Bab 01
Kain gaun hitam ketat itu memeluk tubuh Jessica Jane begitu erat hingga setiap hembusan napasnya terasa tertahan dan sesak. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, ini adalah malam pertama dalam hidupnya menginjakkan kaki di pelataran tempat yang selama ini selalu dikategorikan sebagai area terlarang oleh keluarganya. Jemarinya yang dingin dan gemetar terus-merus merapikan potongan d**a gaunnya yang dirasa terlalu rendah, sebuah pilihan busana yang tak pernah sekali pun terlintas di pikirannya beberapa bulan lalu.
"Sumpah, Jess, lo tuh masih jaman purba banget, ya?" Suara Fani, salah satu teman nongkrongnya, mendadak berngiang sangat jelas di telinga Jessica, lengkap dengan tawa sinis yang menyertainya pekan lalu. "Di jaman sekarang, umur dua puluh tiga masih perawan tuh bukan bangga, tapi aib! Kampungan tahu gak? Mana ada cowok keren yang mau sama cewek polos kaku kayak lo."
Kata-kata beracun itu terus membakar d**a dan mengikis habis harga dirinya. Rasa tersinggung itulah yang akhirnya menuntun langkah kaki Jessica sampai ke titik nekat ini. Ia tidak mau lagi dianggap sebagai gadis kecil yang polos dan membosankan. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu menjadi wanita dewasa yang bebas dan berani.
Namun, saat matanya menatap pintu masuk kelab yang menjulang dengan lampu neon warna-warni, rasa takut kembali menyergapnya. Bayangan wajah orang tuanya mendadak berkelebat menakutkan.
"Kalau Mama sama Papa tahu aku ada di sini..." bisik Jessica pelan pada dirinya sendiri, suaranya bergetar ditelan angin malam. "Habis aku. Beneran habis. Bisa-bisa namaku dicoret dari KK."
Dengan memantapkan hati dan menarik napas panjang, Jessica mendorong pintu kaca tebal di hadapannya. Seketika itu juga, dentuman bas musik elektronik bergemuruh hebat, menggetarkan d**a dan telinganya. Bau alkohol yang tajam bercampur aroma parfum menyengat dan asap tipis menyergap indramunya tanpa ampun. Cahaya lampu strobo skop berkedip-kedip liar, memotong kegelapahn ruangan menjadi kilatan-kilatan warna neon yang menyilaukan.
Jessica sempat tertegun di dekat pintu masuk. Langkahnya terasa kaku saat ia menyusuri lorong remang-remang menuju area bar. Ia menegakkan bahu dan berusaha menampilkan senyum misterius paling menggoda yang sempat ia latih berkali-kali di depan cermin kamar kosnya. Rencana di kepalanya sangat sederhana: datang, memilih seorang pria tampan berkarisma, menggodanya, dan menyelesaikan misi konyolnya malam ini demi melepas status yang teramat membebaninya itu.
Ia menyandarkan siku di meja bar kayu yang terasa sedikit lengket, lalu melambaikan tangan canggung pada pria di balik meja.
"Mau pesan apa, Mbak?" tanya bartender itu berteriak kecil, mencoba mengalahkan riuhnya suara musik.
"Kasih... kasih apa aja deh yang paling populer di sini," sahut Jessica sedikit gugup, berusaha terdengar seperti pengunjung kawakan.
Sambil menunggu minumannya, Jessica mulai menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Matanya berburu dengan cermat. Dalam imajinasinya, ia akan bertemu dengan pria muda yang sangat tampan, memiliki rahang tegas, berpakaian rapi, dan memancarkan tatapan memikat yang sanggup membuat wanita mana pun luluh seketika.
Namun, semakin matanya menjelajahi sudut-sudut remang kelab malam itu, semakin buyar pula semua fantasi indah yang ia susun rapi sejak sore tadi.
Di sudut sofa VIP, bukannya pria-pria muda tampan seusianya yang ia temukan, melainkan segerombolan lelaki tua bangka dengan perut buncit yang menyembul dari balik kemeja ketat mereka. Wajah-wajah mereka tampak kusam, berminyak, dan memerah akibat pengaruh minuman keras. Salah satu dari mereka, seorang pria paruh baya dengan sisa rambut yang mulai menipis, menyipitkan mata ke arah Jessica saat menyadari gaun seksi yang dikenakannya.
Pria tua itu melempar senyuman menyeringai yang memperlihatkan deretan gigi kekuningan, lalu mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. "Hei, Cantik! Sendirian aja? Sini gabung sama Om!" teriaknya dengan nada suara yang sengau dan serak.
Jessica mengernyit jijik dan merinding seketika. "Sumpah, jijik banget!" gumamnya setengah berbisik, langsung memalingkan wajahnya rapat-rapat.
Ia mengalihkan pandangan ke sisi bar lainnya, berharap ada opsi yang lebih baik. Namun di sana, yang terlihat hanyalah pria-pria berusia matang yang mencoba bertingkah seperti anak belasan tahun—mengenakan pakaian mencolok namun justru terlihat sangat menyedihkan dan tidak menarik sama sekali. Tidak ada satu pun sosok tampan, gagah, atau memesona yang layak untuk sekadar disapa.
"Ini minuman kamu, Mbak," ucap bartender sambil meletakkan gelas berkilau di depan Jessica.
Jessica menatap gelas itu, lalu kembali menatap sekeliling ruangan dengan napas memburu. Rasa kesal dan kekecewaan yang luar biasa langsung membakar dadanya. Misi besar yang ia bangun dengan keberanian nekat, rasa takut pada orang tua, dan risiko besar ini mendadak terasa seperti sebuah lelucon konyol yang sangat menyedihkan.
"Gila ya..." rutuk Jessica pada dirinya sendiri, meremas tepi meja bar hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku udah ketakutan setengah mati sama Mama-Papa, dandan seksi begini sampai kedinginan, cuma buat liat kakek-kakek puber kedua?"
Jessica menghembuskan napas kasar dan mendengus sinis. Semua rasa takutnya pada orang tua kini tergilas oleh rasa gusar pada kenyataan konyol di depan matanya. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi bar, menatap minuman keras di depannya dengan tatapan penbuh kejengkelan yang membuncah, meratapi kebodohannya sendiri yang sudah bersusah payah datang ke tempat terkutuk ini hanya untuk disuguhkan kerumunan lelaki tua y
ang sama sekali tidak ingin ia sentuh.