Bab 04

907 Words
Aroma sabun mandi maskulin yang menempel di handuk dan ruangan kamar mandi masih tersisa tipis saat Jessica mengeringkan tubuhnya. Di atas tempat tidur, sebuah kantong kertas berisi pakaian baru sudah tergeletak rapi—kaus polos berwarna putih bahan katun premium dan celana jins longggar yang sangat nyaman, dibelikan oleh Regan sebelum gadis itu terbangun. Meski pakaian itu jauh dari kesan seksi seperti gaun hitam semalam, Jessica tetap tersenyum tipis. Baginya, gestur perhatian kecil dari pria itu semakin membakar rasa penasaran dan hasrat di dalam dadanya. Pria tampan, tegas, dan dingin seperti Regan adalah sosok yang begitu memikat hatinya. Setelah selesai merapikan rambutnya yang masih setengah basah, Jessica melangkah keluar dari kamar. Langkah kakinya menyusuri tangga melingkar menuju lantai bawah rumah megah berarsitektur modern minimalis tersebut. Di ruang tengah yang luas, Regan tampak duduk santai di atas sofa kulit berwarna hitam. Lelaki berusia 31 tahun itu mengenakan kemeja santai yang lengannya tergulung rapi, fokus menatap layar tablet di tangannya sambil sesekali menggeser jemarinya. Begitu mendengar derap langkah kaki Jessica yang mendekat, Regan sama sekali tidak berniat mendongak. Ia menganggap kehadiran gadis itu seolah tak lebih dari angin lalu. Jessica tersenyum tipis melihat sikap dingin pria itu. Ia menyipitkan mata, berjalan mendekati sofua dengan gerakan tubuh yang disengaja gemulai. Tanpa ragu, Jessica memiringkan tubuhnya di dekat lengan sofa, menyandarkan siku seraya menatap Regan dari dekat. "Mas Regan..." panggil Jessica dengan nada suara mendayu-dayu yang dibuat sehalus dan menggoda mungkin. "Aku kan gak tahu jalanan daerah sini... Pusingku juga belum hilang banget gara-gara minuman semalam. Anterin aku pulang ke kosan, ya? Kasihan dong cewek secantik aku dibiarin jalan sendirian pagi-pagi gini." Mendengar bisikan dan desahan napas yang terlalu dekat itu, gerakan jemari Regan di atas layar tablet langsung terhenti. Regan mengangkat sebelah alisnya dengan lambat, lalu perlahan memalingkan wajah menatap Jessica. Tatapan matanya lurus, tajam, dan penuh dengan aura intimidasi yang membuat udara di sekitar mereka terasa makin dingin. Bukannya terpesona, sebuah kekehan sinis justru meluncur dari bibir pria itu. "Mengantar lo?" sahut Regan dengan suara baritonnya yang datar dan dingin. "Dengar ya, cewek aneh. Gue gak punya waktu buat jadi supir pribadi gadis asing yang gak jelas asal-usulnya. Apalagi gadis yang baru kenal semalam langsung minta diperkosa." Kalimat tajam itu menampar telak wajah Jessica, namun gadis berusia 23 tahun itu tetap memasang muka tembok, menolak untuk menyerah begitu saja. Regan kemudian meletakkan tabletnya di atas meja kaca. Tanpa membuang waktu, ia meraih dompet kulit hitam dari saku celananya, membukanya, dan menarik lima lembar uang seratus ribuan yang masih mulus. Regan melempar lembaran uang lima ratus ribu rupiah itu begitu saja ke atas meja di hadapan Jessica. "Ambil uang ini," ujar Regan dingin tanpa ada keramahan sedikit pun di matanya. "Pesan taksi online atau cegat angkutan di luar sana. Pulang sendiri ke kosan lo, dan jangan pernah muncul lagi di depan rumah gue." Melihat tumpukan uang kertas di atas meja dan mendengar perintah mengusir yang teramat melecehkan itu, napas Jessica seketika menderu cepat. Rasa gengsi dan harga dirinya mendadak mendidih hebat, bertarung dengan ego mudanya yang tidak terima ditolak mentah-mentah oleh seorang pria. Puk! Jessica menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai pualam, menghasilkan suara nyaring yang bergema di ruangan itu. Ia membusungkan dadanya, lalu mengacungkan jari telunjuknya tepat ke arah wajah Regan dengan tatapan menyala-nyala. "Mas Regan jahat banget, sih?!" pekik Jessica dengan nada kejengkelan yang membuncah. Bukannya mengambil uang di atas meja, Jessica justru menyilangkan kedua tangannya di bawah d**a, sengaja menonjolkan lekuk tubuhnya di balik kaus putih yang ia kenakan. Wajahnya merona merah akibat amarah bercampur tekad nekat yang sudah terlanjur membakar otaknya. "Mas pikir aku cewek yang bisa diusir gitu aja cuma pakai uang lima ratus ribu?!" seru Jessica dengan lantang, matanya menatap lurus ke dalam iris mata Regan yang dingin. "Ingat ya, Mas Regan! Hari ini Mas boleh ngusir aku dan pura-pura gak tertarik sama sekali. Tapi jangan kira aku bakal berhenti sampai di sini!" Regan hanya menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap luapan emosi gadis di depannya itu dengan raut wajah bosan seolah sedang menyaksikan drama anak sekolah. "Terserah lo mau ngoceh apa," potong Regan singkat dan malas. "Pintu keluar ada di sebelah sana. Jalan sendiri sebelum gue panggilkan satpam kompleks buat nyeret lo keluar." "Lihat saja nanti, Mas Regan!" ancam Jessica tak mau kalah. Ia melangkah maju satu pukulan jarak, memiringkan kepalanya dengan senyuman menantang yang amat percaya diri. "Aku bakal terus ngejar Mas! Aku bakal terus datang dan menggoda Mas Regan setiap hari! Kita lihat seberapa tahan Mas Regan nolak tubuh molek dan seksi milik aku ini! Mas pasti bakal tergoda dan memohon-mohon sama aku nanti!" Mendengar ancaman konyol yang dilontarkan dengan penuh kepedean tingkat tinggi itu, Regan hanya menggelengkan kepala pelan serasya mendengkus heran. "Bener-bener gila," gumam pria itu datar. Tanpa menyentuh lembaran uang lima ratus ribu rupiah di atas meja sebagai bentuk keputusannya yang keras kepala, Jessica memutar tubuhnya dengan sentakan dramatis. Ia melangkah lebar-lebar menuju pintu utama rumah Regan sambil menghentakkan kakinya meluapkan kekesalan. Sebelum benar-benar keluar, Jessica sempat menoleh ke belakang, melemparkan kerlingan mata nakal dan senyuman penuh tekad ke arah Regan. Brak! Jessica menutup pintu depan rumah mewah itu dengan cukup keras. Di luar, angin pagi menyapa wajahnya yang memerah panas. Meski hatinya sangat jengkel karena diusir secara kasar, ada kepuasan aneh yang menari-nari di dadanya. Jessica memandangi bangunan rumah megah di belakangnya seraya tersenyum lebar. Misi konyolnya semalam mungkin gagal total, tetapi kini ia memiliki target baru yang jauh lebih menarik untuk ditaklukkan. Regan Anggara harus menjadi milik dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD