Cairan dingin yang mengalir di tenggorokannya menyisakan rasa terbakar yang aneh di d**a. Jessica memegangi kepalanya yang mendadak terasa pening luar biasa. Pandangannya mulai memburam, membuat kilatan lampu neon di sekelilingnya membias menjadi lingkaran-lingkaran cahaya yang membingungkan. Ia menatap kosong pada gelas kosong di tangannya, berusaha keras mencerna apa yang baru saja ia teglak.
"Pahit... tapi manis? Ini minuman sejenis apa sih?" gumamnya serak, suaranya terdengar begitu jauh dan asing di telinganya sendiri. Rasa hangat yang meluncur cepat ke perutnya kini berubah menjadi gelombang panas yang menggerogoti kesadarannya dengan sangat cepat.
Rasa kesal pada lelaki-lelaki tua di dalam kelab mendadak pudar, tergantikan oleh rasa panik yang merayap perlahan. Di sisa-sisa otaknya yang masih bekerja, Jessica sadar bahwa tubuhnya sudah tidak beres. Efek minuman konyol ini membahayakan dirinya. Hal utama yang wajib ia pikirkan saat ini bukanlah misi konyol melepas keperawanan, melainkan bagaimana caranya pulang ke kosan dengan selamat sebelum kesadarannya benar-benar menguap.
Dengan susah payah, Jessica menurunkan kakinya dari kursi bar. Langkah pertamanya langsung goyah. Dunia seolah berputar miring, memaksa gadis itu berjalan sempoyongan sambil bertumpu pada dinding-dinding kayu dan bahu orang-orang yang berdansa. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat saat rasa mual menyengat perutnya.
"Aku... aku harus pulang," bisiknya menguatkan diri.
Setapak demi setapak, dengan sisa tenaga dan pandangan yang kian menggelap, Jessica berhasil meraba jalan menuju lorong keluar. Angin malam yang menyusup dari balik pintu yang sedikit terbuka menyapu wajahnya yang berpeluh, memberikan sedikit kesegaran semu. Namun, tepat ketika jemarinya hampir menggapai gagang pintu keluar yang membawanya menuju kebebasan, sebuah bayangan besar mendadak memotong jalannya.
"Mau ke mana, Cantik? Kok terburu-buru bangett?"
Suara sengau yang familier itu membuat bulu kuduk Jessica berdiri seketika. Belum sempat ia menghindar, sebuah tangan yang kasar dan berat langsung mencengkeram lengan atasnya dengan sangat kuat. Itu adalah lelaki tua bangka berperut buncit yang sempat menggodanya di area VIP tadi. Bau alkohol menyengat bercampur asap rokok murah langsung menyerbu indra penciuman Jessica saat jarak mereka terkikis habis.
"Lepas... lepasin!" teriak Jessica serak. Ia mencoba menghentakkan tangannya, tetapi tubuhnya yang melemah akibat efek minuman tidak memiliki tenaga sama sekali untuk melawan.
Lelaki tua itu terkekeh sinis, menyeringai hingga memperlihatkan deretan giginya yang menjijikkan. Tanpa memedulikan penolakan Jessica, ia menarik tubuh ganjur gadis itu secara paksa ke arah koridor samping—sebuah sudut gelap di dekat toilet yang sepi dari jangkauan lampu stroboskop.
"Jangan pura-pura jual mahal, Dek. Kamu datang ke sini pakai baju seksi begini kan memang minta digoda?" bisik lelaki tua itu penuh napsu.
Dalam kegelapan sudut koridor, telapak tangannya yang dingin dan agak basah mulai menjalar lancang, meraba pinggang Jessica lalu bergerak naik menyusuri paha dan punggungnya yang terbuka. Jessica menjerit ketakutan, dadanya bergemuruh hebat diselimuti panik luar biasa. Ia memukul-mukul d**a lebar lelaki itu dengan sisa kekuatannya, menendang acak meski kakinya terasa amat lemas.
"Jangan sentuh aku! Lepasin! Tolong!" bentak Jessica hysteris, air mata panik mulai merebak di sudut matanya yang kabur.
"Halah, diam saja dan nikmati!" bentak lelaki itu tak sabar. Jemari kasarnya kini mencengkeram rahang Jessica dengan kuat, menahan kepala gadis itu agar tak bisa bergerak, lalu perlahan menundukkan wajahnya yang berminyak untuk mendaratkan ciuman paksa di bibir Jessica.
Jessica memejamkan mata erat-erat, menahan mual dan ketakutan yang mencekam jiwanya. Ia merasa benar-benar hancur dan bodoh.
Brak!
Satu dentuman keras menggelegar di udara. Sebuah tendangan jarak jauh yang amat bertenaga mnendarat telak di rusuk lelaki tua itu. Benturan keras tersebut membuat tubuh tambun sang lelaki tua terlempar membentur dinding semen sebelum akhirnya tersungkur ke lantai sambil mengaduh kesakitan.
"Pergi dari sini sebelum gue patahin leher lo!" suara bariton yang dingin, tajam, dan penuh penekanan bergema keras melintasi lorong remang-remang itu.
Lelaki tua yang kesakitan itu mendongak, meringis memegangi dadanya. Melihat sosok pria tinggi berbadan tegap yang berdiri menantang di depannya dengan tatapan membunuh, nyali lelaki tua itu langsung menciut. Tanpa membuang waktu, ia bangkit sambil mengumpat pelan dan berlari tertatih-tatih menghilang ke dalam kerumunan.
Suasana lorong seketika hening, hanya menyisakan deru napas Jessica yang memburu.
Jessica yang hampir ambruk berpegangan pada dinding. Penglihatannya tinggal menyisakan beberapa persen kesadaran, kabur dan berbayang-bayang. Namun, di antara sisa pandangannya yang samar-samar, ia bisa melihat siluet pria yang baru saja menyelamatkannya: memiliki rahang yang tegas, bahu lebar yang kokoh, dan raut wajah simetris yang sangat tampan—persis seperti gambaran pria impian yang ia bayangkan sejak sore tadi.
Senyum aneh yang pusing dan mabuk mendadak terbit di bibir Jessica. Efek alkohol yang membakar otaknya membuat rasa takutnya hilang seketika, menggantinya dengan nekat konyol yang samba sekali tak masuk akal. Ini dia. Pria sempurna yang ia cari-cari sepanjang malam!
Dengan langkah sempoyongan yang hilang kendali, Jessica menubrukkan tubuhnya ke d**a bidang pria itu. Sebelum sang pria sempat bereaksi atau mendorongnya menjauh, Jessica sudah melingkarkan kedua lengan halusnya yang hangat di sekeliling leher pria asing tersebut. Ia mendongak, menatap mata tajam pria itu dengan pandangan sayu bercampur senyum mabuk yang menggoda.
"Makasih ya, Ganteng..." bisik Jessica penuh dengan aura godaan yang ngawur. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga pria itu dan berbisik dengan nada berani tanpa beban, "Sekarang... perkosa aku."
Pria itu tertegun sejenak, tubuhnya membeku mendapatkan permintaan gila dari wanita yang bahkan sulit berdiri tegak di pelukannya. Ia menatap lekat wajah Jessica yang merona merah akibat alkohol, lalu menghela napas panjang penuh keheranan.
Pria itu mendengkus kasar, melepaskan cengkeraman tangan Jessica dari lehernya dengan mudah lalu menahan kedua bahu gadis itu agar tidak jatuh tersungkur ke lantai.
"Sialan," gumam pria itu sinis seraya menggelengkan kepalanya melihat kondisi Jessica yang kacau. "Gadis ini pasti udah gila!”