Hawa panas yang sempat membakar kabin mobil sedan itu mendadak menguap, tergilas oleh sentakan fisik yang teramat tiba-tiba.
Di detik-detik paling kritis—saat bibir Jessica hampir menyentuh milik Regan dan pertahanan sang CEO berada di ambang kehancuran total—kesadaran rasional pria berusia 31 tahun itu bangkit secara mendadak. Kilatan akal sehat di dalam kepalanya menampar habis pengaruh alkohol yang sempat meracuni pikirannya. Regan memejamkan mata erat-erat, menghembuskan napas berat yang menderu kencang, lalu dengan satu gerakan bertenaga namun terukur, ia mencengkeram kedua bahu halus Jessica dan mendorong tubuh ramping gadis itu menjauuh dari pangkuannya.
Bruk!
Jessica terperanjat kaget saat tubuhnya terlempar kembali ke jok pengemudi. Ia terduduk dengan napas terengah-engah, menatap Regan denngan pandangan mata yang membelalak lebar bercampur rasa tak percaya.
Tanpa menguncapkan sepatah kata pun, Regan dengan gerakan cepat melepas sabuk pengamannya, mendorong pintu mobil hingga terbuka lebar, dan melangkah keluar menembus dinginnya guyuran hujan deras malam itu. Pria tegap itu melangkah lebar-lebar menuju pintu utama rumah megahnya, meninggalkan mobil dalam kondisi mesin yang masih mati.
Sebelum benar-benar melangkah masuk menembus pintu jati rumahnya, Regan menghentikan langkahnya sejenak. Tanpa membalikkan badan, suara baritonnya yang teramat dingin, tajam, dan sarat akan penekanan bergema membelah suara gemuruh hujan.
"Masuk ke rumah. Pakai kamar tamu di lantai bawah buat tidur malam ini," cetus Regan pendek dan datar. "Dan jangan berani-berani lo naik ke lantai dua kalau lo masih mau bangun besok pagi dalam keadaan bernapas."
Brak!
Pintu utama rumah mewah itu ditutup dengan sentakan keras, meninggalkan keheningan yang mencekam di area carport.
Di dalam mobil, Jessica terpaku mematung selama beberapa detik. Seluruh persendian di tubuhnya serasa meloloskan tenaga secara instan. Wajahnya yang semula merona merah akibat gairah kini memerah padam akibat luapan emosi, malu, dan kekecewaan yang amat sangat membuncah di dalam d**a.
"Sialan! Sialan! Sialan!" pekik Jessica histeris seraya memukul roda kemudi mobil dengan kedua telapak tangannya bertubi-tubi.
Puk! Puk! Puk!
"Regan Anggara b******k! Cowok sialan! Batu karang b******k!" teriaknya lagi, tidak memedulikan jika suaranya teredam oleh dentuman hujan di luar.
Jessica melangkah keluar dari mobil dengan menghentak-hentakkan kakinya keras-keras ke lantai pualam pelataran. Rambut dan baju sutra tipisnya sempat terkena cipratan air hujan, menambah kesan kacau pada penampilannya. Rasa jengkel yang membakar d**a benar-benar membuat kepalanya terasa ingin meledak. Sungguh rasanya tak masuk akal! Ia sudah melakukan segalanya—memanjat ke pangkuan pria itu di dalam mobil yang sepi, menawarkan tubuhnya secara cuma-cuma, bahkan sampai memohon-mohon dengan nada paling pasrah yang pernah meluncur dari mulutnya sepanjang hidup.
Namun hasilnya? Kembali gagal total! Regan Anggara kembali membuktikan bahwa benteng pertahanannya terbuat dari baja berlapis granit yang tak mempan diguncang oleh godaan bentuk apa pun.
"Kembali gagal... Aku gagal lagi!" rutuk Jessica seraya meremas jemarinya kuat-kuat sampai kukunya memutih saat berjalan melintasi lorong rumah menuju kamar tamu. "Kenapa susah banget sih?! Apa di otaknya cuma ada urusan saham sama bisnis doang?! Dasar pria tidak normal!"
Dengan wajah yang ditekuk habis-habisan, Jessica membanting pintu kamar tamu lantai bawah dan menguncinya dari dalam. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk berukuran king size, menanamkan wajahnya ke dalam bantal tebal, lalu berteriak sekuat tenaga meluapkan seluruh kekesalan yang mengganjal di tenggorokannya.
---
Malam berlalu dengan sangat lambat bagi Jessica. Rasa gelisah, gengsi yang terluka, dan bayangan pesan-pesan ejekan dari Fani serta teman-temannya terus bermunculan di benaknya, membuat gadis itu baru bisa memejamkan mata menjelang subuh.
Ketika matahari pagi mulai memancarkan sinarnya menembus gorden kamar tamu, Jessica terbangun dengan kondisi tubuh yang pegal-pegal dan kepala yang sedikit berat. Ia bergegas mandi di kamar mandi dalam, merapikan bajunya seadanya, dan melangkah keluar kamar dengan tekad untuk segera angkat kaki sebelum berhadapan lagi dengan muka dingin sang bos.
Namun, saat ia melangkah melintasi area dapur bersih di lantai bawah, langkah kakinya terhenti secara mendadak.
Di balik meja bar dapur yang terbuat dari marmer hitam, berdiri Regan. Pria berusia 31 tahun itu sudah tampil sangat rapi dalam balutan kemeja abu-abu terang yang lengannya tergulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan otot lengannya yang kokoh. Pria itu tampak tenang, sedang menuangkan air panas ke dalam cangkir kopi seraya membaca koran bisnis pagi. Seolah-olah kejadian dramatis di dalam mobil semalam tidak pernah terjadi sama sekali dalam hidupnya.
Sikap kelewat santai dan acuh tak acuh dari Regan itu seketika menyiramkan bensin ke dalam sisa-sisa emosi Jessica yang belum sepenuhnya padam.
Jessica mengepalkan tangannya, membusungkan d**a, lalu melangkah lebar-lebar mendekati meja bar dapur dengan raut wajah penuh tantangan.
"Selamat pagi, Pak Regan yang terhormat!" sapa Jessica dengan suara yang sengaja diketuskannya seraya menyilangkan tangan di bawah d**a.
Regan tidak langsung mendongak. Ia menyesap kopinya perlahan, meletakkan cangkir itu kembali ke atas tatakan, lalu secara lambat mengangkat pandangan matanya menatap Jessica. Tatapan iris mata gelap itu tetap sama seperti biasa: lurus, tajam, dan sangat dingin.
"Gue kira lo udah pulang dari tadi," ujar Regan datar dengan suara baritonnya yang berat.
"Gimana mau pulang kalau pemilik rumahnya bahkan gak sudi nyediain ongkos atau nanya sekretarisnya selamat atau enggak setelah hujan-hujanan semalam?" balas Jessica sinis, melemparkan sindiran tajam.
Regan menyandarkan punggungnya pada kursi bar, menatap Jessica dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang tenang. "Kondisi lo kelihatan utuh dan sehat walafiat. Artinya lo gak kenapa-kenapa. Dan soal kejadian semalam..." Regan sengaja menggantungkan kalimatnya, menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis dan terkesan mengejek. "...gue harap lo udah sadar kalau semua aksi konyol lo di dalam mobil itu sama sekali gak berpengaruh buat gue."
Kalimat itu menampar telak ego Jessica. Wajahnya seketika merona merah padam menahan malu dan amarah yang kembali meluap.
"Mas Regan mikir aku bakal menyerah gitu aja?!" seru Jessica dengan nada suara tinggi, tak memedulikan lagi batas antara sekretaris dan atasan di dalam rumah pribadi pria itu. Ia mengambil satu langkah maju, menunjuk d**a bidang Regan dengan jari telunjuknya.
"Satu kali gagal, dua kali gagal, itu gak bakal bikin aku mundur!" tegas Jessica lantang dengan mata yang menyala-nyala. "Mas Regan boleh pura-pura sok suci dan sok kuat hari ini! Tapi ingat kata-kata aku, sebulan dari sekarang belum berakhir! Aku bakal terus datang, aku bakal terus ngejar kamu, dan aku bakal bikin kamu sendiri yang memohon-mohon di depan muka aku buat tidur bareng!"
Mendengar luapan emosi dan kepedean tingkat tinggi dari gadis berusia 23 tahun itu, Regan bukannya marah, melainkan melayangkan tawa kecil yang sangat sinis dari tenggorokannya.
"Ocehan lo terlalu tinggi untuk ukuran cewek yang semalam hampir nangis gara-gara ditolak di dalam mobil," balas Regan pedas tanpa keraguan sedikit pun. Pria itu berdiri dari duduknya, merapikan kemejanya, lalu mengambil kunci mobil dari atas meja.
"Cepat merapikan diri," perintah Regan dingin seraya melangkah melewati Jessica begitu saja. "Sepuluh menit lagi kita berangkat ke kantor. Kalau lo terlambat satu detik aja ke dalam mobil, lo jalan kaki sendiri ke lantai empat puluh lima."
Jessica memutar tubuhnya dengan sentakan keras, menatap punggung tegap Regan yang melangkah menjauh menuju garasi. Napasnya menderu cepaat, dadanya naik turun meluapkan kegusaran yang tak tertampung lagi.
"Lihat aja nanti, Regan Anggara!" teriak Jessica ke arah lorong dengan gemas. "Kita lihat siapa yang bakal berlutut duluan!"
---
Hari berikutnya di Anggara Corp berubah menjadi medan perang dingin yang sarat akan ketegangan emosional. Jessica secara konsisten melancarkan berbagai variasi strategi baru untuk mengusik ketenangan sang bos besar. Mulai dari sengaja "terpeleset" dan jatuh ke pelukan Regan saat membawa tumpukan dokumen tebal di lorong kantor, menyemprotkan parfum aroma vanila secara berkala di ruang kerja sang CEO, hingga secara sengaja memesan makanan makan siang yang sama dengan Regan agar bisa menyelinap masuk dan makan bersama di ruang kerja pria itu.
Nammun, Regan tetaplah Regan. Pria matang itu menanggapinya dengan benteng profesionalitas yang amat kokoh. Setiap kali Jessica melancarkan godaan fisiknya, Regan selalu punya cara dingin untuk mematahkan aksi tersebut—mulai dari memberikan tumpukan revisi laporan ekstra keras, mengancam memotong insentif bulanan, hingga menyuruh Jessica berdiri di pojok ruangan membaca peraturan perusahaan tentang etika kerja.
Meski begitu, di balik pertahanan kokoh Regan, Jessica yang memiliki ketelitian tinggi mulai menangkap perubahan-perubahan kecil yang teramat tipis pada diri sang CEO.
Regan kini jauh lebih sering melonggarkan dasinya saat Jessica berada di dalam ruangan. Tatapan mata pria itu sering kali tertangkap basah sedang mengawasi pergerakan Jessica lebih lama dari biasanya sebelum dengan cepat dialihkan kembali ke layar monitor. Dan yang paling terlihat jelas: setiap kali ada pria lain—seperti manajer keuangan muda dari divisi lain atau tamu klien tampan—yang mencoba mengajak Jessica mengobrol dan bercanda di depan kubikel sekretaris, aura di sekitar Regan akan mendadak berubah menjadi teramat gelap dan menakutkan. Pria itu akan keluar dari ruangannya dengan alasan formal yang terkesan dicari-cari hanya untuk memutus obrolan tersebut.
"Mas Regan cemburu... Pria batu ini sebenarnya mulai terpengaruh!" gumam Jessica girang di dalam hatinya setiap kali melihat momen-momen langka tersebut.
Kesempatan besar yang ditunggu-tunggu Jessica akhirnya tiba pada minggu keempat masa kerjanya—tepat tiga hari sebelum batas waktu sebulan dari taruhan konyolnya berakhir.
Anggara Corp mengadakan acara syukuran dan pesta perayaan tahunan atas keberhasilan akuisisi proyek properti terbesar mereka tahun ini. Pesta mewah tersebut digelar di ballroom hotel bintang lima ternama di pusat kota, dihadiri oleh ratusan relasi bisnis, jajaran direksi, serta seluruh staf penting perusahaan.
Malam itu, Jessica tampil luar biasa memukau. Demi membakar sisa pertahanan Regan dan memberikan pukulan mematikan, Jessica menguras seluruh sisa uang simpanannya untuk menyewa sebuah haute couture evening gown berwarna zamrud gelap. Gaun malam tersebut terbuat dari bahan sutra mewah yang memeluk sempurna setiap lekuk pinggul dan dadanya, memiliki belahan tinggi di bagian paha kiri yang memamerkan kaki mulusnya setiap kali melangkah, serta potongan punggung terbuka (backless) yang memperlihatkan kulit punggungnya yang mulus tanpa cela.
Rambut panjangnya ditata bergelombang anggun di satu sisi bahu, dan gincu berwarna merah maroon melengkapi kecantikan wajahnya yang memikat.
Begitu Jessica melangkah memasuki ballroom hotel yang megah, hampir seluruh pasang mata tamu undangan teralih padanya. Bisik-bisik pujian melayang di udara, mengagumi pesona sang sekretaris eksekutif yang malam itu menjelma bagaikan seorang dewi atau bintang film terkenal.
Namun, mata Jessica hanya berburu satu sosok: Regan Anggara.
Di pusat ruangan, berdiri Regan yang tampak teramat gagah dan maskulin dalam balutan setelan jas tuxedo hitam buatan penjahit ternama Italia. Pria itu sedang dikerumuni oleh beberapa petinggi perusahaan dan investor asing.
Saat Jessica melangkah mendekati area VIP, Regan secara tidak sengaja memalingkan wajahnya ke arah pintu masuk.
Seketika itu juga, langkah kaki sang CEO terhenti total. Gelapnya iris mata Regan membelalak lebar, mengunci penuh pada sosok Jessica yang berjalan anggun menuju ke arahnya. Untuk pertama kalinya sepanjang satu bulan ini, cangkir minuman di tangan Regan sampai sedikit berguncang, memperlihatkan ketakjuban dan keterkejutan fisik yang teramat dahsyat pada diri sang pria matang.
Regan memalingkan wajahnya sejenak, meneguk minuman keras di gelasnya hingga kandas dalam satu tegukan besar, mencoba meredakan desiran panas yang mendadak meledak hebat di dalam dadanya.
Jessica menyunggingkan senyum kemenangan paling menawan di bibirnya. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi berdesing halus di atas karpet ballroom, makin memangkas jarak di antara mereka.
"Selamat malam, Pak Regan..." sapa Jessica dengan suara sehalus sutra saat tiba di hadapan sang bos besar.
Regan menatap punggung terbuka dan belahan paha gaun Jessica dengan pandangan mata yang mendadak berubah menjadi sangat pekat, dalam, dan penuh dengan aura kepemilikan yang amat berbahaya.
Pria itu mendekatkan tubuhnya sedikit ke arah Jessica, lalu berbisik dengan suara baritonnya yang sangat rendah dan serak di dekat telinga sang sekretaris, "Siapa yang mengizinkan lo pakai baju serendah dan seterbalik ini di depan umum, Jessica?"
Jessica terkekeh renyah, merasakan hembusan napas hangat Regan yang membakar kulit lehernya. Ia mendongak, menatap mata tajam sang CEO dengan keberanian nekat yang sudah mencappai puncaknya.
"Pakaian ini khusus saya pakai buat Bapak..." bisik Jessica penuh nada godaan yang memabukkan. "Dan malam ini... batas waktu sebulan kita berakhir, Pak Regan. Masih yakin Bapak bisa tahan dari saya?”