Bab 06

2335 Words
Rencana nekat itu kini membutuhkan amunisi nyata. Jessica sadar betul, ia tidak bisa sekadar membusungkan d**a di hadapan Fani atau membayangkan wajah Regan di kamar kosnya yang pengap. Jika ia ingin menundukkan pria dingin itu, ia harus melangkah masuk ke dalam dunianya. Selama tiga hari berturut-turut, Jessica mengurung diri di kamar kos dengan laptop tuanya yang bekerja keras. Jarinya menari lincah di atas papan ketik, menelusuri setiap jengkal jejak digital yang berhubungan dengan pria bernama Regan Anggara. Hasil perburuannya sungguh di luar dugaan. Regan bukan sekadar pria mapan yang kebetulan memiliki rumah mewah; lelaki berusia 31 tahun itu adalah Chief Executive Officer sekaligus pendiri dari Anggara Corp, sebuah konglomerasi yang bergerak di bidang properti dan investasi bernilai triliunan rupiah. Di layar monitor, foto resmi Regan terpampang begitu berwibawa. Mengenakan setelan jas hitam buatan penjahit kelas atas, pria itu menatap kamera dengan pandangan tajam tanpa senyum— persis seperti tatapan dingin yang ia berikan pada Jessica pagi itu. "Regan Anggara... Direktur Utama," gumam Jessica seraya mengelus layar laptopnya dengan ujung jari. Sebuah senyuman kepuasan terbit di bibirnya. "Ternyata Mas Regan bukan cuma ganteng dan bikin gemas, tapi juga berkuasa. Pas banget." Target sudah terkunci, dan jalan masuk harus segera ditemukan. Keberuntungan tampaknya sedang berpihak pada ambisi gila Jessica. Saat menggeledah laman karier Anggara Corp, ia menemukan sebuah lowongan pekerjaan yang baru saja diunggah dua hari lalu: Executive Secretary—Sekretaris Eksekutif untuk sang CEO sendiri. Sekretaris sebelumnya dikabarkan mendadak mengundurkan diri karena alasan keluarga. Jessica menepuk tangannya kegirangan. "Ini bukan lagi kebetulan, ini takdir!" serunya setengah berbisik agar Fani di kamar sebelah tidak mendengar. Meskipun jurusan kuliahnya dulu adalah Ilmu Komunikasi dan IPK-nya berada di angka yang cukup memuaskan, Jessica tahu betul bahwa lulusan baru seperti dirinya akan kesulitan bersaing dalam alur seleksi normal. Posisinya adalah sekretaris pribadi Direktur Utama, sebuah jabatan yang biasanya membutuhkan pengalamann bertahun-tahun. Namun, Jessica tidak kekurangan akal. Ia merombak Curriculum Vitae miliknya dengan cermat, menonjolkan kemampuan bahasa asing, keahlian manajemen komunikasi, serta kepercayaan diri tinggi yang sengaja ia kemas dalam bahasa tulisan yang teramat profesional. Esok paginya, dengan mengenakan kemeja putih yang dipadu rok pensil hitam di atas lutut—pakaian terbaik yang ia miliki—Jessica mendatangi kantor pusat Anggara Corp yang menjulang tinggi di kawasan bisnis paling bergengsi di ibu kota. Gedung pencakar langit berarsitektur kaca biru itu memancarkan kesan dingin dan tak tersentuh, persis seperti pemiliknya. Di ruang tunggu lantai 45, suasana terasa begitu mencekam. Jessica duduk di antara lima pelamar wanita lainnya. Semuanya tampak anggun, dewasa, dan membawa map portofolio tebal dengan riwayat karier yang mengintimidasi. Jessica merapikan posisi duduknya, membusungkan d**a, dan berusaha tetap tenang. Di kepalanya, misi ini bukan sekadar mencari pekerjaan demi sesuap nasi, melainkan misi memburu pria yang harus menjadi lelaki pertama dalam hidupnya. "Peserta nomor urut lima, Jessica Jane. Silakan masuk," panggil seorang petugas HRD dari balik pintu kayu jati yang tebal. Jessica berdiri, menarik napas panjang untuk menetralkan debar jantungnya, lalu mengikis jarak menuju ruang wawancara utama. Di dalam ruangan ber-AC dingin itu, duduk tiga orang penguji. Dan di posisi paling tengah, menyandarkan punggungnya pada kursi kulit hitam yang megah, duduklah sang bos besar: Regan Anggara. Pria itu tampak sibuk membaca tumpukan berkas di mejanya dan sama sekali tidak mendongak saat Jessica melangkah masuk. "Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian. Nama saya Jessica Jane," ucap Jessica dengan suara yang lantang, jelas, dan penuh rasa percaya diri. Mendengar suara yang tidak asing itu, jemari Regan yang sedang memegang pena mendadak terhenti. Pria itu perlahan mendongakkan kepalanya. Begitu iris matanya menangkap sosok gadis berusia 23 tahun yang berdiri tegak di depan meja wawancara dengan senyuman penuh arti, raut wajah Regan seketika berubah kaku. Matanya menyipit tajam, memancarkan rasa tidak percaya sekaligus kejengkelan yang amat mendalam. Gadis gila dari kelab malam itu... benar-benar nekat berdiri di ruangan kerjanya. Dua penguji lainnya yang merupakan tim HRD mulai mengajukan pertanyaan standar mengenai pengalaman kerja, penanganan tekanan, dan keahlian administrasi. Jessica menjawab setiap pertanyaan dengan sangat lancar, cerdas, dan percaya diri. Pengetahuan yang ia pelajari secara maraton selama tiga hari terakhir mengenai profil perusahaan Anggara Corp keluar dengan mulus dari bibirnya, membuat kedua kepala HRD itu manggut-manggut terkesan. Namun, sepanjang sesi wawancara berlangsung, Regan hanya diam mematung. Tatapannya menembus Jessica bagaikan belati yang siap menusuk. "Baik, Saudari Jessica. Jawaban Anda sangat mengesankan untuk ukuran fresh graduate," ujar Kepala HRD wanita seraya tersenyum puas. "Dari sisi kami, kualifikasi Anda sangat masuk akal. Bagaimana menurut Anda, Pak Regan?" Regan meletakkan penanya ke atas meja dengan ketukan keras yang menimbulkan suara nyaring. Ia menyilangkan kedua tangannya di atas meja, menatap Jessica dengan pandangan dingin yang sarat akan ancaman. "Dia terlalu muda. Dan tidak berpengalaman," cetus Regan dengan suara baritonnya yang berat dan tanpa kompromi. "Kita butuh orang dewasa yang profesional, bukan anak kecil yang masih suka main-main." Dua penguji HRD itu saling pandang dengan canggung, merasai aura ketegangan yang mendadak menyeruak di dalam ruangan. Jessica bukannya gentar, justru menyunggingkan senyum menantang. Ia mengambil satu langkah mendekati meja wawancara, menatap lurus ke dalam mata Regan tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Saya mungkin muda, Pak Regan," sela Jessica dengan nada suara mantap dan sedikit penekanan di nama sang bos. "Tapi saya sangat cepat belajar, berdedikasi tinggi, dan saya sanggup memberikan apa pun yang dibutuhkan oleh atasan saya. Saya jamin, Bapak tidak akan menemukan kandidat lain yang punya kegigihan dan kesetiaan setinggi saya untuk melayani kebutuhan pekerjaan Bapak." Kata "melayani kebutuhan" diucapkan Jessica dengan kerlingan mata yang teramat tipis—sebuah pesan rahasia yang hanya dimengerti oleh meereka berdua. Regan mengepalkan tangannya di bawah meja. Alis tebalnya bertaut rapat. Keberanian dan ketebalan muka gadis ini benar-benar di luar batas nalar manusia normal. Namun, di balik rasa jengkelnya yang memuncak, Regan adalah seorang pengusaha yang pragmatis. Dua kandidat sekretaris sebelumnya terbukti tidak kompeten dalam menangani tekanan kerjanya yang ekstrem. Sementara gadis di depannya ini, meski sangat mengesalkan dan berniat buruk secara pribadi, menunjukkan ketahanan mental dan kecerdasan yang luar biasa saat menjawab pertanyaan teknis tadi. Regan mendengkus kasar. Ia menarik berkas CV Jessica, lalu menandatanganinya dengan sentakan cepat. "Masa percobaan tiga bulan," potong Regan dingin seraya melempar berkas itu ke arah HRD. "Kalau dalam seminggu lo bikin kesalahan sekecil apa pun, gue sendiri yang bakal nyeret lo keluar dari gedung ini. Paham?" "Sangat paham, Pak Regan," jawab Jessica manis seraya membungkukkan badannya dengan penuh kesopanan yang dibuat-buat. "Saya tidak akan mengecewakan Bapak." --- Hari pertama bekerja dimulai dengan tensi tinggi. Jessica diberikan meja kerja persis di depan pintu ruangan kaca milik Regan. Tugasnya menumpuk: mengatur jadwal rapat yang padat, menyaring telepon masuk, menyusun laporan keuangan mingguan, hingga menyiapkan kopi hitam tanpa gula kesukaan sang bos besar. Bukannya merasa terbeban, Jessica justru menikmati setiap detiknya. Setiap kali ia memasuki ruangan Regan untuk mengantarkan dokumen atau menyajikan kopi, Jessica selalu menyempatkan diri untuk bertingkah menggoda. Ia sengaja menunduk sedikit lebih rendah saat meletakkan cangkir, menyemprotkan parfum beraroma vanila manis yang memikat di lehernya, atau memiringkan tubuhnya di dekat meja kerja Regan seraya melempar senyuman manja. "Ini kopi hitamnya, Pak Regan," bisik Jessica mendayu-dayu saat menyajikan cangkir keramik ke atas meja kerja pria itu. "Masih panas... persis kayak semangat saya hari ini." Regan bahkan tidak menoleh dari layar komputernya. "Putar badan lo, keluar, dan tutup pintunya," sahut pria itu datar tanpa emosi. "Bapak gak mau mampir sebentar buat meriksa kopi saya? Siapa tahu ada yang kurang pas di lidah Bapak?" goda Jessica lagi, melangkah perlahsan mengitari meja kerja Regan hingga berdiri cukup dekat di samping kursi putar sang CEO. Brak! Regan menepis berkas di depannya dan menatap Jessica dengan mata membara. "Jessica Jane! Lo di sini dibayar buat kerja, bukan buat bikin drama murahan!" bentak Regan dengan suara rendah yang menekan. "Gue tegaskan sekali lagi, jangan pernah bawa kelakuan minus lo waktu di kelab malam itu ke kantor gue! Atau detik ini juga surat pemecatan lo gue tanda tangani!" Jessica hanya tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah dan menggeletik. Ia tidak sedikit pun terintimidasi oleh bentakan keras itu. Justru reaksi marah dari Regan membuktikan bahwa kehadirannya berhasil mengusik ketenangan pria matang tersebut. "Bapak galak banget sih kalau lagi kerja," tutur Jessica santai seraya merapikan ujung blazer hitamnya. "Tapi gak apa-apa, Pak. Justru cowok galak dan dingin kayak Bapak ini yang bikin saya makin penasaran. Ingat kata-kata saya waktu di rumah Bapak ya... saya gak akan berhenti sampai Mas Regan sendiri yang memohon sama saya." "Keluar!" tunjuk Regan ke arah pintu dengan mata yang hampir menyemburkan api. Jessica menyunggingkan senyum kemenangan, lalu memutar tubuhnya dengan gerakan anggun dan melangkah keluar ruangan seraya mengibaskan rambut panjangnya yang beraroma harum. --- Tiga minggu berlalu dengan cepat di Anggara Corp. Di luar dugaan Regan, Jessica ternyata bekerja dengan sangat luar biasa. Laporan-laporan yang disajikan gadis itu selalu rapi tanpa cela, jadwal rapat tersusun dengan presisi sempurna, dan Jessica mampu menghadapi para investor yang rumit dengan diplomasi yang memukau. Namun, di balik profesionalitas kerjanya yang tanpa cacat, aksi godaan Jessica kepada Regan juga tidak pernah mengendur sedikit pun. Setiap ada kesempatan di dalam ruangan yang tertutup, Jessica selalu melancarkan aksi nakalnya—mulai dari sengaja menyentuh jemari Regan saat menyerahkan dokumen, hingga memberikan bisikan-bisikan manis yang memancing emosi pria itu. Sore itu, hujan deras mengguyur ibu kota dengan sangat lebat. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan suasana kantor pusat Anggara Corp sudah sepi meninggalkan lantai 45 yang hening. Di dalam ruangannya, Regan masih sibuk memeriksa laporan akuisisi lahan. Tiba-tiba, lampu ruangan berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam total. Seluruh aliran listrik di lantai itu mati, menyisakan kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh kilatan petir dari luar jendela kaca besar. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari luar, disusul pintu ruangan yang didorong keras. "Mas Regan!" seru Jessica dengan nada panik yang tidak dibuat-buat. Gadis itu berlari masuk ke dalam kegelapan ruangan Regan. Efek mati lampu yang mendadak ternyata cukup mengejutkannya. Saat melangkah mendekati meja kerja, kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi tersangkut pada kabel di lantai. "Aduh!" Jessica kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terlempar ke depan. Dalam refleks kilat seorang pria dewasa, Regan segera bangkit dari kursinya dan merentangkan kedua tangannya dalam kegelapan untuk menangkap tubuh gadis itu. Bruk! Tubuh ramping Jessica mendarat telak di dalam pelukan hangat Regan. Benturan itu membuat mereka berdua jatuh terduduk di atas sofa kulit panjang yang berada di sudut ruangan. Dalam posisi yang canggung itu, Jessica berada tepat di atas tubuh tegap Regan, dengan kedua tangannya bertumpu pada d**a bidang pria itu yang mengembang kencang akibat terkejut. Suasana ruangan seketika menjadi sangat hening. Hanya ada suara deburan ombak hujan di luar kaca dan helaan napas mereka berdua yang memburu dalam kegelapan yang remang. Kilatan petir di langit sesekali menyinari wajah mereka, memperlihatkan jarak yang teramat dekat—hanya menyisakan beberapa senti saja di antara bibir mereka. Aroma parfum vanila manis milik Jessica yang menyengat langsung memenuhi indra penciuman Regan. d**a halus gadis itu menempel erat pada dadanya, dan Regan bisa merasakan detak jantung Jessica yang berdegup sangat kencang. Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu ini, Regan membeku. Tatapan matanya yang biasanya dingin kini terkunci pada iris mata Jessica yang berbinar di balik kegelapan. Jessica menahan napasnya. Sentuhan fisik yang begitu dekat ini menyetrum seluruh syaraf di tubuhnya. Gairah dan rasa gatal yang selama ini ia tahan mendadak membumbung tinggi ke puncak kepala. Dengan pandangan yang sangat sayu dan menggoda, Jessica tidak membuang kesempatan emas ini. Ia memiringkan kepalanya sedikit, meraba rahang tegas Regan dengan jemarinya yang hangat dan gemetar. "Mas Regan..." bisik Jessica penuh desahan halus, suaranya terdengar begitu manis dan memabukkan di dalam keheningan ruangan. "Mati lampu begini... gelap... dan cuma ada kita berdua di kantor..." Jessica mendekatkan wajahnya, membiarkan napas hangatnya berembus di atas bibir tebal Regan. "Masih mau mengusir aku lagi? Atau Mas mau menyerah malam ini dan jadi lelaki pertama yang memiliki tubuh aku?" goda Jessica seraya perlahan menggeser tubuhnya lebih rapat melingkungi pinggang tegap pria itu. Regan merasakan gelombang panas yang aneh menjalar dari dadanya menuju seluruh aliran darahnya. Kejantanan dan insting alaminya sebagai seorang lelaki dewasa yang normal seolah ditantang secara terbuka oleh gadis muda yang begitu molek di atas pelukannya ini. Untuk sepersekian detik, pikiran rasional Regan sempat goyah menyaksikan keberanian dan kecantikan Jessica yang terbentang tanpa jarak. Namun, menguasai diri dan emosi adalah keahlian utama seorang Regan Anggara. Dengan sekuat tenaga menahan gejolak di dalam dadanya, Regan memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas berat, lalu secara perlahan namun pasti mencengkeram kedua pergelangan tangan Jessica dengan kuat. Regan mendengkus dingin, lalu memindahkan tubuh Jessica menjauh dari atas tubuhnya dan mendudukkan gadis itu di sisinya di atas sofa. Regan bangkit berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut, dan berdiri menatap Jessica dari atas dengan raut wajah penuh kontrol yang kembali mengeras. "Senter ponsel lo masih ada, kan?" suara bariton Regan bergema berat, mengalahkan gemuruh petir di luar. "Gunakan itu buat cari jalan ke bawah. Genset kantor bakal nyala dalam dua menit." Jessica terduduk di sofa dengan napas terengah-engah, menatap Regan dengan pandangan tidak percaya sekaligus kecewa berat. "Mas Regan... kamu beneran batu ya?! Kita tadi udah semesra itu!" Regan menyilangkan kedua tangannya di d**a, menyunggingkan senyum miring yang terkesan sangat sinis dan merendahkan ambisi gadis itu. "Gue memang bukan pria suci, Jessica," tutur Regan dingin seraya melangkah menuju pintu. "Tapi gue punya prinsip. Gue gak akan pernah menyentuh wanita yang cuma menjadikan tubuhnya sendiri sebagai bahan taruhan atau alat pembuktian gengsi konyol." Regan menoleh sebentar di ambang pintu sebelum listrik kembali menyala terang benderang. "Kerja lo bagus sebagai sekretaris. Pertahankan itu. Tapi kalau lo masih mimpi buat goda gue di atas ranjang... lo harus berusaha sejuta kali lebih keras dari ini," cetus Regan tajam sebelum akhirnya melangkah keluar, meninggalkan Jessica yang terpaku sendirian di dalam ruangan yang kini kembali terang. Jessica mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat di atas sofa. Wajahnya memerah panas, dadanya bergemuruh hebat antara rasa malu yang menampar dan kebanggaan yang terluka. Namun, di balik rasa jengkelnya yang memuncak, sebuah senyuman nekat kembali terukir di bibirnya. "Sejuta kali lebih keras, ya?" bisik Jessica pada dirinya sendiri seraya merapikan rok pensilnya. "Tantangan diterima, Pak CEO. Lihat saja... sebulan lagi belum berakhir, dan kamu pasti bakal jadi milikku!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD