Bab 05

994 Words
Jessica membanting pintu kamar kosnya dengan gusar. Suara engsel besi yang berderit nyaring menyambut kedatangannya di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu. Ia melangkah masuk, lalu memandangi sekeliling tempat tinggalnya dengan tatapan kecewa. Dinding cat krem yang mulai mengelupas di beberapa sudut, kipas angin gantung yang berputar lambat sambil mengeluarkan suara berisik, serta kasur busa tipis di lantai yang terbalut sprei bermotif bunga kusam—semuanya terasa begitu kontras dengan keindahan dan kemewahan rumah Regan. Kamar kos ini mendadak terasa makin sempit, pengap, dan menyedihkan jika dibandingknan dengan kamar tamu berdesain minimalis modern yang baru saja ia tinggalkan beberapa jam lalu. Jessica melempar tas kecilnya ke atas tempat tidur, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur busa yang agak keras. Ia melipat kedua tangannya di belakang kepala, menatap langit-langit kamar yang bernoda lembap. Namun, jangankan meratapi nasib kosannya yang mengenaskan, otak Jessica justru kembali berputar menyoroti satu nama yang berhasil mengacaukan seluruh pikirannya sejak semalam: Regan Anggara. Seketika itu juga, bayangan wajah tampan pria berusia 31 tahun itu melintas tajam di dadanya. Rahang tegasnya, dadanya yang bidang di balik kemeja, aroma kayu cendana yang maskulin, hingga tatapan mata dingin penuh intimidasi yang ditunjukkannya saat mengusir Jessica pagi tadi—semuanya terasa begitu melekat dan memikat. Bukannya kapok karena disemprot kalimat-kalimat pedas, ingatan akan Regan justru membuat rasa penasaran dan gejolak dalam d**a Jessica kian membara. "Aduh, Mas Regan..." gumam Jessica pelan, memiringkan tubuhnya dan memeluk guling erat-erat. Rasa gatal dan gairah konyol yang aneh mendadak merayapi seluruh tubuhnya. Membayangkan tubuh tegap pria itu berada di atasnya dan menyentuhnya membuat napas Jessica sedikit tertahan. Keinginan konyol untuk menyerahkan keperawanannya pada Regan kini berubah menjadi obsesi mendalam yang tak tertahankan. "Gila... makin dipikirin malah bikin tambah pengen tidur sama dia," bisik Jessica pada dirinya sendiri. Sebuah tawa kecil yang agak renyah dan konyol lolos dari bibirnya saat meratapi betapa bodoh dan nekad pemikirannya sendiri pagi ini. Brak! Pintu kamar kosnya yang memang tidak terkunci rapat mendadak didorong dari luar. Jessica terlonjak kaget dan refleks terduduk di atas kasur. Di ambang pintu, berdiri Fani—teman satu kos sekaligus sosok yang menyiramkan racun perkataan tentang status "perawan adalah aib" hingga membuat Jessica nekat pergi ke kelab malam semalam. Fani bersedekap d**a, mengenakan kaus santai dan celana pendek, lalu mengedarkan pandangan matanya menyisir seluruh tubuh Jessica dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh curiga sekaligus menilai. "Wah, baru pulang lo?" tanya Fani dengan suara nyaring, melangkah masuk tanpa diundang dan menyandarkan bahunya ke lemari pakaian Jessica. Matanya meneliti kaus putih polos dan jins longgar yang dikenakan Jessica—pakaian baru belian Regan yang sangat tidak mencerminkan gaun seksi semalam. Fani menyipitkan mata, lalu menyunggingkan senyum penuh arti yang terkesan provokatif. "Gimana semalam? Berhasil? Lo... udah gak perawan lagi, kan?" Mendengar pertanyaan frontal yang langsung menyasar poin paling sensitif itu, lidah Jessica mendadak kelu. Rasa gugup yang luar biasa menyengat dadanya, membuat tenggorokannya terasa kering seketika. Wajahnya merona merah akibat rasa malu yang membuncah. Jessica menundukkan kepala, memilin ujung bajunya dengan jemari yang bergetar pelan, lalu menggelengkan kepalanya dengan sangat lambat dan pasrah. Melihat gelengan kepala itu, raut wajah Fani seketika berubah. Bukannya menunjukkan rasa empati, tawa mengejek yang amat keras justru meledak dari mulut gadis itu. Fani tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya sendiri, seolah-olah pengakuan Jessica adalah lelucon paling menggelikan yang pernah ia dengar sepanjang tahun. "Buset! Beneran gak berhasil?!" seru Fani di sela-sela tawanya yang memekakkan telinga. Ia menatap Jessica dengan pandangan menyudutkan yang amat merendahkan. "Aduh, Jess, Jess! Udah dandan seksi-seksi, nekat ke kelab malam, eh pulangnya masih utuh juga? Konyol banget lo!" Fani memiringkan kepalanya, lalu menyipitknan mata dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat. "Atau jangan-jangan... lo tuh emang terlalu jelek dan kaku ya, makanya gak ada satu pun cowok di sana yang mau tidur sama lo? Bahkan cowok mabuk pun emog sama lo? Kasihan banget sih!" Kalimat-kalimat ejekan Fani menampar keras d**a Jessica. Rasa hangat pertengkaran dan gengsi yang mendidih di dalam dirinya langsung meluap menjadi amarah yang menyala-nyala. Jessica bangkit berdiri dari kasurnya dengan sentakan keras, melangkah maju dua langkah menghampiri Fani yang masih terkekeh sinis. "Jaga mulut lo ya, Fan!" bentak Jessica dengan suara tinggi, dadanya naik turun menahan emosi yang memuncak. Ia mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Fani dengan mata yang membelalak lebar. "Lihat saja nanti!" seru Jessica penuh nada menantang yang membakar harga dirinya. "Gue kasih tahu sama lo, sebulan dari sekarang, gue dijamin udah gak bakal perawan lagi!" Tawa Fani sedikit mereda, digantikan raut wajah heran melihat ledakan emosi Jessica. "Halah, sok yakin banget lo. Emang lo mau nyari korban ke mana lagi?" "Gue udah punya cowok incaran!" potong Jessica cepat, membusungkan dadanya dengan percaya diri tingkat tinggi. Wajah Regan yang tampan dan tegap kembali membayangi pikirannya, menyuntikkan keberanian nekat yang tak tergoyahkan. "Gue udah ketemu sama cowok yang sempurna banget semalam," lanjut Jessica dengan senyuman miring yang penuh ambisi. "Dia tampan, kaya, dan kelihatan perkasa banget. Gue cuma perlu goda dia dikit lagi, dan gue yakin 100% gue bisa tidur sama dia secepatnya!" Fani hanya mengarahkan pandangannya ke atas dan mengangkat kedua bahunya dengan acuh tak acuh. Sebuah cengiran malas terbit di bibirnya saat ia memutar tubuhnya hendak kembali ke kamarnya sendiri. "Terserah lo deh, Jess. Bicara doang mah gampang, anak SD juga bisa," cetus Fani santai seraya melambaikan tangannya di udara tanpa menoleh. "Selama lo belum ada bukti nyata, ocehan lo itu cuma omong kosong doang. Gue tunggu bukti sebulan lagi kalau lo emang beneran laku!" Brak! Fani keluar dan menutup pintu kamar kos Jessica dari luar, meninggalkan keheningan yang kembali melingkupi ruangan sempit itu. Jessica berdiri mematung di tengah ruangan, meremas jemarinya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Rasa kesal pada Fani bercampur dengan tekad membara di dalam dadanya. Ia mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat, menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang menggantung di dinding. "Lihat aja nanti, Fani... lihat aja nanti, Mas Regan..." bisik Jessica penuh dengan aura obsesi yang kian pekat. "Aku bakal buktikan ke semua orang kalau aku bisa naklukin kamu!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD