“Drey... bangun!” seru Elvrince sambil menggoyangkan tubuh Dreyhan. “Ini masih pagi sekali El.” Jawab Dreyhan pelan dengan suara serak khas bangun tidur. “Astaga... berapa lama lagi? Kau tidak pergi ke kantor?” desah Elvrince frustasi. Sejak pagi Elvrince sudah berisik membangunkan Dreyhan yang malah asik bergelung dengan selimut. Ia sudah seperti ibu tiri yang kejam. Berkali-kali ia leluar masuk membangunkan tapi sedikitpun tidak ada tanda-tanda Dreyhan mau bangun. “Daripada kau kesal, baringlah disampingku. Di luar salju belum reda.” Ucap Dreyhan tanpa membuka mata. “Aku tidak kesal.” Elaknya. “Aaaaaaaa” Teriak Elvrince saat Dreyhan menarik tangannya dan membanting ke ranjang. Telinga Dreyhan sudah keriting mendengar teriakan lantang Elvrince yang mencoba membangunkan. Tak ingin

