~6~ Daze

2577 Words
Alvin sedari tadi mencoba mengajak teman satu-satunya yang ia miliki di kampus itu untuk bicara, tapi sayang, Dia sama sekali tidak menggubrisnya. Memanggil namanya pun butuh diulang sampai lima kali hingga anak itu tersadar dari lamunannya. "Ru...Daruu!!" Teriak Alvin akhirnya di telinga Daru, karena sudah kesal sedari tadi dicuekin terus. "Iyya...kenapa Vin? Kok kamu teriak-teriak?" Ujar Daru tanpa adanya rasa bersalah sedikitpun. Ia mengalihkan pandangannya dari sepotong roti yang sejak tadi dimainkannya ke arah Alvin. Cowok mungil bak hamster itu menatapanya sebal. "Lo dari tadi gue ajak cerita tapi gak gubris, Lo lamunin apa sih Ru?  Dari pagi bengong teruuus...lamunin cewek yah?" Kali ini Alvin menanyainya dengan nada suara  penuh curiga dan menyelidik. Ia juga menyenggol-nyenggol pelan bahu sahabatnya itu. "Nda' kok Vin, Aku nda' lagi lamunin cewek." Apa yang dikatakan Daru sama sekali tidak bohong, karena Ia memang sedang tidak melamunkan makhluk betina, melainkan makhluk berdada bidang, dengan rahang keras, mata elang dan wajah bule. Yup, sedari tadi pikiran Daru di ambil alih oleh bayang-bayang cowok yang di kecupnya semalam,  Raka. ~Flashback~ Saking shocknya, Daru dan Raka sama sekali tidak bergerak ketika bibir mereka bertemu. Kedua cowok itu baru melepaskan diri saat lampu di seluruh rumah kembali menyala sesaat setelah kejadian itu. Secepat kilat, Daru melompat turun dari pangkuan Raka, Ia meminta maaf berkali-kali, namun belum sempat Raka membuka suara cowok ramping dan manis dihadapannya sudah ngacir ke kamar duluan. Sesampainya dikamar, Daru merosot duduk ke lantai di belakang pintu. Dadanya terasa sakit akibat detak jantung yang berdendang gila-gilaan. Ia menyandarkan punggung ke pintu sembari menghela nafas panjang. Ingin rasanya Daru melihat ke kaca, tapi ia tahu, pantulan wajahnya akan tampak sangat memalukan saat ini. Di satu sisi, Raka belum begerak sedikitpun dari posisi duduknya yang tadi, posisi saat Daru berada di pangkunya. Tubuhnya terlalu shock untuk melakukan gerakan-gerakan, bahkan gerakan yang minim sekalipun. "GOD...What The Hell Just Happened !?" Raka menghempaskan tubuhnya di sofa, Ia menutupi wajahnya dengan bantal kursi, mencoba untuk menenangkan jantungnya yang telah lama tidak memainkan musik Punk Rock.  " I think...I really need a Girlfriend right now!!" Gumam Raka dalam hati. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sedikit kekhawatiran yang muncul, namun Raka sendiri belum mengetahui apa gerangan kekhawatiran itu dan apakah hal itu harus ditakutinya? Ia masih belum tahu.  Ketika pagi datang, kedua pria yang tengah didera rasa canggung tingkat akut itu berusaha untuk berkomunikasi normal, Raka tetap berusaha mencairkan suasana dengan menggoda Daru, sementara anak itu juga berusaha menanggapinya seperti biasa. Tapi rasa canggung diantara mereka tak dapat hilang begitu saja, karena sesaat kemudian, keheningan kembali meliputi ruang makan, untung saja burung-burung di halaman tetap bernyanyi riang seperti biasanya. ~End Of Flashback~ "Kalau bukan cewek apa dooong?  Emang Daru suka cowok yaaaaah?" Alvin mengatakan hal itu menggunakan nada yang sengaja dimanja-manjakan, maksudnya hanya bercanda. Namun tampaknya, bagi Daru itu adalah pertanyaan yang membuatnya tertohok. Ia kaget setengah mati sampai-sampai menjatuhkan rotinya ke tanah. Melihat hal itu, tentu saja Alvin juga ikutan kaget.  Ia tidak menyangka reaksi Daru akan seperti seorang pencuri yang kepergok polisi. "Ru...lo gak beneran suka cowok kan?" Nada suara Alvin tidak lagi bercanda, kini ia bertanya pada Daru dengan tatapan serius. Merasa terintimidasi dan sedikit takut, Daru hanya menundukkan kepalanya. Ia tak sanggup memandang Alvin. Dirinya sendiri juga tidak tahu, apa perasaan kacau yang sedang dirasakannya saat ini terhadap Raka karena Ia menaruh rasa pada cowok itu. Daru pernah sekali jatuh cinta pada seorang penari cantik yang belajar di sanggarnya, Ia tak pernah absent melihat gadis itu latihan, walau hanya dari jauh atau secara sembunyi-sembunyi di balik pohon. Tapi sayang, gadis itu harus pindah keluar negeri bersama kedua orangtuanya, sehingga Ia memutuskan untuk berhenti les tepat saat Daru hendak memeberanikan diri untuk  menyatakan perasaanya. Sejak kepergian cinta pertamanya, Daru tak pernah lagi melirik gadis-gadis yang berlatih di sanggar Kakeknya, Ia juga tidak lagi merasakan debaran-debaran hebat terhadap seseorang. Hatinya mati. Namun, Saat  Raka hadir di hidupnya, mengisi hari-harinya, Daru kembali merasakan debaran itu, Debaran yang telah lama tertidur dalam dirinya. "Ya udah kalo lo belum mau cerita, gue gak bakal maksain lo kok...tapi lo jangan melamun kayak gitu lagi doong...gue jadi kayak orang bego' ngomong sendirian," senang sekali memiliki teman yang begitu pengertian seperti Alvin, sehingga tak butuh waktu lama bagi Daru untuk kembali ceria. "Makasiih banyak yah Vin, aku bakal cerita sama kamu kok kalau aku sudah siap." Senyuman Daru membuat Alvin lega, setidaknya Ia tidak harus menghabiskan waktu sepanjang hari menghadapi Daru yang sedang galau. *** Sebungkus penuh rokok Marlboro telah habis dilahap oleh cowok Indo-Amerika yang tengah berbaring menatap langit di tepi lapangan basket Fakultas Teknik Elektro. Usai mengikuti kuliah jam terakhir, Raka bukannya pulang atau nongkrong bersama geng-nya, Ia malah kabur dan menghabiskan waktu sendiri di lapangan belakang gedung. Tentu Raka tidak bisa begitu saja menghindari sahabat-sahabatnya, karena sehebat apapun Ia mencoba untuk kabur dan bersembunyi, mereka selalu menemukannya . "RAKAAA!!" Teriakan Putra disertai langkah-langkah kecil nya dan ketiga cowok kece yang berjalan di belakangnya mulai mendekat. Seperti biasa, senyum cerah ceriah menghiasi wajah manisnya. Melihat kemunculan mereka, Raka hanya tersenyum seadanya dan kembali menghisap rokoknya. "Yoo...Broo!!  Ngapain Lo disini sendiri ?!" Tanya Ardhan sembari menghempaskan dirinya tepat di samping Raka, Aro dan Galih mengikut di sebelahnya, sementara Putra sibuk mengeluarkan kamera dari tasnya untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka saat itu. "Lagi pengen nyari udara segar aja.." Jawab Raka tanpa antusias. "Tumben, pasti ada yang gak beres nih?  Lo berantem sama adek lo?" Melihat gelagat aneh Raka, sahabatnya pasti selalu bisa menebak jika ada sesuatu yang tak beres, kebersamaan mereka selama bertahun-tahun sudah membuat kelima-nya sedikit lebih peka satu sama lain. "Gak juga...gue cuma lagi kesepian aja, butuh kasih sayang seorang wanita maybe... hhh..., " Raka tertawa miris, bagaimana Ia tidak stress, beberapa jam yang lalu Ia baru saja mencium seorang pria dan tidak mungkin baginya untuk menceritakan insiden itu kepada teman-temannya, yang ada dia bakal di bilang cowok m***m tak bertanggung jawab. "Waaah...gak biasanya nih Lo nyinggung-nyinggung cwek Ka', ya udah nanti gue bantu cariin deeh, kalo masalah cewek ...serahin ke gue dah!!" Ardhan menepuk-nepuk dadanya bangga, tidak jauh dari tempatnya berbaring, tatapan sinis Putra kembali menghujamnya. "Eeh...Guys, kita cabut nongkrong di PH yuk, dah lama gue gak makan disana..Lapar nih!" Seru Aro kemudian bangkit dari duduknya. Disampingnya, Galih juga ikut berdiri, hari ini cowok tampan itu mengenakkan kacamata, membuatnya tampak semakin pintar. "Ka' lo ikut kan?" Tanya Galih, Ia menatap Raka prihatin, sepertinya sahabatnya yang satu itu sedang butuh dihibur. "Yeaaah...who's treat?" Mendengar pertanyaan Raka, ke-empat cowok itu refleks menoleh ke arah Putra. Putra yang sedari tadi sibuk dengan kameranya dan tidak memperhatikan mereka hanya bengong. "Apa liat-liat?" Tanyanya polos. Dengan sigap, plus senyum 1000Watt. Ardhan mendekat ke sisinya lalu merangkul pundak Putra, Ia menatap manja sahabatnya itu. "Yank traktirin kita yaaaah~~~" goda Ardhan yang diikuti tatapan jijik dari Putra dan ketiga temannya yang lain. "Jauh-jauh lo, jijik gue...ya udah, Raka, Galih, Aro aja yang di traktir, malas gue ma Lo!!" Rutuk Putra sembari menepis rangkulan pria yang dicintainya itu. Mendapat perlakuan tidak senonoh, Ardhan hanya mampu memasang muka sedih. Di sisi lain, para sahabatnya tertawa terpingkal melihatnya, dua sejoli ini memang jarang sekali akur. Tapi tanpa mereka sadari, Mereka berdua lah yang paling tak terpisahkan satu sama lain. Kelimanya tiba di restoran PH yang tak jauh dari Kampus IKJ, modus memang, karena yang memilih tempat adalah duo Aro dan Ardhan. Di tempat yang strategis itu, mereka dapat melihat cewek-cewek IKJ yang baru pulang kuliah berseliweran atau bahkan singgah di restoran juga. Sengaja keduanya memilih meja yang bersampingan dengan jendela, walaupun si Mbak telah menujukkan tempat untuk 5 orang, Mereka malah duduk di tempat untuk 8 orang. "Doyan banget sih duduk disini, panas tahu...cahaya mataharinya masuuk !" Putra mulai mengeluh, siang itu Jakarta memang sedang berusaha untuk memanggang warganya, siapapun yang tengah berada di jalanan sana memilih untuk segera masuk ke tempat-tempat ber-Ac. "Tapi disini kan bisa lihat pemandangan diluar Put, Lo kayak gak ngerti aja..." Ardhan mulai menanggapi, Ia tahu Putra tak pernah se-Iya se-kata dengannya tapi Ia juga tak pernah bosan untuk meladeni sahabat manis-manis manjanya yang satu itu. "Udah-udah...kita disini mau makan, bukan berantem, buruan pesen." Ujar Galih berusaha melerai dua cecunguk di hadapannya. Tak luput, mata Galih menelanjangi seluruh ruangan, Ia memang suka memperhatikan tempat-tempat yang di datanginya, walau itu bukan yang pertama. Matanya juga memandang ke luar jendela, melihat satu-persatu pejalan kaki yang lewat. Menjadi hiburan tersendiri bagi Galih memperhatikan lingkungannya, tak heran ia pernah di gadang-gadang sebagai duta pecinta lingkungan dari kampusnya. Saat tengah memandang keluar, tiba-tiba saja matanya menangkap sosok dua orang pria sedang berjalan berdampingan sambil tertawa lepas, satu bertubuh ramping, sedang satunya lagi berbadan kecil, terlihat seperti hamster. "Itu bukannya Daru yah?" Tanya Galih pada teman-temannya sembari menunjuk ke arah Daru dan Alvin yang berjalan bersisian. Ke-empat cowok disampingnya yang tengah sibuk melihat-lihat menu langsung berbalik mengikuti arah telunjuk Galih. "Ah iyyya...itu Daruu...tunggu yaah, biar gue panggil mereka!!" Putra segera berlari meninggalkan meja, sempat Raka ingin menahannya namun Putra terlalu gesit. Alhasil, Ia hanya mampu pasrah saat melihat sahabatnya itu telah menarik pria yang telah diciumnya semalam masuk ke dalam restoran. Daru membawa seorang temannya juga, cowok kecil, imut yang memperkenalkan diri sebagai Alvin. "Duduk Ru, Vin...," Ajak Putra, Daru mengambil tempat duduk tepat di hadapan Raka, sementara Alvin di depan Galih. Raka melirik canggung ke arah Daru, begitupula sebaliknya, tak sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Melihat tingkah keduanya yang cukup aneh, Galih menyikut Raka. "Lo lagi berantem sama Daru?" Bisiknya agar cowok manis di depan mereka tidak mendengar. Raka menoleh ke arah Galih dan menggeleng pelan. "Kita baik kok." Jawab Raka santai sembari mengambil ponsel di kantongnya dan mulai menyibukkan diri dengan game COC. " Mas ndak papa kita ikut makan? Kami ndak ena' toh...," Daru bertanya pelan ke Putra yang duduk disampingnya, namun hanya di balas dengan senyuman lebar oleh cowok itu. " Ya Gak lah...Lo udah kita anggap adek juga kali, kan kemaren gue dah bilang, adek Raka berarti adek kita juga. Bener gak guys?" Putra berusaha meyakinkan jawabannya dengan bertanya pada ke empat sahabatnya di seberang kursi mereka. Dengan kompak, Ardhan, Aro, dan Galih mengangguk patuh. "Iya lah kita anggap adek, apalagi kalo Daru sama Alvin mau bantuin kite-kite  buat PDKT ke cewek-cewek IKJ, bakal tambah sayang deh kakak-kakak ini...," Ujar Ardhan dibarengi dengan antusiasme dari Aro. "Kalian gak usah denger mereka yah, mereka tuh m***m!!" Putra mulai merengut, kenapa sih dua orang di depannya ini hanya mikirin cewek, apalagi ARdhan! Kapan coba dia mikirin gue. Batin Putra dalam hati. "Kalau masalah itu aku ndak berbakat kak, aku orangnya pemalu, tapi kalo Alvin, dia jagonya." Mendengar jawaban Daru, Aro dan Ardhan memandang Alvin penuh harap. Alvin sendiri hanya cengengesan melihat dua cowok kece di depannya. "Kalau masalah kenalan sama cewek, Aku punya banyak kontak cewek-cewek nih dari yang senior sampai Maba... kalau kakak mau...," " Iyya...iyyya bagi ke kita dong deek, kamu tuh udah imut tau aja lagi yang kita mau !" Ardhan dan Aro mulai berebut untuk mengambil Ponsel Alvin, mereka bertiga pun kini sibuk membahas betapa cantik dan keren-kerennya makhluk betina pecinta seni di IKJ. Dalam hati Daru lega, setidaknya Alvin cocok dengan teman-teman Raka, sehingga anak itu tidak perlu canggung semeja dengan orang yang baru ditemuinya. Berbeda dengannya, Daru sendiri merasa terasing, Raka sama sekali tidak menggubrisnya. Sedari tadi cowok di depanya itu sibuk sendiri dengan ponselnya, ingin sekali Daru mengajaknya bicara, tapi ia tidak tahu harus memulai dari mana. Menyadari kecanggungan Daru, Galih merasa iba, Ia pun mulai mengajak anak itu bicara. "Daru asli Jogja yah?" "Aah...iya kak, Ibu bapak saya asal  Jogja." Jawab Daru sedikit kaget karena Galih yang mengajaknya bicara duluan. "Ibu aku juga dari Jogja loh, cuma ayah asli betawi, kamu tinggal dimana di Jogja ? siapa tau nanti kita-kita liburan ke Jogja bisa singgah ke rumah kamu..," Galih yang ramah dan sopan membuat Daru merasa nyaman untuk mengobrol dengannya, cowok itu juga sangat dewasa, dapat dilihat dari cara bicara dan pilihan kata-katanya. "Saya tinggal di daerah Bantul Mas, Iya boleh. kalau ke Jogja nginap di rumah saya saja, Rumah di Jogja lumayan besar, soalnya sambung dengan sanggar seni Kakek." "Oh yaa...pantas kamu jadi seniman, ternyata memang sudah ada di darah kamu, kapan-kapan Aku lihat kamu melukis boleh?" Mendengar pertanyaan Galih, Daru mengangguk semangat. Sebenarnya Ia ingin Raka orang pertama yang melihat lukisannya tapi Ia tidak tahu apa Raka masih tertarik. Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Ke tujuh cowok-cowok itupun sejenak menyudahi obrolan mereka dan segera menyantap pizza yang telah terhidang di depan mata. "Hmm...ini enak banget, gimana Ru, kamu suka?" Tanya Putra sembari menjilat saus di tepi-tepi bibirnya dengan nikmat. "Iyya Mas...enak." Daru melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Putra, Ia menjilat tepi bibirnya, tanpa anak itu sadari, di depannya Raka menatapnya kaku. "Sial...kok jantung gue deg-degan gini, Daru cowok woee...sadar loooo Raka!!" Teriak Raka dalam hati. Ingin sekali Ia  menghantamkan piring ke kepalanya agar berhenti berpikir yang tidak-tidak tentang Daru yang notabene adalah seorang pria sama seperti dirinya. Hanya, Daru memiliki wajah yang cukup manis untuk ukuran cowok, tubuhnya juga ramping, matanya bulat, bibirnya merah tipis, membuat siapapun yang melihatnya tergoda untuk mencicipi. "Aaaaaargh....Shit!!!" Tiba-tiba Raka mengumpat keras di kursinya, sontak ke-enam cowok serta beberapa orang yang sedang asik menyantap makanan mereka berbalik dan menatap ke arahnya.  "Raka?! Kenapa lo, Kesambet?" Tanya Ardhan, keningnya berkerut. "Iya...dari tadi Lo aneh banget deh, klo ada masalah cerita sama kita Ka'," ujar Putra tak kalah heran melihat tingkah Raka. Merasa bersalah dan keburu malu, Raka pun meletakkan perlatan makannya. Tetiba selera makannya kabur entah kemana, Ia lalu bangkit berdiri dari kursinya diikuti tatapan orang-orang di sekitar meja. "Gue balik duluan yah, kepala gue sakit. Sorry buat yang tadi, " tanpa melihat ke arah Daru, Raka berlalu meninggalkan meja. Otaknya sudah tidak fokus, walau di belakang Putra sempat memanggilnya untuk kembali, Raka tetap melangkah mantap menuju pintu keluar restoran. Sesampainya di parkiran, Raka menendang gusar ban mobilnya. Salah satu cara Raka untuk melepaskan stress yah seperti itu, menghajar benda-benda di sekitarnya dengan brutal, tapi Ia sama sekali tidak pernah memukul orang kecuali terpaksa atau orang itu benar-benar memancing emosinya. Dari arah restoran, Daru berjalan mendekat. Ia sebenarnya takut, tapi melihat Raka bertingkah seperti itu membuatnya merasa bersalah. "Ra...Raka..," mendengar suara Daru, Raka menghentikan tendangannya. Ia kini menatap cowok manis di hadapannya dengan wajah tanpa ekspresi. "Kenapa Lo disini? Gue lagi pengen sendiri." Ujar Raka dingin. Sebenarnya Ia tidak bermaksud untuk bersikap seperti itu, tapi otaknya memberikan respon yang berbeda dengan hatinya. Daru datang di saat yang tidak tepat. Raka bisa saja menyakiti hatinya saat ini. "Aku mau minta maaf, gara-gara Aku yang terlalu penakut makanya sampai kejadian seperti itu, aku...," belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Raka menutup mulut Daru dengan telapak tangannya. "Berhenti nyalahin diri Lo, gue yang salah karena udah buat lo ketakutan, gue juga mau minta maaf atas ci...ciuman semalam, itu beneran gue gak sengaja...." akhirnya hal yang mengganjal dalam diri Raka dapat di keluarkannya juga. Ia kini merasa sedikit lega. Lari dari kenyataan memang bukanlah hal yang tepat, satu-satunya cara untuk menghadapi masalah yaitu dengan menghadapinya. " Iya nda' papa kok, aku tau kalau itu nda' sengaja, semalam aku juga kaget jadinya langsung masuk kamar, Maaf yah..." Ucap Daru lembut, Ia memamerkan senyum termanisnya pada Raka. Sementara cowok di hadapannya hanya mampu membalas dengan senyum tipis. "Gue mau balik, Lo mau ikut ?" Tanya Raka kemudian. Perasaannya sudah jauh lebih tenang sekarang. "Iya...tapi aku pamit ke kakak-kakak sama Alvin dulu yah." "Ok...Gue tunggu." Daru berlari kecil meninggalkan parkiran menuju ke arah restoran, Raka sendiri langsung naik ke atas mobil. Ia menyandarkan dirinya di kursi sembari menghela nafas panjang. " I'm Suck!!" To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD