kelihatan, Daru merogoh sakunya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Raka. Ia mencoba mencari ponselnya hingga ke dasar kantong tapi hasilnya nihil, ponselnya hilang. Cowok manis itu berusaha mengingat-ngigat dimana kira-kira Ia kehilangan ponselnya, hingga akhirnya tersadar jika ponselnya pasti terlempar saat dia jatuh ke tanah tadi siang. Tanpa pikir panjang karena hari juga semakin malam, Daru berlari kembali ke lapangan tempat pengkaderan tadi berlangsung. Tempat itu sudah sepi, para senior tidak kelihatan lagi batang hidungnya begitu pula para Maba yang ngacir pulang akibat takut berurusan lebih lama dengan para senior. Daru mulai mencari di lapangan, Ia menyisir tiap tanah yang diinjaknya, agak kesulitan memang karena pencahayaan begitu minim. Satu-satunya sumber cahaya di tempat itu hanya lampu jalan yang berdiri sendiri sisi sebelah kanan lapangan. Keminiman cahaya itu juga membuatnya tidak sadar bahwa tidak jauh dari tempatnya berdiri, 3 orang senior yang tadi siang menyuruhnya untuk menari ular sambil topless menatapnya penuh benci. *** " Ini Daru?? Waaah lucu bangeet!!" Putra heboh sendiri ketika Raka memamerkan foto Daru lengkap dengan atribute pengkaderannya yang di potretnya tadi pagi. Ia bersama ke Empat sahabatnya sedang nongkrong di salah satu coffe shop favorite mereka. Pada jam-jam segini, mereka memang biasa menghabiskan waktu di coffeshop hanya sekedar untuk Online dan meratapi nasib. " Lo udah baikan ma adek Lo ? Kemarin kalian berdua kenapa sih?" Ardhan yang dari sananya memang memiliki sifat kepo akut membuka suara. Dia tidak akan berhenti ngomong sampai ke Kepo-annya terpuaskan, terkadang para sahabatnya sampai kesal dibuatnya, namun sekesal apapun mereka Ardhan tidak peduli. " Kami gak lagi bermasalah kok, emang Siapa yang bilang?" Elak Raka yang jelas-jelas tidak dipercaya oleh Ardhan, bahkan oleh ketiga sahabatnya yang lain. " Hellloooww...Kite pada dah bersahabat selama 4 tahun yeeey, Lo pikir bisa ngebohongin kite-kite.. " Kali ini Aro yang bersuara, Ia sengaja melebay-lebaykan omongannya hanya untuk menggoda Raka. "Whatever Dah." Balas Raka malas. Jangan harap Ia akan bercerita, membayangkan respon mereka saja membuatnya stress. Ia pasti akan di bully selama berbulan-bulan, khususnya oleh Ardhan dan Aro yang memang suka mencari masalah. " Kalo Lo gak mau cerita juga gak papa, tapi kapanpun Lo siap Gue bakal jadi pendengar terbaik." Bisa ditebak siapa yang ngomong, Yah...Siapa lagi kalau bukan Galih. "Lo emang sahabat gue yang paling pengertian, thanks yah Bro!" Punggung Galih di tepuk-tepuk oleh Raka, membuat Ardhan dan ARo memutar bola mata. "Gak asik banget sih," seru mereka dalam hati. Sedari tadi Raka tidak berhenti melirik ponselnya, jam sudah hampir menujukkan pukul 9 malam tapi Daru belum menelponnya padahal Ia sudah berjanji untuk menghubunginya jika pengkaderannya telah selesai. Ia tidak cepat-cepat berpikiran negative karena wajar jika pengkaderan hari pertama memakan waktu sampai malam sama seperti pengkaderannya dulu yang baru selesai tepat pukul 00.00.  TRRT...TRRRT...TRRRT Raka sedikit kaget mendengar suara ponsel bergetar, Ia pikir ponselnya yang berbunyi tapi ternyata milik Ardhan. "Haloo...siapa nih?" Tanya Ardhan begitu mengangkat ponselnya. "Oooh...Alvin, ada apa Vin?" Mendengar nama teman Daru disebutkan Raka mulai merasa tidak nyaman, apa gerangan yang membuat Alvin menelpon Ardhan? Tentang cewek kah? atau Daru? "Iya Gue bareng Raka nih, Lo mau ngomong?" Tanya Ardhan lagi dan tak lama kemudian menyerahkan ponselnya pada Raka. Dengan sigap cowok tampan itu menyambar ponsel yang di pegang Ardhan. Ia mulai khawatir sekarang. Tidak butuh waktu lama bagi Raka berbicara dengan Alvin karena cowok itu segera menyadari akan lari kemana arah pembicaraan mereka. Setelah menutup telpon, Raka langsung berdiri dan menyambar kunci mobilnya, Ia berpamitan sekedarnya pada keempat sahabatnya yang seperti biasa selalu bingung melihat ulah Raka yang kerap bertindak tanpa penjelasan. Percuma juga mereka mencoba menahannya karena Raka sudah memacu kencang mobilnya meninggalkan parkiran. "Jangan-jangan terjadi sesuatu sama Daru ? Yuk kita susul Raka!" Putra mengambil inisiatif yang dibarengi dengan anggukan sahabat-sahabatnya. Mereka buru-buru meninggalkan Coffeeshop lalu mengejar Raka. Jangan sekali-kali meremehkan skill mengemudi Raka, jika sudah kalut Ia akan menjadi pembalap kelas dunia dadakan, bahkan jarak yang mestinya di tempuh selama satu jam mampu ditempuh Raka hanya dalam waktu 30 menit. Saat tiba di kampus Daru, Raka disambut oleh keheningan. Tak satupun manusia tampak disana, Ia mulai berlari sembari meneriakkan nama Daru berulang- ulang namun sama sekali tak mendapat respon. Raka menelusuri koridor sepi sambil sesekali mengintip ke dalam ruang-ruang kelas, tapi sayang Semuanya kosong. "SIALLL! Lo dimanaa Ru??" Mulai frustasi pemuda tampan itu mempercepat langkahnya, Ia kini telah berada di bagian belakang gedung fakultas Daru. Samar-samar Ia juga mendengar suara beberapa orang yang mengobrol sambil tertawa-tawa di kejauhan. Raka mendekati tiga pemuda yang sama sekali tidak menyadari kedatangannya. Betapa terkejutnya Ia saat mendengar salah seorang pemuda mengatakan bahwa Ia puas karena telah mengurung salah seorang Maba di dalam Gudang tua belakang kampus, pemuda satunya juga sempat menyebutkan nama Daru walau Raka hanya mendengarnya sekilas. Raka murka. Daru takut kegelapan dan para berandal itu mengurungnya disana. Tidak mau tinggal diam dan menunggu lebih lama, Raka menerjang ketiga pemuda itu. Ia menonjok, juga menendang mereka satu persatu, dengan geram Ia menyuruh mereka menunjukkan tempat Daru berada. Dengan darah yang bercucuran, salah seorang senior Daru diseret oleh Raka menuju ke gudang tempat Daru disembunyikan. Ia mendorong pemuda itu dengan kasar saat mereka telah tiba di depan pintu gudang besar yang gelap gulita. Raka menendang pintu gudang hingga terbuka, di dalam sana sangat gelap, sama sekali tak ada cahaya dan pengap. "Ru...Daruuu!! Lo dimana?? Jawab gue!!" Teriak Raka sembari menyenter-nyenter secara membabi buta ke segala arah.  Kraakk...kraak... Suara papan bergeser menarik perhatian Raka, Ia berlari menembus kegelapan, melompati beberapa meja yang menghalangi hingga mendapati tubuh ramping Daru teronggok lemas dilantai. Rambutnya berantakan, menutupi sebagian wajahnya, air mata mengalir di pipinya namun matanya terpejam. "Daruuuuu...!!" Raka berseru lalu menarik tubuh cowok di depannya kedalam pelukan. Ia memeluk erat tubuh Daru yang sangat dingin, juga menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajahnya. "Maas...mas...," Suara Daru bergetar hebat. Merasakan pelukan Raka, refleks ia membalasnya dan menenggelamkan wajahnya ke d**a bidang cowok itu sambil terisak. " Takuut...Aku takut ." Hati Raka seperti tersayat mendengar isakan Daru, entah mengapa Ia merasa begitu tidak berdaya jika berhadapan dengan anak yang satu ini. " Shh...sudah tidak apa-apa okey, ada gue disini, tenanglah.." Bisik Raka berusaha menenangkan. Tubuh Daru teralu lemas untuk berdiri, akhirnya Ia menggendong anak itu dan membawanya keluar dari gudang yang gelap. Sesampainya di pintu gudang, Raka kembali di kejutkan dengan kedatangan sahabat-sahabatnya juga Alvin bersama dengan kakaknya, dua orang satpam juga tengah berdiri sambil memegang ketiga senior Daru yang sudah babak belur di hajar Raka. " Apa Daru tidak papa ? Pak satpam akan melaporkan cecunguk-cecunguk itu ke dekan mereka, tenang saja." Ucap Putra dengan wajah yang tak kalah khawatirnya dari Raka. "Dia tidak papa, hanya sedikit shock. Gue mau bawa dia pulang, bisa lo panggilin dokter ke rumah gue?" Putra mengangguk mantap. Raka juga meyakinkan pada Alvin bahwa Daru akan aman bersamanya jadi dia bisa pulang beristirahat. Ke empat sahabat Raka ikut pulang bersamanya, mereka juga merasa sangat khawatir sebab Daru sudah mereka anggap seperti adik sendiri, mereka tidak akan tenang sebelum dokter datang untuk memeriksa keadaan Daru. Tepat seperti dugaan Raka, Daru mengalami shock hingga membuat stamina tubuhnya anjlok dan mengalami demam. Dokter menyarankan agar Raka tidak meninggalkan Daru sendirian juga menjaga agar suhu tubuhnya tetap stabil menggunakan kompres. Setelah dokter keluarga Putra pulang, keempat sahabat Raka juga turut pamit, mereka berjanji akan kembali besok pagi untuk menjenguk Daru. Awalnya mereka ingin menginap namun Raka melarangnya, alasannya agar Daru bisa beristirahat dengan nyenyak. Suhu tubuh Daru mulai kembali normal setelah Raka mengompresnya beberapa kali, walau wajah khususnya bibir cowok manis itu masih pucat tapi demamnya sudah sedikit menurun. Tidak bisa menahan diri, tangan besar Raka mengelus wajah Daru pelan, entah mengapa Ia merasakan sesuatu yang aneh muncul di dalam hatinya, seperti rasa takut akan kehilangan orang yang dicintai. Apa dia jatuh cinta pada Daru? Raka juga bingung untuk menjawabnya, tapi satu hal yang Ia tahu, Ia begitu takut kehilangan anak itu. Takut sekali. To Be Continued~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD