~Ardhan PoV~
Kenyataan yang baru saja gue dengar keluar dari mulut Putra seperti petir yang menyambar secara membabi buta ke jantung gue. Butuh waktu beberapa detik sampai akhirnya gue mampu mencerna kata-kata sahabat karib gue yang satu itu. Putra memendam cinta-nya ke Gue selama dua tahun! Gilaaa apaa?!! Gue aja gak pernah mendem cinta ke cewek selama itu.
Astagaaa...!! Astagaaa...!! apa yang harus gue lakuin ? Otak gue beneran blank, rasanya geli banget tau ada cowok naksir gue, dan kenapa pula cowok itu harus Si Putra? Apa gue terlihat cantik dimatanya? Gue kan jorok? Sejak kapan Putra demen ama yang jorok-jorok?! Tenaaaang Dhan...pkonya Gue harus tenang. Narik nafas dalam-dalam, kabuuuuur!! Dengan langkah pasti, Gue kembali ke ruang tengah, tempat dimana sahabat-sahabat gue yang semoga masih pada 'Straight' bermain PS 4 milik Raka.
"Loh? Katanya Lo mau panggil Putra, dianye mane?" Aro mengalihkan pandangannya sebentar dari layar saat melihat gue datang tanpa Putra.
" Gak jadi Bro ! pas tadi mau naik ke tangga tiba-tiba temen kencen gue bbm, kayaknya gue harus balik duluan deh..kalian aja yang panggil Putra yah, gue cabut dulu.." Tanpa banyak cincong lagi, Gue segera mengambil tas dan kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Aro dan Galih sempat memberi semangat untuk kencan Gue sebelum akhirnya kembali sibuk dengan pertandingan PES 2015-nya.
Saat udah duduk di mobil, Gue gak langsung starter. Sebenarnya gue ada janji ketemuan sama Namira, tapi masih 2 jam lagi...Yup gue bohong soal bbm itu. Gue kembali menghela nafas panjang sembari sesekali memijat kening yang sama sekali gak sakit. Ini masalah serius! Gue gak boleh masa bodoh untuk masalah yang satu ini, Gue sayang banget sama Putra tapi rasa sayang yang gue rasain jelas berbeda darinya dan gak mungkin gue ngebalas perasaan dia! Gue masih normal, cita-cita Gue pengen punya istri cantik, sexy, bohai yang tiap hari masakin gue makanan enak, pijitin pundak gue pasca pulang kerja, juga melahirkan anak-anak imut Gue. Gue benar-benar gak habis pikir apa yang ada di otak Putra! Bisa-bisanya Gue gak nyadar kalau dia Gay! Apa dia emang gay, atau Gay-nya cuma sama gue?? AAAAAAAAARGGHhhh...Tuhaaan.. apa ini balasan buat cowok Player kayak Gue? yang udah mainin perasaan banyak wanita. Kumohon katakan kalau ini cuma mimpi atau hanya kejahilan yang direncanakan anak-anak buat Ultah gue!
Tapi kaaaan ultah Gue dah lewaaaat.....SHIT!! THIS IS SO SERIOUS!
Triiiiing...
Tanda masuk di bbm gue mengalihkan perhatian, gue segera meraih ponsel di saku dan melihat layar. Ternyata Namira.
"Dhan...gue dah kelar ni dandannya, gmana kalau kita jalan sekarang aja? Takutnya kalau nunggu 2 jam lagi muka gue keburu kusut."
Dengan sigap dan senyum sumringah gue ngebalas bbm doi, tiba-tiba aja masalah tadi menguap dengan sendirinya dari pikiran gue. Pokoknya hari ini, Gue harus dapetin Namira !
"Oke...dengan senang hati my Lady, wait for me."
Gue melajukan mobil meninggalkan halaman rumah Raka, juga pergi meninggalkan seseorang yang sudah membuat Gue depresi.
Maaf... Put, tapi Gue gak bisa balas perasaan Lo. Andai saja gue punya kesempatan untuk ngomong itu ke Dia, Gue gak akan merasa bersalah lebih lama lagi.
~Putra PoV~
Gue turun ke lantai bawah setelah puas menghabiskan waktu curhat bersama Daru. Sesampainya di ruang tengah, hanya Raka, Galih dan Aro yang keliatan tengah sibuk bermain Ps, sementara Ardhan sama sekali tak tampak batang hidungnya. Kemana dia?
" Guys...Ardhan mana?" Tanya Gue lalu ikut bergabung di sebelah Raka yang kala itu sedang sibuk berusaha memasukkan bola ke gawang Galih.
" Biasa...going on a date ," Ujar Aro santai sembari menghisap rokoknya. Dengan sebal gue mengambil rokok itu dan mematikannya.
"Dalem rumah gak boleh ngerokok !!" Aro memandang gue horror, tapi gue udah kebal dan batu sehingga tidak mempedulikan dengusan kesalnya. Ternyata Ardhan memang benar-benar udah ada janji, kalau gak salah Dia janjian sama cewek ganjen yang kita temui di bioskop kemaren. Bete' banget gue. Apa emang udah gak ada harapan buat gue bisa bersama dengannya yah? Apa gue harus nyerah dan nyari cinta yang lain? Kayaknya emang mustahil cinta ini di perjuangkan. Ardhan sahabat Gue, sama seperti Raka, Galih, dan Aro, Gue gak bisa bayangin hidup tanpa mereka atau tanpa salah satu dari mereka.
" Putraaaa!!" Raka berseru memanggil nama Gue tepat di depan wajah, di belakangnya Aro dan Galih sudah berdiri dengan tas di pundak.
" Haaah...?" Hanya sepenggal kata itu yang lolos keluar dari mulut gue, sungguh sekarang gue cuma mau pulang, tidur dan ngelupain semuanya.
" Lo jujur deh ama kita. Sebenarnya Lo kenapa?" Galih mulai merangkul pundak gue, disampingnya gue terlihat sangat pendek dan gak berdaya.
"Gue gak kenapa-napa kok, gue cuma mau pulang aja, kepala gue tiba-tiba pusing.." untuk alasan yang satu ini gue gak bohong, kepala gue beneran pusing.
Ketiga sahabat gue jelas-jelas tahu kalau ada yang tidak beres dengan sikap gue belakangan ini, apalagi jika berhubungan dengan Ardhan. Bohong banget kalau mereka gak tahu, mereka pasti cuma pura-pura bego supaya gue gak merasa terintimidasi.
"Kita sayang ama Lo Put, kita pade gak mau liat Lo uring-uringan terus, kalau Lo pengem cerita, cerita aje ke kita. Kita janji bakal selesain masalah Lo sama-sama." mendengar perkataan Raka, Gue langsung menghambur ke pelukannya. Sahabat Gue emang sayang banget sama Gue, Gue tahu itu.
"Maafin gue guys , gue gak bisa cerita sekarang. Tapi gue janji gak akan buat kalian khawatir terus..." Raka mengelus rambut gue lembut, begitu juga dengan Galih dan Aro. Sekedar info, Kami terlihat sangat Bromance saat ini hahahah...
Siang itu Aro yang ngantar gue pulang ke rumah, emang sih gue masih ada kuliah, tapi dengan kondisi gue yang tidak memungkinkan saat ini, gue cuma nitip absen doang. Dengan malas, gue ngotak-ngatik android gue sambil rebahan di kasur. Tiba-tiba updaten-an Ardhan di timeline Path Gue, muncul. Dia mengupload fotonya berdua dengan wanita ganjen itu, dan yang paling bikin hati gue sakit juga air mata gue mulai mengalir, Ardhan nulis,
"Takdir telah membawa kita kembali bersama, I Love U Ra."
Rupanya mereka sudah jadian, hahaha...emang gak pernah ada harapan buat Gue. Gue doain semoga Lo langgeng sama dia Dhan. Air mata gue gak mau berhenti ngalir, Gue mengambil sweater yang pernah dibeliin Ardhan pas ultah gue dan meluk sweater itu erat. Gue sayang banget sama Lo Dhan...sayang bangeet. Tanpa sadar, mata gue tertutup dan guepun tertidur dengan rasa sakit teramat sangat di d**a.
Hari udah semakin malam, saat tiba-tiba gue terbangun dengan keadaan kamar yang gelap gulita. Gue turun dari kasur dengan menyeret badan malas untuk menyalakan lampu utama. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 08.00 .
Dari luar kamar gue, tiba-tiba saja terdengar derap langkah kaki seseorang yang mengenakkan high heels. Langkah kakinya berhenti tepat di depan kamar dan tak lama kemudian pintu yang terletak tidak jauh dari tempat gue berdiri, menggebrak terbuka.
"Mama ?" Gue terheran-heran melihat penampilan mama yang begitu spektakuler malam ini, Ia tampak seperti seorang artis yang hendak menghadari acara peneriman Award atau semacamnya.
"Putra honey, get dressed, mama pengen kamu ikut ke acara reuni teman-teman SMA mama." Gue yang masih terbengong-bengong dengan penampilan mama tentu tidak merespon sama sekali dengan perintahnya.
"Hallllooo...Kok kamu malah bengong sayaaang ! ayooo cepat ganti bajuu, mama sudah terlambat ini ." Tanpa memberi kesempatan untuk bicara, mama mendorong-dorong tubuh gue menuju ke kamar mandi. Ia tidak mau mendengar penjelasan apapun yang keluar dari mulut gue, padahal keadaan batin gue sedang tidak stabil saat ini. Aaah...Maam you're so mean!
Dengan senyum dipaksakan, Gue berusaha bersikap layaknya anak baik di depan teman-teman SMA mama yang gayanya tidak kalah spektakuler darinya. Mereka berdandan gila-gilaan, juga saling memamerkan harta kekayaan yang mereka punya dengan memakai pakaian yang kalau gue taksir harganya bisa sampai setengah M. Mata Gue sampai sakit melihat kilauan berlian yang membalut tubuh para wanita tua di ballroom hotel megah itu.
"Maam...aku mau ke toilet bentar yah, kebelet nih." Bisik gue di telinga mama yang lagi asik mengenang masa lalu dengan teman-temannya. Ia hanya mengangguk tidak peduli dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Dasar mama...kalau tahu bakal di cuekin kayak gini, mending tadi Gue di rumah aja. Kentara banget Gue disuruh ikut cuma buat jadi pameran.
Merasa muak berada di tengah-tengah para sosialita gak jelas itu, ngebuat Gue enggan untuk kembali ke Ballroom. Akhirnya, dari arah toilet, Gue berbelok menuju ke pintu besar yang mengarah ke balkon. Disana terlihat sepi, pas banget buat Gue menyendiri meratapi nasib.
Angin sepoi-sepoi dan alunan lagu classic yang berasal dari arah ballroom menemani malam Gue di balkon. Gue memilih berdiri di tepi tembok pengaman agar dapat memandang kerlap-kerlip Kota Jakarta di kejauhan dengan jelas.
"Indah sekali," tanpa sadar Gue bergumam sendiri. Andai saja Ardhan ada di samping Gue sekarang, pengen banget Gue ngerasain lagi hangat tubuhnya saat Ia meluk Gue waktu itu. Mengingat kenangan bersamanya, mata Gue kembali panas.
"Ah...ternyata sudah ada orang disini." Suara berat seorang pria menganggetkan Gue, kontan Gue berbalik dan mendapati seorang Pria tampan tengah berdiri sembari menatap Gue intens. Buru-buru Gue menghapus air mata yang mulai mengintip tidak sopan dari mata Gue. Pria di hadapan Gue itu mengenakkan kemeja putih dengan bagian lengan dilipat ke atas, sementara jasnya disampirkan sekenanya ke pundak. Dari gayanya sih bisa Gue tebak kalau cowok itu sudah Bosan tingkat akut dengan acara yang sedang berlangsung.
" Apa saya mengganggu kamu?" Tanyanya memecah keheningan yang hadir di tengah-tengah kami. Gue mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha kembali ke kenyataan.
"Ah...sama sekali tidak ," dengan senyum yang dipaksakan Gue menjawab singkat. Cowok itu berjalan semakin dekat ke arah Gue, hingga bau parfumnya dapat tercium jelas. Baunya enak.
"Tidak keberatan kalau saya merokok?" Tanya cowok itu lagi. Kali ini Ia mengeluarkan rokok dengan merek yang gak Gue kenali dari saku celananya.
" Sure...ini tempat umum, siapapun bebas melakukan apa yang mereka inginkan." Kata Gue santai sembari mengedikkan pundak.
Mendengarnya cowok itu hanya tersenyum kecil. Entah mengapa tiba-tiba saja jantung Gue berdegup kencang saat melihat senyumnya. Andai Gue tidak cinta mati sama Ardhan, cowok ini pasti udah ngebuat Gue jatuh cinta pada pandangan pertama.
" Termasuk melompat dari balkon?" Gue gak nyangka Dia bakal menimpali jawaban asal Gue.
"Yeaah... termasuk itu. Pesta ini mampu membuat siapapun berpikir untuk melompat saking bosannya ." Gue gak mau kalah dan ikut menimpali. Pesta ini emang suck banget.
" Kalau saya tidak muncul, mungkin di bawah sana sudah banyak polisi berdatangan ." Gue mengernyit berusaha mencerna kata-katanya, maksudnya apa?
" Maaf ?"
" Mendengar jawaban kamu, mau gak mau ngebuat saya berpikir kalau tadi kamu berniat untuk loncat saking bosannya...," oooh...itu toh maksudnya, Like Hell I'll do that, Gue masih sayang sama nyawa Gue bdw. Sama Ardhan juga tentunya.
" Ya nggak lah...mama saya bisa semaput kalau saya sampai loncat di acara reuninya." Kali ini Gue tertawa geli, ngebayangin mama yang pastinya bakal shock banget kalau Gue beneran loncat hahahaha...
" Oh iyya, dari tadi kita ngomong gak sempat kenalan, nama kamu siapa?" Gue mengulurkan tangan sembari tersenyum lembut memandang 'DIA' yang kini tengah menginjakkan puntung rokoknya di tanah. Cowok itu membalas uluran tangan Gue, juga tersenyum tidak kalah lembutnya.
" Rheo, Rheo Satya Pradana, kamu?"
" Aku Putra, Putra Sanjaya." Dia terlihat kaget saat Gue menyebutkan nama. Tiba-tiba saja senyum merekah di wajahnya.
" Kamu Putra anaknya Om Sanjaya, yang punya perusahaan otomotif itu?"
Papa emang punya perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, dan tunggu, Om? Kenapa Rheo manggil papa Om?
" Iyya bener, Kamu kenal papa aku?" Tanya Gue penasaran.
" Kenal banget, Om Sanjaya itu sahabat Ayah, Dia sering main ke rumah. Katanya Dia juga punya anak cowok yang umurnya 5 tahun lebih muda dari Aku, Aku gak nyangka bisa ketemu kamu disini." Gue cukup terkejut dengan apa yang Rheo bilang. Kok Papa gak pernah cerita ke Gue sih, tapi wajarlah, papa kan sibuk banget. Mana sempat ngobrol basa-basi ke Gue.
" Ooh gitu yah, papa Aku gak pernah cerita Looh...tapi Aku seneng banget bisa kenal kamu." Untuk yang satu ini Gue gak ngegombal loh. Gue emang senang banget, setidaknya Gue bisa berharap punya sahabat lain selain Geng Gua.
Trrrrt...trrrrt...trrrt...
Tiba-tiba aja ponsel di saku Gue bergetar, buru-buru Gue minta waktu ke Rheo untuk ngangkat telpon.
" Yah Ma...Aku lagi di balkon, bentar lagi turun kok...," Kudengar mama ber-hmmmh ria di seberang telepon, dari suaranya terdengar jika Ia sudah sangat lelah.
"Maaf Rhe sepertinya Aku harus pulang duluan, mama sudah menunggu di mobil." Kataku pada Rheo. Ia hanya mengangguk pelan dan tersenyum, namun saat gue hendak beranjak pergi dari situ, tiba-tiba saja Ia menahan tanganku.
"Aku boleh minta Pin kamu, atau Line, atau nomor atau apalaaah...." Mendengarnya menyebutkan satu persatu sosial media dengan sedikit kewalahan membuat gue merasa geli. Akhirnya Gue ngasih dia nomor plus PIN BB, Dia juga sempat nitip salam buat Papa sebelum Gue bener-bener ninggalin balkon. Gak sia-sia Gue kabur dari acara lalu memilih untuk menyendiri di balkon, setidaknya bertemu Rheo membuat kegalauan di hati Gue sedikit berkurang.
***
Sudah seminggu berlalu sejak Ardhan mengajak Namira balikan dan mereka resmi jadian. Sudah banyak perubahan yang terjadi di diri Namira yang membuat Ardhan semakin jatuh cinta. Salah satunya yaitu pemikirannya yang semakin dewasa juga sifat penyayangnya yang sebelumnya tidak dirasakan Ardhan. Ia sama sekali tidak menyesali keputusannya untuk kembali pada Namira, Ia berharap Namira lah gadis terakhir dalam hidupnya. Ardhan sudah lelah menjadi player.
" Sayang kamu udah bangun?" Suara lembut seorang wanita terdengar di seberang telepon. Ardhan tersenyum senang saat mendapati kekasihnya berusaha membangunkan dirinya di pagi hari.
" Iya Aku udah bangun kok, yank, Bdw kamu pulang kerja jam berapa? Nanti Aku jemput." Namira terdengar begitu excited karena Ardhan mau menjemputnya nanti. Ia pun meberitahu sang kekasih untuk datang ke kantor tepat pukul 18.00 PM. Setelah selesai bermesraan di telpon, Ardhan beranjak dari kasur. Ia sempat melirik sekilas ke ponselnya, sudah seminggu berlalu sejak Ia mendengar pengakuan dari Putra dan sudah seminggu pula sahabatnya yang satu itu berhenti menghubunginya, tak ada lagi telpon minta jemput di pagi hari, tak ada lagi telpon mengajak berantem di kala malam, juga tak ada lagi senyum manis Putra yang menyambutnya saat datang ke kampus. Jujur, Ardhan merasa sangat kesepian. Tanpa Ia sadari Putra sudah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupnya, menjadi penyemangat hari-harinya, juga satu-satunya orang yang mampu membuatnya rela melakukan apa saja termasuk menonton film horror yang sangat dibencinya. Putra sama sekali tidak menjauhinya setelah mengetahui Ia sudah tidak sendiri lagi, tapi Ardhan tetap merasa, kalau Putra menjaga jarak darinya, Mereka seperti orang asing yang hanya bicara seadanya, tertawa namun hambar, tersenyum hanya sebagai formalitas. Hubungan mereka hancur.
Terkadang, saat tanpa sengaja mata Ardhan tertuju pada cowok manis itu. Ia melihatnya tertawa geli menatap layar ponsel, wajahnya juga kerap memerah jika membaca bbm yang baru masuk, ketika ponselnya berdering, jarang sekali Putra tetap stay di tempat untuk mengangkat telponnya. Ia akan meminta izin pada para sahabatnya untuk menerima telpon di tempat yang agak jauh. Ardhan sempat memergokinya berbicara dengan seorang pria yang kalau tidak salah bernama Rheo. Putra tampak begitu bahagia jika pria itu menelpon. Ardhan berpikir, mungkin seseorang telah mengisi hari-hari Putra selama Ia bersama dengan Namira. Ardhan turut senang, setidaknya Putra bisa move on darinya. Namun yang sama sekali tidak Ia mengerti, mengapa hatinya kerap merasa sakit saat melihat Putra tertawa, tersenyum, bahkan menunjukkan ekspresi yang tidak biasa pada orang lain selain dirinya. Mengapa Ia merasa tidak rela?
***
Putra merasa hari-harinya kembali ceria sejak Ia mengenal Rheo. Seminggu telah mereka habiskan untuk saling mengenal satu sama lain. Putra mendapati dirinya terpesona oleh sifat Rheo yang begitu dewasa, Ia adalah Pria dengan pemikiran cerdas namun tidak kaku, Rheo bisa membuatnya tertawa juga tersipu malu di waktu yang sama. Tanpa Putra sadari, Mereka menjadi semakin dekat. Terkadang Rheo menghabiskan waktu makan siangnya bersama Putra di restoran dekat kampus, Ia juga biasa menjemput Putra saat cowok itu pulang kuliah di sore hari. Rheo memang telah berhasil mengalihkan perhatian Putra, tapi tetap saja hatinya masih meneriakkan nama Ardhan.
Siang itu Putra mendapat sms dari Rheo. Pria itu mengajaknya makan malam di salah satu restoran mewah di pusat Jakarta. Putra sedikit terkejut dengan ajakan Rheo yang tiba-tiba. Ini kali peratama cowok itu mengajaknya keluar di waktu malam. Karena merasa sedang tidak sibuk, tentu saja Putra mengiyakan ajakan Rheo dengan senang hati. Cowok itu kembali membalas pesan Putra yang isinya akan menjemputnya tepat pukul 7. Dengan sigap, Putra kembali menyimpan ponselnya di saku, kemudia berlalu meninggalkan kampus dan bersiap-siap untuk kencannya sebentar malam.
Mengingat akan pergi ke restoran mewah, Putra mengenakkan setelan jas warna merah marun yang membuatnya tampil elegan tanpa menghilangkan kesan manis di dirinya. Ia tidak menambahkan embel-embel dasi atau apa, karena penampilannya sudah cukup tampan tanpa aksesoris tambahan. Putra cukup antusias dengan ajakan Rheo tersebut, tapi tetap saja Ia lebih bersemangat jika Ardhan yang mengajaknya walau hanya sekedar nonton di bioskop. Mengingat kencannya bersama Ardhan beberapa minggu lalu, Putra kembali bersedih, andai saja wanita itu tidak muncul disana. Mungkin Ia masih memiliki kesempatan bersama Ardhan, hanya 1% maybe.
"Putra Lo harus berhenti mikirin cowok itu, dia sudah ada yang punya. Sampai kapan Lo mau sakit hati terus, Lo harus MOVE ON!!" Teriak Putra depresi di depan kaca. Ia harus mengeluarkan uneg-uneg dalam hatinya jika tidak ingin acaranya bersama Rheo hancur berantakan akibat dirinya yang tidak fokus.
TooK...TooK...TooK
Suara ketukan di pintu kamar Putra membuatnya terlonjak. Ia mendengar suara pembantunya memanggil namanya dari luar.
" Maaf den, itu diluar sudah ada yang jemput. Namanya Mas Rheo." Ujar Bi' Layla saat Putra membukakan pintu kamarnya.
" Iya Bi' sebentar lagi saya turun. Makasih yah," Putra tersenyum lembut lalu kembali masuk ke kamar untuk mengambil ponsel dan dompet.
Rheo tengah duduk di ruang tamu dengan setelan jas yang tak kalah mewahnya dari Putra, bedanya hanya dasi hitam ber-strip yang menggantung di dadanya. Rambutnya yang berwarna hitam legam disisir kebelakang membuat wajah tampannya terekspos sempurna. Jantung Putra berdentum gila-gilaan melihat penampilan cowok di hadapannya. Ia yakin seratus persen bahwa Rheo dapat membuat para wanita bertekuk lutut hanya dengan melihat punggunya.
" Hmm...maaf sudah membuatmu menunggu lama." Ucap Putra yang kini berdiri canggung di samping sofa tempat Rheo duduk. Mendengar suara lembut Putra, kontan cowok itu berbalik. Ekspresi Rheo tak kalah takjubnya dari Putra, Ia sampai harus mengerjapkan mata beberapa kali hingga akhirnya mampu membuka suara. Apakah yang berdiri di depannya saat ini benar seorang pria? Ia tampak begitu...cantik untuk ukuran seorang cowok.
"Wooow...Kamu terlihat menakjubkan. Aku sampai speechless. " Mendengar pujian yang datang dari cowok super tampan itu jelas membuat wajah Putra memerah. Bisa-bisanya Rheo memujinya sementara penampilannya sendiri jauh lebih sempurna.
" Makasiih pujiannya, apa kita bisa berangkat sekarang?"
" Sure, let's go My Prince." Putra tak dapat menahan tawanya ketika Rheo menggombal, cowok itupun menerima uluran tangan pria di hadapannya, lalu bersama-sama mereka menuju ke mobil sedan hitam mengkilat yang terparkir di halaman rumah gedong Putra. Malam ini, cowok manis itu merasa seperti seorang Princess alih-alih Prince akibat perlakuan Rheo yang begitu lembut.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai ke restoran tersebut. Restoran itu terletak di salah satu hotel yang setahu Putra biasa digunakan sebagai tempat pertemuan para pejabat-pejabat Internasional. Seberapa tajir sebenarnya cowok yang kini berjalan disebelahnya hingga mampu menyewa tempat, VIP pula, di restoran tersebut? Batin Putra dalam hati.
Sesampainya mereka di sebuah meja khusus yang letaknya tepat bersebelahan dengan jendela kaca besar yang mengarah ke arah kerlap-kerlip lampu kota metropolitan itu, membuat Putra teringat akan malam pertama kalinya Ia bertemu Rheo di balkon. Rupanya cowok itu menyadari bahwa Putra sangat menyukai pemandangan malam di kota kelahirannya.
" Kamu suka? Aku sengaja pesan tempat ini supaya kamu bisa melihat indahnya Kota Jakarta." Ujar Rheo denga suara berat yang begitu enak di dengar, persis seperti suara penyanyi asal Inggris James Arthur.
" Suka banget...Makasih yah," Putra memberikan senyumnya yang paling tulus ke Pria yang duduk dihadapannya.
Ini pertama kalinya seseorang memperlakukan dirinya begitu spesial, seolah-olah Putra adalah makhluk paling berharga.
" Put...," Rheo menyebut nama Putra dengan suara yang begitu dalam dan penuh arti sehingga membuat cowok manis yang tengah menenggak red wine-nya itu berpaling menatapnya.
" Ya?" Tanya Putra polos. Ia bisa melihat ekspresi Rheo berubah serius. Menatap mata gelap Rheo yang memandangnya intens, kontan membuat Putra terdiam seribu bahasa. Mata Rheo seolah-olah berusaha menenggelamkan dirinya ke dasar lautan yang paling dalam.
" Aku sayang kamu, maafin Aku karena tiba-tiba ngomong gini ke kamu, tapi Aku udah gak bisa pendam perasaan ini lebih lama lagi, Aku jatuh cinta sama kamu Put ." Pernyataan Rheo terdengar tegas, tepat, dan tanpa keraguan. Putra saja sampai melongo di buatnya. Apa dia baru saja di tembak cowok?
" Ap...apa?" Tanya Putra tak percaya. Ia tidak pernah menyangka bahwa Rheo mempersiapkan acara makan malam ini untuk menembaknya, sungguh.
" Aku bilang kalau Aku jatuh cinta sama kamu, Aku mau kamu jadi pacar Aku." Kali ini Putra bisa mendengar maksud dari omongan Rheo dengan jelas. Cowok itu serius menembaknya. Ia sempat menunggu Rheo tertawa, siapa tahu Ia hanya bercanda, namun ekspresi serius di wajah Rheo tak berubah sama sekali. s**t! He's Serious! Jerit Putra dalam hati.
" Aku tahu ini terlalu mendadak, Kamu pasti kaget ditembak sama cowok seperti Aku, tapi percayalah, Kamu cowok pertama yang berhasil mencuri hatiku." GOD! Gue udah buat seorang cowok jadi gay!! Batin Putra kembali menjerit. Ia sama sekali belum membuka suara, bingung harus ngomong apa. Bohong kalau dia bilang tidak suka pada Rheo, jelas Ia telah jatuh hati pada cowok yang tengah berharap jawaban di depannya ini, tapi Putra tidak bisa semerta-merta menendang Ardhan keluar dari hatinya. Cintanya pada cowok player satu itu sudah mengakar seperti beringin berumur 1.000.000 tahun, tak ada satu bulldozer pun yang mampu memindahkan apalagi mengangkatnya dari hati Putra. Namun di sisi lain dirinya ingin memberikan kesempatan pada Rheo, berharap cowok itu mampu membahagiakannya dan menghapus kesedihannya.
" Iya, Aku mau jadi pacar kamu." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Putra, mengalir seperti air. Tak ada hambatan, tak ada keraguan. Putra sendiri kaget bukan main mendengar jawaban yang notabene berasal dari mulutnya. Apa Ia benar-benar menerima Rheo sebagai pacar?. Ya...Dia melakukannya.
" Kamu serius? Kamu gak bercanda kan?" Rheo sendiri merasa shock mendengar jawaban Putra. Ia tidak menyangka jika cowok itu akan langsung menerimnya.
" Aaakh...itu...Akuu..."
" GOD ! Makasih Tuhan, Aku benar-benar seneng ." Senyum bahagia merekah di wajah tampan Rheo, Ia bangkit dari duduknya dan berlutut di hadapan Putra. Ia meraih tangan cowok itu lalu mengecupnya mesra.
" Aku janji bakal buat kamu bahagia, Aku janji bakal jadi pacar yang baik buat kamu. Aku sayang banget sama kamu ." Mulut Putra tiba-tiba terasa kelu, Ia seperti lumpuh mendadak. Melihat ekspresi bahagia Rheo di hadapnnya membuatnya tidak tega untuk meralat kata-katanya. Ia sebenarnya tidak yakin apa keputusannya itu sudah benar, namun Ia tidak mungkin menarik kata-katanya lagi. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh Putra saat ini yaitu berusaha mencintai Rheo, juga menerima keberadaan cowok itu di dalam hidupnya.
To Be Continued~~