Daru sudah kembali ke kampus setelah insiden yang menimpanya beberapa waktu yang lalu. Ia hanya diberi tugas untuk membuat essay sebagai pengganti pengkaderan yang telah dilewatkannya. Tapi jangan salah, tugas essay Daru tak segampang yang dibayangkan. Ia harus mengunjungi beberapa museum kesenian di Kota setempat kemudian merangkum definisi karya-karya para seniman, baik itu lukisan, patung, sektsa, dan semacamnya.
" Semangat ya Ru, hitung-hitung bisa kenal kota Jakarta lebih dalam lagi." Ujar Alvin menyemangati.
Mereka berdua tengah menghabiskan waktu berdua di ruang lukis sejak kuliah jam pertama mengenai sketsa anatomi tubuh usai. Alvin sedang mengerjakan karya untuk pameran akbar yang akan berlangsung minggu depan, begitu juga dengan Daru. Kali ini cowok manis itu mengambil tema "Love" untuk lukisannya. Tema itu Ia ambil karena terinspirasi dengan cerita salah seorang sahabat Raka, yang beberapa hari lalu curhat tentang cinta yang telah lama Ia pendam pada seseorang. Daru memang masih pemula untuk masalah percintaan, bukan cuma pemula sebenarnya, tapi kosong. Ia harus mengalami sendiri apa yang disebut 'cinta' baru dapat membuat karya-karya bertema cinta yang lebih hidup. Ini kali pertama Daru mengangkat Tema percintaan pada karyanya. Merupakan satu tantangan tersendiri baginya dan sebuah kemajuan pesat apabila Ia berhasil menyelesaikan lukisannya itu. Ngomong-ngomong, sudah seminggu ini Ia tidak mendengar kabar dari Putra, apa cowok itu baik-baik saja ? Tanya Daru dalam hati. Ia berharap masalahnya dengan Mas Ardhan cepat selesai. Walaupun baru mengenal mereka, Daru merasa sudah sangat dekat satu sama lain dengan sahabat-sahabat cowok yang Ia tumpangi rumahnya itu. Mengingat sosok Raka sendiri, tiba-tiba saja Daru merasa ada sesuatu yang aneh muncul di hatinya, seperti sebuah kehangatan, kebahagiaan, dan malu. Pasca kejadian minggu lalu, Raka menjadi semakin perhatian serta meningkatkan proteksinya pada Daru, kemanapun Daru hendak pergi, Raka selalu setia mengantarnya, bahkan saat Ia memasak sekalipun, tak jarang Raka ikut membantunya. Salah satu kejadian yang membuat Daru paling bahagia yaitu ketika Raka memeluk tubuhnya erat pada saat mereka menonton pertandingan Arsenal melawan Liverpool di ruang tengah. Hanya berdua. Raka tidak menjawab pertanyaannya, saat Daru bertanya mengapa Ia tidak memanggil para sahabatnya untuk ikut nonton bareng, bukannya kalau ada pertandingan bola, mereka tidak pernah melewatkan waktu untuk Nobar. Apalagi Mereka adalah pendukung Arsenal, kecuali Aro sih yang jelas-jelas mencintai Manchester United sama seperti Ia mencintai belantara hutan Kalimantan. Mau tidak mau Daru menjadi Ge-er sendiri, berharap kalau Raka sengaja tidak menghubungi mereka karena hanya ingin berduaan saja.
" Lo lagi jatuh cinta yah Ru ?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Alvin secara tiba-tiba membuat Daru hampir terjengkang dari kursinya.
" Kok kamu ngomong gitu Vin, Aku nda' sedang jatuh cinta.." elak Daru, Ia buru-buru mengalihkan pandangannya dari Alvin kembali ke kanvas agar sahabatnya itu tidak menyadari wajahnya yang mulai memerah.
" Lo tau gak, Lo itu cowok terpolos yang pernah gue kenal, hhhh..." Alvin menepuk-nepuk punggung Daru sembari tertawa geli hingga membuat cowok di sampingnya semakin salah tingkah.
" Memangnya kenapa kamu bilang Aku kayak lagi jatuh cinta Vin?" Daru memang malu tapi rasa malunya di kalahkan oleh rasa penasaran, mengapa sahabatnya bisa menyimpulkan seperti itu? Apa gelagatnya sangat mencurigakan? Tanya Daru panik di dalam hati.
" Hmm..let see, akhir-akhir ini Lo sering ngelamun, terus gak jarang loh yah gue liat lo senyam senyum sendiri kayak orang gila, emang siapa sih cewek beruntung yang Lo taksir ? bagi-bagi cerita ke gue doong ." Alvin sengaja memanja-manjakan suaranya agar Daru tergerak hatinya untuk bercerita.
" A...aku ndak tahu vin, Aku bingung." Jawaban yang keluar dari mulut Daru sama sekali bukan jawaban yang diinginkan Alvin, Ia sampai pusing apa yang membuat Daru bingung, padahal jelas sekali dari tingkahnya kalau anak itu sedang Fallin love with someone.
" Kenapa? Lo cerita aja. Gue janji bakal bantuin Lo kok Ru, apapun itu !" Senyum tulus Alvin, mau tidak mau membuat Daru sedikit tenang. Mungkin memang sudah waktunya Ia curhat tentang perasaan aneh yang di rasakannya beberapa hari terakhir ini terhadap Raka.
" Daru...Daru?!
" Aaakh...I...Iyya!!"
" Tuh kan ngelamun lagi, Lo kenapa sih?" Kali ini Alvin mendesak sahabatnya untuk ngomong, lama-lama Dia gemas juga sama tingkah Daru.
" Kayaknya Aku suka sama Mas Raka, Vin ." Bisik Daru pelan sekali tapi masih bisa ditangkap oleh pendengaran tajam Alvin.
" Aku bingung, beneran 'suka' seperti itu ke dia atau gimana, tapi berada disampingnya ngebuat Aku bahagia, malu, deg-degan juga, apa itu cinta?" Daru tidak bisa membaca ekspresi di wajah Alvin, cowok imut itu tiba-tiba saja diam seperti patung.
" woooow...gue gak tau mau ngomong apa, woooow...," Alvin masih sulit percaya jika yang membuat sahabatbya bertingkah seperti remaja wanita yang sedang jatuh cinta itu adalah seorang pria.
" Vin...gimana? Apa yang harus aku lakukan?" Daru mulai frustasi, Ia menunduk lesu sembari memainkan ujung kemejanya.
" Kalau lo beneran suka sama Mas Raka, Lo harus perjuangin cinta lo, gue janji bakal ngedukung Lo...okeey ! udah Lo tenang aja." Alvin merangkul pundak Daru yang sedikit bergetar.
" Ka...kamu nda' jijik ama aku toh? Cowok kok sukanya cowok." Suara Daru ikut bergetar, Ia melirik Alvin takut-takut, tapi rasa takutnya itu seketika menghilang saat melihat Alvin tersenyum lembut padanya.
" Ya...gak lah, kenapa mesti jijik. Perasaan cinta kamu itu suci Daru, cuma emang sih percintaan sesama jenis itu masih sulit untuk diterima. Tapi tenang aja, apapun yang terjadi, gue gak bakal ninggalin Lo." Alvin menegaskan kata-katanya yang terakhir agar Daru percaya bahwa dia sepenuhnya mendukung. Alvin memang imut, dia terlihat seperti anak kecil yang tak berdaya, namun sapa sangka, dibalik keimutannya, Alvin adalah cowok kuat, pemberani, juga pantang menyerah, apalagi jika berhubungan dengan orang-orang yang disayangnya. Ia akan rela berkorban demi orang itu.
Seperti biasa, Raka duduk diatas kap mobil Wranglernya dengan rokok ditangan sambil menunggu Daru pulang kuliah. Sejak Daru masuk kampus lagi, Raka tak pernah absen mengantar jemputnya. Hal itu bisa dilakukannya karena memang di semester-semester akhir, kuliah Raka tinggal beberapa, kebanyakan mata kuliah pilihan, jadi Raka bisa memilih untuk tidak masuk. Beberapa kali Daru sudah mencoba melarangnya untuk repot-repot menjemput, lagipula jarak dari IKJ ke rumah mereka sangat dekat, tapi Raka bersikeras sampai Ia benar-benar yakin Daru akan baik-baik saja. Raka sendiri tidak menyangka jika dirinya akan menjadi se-over protective itu pada Daru yang notabene hanya anak sahabat Ibunya yang kebetulan numpang di rumahnya. Sikapnya pada barisan para mantannya saja tak pernah ada yang membuat Raka sampai bersikap seperti itu. Daru benar-benar telah berhasil mengalihkan seluruh dunianya. Cjj...apa gue beneran jatuh cinta sama dia ya? Tanya Raka dalam hati.
" Ma...mas Raka maaf udah nunggu lama." Suara bening Daru membuyarkan lamunan Raka, Ia berbalik dan melihat anak itu menenteng kanvas Raksasa ditangannya. Tubuhnya yang kurus ramping membuatnya kesulitan membawa kanvas besar yang sepertinya cukup berat itu.
Dengan sigap, Raka meloncat turun dari mobilnya, membuang rokok yang sedari tadi menemaninya menunggu, dan mengambil kanvas dari tangan Daru.
" Besar banget kanvasnya, kamu ada proyek?" Mendengar pertanyaan Raka, Daru mengangguk bersemangat sembari tersenyum. Dan Senyuman manisnya itu nyaris membuat jantung Raka meloncat keluar tanpa sepengetahuanya.
" Mmh.. ya udah Lo naik duluan. Gue ngikat kanvas ini di belakang dulu .." Raka memutari mobilnya, membuka bagian belakang mobil lalu mengikat kanvas Daru agar tidak terjatuh di belakang sana. Jantung cowok itu masih berdetak gila-gilaan, Ia sampai khawatir tidak akan fokus membawa mobil dengan Daru yang manis duduk disampingnya.
" Mas Raka...sebenarnya ada yang mau Aku omongin." Kata-kata yang keluar dari mulut Daru, sontak membuat Raka menegang di kursi pengemudi. Apa gerangan yang mau di omongi Daru? Sepertinya serius banget. Dia gak mau nembak gue kan? Pikiran Raka mulai ngaco.
" Omongin apa ?" Raka bangga sekali akan dirinya yang bisa tetap cool disaat paling mendebarkan sekalipun. Mau di taruh dimana wajahnya jika Daru mendapati dirinya tegang bukan main.
" Mas Raka mau nda' jalan sama Aku?" Tanya Daru polos. Disampingnya Raka masih stay cool, padahal dia sudah tidak tahan lagi buat tersenyum.
" Maksud Lo? Lo mau ngajak gue kencan?" Raka melirik Daru sekilas, dan betapa terkejutnya Ia saat mendapati wajah anak itu merah merona. GOD? dia serius mau ngajak gue kencan? Mimpi apa gue semalam? pikiran-pikiran ngaco mulai menghantui benak Raka lagi.
" It..itu Mas, Aku ada tugas, katanya disuruh buat essay tentang karya-karya seni yang ada di museum-museum Jakarta. Kalau nda' keberatan, Aku pengen minta tolong Mas Raka buat anterin Aku." Jantung Daru berdegup kencang sekali. Apa dia terdengar seperti sedang mengajak seseorang untuk berkencan ? Waah... malu sekali rasanya.
" Of course, I will. Kalau gitu besok pagi aja kita perginya, mumpung weekend, gimana?"
" Iyya Mas, besok aja. Makasih banyak yah Mas!!" Seru Daru girang di kursinya. Ia tidak bisa menyembunyikan raut bahagia di wajahnya.
"Apa sih yang gak, buat Lo, Ru." Ujar Raka,
Dalam hati.
***
Pagi ini Daru tidak menyiapkan sarapan sesuai dengan perintah Raka, cowok itu mengatakan akan mengajaknya untuk makan pagi diluar sebelum melanjutkan perjalanan mereka keliling museum di Jakarta. Mereka berencana untuk berangkat pagi-pagi sekali agar tidak terkena macet, secara ini weekend dan bukan Jakarta namanya kalau tidak macet. Entah apa yang terjadi pada otak Daru, semenjak Ia membuka mata subuh tadi hingga tengah mempersiapkan barang-barang untuk di bawanya pergi, senyuman tak pernah luput dari wajahnya. Ia sangat bersemangat hari ini, Overexcited lebih tepatnya. Entah karena akhirnya bisa mengerjakan tugas essaynya yang cukup ribet ini atau karena Ia akan jalan berdua saja dengan sang pujaan hati. Apaa !! sang pujaan hati?!! Oh tidak...," Teriak Daru dalam hati, kontan Ia menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangan.
Tok...tok...tok
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Daru terlonjak kaget. Ia melirik ke arah jam di atas nakas yang telah menunjukkan pukul 07.30 a.m. "Astagaa!! Sudah jam segini!" Daru buru-buru membereskan note-notenya kemudian menyusunnya di dalam tas selempang kulit cokelat, hadiah ulang ke 17-nya dari sang Ibu. Sebelum membuka pintu, Daru memperbaiki penampilannya dulu di depan cermin, setelah dirasa cukup, barulah dengan jantung berdegup kencang, Ia membuka pintu kamar. Di ambang pintu, Raka telah berdiri menjulang karena tubuh jangkungnya. Cowok tampan itu mengenakkan kaos putih dibalut jaket army berwarna hitam, dengan kedua lengan di gulung ke atas. Untuk bawahannya, Raka memilih celana cargo berwarna cokelat tua, beserta sepatu Nike hitam sebagai alas kakinya. Daru sedikit menelan ludah melihat betapa tampannya pria yang kini berdiri di hadapannya. Tubuh Raka yang proporsional, dengan otot-otot keras dan eightpack yang tercetak sempurna dibalik kaus putih tipisnya mampu mempesona siapapun yang memandangnya, baik itu seorang pria sekalipun.
"Hei, udah siap?!" Tanya Raka lembut, ada sedikit kikikan yang lolos dari mulutnya saat mendapati mata Daru yang tidak berkedip menatapnya. Ternyata usahanya untuk membuat anak itu terpesona, berhasil. Tapi sebenarnya, bukan cuma Daru yang dibuat terpesona. Daru juga telah berhasil membuat darah Raka berdesir saat melihat penampilannya yang terbilang sexy untuk ukuran cowok. Entah anak itu menyadarinya atau tidak, tapi sweater merah maron dengan bahu lebar yang dikenakkannya tampak begitu menggoda bagi Raka. Bagaimana tidak, saking lebarnya, bahu Daru sampai terekspos sedikit. Mana tubuhnya kurus dan ramping begitu, bajunya jadi terlihat sangat kebesaran. Satu lagi dari penampilan Daru yang tak biasa, Ia mengenakkan skinny jeans dengan sedikit robekan di bagian lutut. Raka tidak menyangka Ia memiliki celana seperti itu. Selain pakaian yang dikenakkannya, rambut halus Daru yang mulai memanjang di bagian poni serta leher membuatnya tampak semakin cantik, manis, dan...
" Iyya...Aku sudah siap mas. Mau pergi sekarang?" Lamunan Raka buyar seketika saat mendengar suara merdu sang pujaan hati. Apaa?!! Pujaan hati? Oh...tidak, Daru lebih dari seorang pujaan hati! Dia malaikat hatiku." Ucap Raka dalam hati.
" Oke...ayo." tanpa sadar, Raka mengulurukan tangannya pada Daru, namun cowok itu tidak langsung meraihnya. Ia diam sebentar, seperti mencoba menyadarkan diri dari mimpi. Karena tidak tahan lagi menunggu Daru merespon, akhirnya Raka yang menarik tangan Daru, dan tak segan, Ia menautkan jari-jari besarnya pada jari-jari Daru yang jenjang. Rasanya sangat pas sekali. Lebih pas dari tangan wanita manapun yang pernah Ia genggam, meski Daru jelas bukan wanita.
Raka mengajak Daru ke Warung bubur ayam langganannya untuk sarapan pagi. Warung itu hanya buka pas weekend saja, Raka dan gengnya sering makan disitu sebelum mereka pergi bersepeda mengelilingi monas, karenanya sang pemilik warung juga sudah sangat akrab layaknya sahabat dengan mereka semua.
" Lo nunggu disana yah, gue pesan makanan dulu." Raka menunjuk ke arah dua kursi kosong tepat dibawah pohon, Daru tersenyum lembut sembari mengangguk patuh dan berlalu meninggalkan cowok yang sama sekali tidak melepas genggaman tangannya sejak turun dari mobil.
Ternyata, kedatangan Raka bersama Daru menarik perhatian sang pemilik warung. Tidak biasanya pelanggannya yang satu itu membawa seorang wanita ke warungnya, yang paling rajin melakukannya hanya duo Aro dan Ardhan.
" Cie...yang bawa pacar, tumben nih mas!" Goda Jaka, sang pemilik warung bubur yang usianya hanya terpaut dua tahun dari Raka.
" Belum Jak, masiih caloon...." timpal Raka. Ia sama sekali tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Tampaknya Jaka sama sekali tidak menyadari jika Daru seorang pria. Pagi ini, penampilan anak itu memang sedang tidak biasa. Raka akan sangat senang sekali, jika Daru sengaja berpenampilan semanis itu untuk 'kencan' mereka.
" Manis yah Mas, aku doain sukses deh. Lagian kalau cowoknya ganteng kayak Mas Raka gini, cewek-cewek pasti ndak bakalan nolak." Jaka kembali mengedipkan matanya. Raka hanya menggeleng-gelengkan kepala gemas melihat tingkahnya.
" Thanks yah Bro. Bdw, gue pesen 2 bubur ayam campur seperti biasa yah. Jangan lupa, kerupuknya banyakin ."
" Siip Mas Broo!!" Jaka mengacungkan kedua jempolnya, lalu kembali fokus menuang bubur pada berderet-deret mangkuk di atas meja kayu di hadapannya.
" Mas Raka sering makan disini yah, kayaknya akrab sekali dengan penjualnya ?" Tanya Daru penasaran, ketika Raka sudah duduk disampingnya dengan dua botol es teh di tangan.
" Iya...ini tempat langganan Gue sama anak-anak." Ucap Raka. Mata elangnya tak lepas menatap Daru. Ia suka sekali melihat lesung pipi yang muncul di wajah Daru saat anak itu tersenyum. Membuatnya tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. Daru sedikit terkejut, saat jari-jari besar Raka mengelus pipinya lembut, namun Ia sama sekali tidak mengelak. Daru menyukainya.
" Eehmm...maaf ganggu. Ini pesanannya Masa Raka~~," Jaka yang tiba-tiba muncul, membuat Raka terpaksa menarik tangannya. Kontan Ia menjadi salah tingkah karena sekarang Jaka mengedipkan mata genit untuk menggodanya. Di sebelahnya, Daru juga tidak kalah kikuk. Ia menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang merah merona. Saat itulah, tanpa sengaja Jaka memperhatikan Daru. Ia kaget bukan main, Daru tidak punya d**a dan ada jakun dilehernya. Ternyata Mas Raka gay!
" Jaka ?!"
" Akh..eh iya Mas. Silahkan dinikmati makanannya, saya kesana dulu." Raka jelas dapat melihat perubahan di wajah Jaka. "Ohh...Dia sudah sadar." Batin Raka dalam hati.
Ada keheningan sejenak saat mereka mulai menyantap makanan masing-masing. Merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut keduanya-pun berusaha mencairkan suasana.
" Mas Raka/Daru...," Ucap keduanya secara bersamaan. Mereka kaget, tapi tak lama kemudian tertawa geli.
" Lo mau ngomong apa?" Tanya Raka geli. Sontak Daru menggeleng pelan.
" Mas Raka duluan aja yang ngomong."
" Gak...Lo aja," Raka masih mengelak, namun Daru juga tak mau menyerah.
" Mas Raka saja duluan."
" Lo aja...," Daru tidak membalas lagi, dia terdiam sejenak. Melihatnya, Raka menghela nafas panjang, dan di waktu yang sama Daru juga menghela nafas.
" Daru/Mas Raka...." Yup, mereka kembali ngomong bersamaan.
" GOD !! Gue cuma mau nanya, Lo suka gak sama buburnya?" Raka mulai frustasi tapi Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa. Mereka berdua memang benar-benar konyol. Namun kekonyolan itulah yang membuat keadaan kini kembali menghangat.
" Aku suka kok Mas, buburnya enak. Lain kali kita makan disini lagi yaah.. ," Ujar Daru girang. Raka mengangguk pelan. Ia senang sekali melihat senyum manis Daru, seolah ada beribu-ribu bintang yang mengelilinginya. Oke...cukup, Raka mulai lebay.
Mereka menghabiskan sisa makanan dengan lahap, saking lahapnya, Raka tidak menyadari jika mulutnya sampai belepotan. Satu-satunya yang menyadari hal itu adalah Daru, dengan sigap Ia mengambil tisu di atas meja dan mengusap sekitar bibir Raka yang kotor. Aksi mesra mereka itu cukup menarik perhatian para pengunjung yang duduk di sekitar. Raka yang tampan bukan main serta Daru yang manisnya gak ketulungan, membuat orang-orang merasa iri dengan keserasian mereka.
" Makasih, Sayang." Bisik Raka lembut ditelinga Daru. Refleks Daru meninju lengan Raka lembut. Ia tahu cowok itu hanya bercanda, tapi candaannya itu berhasil membuat Daru serasa terbang ke awan.
Setelah selesai menyantap sarapan pagi, Mereka melanjutkan perjalan menuju ke Museum Seni Rupa dan Keramik yang terletak di kawasan kota tua Jakarta. Kawasan itu terkenal dengan pusat kebudayaan dan sejarahnya. Adapun Museum yang mereka berdua datangi itu memajang keramik lokal dari berbagai daerah di Tanah Air, dari era Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari berbagai negara di dunia. Daru tampak begitu excited saat mereka menjelajahi satu demi satu ruang pameran seni lukis. Ruang-ruang itu di bagi menjadi tujuh bagian sesuai dengan tahun diciptakannya berbagai karya. Misalnya, ruang pertama yang mereka masuki merupakan Ruang Masa Raden Saleh, dimana memajang karya-karya periode tahun 1880 - 1890. Sebenarnya Raka tidak terlalu paham akan seni lukis, tetapi disampingnya Daru berusaha menjelaskan layaknya kurator lukisan profesional, sehingga Ia bisa ikut menikmati karya-karya yang terpajang.
" Coba lihat goresan warna pudar di bagian wajah prajurit ini Mas, goresan itu muncul di tiap lukisan untuk menandakan usia. Terkadang para pelukis pemula menyepelekan hal tersebut, padahal hal remeh itu sebenarnya sangat penting." Papar Daru semangat. Saking semangatnya, Ia sampai tidak sadar terus menggandeng lengan Raka selama berkeliling.
" Mas Raka nda' bosankan nemenin Aku? Kalau Mas bosan, Mas Raka duduk aja disana, biar Aku yang keliling sendiri." Ujar Daru. Ia takut jika Raka merasa bosan menemaninya, karena memang, tidak semua orang suka berkeliling museum untuk melihat-lihat lukisan. Mendengar perkataan Daru, Raka menaikkan satu alisnya, seolah bertanya, " apa Daru bercanda?". Mana mungkin Ia mau melepaskan kesempatan jalan bareng Daru sedekat ini, dan melepaskan gandengan tangan mesranya ? No...way.
" Gue gak bosan kok...lagian gue masih mau dengerin lo menjelaskan tentang lukisan-lukisan ini. Wawasan Gue semakin terbuka lebar tentang kesenian." Sebenarnya, bukan lukisan-lukisan itu yang menarik perhatian Raka. Sejak tadi matanya hanya terfokus pada pria 'sexy' disampingnya. Menikmati bagaimana tangannya bergerak-gerak gemulai untuk menjabarkan sebuah bentuk, bibirnya yang ranum berkomat-kamit menjelaskan sesuatu yang Raka kurang paham, juga mata bulat cokelatnya yang berbinar takjub saat melihat karya-karya di easel. Semua hal yang ada pada diri Daru telah sukses membuat Raka terpesona. Mungkin dialah 'The One' yang selama ini dicari Raka dalam setiap wanita yang dikencaninya, namun sampai sekarang tak dapat ditemukannya.
Tidak terasa, 3 jam lebih telah mereka habiskan untuk mengelilingi seisi museum. Daru merasa sangat puas karena bisa mendapatkan begitu banyak referensi untuk karya-karyanya yang akan datang. Ia tidak menyangka jika tugas essay ini mampu memberi begitu banyak manfaat bagi dirinya. Terlebih lagi, Ia juga bisa menghabiskan waktu yang banyak bersama Raka. Daru sangat bersyukur.
Kedua sejoli itu pun melangkah keluar dari area museum. Raka mengajak Daru untuk beristirahat sejenak di bawah pohon rindang yang letaknya berseberangan dengan tempat yang mereka kunjungi tadi. Daru berjalan lebih dulu menuju ke kursi kayu di seberang sana, sementara Raka meminta izin untuk membeli minuman buat mereka berdua. Sesampainya di bangku, Daru me review kembali catatan-catatannya, siapa tahu saja masih ada hal yang kurang, mumpung mereka belum beranjak dari sini.
" Ru, ini minum dulu...," Raka mengusik keasikan Daru yang tengah sibuk membolak balik catatannya. Alhasil, cowok manis itu, menghentikan aktivitasnya sejenak dan tersenyum lembut sembari menerima minuman dingin yang diberikan Raka.
" Gimana? Udah lengkap bahan-bahan essay-nya?" Tanya Raka. Ia melirik sekilas pada note-note di pangkuan Daru.
" Iya udah. Aku nda' nyangka bisa dapat bahan sebanyak ini, Museumnya bener-bener lengkap."
" Yeah...soalnya kawasan ini salah satu pusat sejarah dan budaya, makanya gue bawa Lo kesini." Ujar Raka. Ia kembali menyesap minumannya sembari mengedarkan pandangan ke sekitar. Tiba-tiba saja, mata Raka terpaku pada pasangan muda-mudi yang sedang asik selfie bareng di salah satu bangku yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Dan entah mengapa, Raka merasa tidak ingin kalah dari pasangan itu. Kalau dipikir-pikir, Ia dan Daru belum sempat foto bersama padahal mereka sudah lumayan dekat akhir-akhir ini. Jadi, tidak ada salahnya kan jika Raka ingin mengabadikan foto mereka berdua pada 'kencan' pertama mereka ini.
" Daru...,"
" Iya mas?" Tanya Daru spontan, kemudian berbalik memandang Raka. Ia melihat cowok itu tengah mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.
" Foto bareng gue yah." Ucapan Raka terdengar lebih seperti perintah daripada permintaan, membuat Daru tidak punya pilihan lain selain mengiyakannya.
" Boleh, nanti Aku minta fotonya yah Mas !" Seru Daru riang.
Cowok manis itu mulai memasang gaya disebelah Raka, namun karena jaraknya yang terlalu jauh. Tanpa segan, Raka meraih pinggang Daru untuk mendekat. Kini tubuh mereka saling menempel, dengan tangan Raka yang melingkar protective di pinggang ramping Daru.
" Cheeese!!" Seru keduanya serempak. Tidak puas dengan satu foto, mereka mencoba gaya lain. Mulai dari peace, melet, manyun, sampai shoot yang membuat jantung Daru berdebar kencang. Raka meniup telinganya, dan tepat saat Ia berbalik, cowok itu mendaratkan kecupan dikeningnya, lalu..JPRET!! Satu foto romantis berhasil di abadikan Raka.
Wajah Daru tampak merah sekali setelahnya, menyadari hal itu, Raka lalu mengelus pipinya lembut dan membisikkan 'Thank You' di telinganya yang juga memerah...
To Be Continued...