Tantangan dari Regan malam itu bukannya memadamkan keberanian Jessica, melainkan menyiramkan bensin ke dalam api ambisinya yang sudah membara. Pernyataan sang CEO bahwa ia harus berusaha "sejuta kali lebih keras" terus berputar-putar di kepalanya bagaikan mantra penyerang. Di mata Jessica, Regan tidak sepenuhnya menolak; pria itu hanya sedang memasang benteng pertahanan tinggi yang siap dirobohkan dengan strategi yang tepat.
Hari berikutnya, Jessica memutuskan untuk mengubah total taktik dan penampilannya di kantor. Pakaian kerja formal yang terkesan aman dan kaku ia singkirkan rapat-rapat. Sebagai gantinya, Jessica mendatangi pusat perbelanjaan dan merogoh jtabungannya demi membeli deretan busana kerja baru yang jauh lebih berani, pas di tubuh, dan menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang molek.
Pagi itu, suasana di lantai 45 Anggara Corp mendadak gempar pelan. Para karyawan yang melintas di depan kubikel sekretaris tak bisa menahan pandangan mereka saat melihat penampilan baru Jessica. Gadis berusia 23 tahun itu mengenakan gaun terusan bahan rajut tipis berwarna merah marun yang membungkus ketat tubuhnya dari d**a hingga sebatas lutut. Potongan dadanya berbentuk sweetheart neckline yang agak rendah, memperlihatkan jenjang lehernya yang mulus serta tulang selangka yang menawan. Setiap kali ia melangkah dengan sepatu hak tinggi delapan sentimeter, siluet pinggul dan pinggangnya yang ramping bergerak begitu gemulai dan memikat perhatian siapa saja.
Jessica merapikan riasan wajahnya di cermin kecil, memoleskan gincu berwarna merah menyala yang senada dengan gaunnya, lalu menyemprotkan parfum vanila bercampur aroma mawar yang manis dan menggoda.
"Lihat aja nanti, Mas Regan," gumam Jessica percaya diri. "Kalau baju ketat semalam belum cukup, kita lihat seberapa tahan mata kamu hari ini."
Dengan membawa nampan berisi cangkir kopi hitam tanpa gula dan beberapa dokumen analisis pasar yang membutuhkan tanda tangan mendesak, Jessica mengetuk pintu kayu tebal ruang kerja sang Direktur Utama.
"Masuk," sahut suara bariton di dalam sana.
Jessica mendorong pintu perlahan, melangkah masuk dengan gerakan tubuh yang disengaja amat lambat dan bertahap. Aroma harum parfumnya langsung merebak cepat, menguasai seluruh udara di dalam ruangan ber-AC dingin itu.
Regan sedang duduk di balik meja kerja kayunya yang besar, fokus menatap dua layar monitor sekaligus seraya mengetikkan sesuatu. Namun, begitu bau harum yang familier menyengat indra penciumannya, jemari pria berusia 31 tahun itu melambat. Regan perlahan mendongakkan kepala, dan iris matanya yang tajam seketika bertumpu pada sosok Jessica.
Seketika itu juga, pergerakan Regan terhenti total. Tatapan matanya memaku pada gaun merah ketat yang memeluk lekat setiap lekuk d**a dan paha Jessica. Baju itu begitu pas menyatu dengan kulit mulus sang gadis, membuat siapa pun pria normal yang melihatnya akan menahan napas.
Jessica yang menyadari sorot mata Regan yang sempat terpana beberapa detik langsung menyunggingkan senyuman paling manis dan nakal. Ia berjalan mendekati meja, sengaja memiringkan posisi berdiri tepat di samping tempat duduk Regan.
"Selamat pagi, Pak Regan," sapa Jessica dengan suara halus yang amat mendayu-dayu.
Jessica menundukkan tubuhnya sedikit lebih rendah dari biasanya saat meletakkan cangkir kopi di samping tatakan mouse. Tindakan sengaja itu membuat potongan d**a gaunnya agak terbuka tepat di hadapan pandangan mata Regan.
"Kopi hitam panasnya sudah siap, Pak. Dan ini ada beberapa dokumen yang butuh tanda tangan cepat dari Bapak," lanjut Jessica seraya meletakkan map tebal. Saat menyerahkan pulpen mahal milik Regan, jemari halus Jessica sengaja mengelus punggung tangan pria itu secara perlahan, menyalurkan sentuhan fisik yang hangat dan intens.
Regan dengan cepat menarik tangannya kembali, seolah baru saja tersengat aliran listrik. Pria itu memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas berat dari hidungnya untuk menetralkan keterkejutan emosional dan fisik yang baru saja menghantamnya. Ketika ia kembali membuka mata, raut wajah dingin tanpa kompromi sudah terpasang rapi, meski ada kilatan kejengkelan yang amat pekat di sana.
Regan menatap Jessica dari ujung kepala samppai ujung kaki dengan pandangan menilai yang menusuk.
"Jessica Jane," panggil Regan dengan suara rendah, berat, dan dipenuhi nada ancaman. "Bisa lo jelasin ke gue, pakaian macam apa yang lo pakai ke kantor hari ini?"
Jessica berpura-pura terkejut, mengedipkan matanya dengan polos seraya menyilangkan tangan di depan d**a—sebuah posisi yang justru makin memperjelas lekuk tubuh bagian atasnya.
"Pakaian kerja, Pak Regan," jawab Jessica dengan senyuman tanpa dosa. "Ini kan gaun terusan formal. Warnanya sopan, panjangnya sampai lutut. Ada yang salah ya, Pak?"
"Sopan?" Regan terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya pada kursi kulitnya seraya menyilangkan jari-jarinya. "Gue rasa lo salah bedain antara pakaian kantor sama baju buat ajang goda-godaan di kelab malam. Baju lo itu terlalu ketat sampai-sampai bikin karyawan lain kehilangan fokus kerja di luar sana."
"Ooh... jadi baju saya bikin hilang fokus?" goda Jessica lagi. Ia mengambil satu langkah mendekat, menyandarkan kedua pinggulnya pada tepi meja kayu Regan, lalu menunduk memandangi sang bos dari jarak dekat. "Karyawan lain yang hilang fokus... atau sebenarnya Pak Regan sendiri yang gemetaran dan takut tergoda tiap kali liat saya pakai baju ini?"
Mendengar tuduhan berani dan teramat percaya diri itu, rahang Regan mengetat. Aura intimidasi yang sangat kuat mendadak menguar dari tubuh tegap sang CEO. Regan bangkit dari kursinya secara mendadak. Postur tubuhnya yang tinggi besar membayang-bayangi Jessica, memangkas habis jarak di antara mereka hingga aroma napas mereka saling bersentuhan.
Jessica sempat menahan napasnya, jantungnya berdegup kencang dihantam pesona maskulin Regan yang begitu dominan. Namun ia menolak menyerah. Ia justru membusungkan dadanya, menantang tatapan mata tajam pria matang itu.
Regan menundukkan wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Jessica dengan kedekatan yang teramat berbahaya.
"Lo mikir kalau cuma dengan pakai baju ketat dan nempel-nempel kayak gini, lo bisa bikin gue kehilangan akal sehat dan berlutut di hadapan lo?" bisik Regan dengan suara bariton yang sangat dalam, hampir berupa desisan tajam tepat di depan telinga Jessica.
Jantung Jessica berdesir hebat. Rasa gatal dan gairah yang ia tahan sejak lama makin menjadi-jadi saat merasakan napas hangat Regan menyapu kulit lehernya. Ia menjilat bibir bawahnya yang terpoles gincu merah, lalu berbisik balik dengan nada penuh godaan, "Kenapa enggak, Mas Regan? Kita berdua tahu kamu itu pria dewasa yang normal. Dan aku ada di sini... siap memberikan apa aja yang kamu mau. Cobain dikit aja, Mas... aku jamin kamu gak bakal nyesel."
Regan menatap bibir merah Jessica yang berada hanya beberapa senti di depan bibirnya. Untuk sepersekian detik, keheningan yang membakar meliputi ruangan tersebut. Tekanan emosi dan godaan fisik yang terus-menerus dilancarkan Jessica benar-benar menguji batas kesabaran dan ketahanan emosional Regan sebagai seorang pria.
Namun, bukannya terbawa suasana dan mendaratkan ciuman seperti yang diharapkan Jessica, Regan justru menyunggingkan senyum miring yang terkesan amat dingin dan mengejek.
Ia melangkah mundur satu tapak, memutus kedekatan intim itu secara instan.
"Niat lo boleh besar, Jessica. Tapi cara lo bener-bener murahan dan mudah ditebak," cetus Regan pedas. Kalimat itu diucapkannya tanpa ragu, menampar langsung ego muda milik sang sekretaris.
Wajah Jessica seketika berubah kaku. Senyum menggoda di bibirnya memudar, digantikan oleh kemerahan di pipi akibat rasa malu dan kesal yang membuncah.
Regan kembali duduk di kursinya dengan santai, menarik dokumen di atas meja seolah tidak ada hal besar yang baru saja terjadi. "Ambil berkas ini, perbaiki poin nomor tiga di lembar analisis, dan bawa lagi ke gue sebelum jam makan siang. Dan satu hal lagi..." Regan mendongak sebentar, menatap Jessica dengan pandangan lurus. "...kalau besok lo masih datang pakai baju yang press badan kayak gini lagi, gue bakal bikin aturan dress code baru khusus buat lo, atau gue potong gaji lo lima puluh persen. Paham?"
Jessica meremas jemarinya kuat-kuat sampai kukunya memutih. Rasa gengsi dan kejengkolannya mencapai titik puncak. Usahanya berdandan habis-habisan dan memakai pakaian paling ketat yang ia miliki hanya dibalas dengan cemoohan "murahan" dan ancaman potong gaji.
Dengan napas yang menderu cepat menahan rasa gusar, Jessica menyambar map di atas meja dengan sentakan kasar.
"Paham, Pak Regan yang terhormat!" jawab Jessica dengan nada ketus yang penuh dengan kekesalan berselimut dendam manis.
Jessica memutar tubuhnya dengan dramatis, berjalan menghentak-hentakkan kaki hak tingginya menuju pintu keluar. Namun, tepat sebelum jarinya memutar gagang pintu, Jessica menoleh kembali ke belakang. Ia menatap Regan yang sudah kembali sibuk dengan komputernya.
"Mas Regan boleh ngejek aku murahan hari ini!" seru Jessica lantang, tidak peduli jika suaranya mungkin terdengar sampai keluar ruangan. "Tapi catat kata-kata aku! Pakaian ketat ini baru permulaan! Mau Mas Regan ancam potong gaji atau bikin aturan baru, aku gak bakal berhenti! Suatu hari nanti, pria bernama Regan Anggara ini yang bakal berlutut dan mohon-mohon sama aku buat tidur bareng!"
Brak!
Jessica menutup pintu ruang kerja itu dengan dentuman keras, meninggalkan Regan yang hanya menggelengkan kepala pelan seraya mendengkus heran di dalam ruangannya.
Di luar ruangan, Jessica bersandar pada pintu kayu yang tertutup rapat, menghirup napas dalam-dallam untuk menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang. Kekesalannya pada Regan bercampur aduk dengan rasa penasaran yang kian tak terkendali. Pria itu sungguh keras kepala bagaikan batu karang, namun hal itulah yang membuat Jessica semakin terobsesi untuk menaklukkannya. Target sebulan belum berakhir, dan Jessica Jane baru saja menyusun rencana berikutnya yang jauh lebih berani.