Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden tebal menyengat kelopak mata Jessica, memaksanya untuk terbangun dari tidur nyenyak yang terganggu. Rasa pening yang hebat mendadak menghantam tempurung kepalanya, bagaikan dihantam palu godam secara bertubi-tubi. Dengan rintihan pelan, Jessica mengangkat sebelah tangannya, memegang pelipisnya yang berdenyut hebat.
"Aduh... kepalaku mau pecah..." gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Namun, saat matanya berhasil terbuka sempurna dan menyesuaikan dengan cahaya ruangan, rasa kantuknya hilang seketika. Jessica terduduk kaku di atas tempat tidur. Ia menatap sekelilingnya dengan mata membelalak lebar. Kamar ini berukuran sangat luas, berdesain minimalis modern dengan d******i warna abu-abu dan hitam yang elegan—sanngat jauh berbeda dari kamar kosnya yang mungil dan penuh barang berwarna pastel.
"Oh, Tuhan! Aku di mana ini?!" bisiknya panik, dadanya mulai bergemuruh hebat.
Seketika itu juga, ingatan samar-samar tentang kejadian semalam melintas sekelebat di otaknya. Kelab malam, minuman pahit, lelaki tua b******k, dan... seorang pria tampan yang menyelamatkannya! Jantung Jessica berdegup kencang. Mungkinkah? Mungkinkah misi konyolnya semalam berhasil? Apakah ia akhirnya sudah tidak perawan lagi?
Rasa gembira dan lega mendadak membuncah di dadanya. Senyum tipis sempat terbit di bibirnya saat membayangkan ia bisa memamerkan hal ini di depan Fani dan teman-temannya. Tidak ada lagi label "gadis polos kampungan" yang melekat padanya! Namun, kegembiraan singkat itu menguap dalam hitungan detik, digantikan oleh gelombang ketakutan yang dingin saat sebuah pikiran mengerikan terlintas di kepalanya.
Bagaimana kalau yang meniduriku semalam itu bukannya pria tampan penyelamatku, tapi justru si tua bangka b******k yang merabaku di lorong?!
"Gak, gak, gak mungkin! Jangan sampai!" pekik Jessica histeris dalam hati. Rasa mual langsung mengocok perutnya. Ia tidak mau mengorbankan kesuciannya untuk lelaki tua bangka yang menjijikkan seperti itu!
Dengan panik dan tangan gemetar, Jessica segera menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya dan memeriksa kondisinya sendiri. Ia menunduk menatap pakaiannya.
Sialnya, gaun hitam ketatnya masih terpasang utuh di tubuhnya. Tidak ada kancing yang terbuka, tidak ada kerutan mencurigakan, dan rasa nyeri di bagian sensitifnya yang sering diceritakan di novel-novel romance pun tidak ada sama sekali.
"Sialan... masih utuh?!" rutuk Jessica dengan nada sangat kecewa. Jadi sepanjang malam tadi tidak terjadi apa-apa sama sekali?
Saat Jessica masih sibuk meratapi nasibnya dan mengutuki gaunnya yang masih terpasang rapi, bunyi klik pintu terdengar nyaring. Gagang pintu memutar, dan sosok pria tinggi tegap melangkah masuk ke dalam kamar.
Pria itu adalah Regan Anggara, lelaki berusia 31 tahun yang semalam terpaksa memboyong Jessica ke rumahnya setelah gadis itu meracau tak karuan dan bicara lantur meminta diperkosa di lorong kelab. Regan berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku dan celana kain hitam. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas dan alis tebal memancarkan aura dingin yang sangat dominan.
Regan menatap datar ke arah Jessica yang masih terduduk di atas ranjang king size milik kamar tamunya. Tidak ada senyuman, tidak ada keramahan, hanya tatapan menilai yang tajam.
"Udah bangun?" suara bariton Regan terdengar berat dan datar menembus kesunyian kamar. "Baguslah. Sana mandi, habis itu langsung pulang. Gue gak menerima tamu lama-lama di rumah gue."
Jessica tertegun sejenak. Di bawah sorotan cahaya matahari pagi, ketampanan Regan terlihat berlipat ganda dari semalam. Pria di depannya ini benar-benar definisi pria idaman: matanya tajam, bahunya lebar, dadanya bidang, dan aroma maskulin khas kayu cendana menguar kuat dari tubuhnya. Ini adalah tipe pria matang yang sempurna untuk mewujudkan impian konyolnya.
Bukannya merasa takut atau malu karena menginap di rumah asing, otak Jessica yang agakk bergeser justru melihat ini sebagai kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Siapa peduli kalau semalam gagal? Pagi ini masih ada waktu!
Sebuah senyuman nakal dan penuh maksud terbit di wajah Jessica. Secara perlahan, gadis itu menjilat bibir bawahnya sendiri seraya menatap Regan dari bawah ke atas dengan pandangan menggoda. Jessica sengaja menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, memiringkan tubuhnya, dan membiarkan gaun hitamnya sedikit tersingkap hingga memperlihatkan paha mulusnya. Ia mengambil posisi berpose seksi sebisanya.
"Kenapa harus terburu-buru sih, Mas?" goda Jessica dengan nada suara yang dibuat-buat manja dan desah pelan. "Mas kan udah baik banget nyelametin dan nampung aku semalam... Gimana kalau sebagai ucapan terima kasih, kita berdua melakukan morning s*x pagi ini?"
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut gadis berusia 23 tahun itu tanpa rasa canggung sedikit pun, raut wajah Regan seketika berubah tegang. Matanya menyipit penuh dengan kejengkelan yang mendalam. Bukannya tergiur oleh pose seksi yang ditunjukkan Jessica, dadanya justru bergemuruh membakar amarah.
Regan mendengkus keras, mengeluarkan tawna sinis yang terkesan dingin dan merendahkan.
"Lo bener-bener gila, ya?!" bentak Regan dengan nada suara tajam yang sanggup membuat dinding kamar bergetar.
Ia mengambil dua langkah lebar mendekati ranjang, menunjuk pintu keluar dengan jari telunjuknya tanpa ada niat bertoleransi sedikit pun.
"Dengarin ya, cewek aneh. Semalam gue tolongin lo cuma karena gue gak tega liat cewek mabuk hampir dilecehkan di depan mata gue! Bukan berarti lo bisa bertindak murahan dan nawarin diri lo kayak gitu di depan gue!" tegas Regan, setiap katanya penuh penekanan yang menampar telak harga diri Jessica.
Regan memalingkan wajahnya rapat-rapat dengan raut jera dan jijik. "Tarik kembali baju lo, mandi, dan cepat pergi dari rumah gue sekarang juga sebelum gue seret lo keluar ke jalanan!"
Setelah mengucapkan kalimat pedass itu, Regan berbalik badan dengan gerakan cepat dan melangkah keluar kamar, membanting pintu dengan keras hingga menimbulkan suara ledakan yang memekakkan telinga. meninggalkan Jessica sendirian dalam keheningan kamar dengan napas terengah-engah dan wajah yang mendadak memerah menahan malu.