Daru tiba di rumah tepat pukul satu siang, hari ini Ia hanya menerima info seputar pengkaderan saja, sementara kuliah perdana baru di mulai pada minggu depan. Tidak sulit baginya untuk menemukan rumah Raka, Ia tipe Penghapal yang handal. Rumah Raka tampak sangat sepi siang itu, berbeda dengan rumah Daru di Jogja yang selalu ramai dengan suara gamelan dan musik Jawa. Kalau boleh jujur Ia sangat merindukan rumahnya saat ini.
Cowok manis itu melangkah ringan menaiki tangga, Ia sempat merapikan sepatu-sepatu Raka yang tergolek sembarang di rak sepatu dekat pintu masuk, Daru bukan tipe pria yang jorok dan sembrono sebenarnya, namun ketika dia sudah terhanyut dengan aktivitas melukisnya, ia tak akan sadar jika telah membuat seluruh ruangan sanggar berantakan dengan bekas-bekas cat bahkan kertas-kertas sketsa. Melukis kerap membuatnya lupa diri, lupa daratan, membawanya terhanyut ke dalam prisma warna yang menyesatkan.
" Huwaah...capek juga jalan dari kampuss, tapi nda' papalah itung-itung olahraga..," Daru bergumam sendiri sembari menanggalkan satu persatu pakaiannya, ia mengganti kemejanya dengan baju rumahan yang lebih santai, kaos oblong berwarna coklat bergambar sepeda Onthel serta celana pendek warna abu-abu. Ia baru sadar kalau ia akan berada sendirian di rumah hingga sore nanti, karena itu, Daru mengambil inisiatif untuk browsing resep-resep makan malam dan mencoba untuk menyiapkan bahan-bahannya, tidak lupa ia juga mencari resep makanan ringan sebagai pencuci mulut. Om Google menjadi tempat yang tepat bagi sejuta umat untuk mencari informasi, tinggal menuliskan apa yang kita inginkan di kolom pencarian maka akan keluar berbagai macam hasil yang kita inginkan, tinggal pilih, sangat praktis. Like a Magic. Daru tidak tahu makanan favorit Raka, hingga dia hanya memilih beberapa resep umum yang biasa di buat oleh ibu-ibu rumah tangga kebanyakan. Salah satu blog menampilkan pesan yang cukup membuat Daru salah tingkah, blog itu berisi kutipan "Ingin suami betah di rumah? Jangan cuma masak pakai bumbu, tapi pakai cinta, dan jangan lupa paki pakaian yang mengundang selera suami untuk menjadikan anda 'Makanan Penutup'. Daru adalah seorang seniman, ia memiliki imajinasi yang tinggi, tulisan di blog itu tentu saja segera mengaktifkan Otak imajinatifnya untuk berkhayal ke arah sana.
~Daru Imagination~
Took...toook...
Daru membuka pintu setelah mendengar suara ketukan beberapa kali. Ia tengah memasak makan malam untuk Raka, ketika mendengar ketukan itu. Ia buru-buru menuju ke arah pintu depan dengan masih mengenakkan apronnya. Di balik apron itu Daru memakai kaos putih transparan yang agak longgar dan boxer hitam pendek jauh di atas lutut.
"Aku pulang sayaaang...," Raka mengecup kening Daru setelah 'wifey'nya itu membukakan pintu rumah untuknya.
Daru sedikit terkejut namun segera tersenyum manis menyambut kedatangan 'hubby' nya.
"Welcome homee...," Raka merangkul pinggangya dan bersama-sama mereka masuk ke dalam rumah yang sudah menguarkan bau masakan yang begitu menggoda iman.
"Kamu masak apa yang? " tanya Raka lembut.
Pria itu telah melepas sepatu dan jasnya dibantu oleh Daru. Kini ia berjalan ke ruang makan bersama 'wifey'nya.
"Ayam goreng balado, daging sapi blackpepper, and udang asam manis kesukaan kamu.."mendengar makanan-makanan favoritnya disebutkan, Raka menjadi semakin lapar.
Ia memilih untuk langsung duduk di kursi makan alih-alih mandi dan mengganti baju kerjanya terlebih dahulu. Penampilan Daru juga turut mengundang seleranya, tubuh ramping dan cukup tereksposnya itu membuat Raka ngiler.
"Sayaang kamu gak mandi duluu? " tanya Daru heran melihat suaminya yang telah duduk manis di kursi makan sembari memandang intens ke arahnya.
"Entar aja kalau dah makan masakan enak kamu." Wajah Daru merona merah mendengar pujian suaminya.
Ia sangat bahagia sebab suaminya itu begitu menyukai masakannya. Hingga ia harus bangun pagi-pagi untuk membuatkan Raka bekal karena pria itu menolak makan diluar selain makan masakannya.
Setelah menyantap habis makan malam mereka, Daru bangkit dari kursinya untuk mencuci piring, tapi dengan sigap tangan Raka menangkap pinggangnya dan membuatnya jatuh terduduk di pangkuan suaminya.
"Mau kemana?" Bisik Raka di telinga Daru, tak luput ia mendaratkan kecupan-kecupan lembut di perpotongan leher 'wifey'nya.
"Aku harus cuci piring, kamu mandi gih, apa kamu mau aku masakin air?" tanya Daru lembut sambil mengusap pelan rambut suaminya yang jatuh menutupi mata elangnya.
"Aku kan belum menyantap makanan penutup yank.." ujar Raka memelas, ia semakin mempererat dekapannya di pinggang ramping Daru. 'Wifey'nya yang polos itu seketika merasa bersalah karena lupa menyiapkan buah atau yogurt sebagai makanan penutup. Alhasil ia meminta maaf berkali-kali pada suaminya. Raka merasa geli melihat tingkah Daru, Cowok bule tampan itu pun langsung melumat bibir cowok manis di pangkuannya agar ia berhenti meminta maaf.
"Siapa bilang aku mau buah tau yogurt? Gak ada makanan penutup yang nikmat selain 'KAMU' sayaaang...," Raka kembali melumat bibir Daru, kali ini ia melakukannya dengan sedikit liar.
~Daru Back to reality~
Pulpen yang dipegang Daru jatuh menghantam lantai. Buru-buru Ia memungutnya lalu menutup blog yang sedari tadi mengacaukan fokusnya. Jantungnya berdetak kencang sekali, seolah mau menerobos keluar dari tempatnya. Perasaan Daru pun berkecamuk, Ia tidak habis pikir akan apa yang baru saja dikhayalkannya. Dia dan Raka menjadi sepasang suami istri yang sangat mesra. Apa Daru sudah gila ?!!
"A...apa...yang aku pikirkaaaaan!!!" Teriak Daru histeris di dalam kamar.
Ia menggelengkan kepalanya dengan gusar agar pikiran kotor itu segera cabut dari otaknya. Ia shock dengan imajinasi yang selama ini selalu diandalkannya, dia tak pernah menyangka jika imajinasinya akan menghianatinya seperti itu.
"Mas Rakaaa... maafin akuu." Ujar Daru memelas kepada angin, ia benar-benar tidak sanggup menatap Raka kalau pria itu pulang nanti, tetapi ia sudah berniat untuk membuatkannya makan malam dan tidak mungkin ia membatalkannya begitu saja. Daru menarik nafas panjang, berusaha menenangkan pikirannya. Ia lalu mengambil catatan resep-resep masakan yang sudah selesai di catatnya kemudian berlalu meninggalkan rumah, menuju minimarket di kompleks setempet untuk membeli bahan-bahan makanan yang dibutuhkannya.
***
"Ka' kite pada maeeen ke rumah looo yaaah hari inii..., " Rajuk Ardhan penuh maksud ke arah Raka. Mendengar ucapan sahabatnya, Raka hanya melenggang santai sembari menghisap rokoknya, ia kembali ke mode 'pura-pura bego' untuk menghadapi Ardhan.
" Iyya Raka, kata Ardhan ada anak yang tinggal di rumah kamu kan...gue juga pengen kenalaaaan." Kali ini Putra dengan tampang Hello kitty-nya mencoba untuk merayu Raka, dan ternyata mempan. Raka membuang puntung rokoknya lalu tersenyum menatap Putra. Putra memang sahabatnya tapi ia lebih muda setahun dari Raka, karena itu dia lebih menganggap Putra sebagai seorang adik yang manis dibandingkan sahabat lelakinya yang lain seperti Ardhan,Aro, dan Galih.
"Oke fix kalau gitu hari ini kita ke rumah Raka...!!" Seru Ardhan , mendekati Aro dan ber 'Ces' ria di udara.
"Ceweek-cewek IKJ di depan mata Brooo...," Bisik Ardhan di telinga Aro. Melihat tingkah ababil kedua sahabatnya itu, Raka hanya menggeleng-gelengkan kepala, Galih yang prihatin dengan Raka pun hanya mampu mengelus pelan punggungnya. Jika menyangkut wanita mereka berdua tidak dapat berbuat apapun, kedua sahabatnya sudah terlahir seperti itu.
"Tenang aja Bro, nanti gue bantu buat ngehandel dua cecunguk itu klo mereka bikin Malu-nya kelewatan." Ucap Galih menenangkan. Bersikap Dewasa seperti biasanya, itulah Galih Nawira.
Akhirnya kelima "Pangeran Elektro", sebutan para Mahasiswa Teknik buat geng Raka itu, beranjak dari kampus dengan menggunakan kendaraan mereka masing-masing. Memerangi macetnya kota Jakarta demi cewek-cewek IKJ bagi Ardhan dan Aro, sahabat baru bagi Putra dan Galih, serta makan malam yang enak bagi Raka.
"Lo nggak ngetuk pintu aja Ka', dia di dalem kan ?" Tanya Ardhan kepo ketika melihat Raka merogoh-rogoh kantung celananya untuk mencari kunci rumah.
"Gak usah, gue bawa kunci sendiri kok."
Akhirnya Raka menemukan kunci rumah yang sedari tadi dicarinya di dasar kantong. Ia pun membuka pintu depan, diikuti dengan ke-empat sahabatnya yang melangkah masuk tidak sabaran di belakangnya.
"Ngapain sih kalian dorong-dorong gue ? kita gak lagi mau masuk ke rumah hantu juga!" ujar Raka kesal karena nyaris tersungkur ke depan akibat ulah sahabat-sahabatnya yang menghimpit dari belakang.
Saat mereka berlima memasuki rumah, bau aroma masakan seketika membius mereka, seperti terhipnotis, kelima pemuda itu masuk semakin dalam ke rumah mengikuti bau harum yang begitu menggoda iman mereka.
"Gue pu...lang...," Ucap Raka takjub melihat meja makan yang telah dipenuhi berbagai macam masakan, sementara Daru dengan mengenakkan apron bunga-bunganya tengah berdiri sambil membawa nampan penuh Yogurt Strawberry.
" Selamat datang mas Raka...eeh ada teman-temannya mas Raka juga toh? Kebetulan aku masaknya banyak ini." Daru tersenyum manis kepada lima pemuda yang menatapnya takjub. Mereka memandang Daru seperti melihat cahaya di tengah kegelapan.
"Ah iyya...kenalin Ru, ini putra, Aro,Galih, sama Ardhan, mereka sahabat gue." Daru membungkuk sopan kepada sahabat-sahabat Raka.
"Dan guys... ini Daru, adik baru gue." Lanjut Raka, kali ini memperkenalkan Daru dengan bangga.
Siapa yang tidak bangga punya adik yang bakalan bikin masakan enak setiap hari buat dirinya.
" Waaah Daru maniss bangeettt...kalau Daru adik baru Raka berarti Daru adik kita-kita juga dooooong." Putra menghambur melewati meja makan kemudian memeluk Daru, mereka memiliki tinggi yang sama begitu juga wajah yang sama-sama manis, membuat mereka tampak lucu saat berpelukan seperti itu.
"Mas Putra lebih manis dari saya," ujar Daru mengelak.
Gaya Putra begitu rapi dan elegan di mata Daru, sehingga ia sedikit canggung di sebut manis oleh cowok yang jauh lebih manis dan tampan darinya.
"Eeh...aku bantuin yah..biarin aja mereka nunggu disana, mereka bisanya cuma ngancurin dapur." Bisik Putra di telinga Daru.
Mendengarnya Daru hanya mengangguk patuh, dia membiarkan Putra membantunya karena nada suara cowok itu sedikit memaksa tapi dengan cara yang manja.
"Mereka cepat banget akrabnya, kita aja belum ngomong sepatah katapun." Protes Ardhan.
Padahal yang paling semangat untuk berkenalan dengan Daru awalanya adalah dia, malah Putra yang sambar duluan. Bisa-bisa Putra doang yang nantinya bakal dikenalin dengan cewek-cewek IKJ. teriaknya dalam hati.
" Sabar aja Bro, entar klo ada kesempatan buat bicara sama si Daru, kite langsung aja sampein maksud dan tujuan kite." Ujar Aro menenangkan.
Buuuuugh...
Galih menjedutkan kepala Aro dan Ardhan hingga mereka mengaduh kesakitan. Bosan sekali dia mendengar sedari tadi kedua sahabatnya itu hanya membahas cewek-cewek IKJ saja. Raka pun sudah menghilang duluan ke lantai atas untuk mengganti baju, jika dia ada disana, mungkin dia sudah menendang Ardhan dan Aro keluar dari rumah.
"Buseeeeeeet.....beruntung banget lo Ka', masakan Daru enaknya kayak bikinan koki Hotel bintang 5 !!" Seru Aro heboh.
Ia sudah tiga kali menambah nasinya, begitu juga degan Ardhan dan Galih yang mulai menambah daging sapi blackpepper dan ayam balado ke dalam piring mereka entah sudah yang keberapa kalinya. Putra juga sangat menyukai masakan bikinan Daru, Ia adalah tipe orang yang rewel soal Makanan tapi kali ini masakan-masakan itu membuatnya jadi Rakus. Alhasil Kelima pemuda yang duduk melingkari meja makan itu saling berebutan mengingat masakan yang di buat Daru tidak sebanyak persediaan makanan di Pengantenan.
"Gue bilang tadi juga apa, masakan nyokap kalah!!" Ujar Raka.
Mendengar pujian yang terlontar dari mulut cowok-cowok di depannya kontan membuat wajah Daru merona merah. Ia sangat senang jika bisa membuat orang-orang bahagia dengan hasil karya-nya, yang kali ini tertuang dalam bentuk Masakan.
"Lo kok bisa masak seenak ini sih Ru? Di Jogja buka cathering yah?" Tanya Putra penasaran.
Ia yang telah menyudahi makannya, kini mencomot Yogurt Strawberry segar sebagai pencuci mulut.
"Ooh..nda' kok Mas, ibu dan nenek saya doyan masak, jadi saya sering bantu-bantu mereka di dapur sekalian belajar juga. Melukis dan memasak sebenarnya nda' terlalu jauh berbeda, makanya saya tertarik." jawab Daru menjelaskan.
Putra mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Kalau Daru cewek, dia pasti bakal jadi istri yang perfect banget. Pikirnya.
Raka membantu Daru mencuci piring-piring kotor sisa makan malam mereka, sementara sahabat-sahabatnya yang lain membereskan meja makan, menyapu dan mengepel. Ardhan dan Aro sempat ingin kabur, tapi untung saja Putra yang memiliki refleks tinggi terhadap hal-hal yang berbau kecurangan segera menarik telinga mereka dan membawanya kembali ke ruang makan. Ia menatap kedua pria malang itu dengan sinis sembari menyuruh mereka membersihkan meja makan. Pemandangan yang cukup membuat perut geli sebenarnya. Gelagat Putra Seperti seorang Pangeran yang menyuruh kedua kacungnya untuk kerja rodi. Di ujung ruangan, Galih tak bisa menahan tawanya, walau Ardhan dan Aro memohon pertolongan, cowok itu sama sekali tidak menggubrisnya.
"Teman-teman mas Raka lucu yah, mereka juga baik-baik." Ucap Daru sembari tersenyum memandang kegokilan tiga cowok yang sedang berdebat di ruang makan.
"Tapi lebih seringnya repotin." Sahut Raka acuh.
Ia sebenarnya tidak enak dengan Daru karena baru dua hari tinggal disini dia sudah bekerja banyak. Tetapi melihat senyum bahagia yang terpancar di wajahnya, Raka cukup lega, setidaknya ia bisa menerima sahabat-sahabatnya yang rusuh.
"Bdw...makasih ya Ru buat malam ini, gue jadi gak enak udah repotin lo." Raka yang telah selesai mencuci piring dan mengeringkan tangannya, mengusap kepala Daru lembut.
Ia sedikit terkejut ketika merasakan betapa halusnya rambut anak itu di tangannya. Daru sendiri juga kaget dengan perlakuan Raka, ia jadi teringat dengan imajinasi liarnya tadi siang. Kontan, wajahnya memerah seketika.
"Daru lo sakit? Kok muka lo merah ?"
" Ah nda' kok...aku nda' papa. Mas Raka duluan saja ke ruang depan, biar aku selesain sisanya." Berada berdua saja dengan Raka seperti itu membuatnya tidak bisa berpikir tenang, ia merasa bersalah dengan cowok yang telah menganggapnya adik itu. Raka pasti kecewa jika tahu Daru berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.
" oh..oke..." jawab Raka singkat.
Ia hendak melangkah meninggalkan ruang cuci, tapi kembali berbalik menghadap Daru. Melihat tingkah Raka, Daru menatapnya bingung kemudian bertanya, "Ada ap..." belum sempat menyelesaikan ucapannya, Raka mengelus pipi Daru dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.
"Ada sabun di pipi lo, dan satu lagi...gue udah bilang kan jangan panggil Mas, kayak istri aja." Raka melangkah pergi sambil geleng-geleng kepala.
Ia meninggalkan Daru yang mematung di tempat. Untung saja cowok itu tidak berbalik lagi, jika ia melakukannya, ia akan melihat wajah Daru kini semerah tomat rebus.
To be continued...