Bab 08

2249 Words
Tubuh Jessica terhempas keras ke atas kasur busa tipis di kamar kosnya yang pengap. Bunyi berdecit nyaring dari rangka ranjang besi menyambut luapan emosi gadis itu yang sudah berada di ambang batas. Dengan wajah yang merona merah padam menahan gusar, Jessica menendang-nendang udara secara brutal menggunakan kedua kakinya. Sepatu hak tinggi yang masih melekat di kakinya terlempar acak, membentur pintu lemari plastik hingga menimbulkan suara dentuman nyaring. "Sialan! Sialan! Sialan! Regan Anggara brengseek!" teriak Jessica histeris seraya memukulkan bantal busanya bertubi-tubi ke atas kasur. Napasnya menderu cepat, dadanya naik turun dengan frekuensi yang tak teratur. Rasa kesal yang membakar dadanya malam ini benar-benar seribu kali lipat lebih menyiksa daripada hari-hari sebelumnya. Sungguh amat menyebalkan! Ia sudah menurunkan seluruh standar harga dirinya, mengacuhkan rasa malu, bahkan sampai nekat memborong pakaian-pakaian paling ketat dan seksi yang memeluk lekat setiap lekuk tubuhnya demi memancing gairah pria itu di kantor. Setiap jengkal strategi godaan sudah ia lancarkan—mulai dari bisikan manja di telinga, sentuhan fisik yang disengaja, hingga membiarkan lekuk dadanya terpampang di depan mata Regan. Namun, hasilnya? Nihil besar! Lelaki sialan berdarah dingin itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berlutut atau kehilangan akal sehatnya. Regan justru menatapnya dengan pandangan malas yang merendahkan, menyebut usahanya sebagai "pilihan busana murahan", dan malah mengancam akan memotong gajinya sebesar lima puluh persen jika ia berani mengulangi aksinya besok. "Kenapa sih dia susah banget dijangkau?!" gerutu Jessica seraya mengacak-acak rambut panjangnya yang mulai kusut. Ia berguling ke samping, menatap nanar dinding kosannya yang bernoda lembap. "Aku kurang seksi apa coba? Muka oke, kulit mulus, bodi juga berbentuk! Kenapa cowok modelan Regan malah bersikap kayak batu candi begitu?!" Belum sempat emosinya mereda, suara denting notifikasi dari ponsel pintarnya yang tergeletak di samping bantal berbunyi bertubi-tubi tanpa henti. Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan rentetan pesan masuk yang mengalir deras di grup percakapan w******p miliknya bersama lingkar pertemanannya. Jessica meraih ponsel itu dengan malas, namun begitu membaca nama pengirim dan potongan kalimat yang tertera di layar terkunci, jantungnya serasa berhenti berdetak seketika. Itu adalah pesan dari Fani dan teman-teman tongkrongannya yang lain. Fani: “Guys, kabar terbaru dari si perawan abadi kita! Hahaha! Tadi siang gue ketemu dia di lorong kosan, mukanya ditekuk kayak baju belum disetrika. Kayaknya misi nekatnya gagal total lagi deh!” Siska: “Serius lo, Fan? Anjir, kasihan banget si Jessica! Padahal waktu di kelab malam kemarin gaya bicaranya kayak cewek paling menawan sedunia.” Fani: “Halah, cuma gaya doang yang gede! Faktanya mah nol besar! Mana ada cowok yang mau tidur sama cewek se-kaku dan se-membosankan dia. Kalau sampai sekarang masih utuh juga, itu bukan karena dia menjaga kehormatan, tapi emang karena dia JELEK dan GAK SEKSI! Makanya cowok-cowok pada mual duluan sebelum mendekat! Wkwkwk!” Nadia: “Aduh, kasihan banget Jessica. Umur udah dua puluh tiga tapi masih belum laku juga di ranjang. Udah fix sih, dia bakal jadi perawan tua yang ditinggal nikah sama semua orang! Hahaha!” Stiker-stiker ejekan bercampur GIF tertawa terpingkal-pingkal membanjiri grup tersebut secara bertubi-tubi. Setiap ketikan kalimat yang tertera di layar bagaikan sembilu tajam yang mengoyak-oyak harga diri Jessica tanpa ampun. Air mata panas akibat rasa malu, marah, dan gengsi yang terluka mulai merebak menggenang di sudut matanya yang memerah. "Setan kalian semua!" pekik Jessica seraya mencengkeram ponselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa terhina itu membakar habis sisa-sisa kesabarannya. Kata-kata "jelek", "tidak seksi", dan "tidak laku" bergaung nyaring di dalam tempurung kepalanya, menciptakan kepanikan emosional byang amat dahsyat. Bagi lingkungan sosialnya yang serba dangkal dan bebas, label-label tersebut adalah sebuah hukuman sosial yang teramat kejam. Jessica tidak sudi dijadikan bahan tertawaan selamanya oleh Fani dan teman-temannya. Ia tidak sudi dianggap sebagai cewek menyedihkan yang tak mampu memikat seorang pria pun. "Aku gak jelek! Aku seksi!" teriak Jessica pada ruangan kosong di kamarnya. Ia langsung bangkit berdiri dari kasur, melangkah lebar menghampiri cermin berdiri yang menyender di sudut kamar. Jessica menatap pantulan dirinya sendiri di balik kaca. Ia mengusap air mata yang sempat menetes di pipinya, lalu meraba lekuk pinggangnya di balik gaun merah ketat yang masih melekat di tubuhnya. Di dalam cermin, ia melihat seorang gadis muda berparas jelita dengan kulit putih bersih, bibir ranum, dan bentuk tubuh yang sangat proporsional. Tidak ada yang salah dengan fisiknya. Satu-satunya masalah hanyalah Regan Anggara—pria arogan berjiwa batu yang membentengi dirinya terlalu rapat! "Lihat aja nanti, Fani... Siska... Nadia..." bisik Jessica dengan suara bergetar namun dipenuhi dendam dan tekad yang kian pekat. "Kalian mikir aku gak seksi? Kalian mikir aku gak bakal laku? Aku bakal buktikan kalau aku bisa bikin pria paling mahal dan paling sulit ditaklukkan di kota ini berlutut di bawah kakiku!" --- Dua hari berikutnya di kantor pusat Anggara Corp berlalu dengan atmosfer yang terasa amat berbeda. Jessica sengaja mengubah pendekatannya secara drastis. Ia tidak lagi memakai pakaian yang terlalu mencolok atau melancarkan godaan-godaan murah seperti hari-hari sebelumnya. Sesuai ancaman Regan, Jessica kembali mengenakan kemeja dan rok kerja yang rapi serta sopan, bertingkah sangat profesional sebagai seorang sekretaris eksekutif yang cekatan. Namun, di balik kepatuhan semuanya itu, otak Jessica bekerja ekstra keras menyusun rencana baru yang jauh lebih matang, rapi, dan tak terelakkan. Ia menyadari satu hal penting: menggoda Regan di lingkungan kantor yang terang benderang dan penuh dengan batas profesionalitas tidak akan pernah berhasil. Pria seperti Regan memiliki kontrol diri yang teramat kuat saat berada di area kekuasaannya. Jika ingin meruntuhkan benteng pertahanan pria itu, ia harus membawa Regan ke situasi yang serba canggung, pribadi, dan berada di luar jangkauan kontrol resminya. Kesempatan emas itu akhirnya datang pada Jumat malam. Dari berkas jadwal perjalanan dinas yang disusun oleh divisi operasional, Jessica mengetahui bahwa Regan memiliki agenda rapat makan malam penting dengan salah satu investor utama dari Singapura di sebuah restoran mewah yang terletak di kawasan pusat kota. Rapat tersebut dijadwalkan selesai pada pukul sembilan malam. Sebagai sekretaris pribadi, Jessica secara cerdik menyisipkan namanya ke dalam daftar staf pendamping yang bertugas membawa dokumen-dokumen kontrak cadangan. Malam itu, hujan deras mengguyur ibu kota dengan sangat lebat. Suara gemuruh petir sesekali bersahut-sahutan membelah kegelapan malam. Di dalam ruang privat restoran mewah berarsitektur klasik tersebut, rapat penting antara Regan dan sang investor berlangsung dengan sangat lancar. Penandatanganan kerja sama bernilai ratusan miliar rupiah berhasil dituntaskan tanpa hambatan sedikit pun. Sebagai bagian dari perayaan kesepakatan bisnis tersebut, beberapa botol minuman beralkohol kelas atas disajikan di atas meja. Regan, sebagai tuan rumah yang menghormati tamunya, meminum beberapa gelas wine bernilai mahal sepanjang acara berlangsung. Jessica yang duduk di sudut ruangan terpisah sebagai sekretaris memperhatikan setiap gerak-gerik sang bos dengan cermat. Meskipun Regan memiliki toleransi alkohol yang cukup tinggi dan tidak terlihat mabuk parah, Jessica bisa melihat bahwa tatapan mata pria itu mulai sedikit sayu dan rona hangat menjalar di sekitar rahang serta leher tegapnya. Pria itu jelas berada dalam pengaruh alkohol yang mulai melemaskan syaraf-syaraf ketat di tubuhnya. Pukul sepuluh malam, acara makan malam resmi berakhir. Sang investor Singapura pamit pulang terlebih dahulu bersama pengawalnya. Di pelataran depan restoran yang sepi dan terlindung dari siraman hujan, mobil sedan mewah milik Regan sudah terparkir rapi. Namun, supir pribadi Regan tiba-tiba menghampiri sang CEO dengan raut wajah panik dan penuh rasa bersalah. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Regan," tutur sang supir seraya menundukkan kepala dalam-dalam. "Istri saya mendadak menelepon dari rumah sakit. Pendarahannya kumat dan harus segera dioperasi malam ini juga, Pak. Saya... saya mohon izin untuk langsung pulang sekarang." Regan yang sedang memegangi pelipisnya yang sedikit berdenyut mengangguk pelan. Sebagai atasan, ia tidak pernah mempersulit urusan darurat kemanusiaan bawahannya. "Iya, kamu pulang saja sekarang. Naik taksi online biar cepat. Urusan mobil biar saya yang atur," ujar Regan dengan suara baritonnya yang sedikit lebih berat dari biasanya. "Terima kasih banyak, Pak Regan! Terima kasih!" seru sang supir seraya bergegas pergi meninggalkan area restoran. Regan menghembuskan napas panjang, bersandar pada pilar batu restoran seraya memejamkan mata sejenak. Efek alkohol bercampur rasa lelah setelah seharian bekerja membuat kepalanya terasa agak pening. Pria itu meraih ponsel di saku jasnya, berniat memesan layanan supir pengganti. Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh layar, sebuah tangan halus yang hangat mendadak hinggap di atas punggung tangannya, menahan pergerakan ponsel tersebut. Regan perlahan membuka mata dan menoleh. Di sampingnya, berdiri Jessica yang sudah melepas blazer kerjanya. Gadis itu kini hanya mengenakan atasan bahan sutra berwarna krem tipis tanpa lengan yang melekat pas di tubuhnya, dipadu dengan rok spans yang menonjolkan bentuk pinggulnya. Senyuman paling memikat dan penuh maksud terpatri indah di wajah cantiknya. "Gak usah pesan supir lain, Pak Regan," bisik Jessica dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat selembut beludru. "Kan ada saya. Biar saya aja yang setir mobilnya dan antar Bapak pulang sampai ke rumah." Regan menyipitkan matanya yang agak kemerahan, menatap Jessica dengan pandangan menilai yang sarat akan kecurigaan. "Lo? Lo bisa bawa mobil sejauh ini dalam kondisi hujan deras?" "Bisa dong, Mas..." jawab Jessica penuh percaya diri seraya mengambil alih kunci mobil dari jemari Regan secara perlahan. Tangannya sengaja mengusap telapak tangan pria itu dengan gerakan lembut yang memancing desiran halus. "Masa sama sekretaris sendiri gak percaya? Lagipula, Mas Regan kelihatan capek dan pusing banget. Biar aku yang mengurus Mas malam ini." Regan menghembuskan napas kasar. Efek alkohol yang membakar lambung dan kepalanya membuat pria itu malas untuk berdebat panjang lebar. Lagi pula, kondisi hujan lebat malam ini memang akan menyulitkan supir pengganti untuk datang tepat waktu. "Ya sudah," cetus Regan singkat dan datar seraya melangkah menuju pintu penumpang depan. "Antar gue langsung pulang ke rumah. Jangan aneh-aneh." "Siap, Bos Besar," jawab Jessica seraya tersenyum manis, walau di dalam hatinya sebuah sorakan kemenangan sudah bergemuruh hebat. --- Perjalanan menembus hujan deras di dalam mobil sedan mewah itu terasa begitu hening dan intens. Jessica mengemudikan kendaraan dengan kecepatan sedang, melintasi jalanan ibu kota yang mulai lengang. Di sampingnya, Regan menyandarkan kepala pada sandaran jok kulit, memejamkan mata seraya melonggarkan ikatan dasinya dan membuka dua kancing teratas kemeja putihnya. Dada tegap pria itu naik turun dengan teratur, memperlihatkan sedikit kulit dadanya yang bidang dan berotot. Aroma campuran parfum kayu cendana dan aroma wine yang mahal menguar kuat di dalam kabin mobil yang tertutup rapat, menciptakan atmosfer yang teramat intim dan memabukkan. Jessica sesekali melirik ke arah samping kanan. Setiap kali matanya menangkap raut wajah Regan yang tertidur lelah dengan ketampanan yang begitu matang, desiran gairah di dalam dadanya makin tak terkendali. Pria di sampingnya ini adalah mahakarya sempurna yang harus ia miliki malam ini juga. Ini adalah momentum terbaik yang disediakan oleh takdir. Tidak ada orang lain, tidak ada gangguan kantor, hanya ada mereka berdua di tengah malam yang dingin dan diguyur hujan deras. Empat puluh menit kemudian, mobil sedan itu perlahan memasuki pelataran rumah megah milik Regan. Gerbang otomatis terbuka dan tertutup rapat kembali, mengunci mereka berdua di dalam area pribadi sang CEO. Jessica mematikan mesin mobil. Suasana di dalam kabin seketika menjadi sangat hening, hanya diselingi oleh suara dentuman air hujan yang membentur atap kendaraan secara konstan. Jessica menoleh penuh ke arah Regan. Pria itu bergerak sedikit, perlahan membuka matanya yang agak sayu dan menatap sekeliling. "Udah sampai?" gumam Regan dengan suara bariton yang teramat serak khas bangun tidur. "Udah, Mas Regan..." jawab Jessica pelan. Bukannya segera membukakan pintu atau keluar dari mobil, Jessica justru melepas sabuk pengamannya sendiri. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Jessica memutar tubuhnya di atas jok pengemudi, lalu merayap perlahan mendekati posisi Regan. Sebelum sang CEO sempat menyadari apa yang sedang terjadi, Jessica sudah memindahkan kedua kakinya dan memanjat duduk tegak di atas pangkuan tegap Regan! Bruk! Regan terperanjat kaget, matanya membelalak lebar saat merasakan bobot tubuh ramping dan pinggul halus Jessica menduduki paha dan pangkuannya secara langsung di dalam ruang kabin yang sempit. "Jessica! Apa-apaan lo—" Sebelum Regan sempat menyelesaikan kalimat bentakannya, Jessica dengan gerakan nekat dan berani langsung menangkup kedua pipi tegas pria itu dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Gadis berusia 23 tahun itu menundukkan wajahnya, menatap lurus ke dalam iris mata Regan dengan pandangan yang teramat pasrah, berhasrat, dan sarat akan emosi yang membara. "Mas Regan... tolong dengarin aku sekali ini aja," potong Jessica dengan suara bergetar namun dipenuhi nada desahan yang teramat mendalam. Jarak di antara wajah mereka kini hanya tersisa dua sentimeter saja. Napas hangat Jessica yang beraroma vanila menyapu langsung bibir tebal Regan, membuat pria itu membeku di tempatnya. "Aku tahu Mas Regan ngira aku ini cewek murahan... aku tahu Mas ngira aku cuma main-main dan gila," bisik Jessica seraya mengelus rahang tegas pria itu dengan ibu jarinya. Air mata tipis akibat tumpukan emosi dan ejekan teman-temannya selama ini mendadak menggenang di pelupuk matanya. "Tapi aku gak peduli lagi... Aku capek diejek, aku capek dianggap gak seksi dan gak laku sama semua orang... Dan dari sekian banyak cowok di dunia ini, cuma Mas Regan yang aku mau!" Regan merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Pengaruh alkohol di dalam darahnya bercampur dengan sentuhan fisik yang begitu dekat dan intim dari gadis di pangkuannya ini benar-benar mulai mengikis benteng pertahanan dingin yang selama ini ia bangun kokoh. Jessica mendekatkan bibirnya lebih rapat, hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan seraya berbisik tepat di depan bibir Regan. "Malam ini... hujan lebat di luar, dan gak ada siapa-siapa di sini..." desah Jessica penuh kegilaan nekat yang amat dalam. "Jadikan aku milik Mas Regan malam ini... Ambil keperawanan aku, Mas... Tolong, jangan usir aku lagi..." Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah pertemuan mereka, Regan tidak langsung mendorong Jessica menjauh. Pria berusia 31 tahun itu menatap lekat bibir ranum dan mata berbinar gadis di atas pangkuannya dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat pekat, gelap, dan sarat akan gairah pria dewasa yang akhirnya terbangun dari tidurnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD