Berbagai macam merek dan jenis pakaian mahal tergeletak menyedihkan di lantai marmer kamar mewah Putra, layaknya baju-baju bekas yang di jual di pasar loak. Entah apa yang salah dari baju-baju itu, tampak model dan harga sudah tak berarti lagi bagi pemiliknya.
"Aaargggggghhhh....buntu gue... buntuuu...kok pake baju apapun tetep gak bagus siiih!!!" Putra histeris sendiri di kamarnya, ia yang kini tengah terkulai lemas di tengah-tengah tumpukan baju mahalnya merasa depresi.
Sedari tadi ia sibuk membongkar-bongkar Wardrobe miliknya hanya untuk mencari baju yang pas di kenakkannya untuk acara nonton bersama Ardhan nanti. Ia ingin tampil sempurna di depan sahabat yang menjadi 'crush on' nya selama dua tahun terakhir itu. Walaupun Putra tahu, sekeren apapun penampilannya, Ardhan tidak akan mungkin melihatnya lebih dari seorang sahabat. Tiba- tiba matanya tertuju pada sebuah sweater berwarna krem yang masih tergantung di sisi terdalam Wardrobe-nya. Ia bangkit berdiri dari tempatnya dan melangkah perlahan melewati tumupukan baju di lantai untuk mengambil sweater itu.
"Inikan sweater yang dibelikan Ardhan pas ultah gue 2 tahun lalu..."gumam Putra, ia membenamkan wajahnya di sweater itu. Senyum manis tampak di bibir merah mungilnya.
Akhirnya setelah berkutat cukup lama di depan cermin raksasa dekat tempat tidur, Putra cukup puas dengan penampilannya. Ia mengenakkan sweater pemberian Ardhan, berharap cowok itu akan mengingat kado pemberiannya dua tahun yang lalu. Di bagian bawahnya, Putra mengenakkan skinny jeans berwarna hitam dengan sepatu sneakers krem sewarna sweaternya. Ia menyisir rambutnya ke samping tapi tidak menggunakan gel rambut terlalu banyak, ia tak ingin tampil terlalu klimis seperti laki-laki metrosexual pada umumnya.
Trriing...
Ada pesan masuk di 'Line' Putra, secepat kilat cowok tampan itu meraih ponsel yang tergeletak di nakas samping tempat tidurnya. Ia berharap, semoga dari Ardhan.
DhanDy'cool'
Woooooi...Lo tau gak, mantan2 gue yang cewek gak ada tuh yee yang dandan buat nge-date sama gue 'SELAMA' elo, buruan turun!!"
Bukannya merasa bersalah, Putra malah cengengesan. Berarti Ardhan nganggap acara nonton mereka ini sebagai nge-date doong. Pikir Putra dalam hati.
Sekali lagi Putra berdiri di depan cermin, ia tersenyum pada pantulan dirinya yang tampak begitu sempurna malam ini. Jika Putra cowok normal, sudah pasti ia akan memiliki mantan pacar lebih banyak dari Ardhan, bahkan dengan dirinya yang seperti sekarang pun, sudah banyak sekali wanita yang antri untuk sekedar merebut perhatiannya. Tapi sayang, Putra hanya melihat kepada satu orang saja. Cowok konyol, m***m, gila perempuan bernama Ardhan Adiwijaya.
"Maaf Dhan... udah buat lo nunggu lama." Ucap Putra saat melihat sahabatnya yang nyaris tertidur di sofa ruang tamu rumah gedongnya.
"Lo...," Ardhan tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat memandang pria manis nan tampan di hadapannya. Melihat penampilan Putra yang mampu membuat para wanita bertekuk lutut dihadapannya membuat Ardhan minder. Putra berdandan 100% untuk acara nonton mereka, sedang dia sendiri hanya memakai kaus oblong lusuh dengan jaket hitam kucel sebagai luarannya. Sementara bagian bawahnya, Ardhan mengenakkan celana jeans warna pudar yang di hiasi beberapa robekan. Dan yang lebih parahnya lagi, ia tidak mengenakkan sepatu, tapi sandal Eager. Apa kata orang kalau melihat ia berjalan di samping Putra? Seorang supir yang sedang diajak nonton oleh anak majikannya. Ya...itu yang akan dikatakan oleh orang-orang.
"Eeehmm...Put lo temanin gue pulang ke rumah dulu yah." Pinta Ardhan.
Ia tidak mungkin mempertahankan penampilannya setelah melihat gaya Putra. Bisa-bisa ia mati karier di depan para wanita.
" Looh..kenapa? Ini filmnya dah mau main loh Dhan, gue gak suka nontonnya kalo gak dari awal." Protes Putra.
Ia kini menarik tangan Ardhan untuk berdiri dari sofa.
Ardhan pun hanya pasrah ditarik-tarik seperti itu oleh cowok teramat tampan yang sialnya adalah sahabatnya yang super manja, jadi ia tidak bisa banyak protes. Ardhan hanya mampu menangis di dalam hati. Mungkin memang sudah nasibnya tampak begitu menyedihkan disamping Putra. Coba Aro juga ikut, Ardhan tidak akan merasa terlalu minder karena gaya anak itu lebih menyedihkan darinya.
"Lo kok gak bilang gue sih Put kalau mau dandan habis-habisan ? Tau gitu gue juga pakai pakaian yang kece, lo pake sepatu, gue sandal. Yakin lo mau jalan ma gue?" Tanya Ardhan saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Ya iyalah...lagian siapa suruh lo santai banget, jangan mentang-mentang karena lo jalan ma 'COWOK' buat nonton, lo gak berpakaian layak." Dengus Putra sedikit kecewa. Walaupun ia tahu Ardhan orangnya gak terlalu suka neko-neko tapi Ia tak menyangka bahwa Ardhan akan 'Sesantai' itu. Putra juga agak sedih, tampaknya Ardhan melihatnya sebagai rival malam ini. Dia tahu kalau Ardhan merasa minder berjalan di sampingnya. Tau begitu, tadi Putra gak perlu capek-capek memilih pakaian, toh bukannya dapat pujian, Ia malah bikin orang lain tidak percaya diri.
"Ya deh maafin gue...lain kali gue bakal dandan lebih kece dari Lo, Put...liat aje hhh!" Ardhan tertawa bangga, berusaha memecah keheningan sesaat yang terjadi diantara mereka. Dia tidak ingin Putra ngambek saat mereka akan menonton film setan, bisa-bisa anak itu akan meninggalkannya duduk sendirian di dalam bioskop seperti saat mereka menonton The Counjuring tahun kemarin.
Suasana bioskop malam itu cukup ramai, seperti biasa, sejauh mata memandang Ardhan dapat melihat banyak pasangan romantis yang berseliweran. Cukup mengiris hati.
"Dhan gue ngantri tiket dulu yah, lo beli popcorn sana...huush," Ardhan menjitak kepala Putra, kesal dengan tingkahnya yang sok Ngeboss, tapi tetap saja dia mau saja disuruh-suruh oleh sahabatnya itu.
Ardhan melangkah menuju ke counter penjual makanan dan minuman yang juga di penuhi antrian. Dengan sabar, ia berdiri di belakang sepasang kekasih yang saling bersenda gurau. Wanita muda nan cantik di depannya menyandarkan kepala di bahu bidang sang kekasih, melihat tingkah manja wanitanya, pria itu pun mengelus lembut rambut panjang halusnya. Ardhan merasa jengah dengan pemandangan itu tapi keintiman pasangan di depannya terus saja mengusik pandangannya.
"Siaal...kenapa nasib gue semerana ini?? Gue kan juga pengen kayak gitu." Ratap Ardhan dalam hati. Ia mulai mengutuki antrian yang sama sekali tidak bergerak maju, mulai capek berdiri, Ardhan memutuskan untuk tidak jadi membeli popcorn saja. Ia pun hendak meninggalkan tempatnya, namun seseorang tiba-tiba saja menepuk punggungnya.
"Ardhan!" Seru wanita cantik berpenampilan sexy yang kini tengah tersenyum manis kepadanya.
Namira, nama gadis itu. Dia adalah mantan kekasih Ardhan saat mereka duduk di bangku SMA. Penampilan Namira sangat mempesona, ia mengenakkan tanktop putih di balut jaket jeans dengan bawahan rok denim hitam pendek, menampilkan kakinya yang jenjang. Rambut panjangnya yang di blow di biarkan terurai indah di bahunya. Rahang Ardhan terjatuh melihat wanita yang telah lama menjadi mantannya. Seingatnya, dulu Namira tak se-Hot itu. "Na...Namira?" Tanya Ardhan ragu-ragu. Ia masih shock dengan apa yang dilihatnya.
"Oh..God, gue pikir lo dah lupain gue Dhan." Ucap Namira bahagia. Ia menarik tangan Ardhan, menyingkir dari antrian panjang agar mereka bisa mengobrol lebih bebas.
"Lo bareng siapa? Pacar yah??" Tanya Namira menggoda sembari mengedipkan mata jahil. Darah di tubuh Ardhan berdesir ketika melihat tingkah wanita cantik di hadapannya. Tiba-tiba penyesalan muncul di hatinya, "kalau gue tau Namira bakal jadi se-Hot ini, dulu gue gak mutusin dia" ratap Ardhan dalam hati.
" Ah.. gak, gue bareng sahabat gue, lo sendiri?" Tanya Ardhan balik. Berharap Namira menjawab dengan jawaban yang sama seperti dirinya.
"Sama dong, gue juga bareng temen-temen, bdw lo nonton apa? Siapa tau kita bisa deketan duduknya." Mendengar jawaban Namira, senyum lebar menggantung di bibir Ardhan. Walaupun ia tidak tahu Namira jomblo atau tidak, setidaknya gadis itu sedang tidak bersama cowok sekarang.
"Gue nonton Wewe."
"What? Sejak kapan lo suka nonton film horror? Seingat gue lo gak nonton gituan deh."
GOD...ternyata Namira juga masih ingat kalau gue benci film horror. Ardhan terkikik dalam hati walau saat ini ia memasang tampang Cool.
"Gue cuma temenin sahabat gue buat nonton, gue sendiri gak minat sebenarnya." Namira mengangguk-ngangguk paham mendengar jawaban Ardhan.
Di kejauhan, Putra mendapati cowok yang telah lama di taksirnya itu sedang 'Flirting' dengan wanita cantik. Hatinya begitu panas melihatnya, buru-buru ia berjalan mendekat ke arah mereka.
" Ardhan!" Seru Putra mengagetkan dua orang yang tengah hanyut dengan obrolan mereka.
"Dia sahabat kamu ?" Tanya Namira lembut sembari tersenyum memandang Putra. Di sisi lain, Putra menatap tajam wanita itu. Tidak sedikitpun senyum ia torehkan di wajah tampannya.
"Iyya, namanya Putra, kalau gitu kita duluan ya Ra.." Pamit Ardhan sedikit tidak rela berpisah dari Namira.
" Oke..jangan lupa nanti telpon gue yah, masih kangen niiih..." Ujar Namira manja, membuat Putra ingin sekali menjambak rambutnya. Yang lebih membuatnya naik pitam lagi, Ardhan malah mengangguk bersemangat kemudian menerima ciuman wanita itu di pipinya.
Putra membuang muka, ia kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Ardhan, Ia sangat badmood, Namira sudah menghancurkan kencannya.
Sepanjang pemutaran film, Putra diam seribu bahasa, disampingnya Ardhan sibuk teriak-teriak sendiri. Ia sedang malas menggubris pria yang duduk di sampaingnya itu. Sampai film selesai dan mereka sudah berada di atas mobil pun Putra masih tetap diam.
"Lo kok dari tadi diam aja sih?" Tanya Ardhan mulai risih dengan tingkah Putra, ia tidak tahu apa yang salah dari dirinya sehingga Putra mogok ngomong begitu.
"Gue gak diam." jawab Putra ketus. Ia membuang mukanya, dan menatap kosong keluar jendela. Hatinya masih sakit, mengingat betapa bahagianya senyum Ardhan saat mengobrol dan di cium wanita tadi.
"Ya udah...terserah lo aja deh, padahal gue udah bela-belain temanin lo nonton film yang gak gue suka tapi lo tetap aja bete' kyak gitu. Gue juga punya perasaan tau !" emosi Ardhan memuncak, tanpa sadar ia telah membentak Putra, lupa jika pria manis di sampingnya itu tidak bisa di bentak. Air mata kini mengalir di pipi Putra, ia menangis dalam diam tapi Ardhan bisa melihatnya dengan jelas melalui kaca mobil.
" Ckk...Putra lo jangan nangis dong...shit." Umpat Ardhan, dia benar-benar buntu menghadapi sifat Putra. Anak itu selalu saja membuatnya sebal dan bersalah di waktu yang sama, Ia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ada di otak Putra karena anak itu tak pernah cerita apapun padanya. Mengapa dia sedih? Apa yang membuatnya bahagia? Air mata Putra tak kunjung berhenti mengalir, hingga tanpa sadar, Ardhan merengkuh tubuh pria yang lebih mungil darinya itu kedalam pelukan.
" Maafin gue udah ngebentak lo, sekarang lo diem oke.." Bisik Ardhan di telinga Putra sembari mengusap pelan rambut sahabatnya. Rambut Putra harum sekali juga lembut, membuat Ardhan sedikit terhanyut dengan baunya. Di dalam pelukannya, Putra diam mematung, air matanya mulai berhenti mengalir digantikan oleh senyuman manis di bibirnya. Tak ingin rasanya Putra melepas pelukan Ardhan, ia begitu menikmati hangat tubuh pria itu. Jika ini hanya mimpi, Putra tak ingin cepat-cepat terbangun.
"Lo bilang dong klo udah gak nangis lagi, keenakan di peluk gue??" Tanya Ardhan jahil saat mendapati Putra tersenyum manis dalam dekapannya. Sontak Putra mendorong tubuh Ardhan menjauh, wajahnya kini memerah.
" Udah yuk pulang, gue ngantuuuk!!" Ucap Putra, kembali ke sifat memerintah-nya seperti biasa.
Melihat sahabatnya sudah kembali ke dirinya semula, Ardhan merasa lega. Ketimbang melihat Putra menangis, Ia lebih rela di perintah-perintah oleh cowok itu, entah sejak kapan Ardhan begitu peduli akan perasaan Putra, tapi satu hal yang ia tahu, ia sangat menyayanginya. Sebagai sahabat of course.
***
19.00 P.M
Setelah kenyang menyantap makan malamnya, Raka buru-buru naik ke kamar untuk melanjutkan proyek pembuatan replika tangan robot yang ditugaskan oleh Dosennya. Sudah hampir seminggu ia mengerjakan tugas itu, namun belum juga menemui titik terang membuat benda itu bergerak barang sesenti pun. Untung saja ia di beri waktu yang cukup lama untuk menggarap proyeknya.
Tok...tok...tok
terdengar suara ketukan di pintu kamar Raka, Ia yang tengah memasang baut di sela-sela jari tangan robotnya, mengehentikan aktivitas sejenak.
"Masuk !!" Seru Raka sembari menengok ke arah pintu kamar di seberang ruangan.
Ia tak perlu repot-repot mencari tahu siapa yang mengetuk karena ia hanya tinggal berdua di rumah itu, kecuali tiba-tiba saja sahabatnya datang untuk mengusik.
"Maaf ganggu Mas, ini aku bawain kopi sama biskuit, dimakan yah." Ucap Daru sopan.
Ia menyodorkan secangkir kopi mocha kesukaan Raka beserta biskuit gabin berlapis gula yang di letakkannya di piring ceper kecil.
"Waah...thanks." Sudah lama tak ada orang yang membawakan Raka cemilan jika dia sedang bekerja di kamar. Biasanya, sang Ibulah yang kerap memberikan perhatian padanya saat wanita cantik itu melihat putranya terlalu sibuk belajar atau sedang uring-uringan di sarangnya. Setelah orang tuanya pindah, tak ada lagi yang memperhatikan Raka, bahkan si Mbok baru akan membawakannya makanan saat cowok itu memintanya. Perlakuan Daru terhadapnya mengingatkan Raka akan kasih sayang seorang Ibu pada anaknya. Pastilah di Jogja sana Daru merupakan anak yang sangat di cintai dan di beri perhatian lebih oleh orangtuanya. Jika tidak, mana mungkin Ia akan seperhatian ini. Kalau Raka ingat-ingat kembali, tak satupun dari mantannya yang pernah memasakkannya makanan, apalagi mengantarkan cemilan ke kamarnya. Mereka semua makhluk-makhluk hedonis, tidak puas jika tidak makan di Mall atau Cafe mahal dan semacamnya.
" Sama-sama, kalau gitu aku balik ke kamar dulu. Semangaaat kerjanya yah Mas." Daru mengepalkan tinjunya di depan d**a sebagai tanda penyemangat.
Hanya itu satu-satunya yang dapat ia lakukan untuk Raka, secara ia tidak mungkin membantu Raka untuk menyelesaikan tangan robot yang sama sekali tak dipahaminya.
Setelah mengantarkan cemilan, Daru kembali ke kamarnya, Ia duduk di depan kanvas besar dan mulai membuat sketsa untuk karyanya yang akan datang. Dari info-info yang beredar di kalangan Mahasiswa baru, mereka diwajibkan untuk membuat sebuah karya yang nantinya akan di tampilkan di Pameran Karya Akbar kampus. Di saat itu pula biasanya di buka sesi pelelangan karya bagi para kolektor-kolektor lukisan baik dalam maupun luar negeri. Daru semakin bersemangat untuk menunjukkan lukisan-lukisannya, utamanya pada Raka. Belum satupun hasil karya Daru yang diperlihatkannya pada cowok di seberang kamarnya itu.
Ketika Raka dan Daru tengah asik melakukan aktivitas mereka masing-masing, tiba-tiba saja lampu di seluruh rumah padam. Tak satupun cahaya yang berhasil lolos, kompleks rumah Raka mendapat giliran padam listrik tanpa sepengetahuan anak-anak muda itu. Surat edaran telah di sebar minggu lalu, tapi Raka terlalu cuek untuk memperhatikannya, alhasil ia menjadi stress sendiri di tengah kegelapan. Kini handphone menjadi satu-satunya penerangan yang ia gunakan agar tidak menghantam perabotan di sekitarnya.
"Daruuu !" Seru Raka.
Ia membuka pintu kamarnya, mencoba memanggil anak itu, berharap ia segera keluar dari ruangannya. Cukup lama Raka memanggil tapi sama sekali tak ada respon dari pemilik kamar.
"Jangan-jangan dia tidur." ujar Raka dalam hati. Walau sebagian dirinya merasa tidak enak, Cowok itu mencoba memanggil sekali lagi, namun hasilnya Nihil. Daru sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengecek ke dalam juga. Perlahan Raka membuka pintu, seketika kegelapan menyeruak dari dalam ruangan. Sama sekali tak ada cahaya. Daru tidak berusaha menyalakan satupun penerangan.
"Daru lo dimana....?" Ujar Raka lagi.
"A...aku disini Mas..." sayup-sayup Raka mendengar suara Daru di ujung ruangan tepat di sebelah tempat tidur King Size-nya. Ia duduk meringkuk di samping kasur seperti anak-anak yang sedang bermain petak umpat.
"Nga...ngapain Lo disitu ?!" Raka menyenter ke arahnya lalu melompat naik ke atas tempat tidur dan turun tepat di hadapan Daru.
"A...aku jatuh dari kursi pas lampunya mati..hehe," Pria manis bertubuh ramping itu tersenyum tanpa dosa padahal Raka mulai sedikit khawatir tadinya.
"Lo bikin gue kaget aja, kirain lo ketiduran atau kenapa-napa...Ya udah, yuk ikut gue kebawah, kita ambil lilin." Daru mengangguk patuh, Ia berdiri kemudian mengikuti Raka turun ke lantai bawah.
"Lo nunggu disini aja, kue ke dapur bentar." Ujar Raka yang sama sekali tidak di gubris oleh Daru, anak itu masih mengikutinya saat ia hendak meninggalkan ruang tengah.
"Lo kok ikutin gue ? tunggu di depan tv aja Ru ." Daru menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia semakin mendekatkan dirinya pada Raka. Melihat tingkahnya, Raka mulai paham. Daru takut.
Seketika ia tersenyum dalam hati, seperti biasa, Raka mulai menyusun ide jahil di otaknya.
"Ya udah..lo ikut gue gih!" Ucap Raka tidak sabaran, senyum jahil kini menghiasi wajahnya, namun sayang, Daru tak dapat melihatnya.
Mereka menuju ke ruang tengah setelah mengambil beberapa lilin di dapur, Raka juga telah menyalakan lilin-lilin itu sehingga kini ruang tengah tampak lebih terang.
Kedua anak muda itu duduk berdampingan di sofa, mereka terdiam cukup lama menikmati suasana yang sudah tidak mencekam lagi. Terlebih Daru, Ia sangat menyukai cahaya lilin yang menari di tengah kegelapan.
" Gue jadi inget, dulu gue juga pernah ditinggal di rumah pas mati lampu. Umur gue masih 12 tahun waktu itu...," Raka mulai memecah keheningan dengan tiba-tiba bercerita.
Ia mulai melancarkan aksinya untuk menjahili Daru. Dengan polosnya, Anak itu kini berpaling dari memperhatikan lilin-lilin ke arahnya.
" Karena waktu itu gelap banget, gue jadi susah buat nyari lilin, sementara gue juga belum punya Hp...," Daru mendengarkan cerita Raka dengan seksama, sementara cowok di depannya itu mulai menerawang ke depan.
" Pas gue jalan ke dapur sambil ngeraba-raba, tiba-tiba gue ngerasa kayak ada orang di depan gue, tapi gue gak bisa denger nafasnya, jadi gue pikir itu cuma ilusi aja...," Mendengar cerita Raka yang sudah mulai mengarah ke horor-horor seperti itu, Daru semakin merapatkan duduknya tanpa bersuara ke samping Raka. Ia takut, tapi Ia juga penasaran mendengar lanjutan dari cerita cowok disampingnya.
" Semakin jauh gue melangkah, keberadaan orang itu semakin nyata gue rasain, gue mencoba manggil, tapi sama sekali gak ada jawaban...," Raka melihat wajah Daru mulai pucat. Kasihan juga dia dengan anak itu, tapi kalau sudah niat, Raka tidak bisa dihentikan.
" Akhirnya lilin yang gue cari-cari ketemu juga, dan tanpa pikir panjang gue nyalain lilinya...tapii...pas gue balik badan...tiba-tiba aja gue ngeliaaat...," Sengaja Raka memotong ceritanya, Ia memalingkan wajahnya dari Daru, Seolah-olah melihat ke belakang sembari menyiapkan senter diam-diam di tangannya lalu,
" HOAAAAAAAAH!!!"
Raka mengarahkan senter yang dipegangnya tepat ke arah wajah yang telah ia buat semengerikan mungkin. Mata melotot lebar dan lidah menjulur keluar. Daru yang dari sananya memang penakut, kontan histeris. Ia melihat wajah Raka seperti melihat setan, alih-alih ngacir meninggalkan cowok jahil di depannya, Daru malah melompat ke pangkuan Raka dan memeluk cowok itu erat.
" Huuuuh...huuh...Aku ta...kuuuut ." Tubuh Daru bergetar hebat di dalam pelukan Raka, membuatnya kaget setengah mati. Ia tidak menyangka reaksi Daru akan separah itu. Dia melingkarkan tangannya kepunggung Daru, mencoba menenangkan pria manis yang tengah ketakutan dalam pelukannya sembari merutuki diri karena sudah bercanda keterlaluan.
"Ru Lo gak papa?? Maafin gue dek..." Bisik Raka di telinga Daru.
Anak itu masih menyembunyikan wajah di bahunya. Jantungnya berdebar kencang karena ketakutan, juga tubuhnya masih gemetaran.
Cukup lama mereka bertahan di posisi itu, sampai akhirnya Daru tersadar lalu dengan cepat mengangkat wajahnya. Tapi siapa sangka, di saat yang sama, Raka juga tengah menunduk kearahnya dan alhasil...
CUUUP
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Raka dan Daru. Mereka mencium seorang Pria tepat di bibir.
To Be Continued...